Lomba Blogging Masih Diminati

Lomba blogging, ternyata belum sepi peminat, sehingga hoax saja pendapat seorang pakar telematika (spesialis metadata?!?) bahwa ngeblog hanyalah tren sesaat. Buktinya, lomba bertema tentang disabilitas/difabilitas yang digelar KitaSetara, akhir tahun lalu, diikuti blogger dengan 99 postingan didaftarkan.  Tema itu, menurut pendapat banyak orang, termasuk tema berat.

Beda dengan tema asik semacam wisata dan sejenisnya. Pengalaman lomba bertema fun yang kami selenggarakan tiga tahun silam, diikuti lebih dari 500 peserta, dengan 565 judul postingan. Padahal, kurun waktu lombanya hampir sama, sekitar satu bulanan saja, dan nilai hadiahnya pun setara.

Mungkin terlalu terburu-buru saya menyimpulkan seperti itu. Apalagi, sebagai blogger, saya termasuk malas memperbarui postingan, apalagi blogwalking. Beda dengan blogger super, Donny Verdian, yang rutin update isi blognya, setiap Senin dan Kamis. Eh, kini malah lebih rajin. Update blog setiap hari…

Tapi, pengalaman menggelar lomba blogging bertema difabiitas kemarin, seperti melecut saya agar kembali rajin bikin postingan. Walau tak yakin bisa rajin, tapi lumayan lah. Masih mau memperpanjang domain dan hosting.

Sumpah, dari baca-baca postingan yang diikutkan lomba blog difabilitas kemarin, hampir 90 persen adalah ‘wajah-wajah baru’. Maksudnya, saya tidak mengenal bloggernya. Ada yang berprofesi guru, pengusaha, ibu rumah tangga, pelajar SLTA, dan tak ketinggalan juga seorang difabel. Yang bikin merinding dan menambah keyakinan bahwa blogging masih diminati, adalah seperti ditunjukkan oleh sebagian peserta lomba. Mereka melakukan riset atau observasi, bahkan ada yang melakukan proses verifikasi.

Alangkah menyenangkannya, ‘hanya’ demi bisa ikut lomba, ada peserta yang mendatangi sebuah panti rehabilitasi difabel, mewawancarai beberapa orang, lantas dituliskan dalam sebuah postingan. Ada pula, seorang ibu, yang dengan seriusnya mencoba aksesibilitas sarana dan prasarana transportasi bagi penyandang disabilitas di Kota Solo, mengamati dari dekat dan merekamnya semua yang dijumpainya, lalu dituliskannya pada blog pribadinya.

Tak hanya itu, ada tulisan yang sekilas tampak biasa, namun ketika si penulis menyantumkan nama dan statusnya sebagai deaf (dikenal sebagai tuna rungu) membuat kaget tim juri sehingga harus mengapresiasinya. Asal tahu saja, pola komunikasi seorang tuna rungu kebanyakan berbeda dengan mereka yang tidak memiliki handikap. Jika Anda pernah berkomunikasi lewat SMS/WhatsApp dengan tuna rungu, pasti paham tata bahasa mereka yang cenderung menggunakan kata-kata kunci dan baku yang dirangkai menjadi sebuah kalimat, sehingga untuk mengerti maksud pesannya harus pandai-pandai mencernanya.

Pengalaman yang tak kalah menarik dari gelaran lomba blogging kemarin, adalah dijumpainya beberapa peserta yang mengirim naskah dalam bentuk softcopy yang ditulisnya dengan MSWord. Rupanya, lomba blogging dipahaminya seperti lomba karya tulis konvensional. Alhasil, saya pun turut ‘membimbing’ peserta itu untuk memindahkan tulisannya di blog agar bisa dilakukan penjurian. Maka, jadilah ia blogger pemula…!

Ada banyak pelajaran menarik yang kami dapat dari postingan-postingan peserta lomba. Dan itu mengingatkan saya, ketika sekian tahun lalu menjadi juri lomba blog bertema antikorupsi yang diselenggarakan Transparansi Internasional Indonesia. Ada banyak cerita praktik korupsi dari seluruh Indonesia, yang memiliki keunikan masing-masing.

Dari pengalaman beberapa kali turut melakukan penjurian lomba blogging sejak tujuh tahun silam, saya merasa sangat optimis, lomba blogging masih diminati banyak orang, dari berbagai kota di Indonesia, termasuk yang disebut ‘pelosok’ sekalipun. Tak hanya yang fun seperti tema wisata atau review produk dengan hadiah wah, yang serius dengan hadiah tak terlalu mewah pun ternyata belum sepi peminat. Bukan semata naluri berkompetisi yang dimiliki setiap pribadi (blogger), namun di balik itu, semangat berbagi informasilah yang sebenarnya mendorong minat ngeblog banyak orang.

Rasanya, tak banyak lagi yang  memikirkan pagerank, alexa, SEO atau cap-cap (semisal seleb blog) lainnya. Lebih dari itu, banyak orang ngeblog digerakkan oleh passion. Mereka hanya ingin memproduksi konten positif yang diyakini berguna bagi banyak orang. Saya kira, inilah sisi menariknya. Dengan demikian, siapapun (badan usaha, pemerintah atau perorangan) akan mendapat manfaat dengan keberadaan blogger, yang terus-menerus menyediakan banyak ceritera dan informasi yang sangat berguna bagi siapa saja.

4 thoughts on “Lomba Blogging Masih Diminati

Leave a Reply