Cerita Makan Siang dengan Presiden

Saya menjadi satu di antara belasan Jamaah Wirid QWERTY yang bertemu dan makan siang di Istana Negara bersama Presiden Jokowi, Selasa (2/2) siang. Mayoritas jamaah baru kenal nama sehingga menjadi momentum perdana kenal wajah mereka. Tak ada obrolan serius selama sekitar 90 menit pertemuan. Soal teror Sarinah, kereta cepat hingga Gibran jualan martabak disikapinya dengan cara bicara yang santai.

Jamaah Wirid QWERTY foto bersama Presiden Jokowi (Foto: Agus Suparto)

Jamaah Wirid QWERTY foto bersama Presiden Jokowi (Foto: Agus Suparto)

Dari posisi duduk berhadapan, saya lebih banyak mengamati ekspresi Pak Jokowi. Ada rasa penasaran akan banyak gosip yang masuk di memori saya sejak pertama kenal, sebelas tahun silam. Karenanya, momentum itu saya gunakan betul untuk menguji dan mencari jawab atas banyak hal.

Soal teror Sarinah, terkonfirmasi sudah seperti keyakinan dan bukti yang saya miliki. Pak Jokowi benar-benar tidak bisa dipermainkan oleh teroris, siapapun mereka. “Yang namanya teroris akan selalu melakukan apa saja yang membuat banyak orang takut. Karena itulah saya mempercepat kunjungan ke Cirebon untuk mendatangi lokasi teror di Sarinah,” kata Presiden.

Pak Jokowi pun menceritakan laporan para petinggi institusi penjaga keamanan negara yang meyakinkan kasus sudah tertangani dengan baik dan efektif, sehingga Presiden tidak perlu mengunjungi lokasi kejadian. Tapi, bagi Pak Jokowi, kunjungannya ke lokasi insiden teror itu penting dan harus dilakukan untuk mengirim pesan kepada teroris dan masyarakat dunia, bahwa aparat keamanan sigap menyelesaikan perkara dan bekerja efektif.

“Jika saya tak hadir di sana, kesan mencekam akan panjang. Jika demikian, tujuan teror berhasil. Kita tidak boleh takut dan tidak boleh kalah,” ujar Jokowi.

Dan terbukti benar. Kedatangan presiden di lokasi teror dalam waktu lima jam sejak kejadian terbukti efektif meredam ketakutan publik. Bursa saham tak terganggu secara signifikan karena pasar tidak panik. Tidak tampak mencoloknya aparat keamanan bersenjata otomatis di lokasi insiden, membuat adem suasana.

Pak Jokowi pun lantas menyinggung kehadirannya ke konferensi perubahan iklim di Paris, Perancis beberapa waktu lalu. Setelah dihantam teroris ISIS, dunia langsung panik. Citra Perancis yang selama ini dianggap negara paling tenang, pun diruntuhkan seketika oleh teroris. “Kalau saya dan pemimpin-pemimpin dunia lainnya sampai tidak datang ke pertemuan itu, maka itu sama saja dunia mengaku kalah terhadap teroris yang cuma segelintir saja,” katanya.

Maka, berkaca insiden Paris, Pak Jokowi pun tak ingin ada pagar betis aparat bersenjata di Jakarta seperti yang disaksikannya di Perancis kala itu.

Asal tahu saja, sikap dan tindakan Pak Jokowi itu, bukan ahistoris. Ketika menjabat Walikota Solo, ia kedatangan tamu penting, simbol kedigdayaan dunia: Duta Besar Amerika Serikat Cameron Hume. Oleh Pak Jokowi, kunjungan beberapa hari Pak Dubes dimanfaatkannya untuk mengirim pesan kepada dunia, bahwa Solo adalah kota yang aman. Bukan sarang teroris sebagaimana dicitrakan media internasional. (Silakan baca ini juga: Jokowi dan Dubes Amerika)

Maka, Pak Jokowi berdialog dengan Kedutaan Besar Amerika. Dimintanya tidak ada pengamanan terbuka. Kepada polisi pun, Pak Jokowi melarang ada panser atau kendaraan taktis termasuk aparat berseragam, apalagi bersenjata. Singkat cerita, semua deal. Pak Jokowi selalu menemani Cameron Hume kemana pergi, sebab dialah penjamin keamanan selama di Solo. Hasilnya? Jangankan disamperin teroris (yang katanya ada banyak di Solo), yang terjadi justru kenyamanan Pak Duta Besar Amerika menikmati seluruh penjuru kota selayaknya turis backpacker. Bahwa tak ada pemberitaan gencar soal itu, tak penting. Bisa saja wartawan gagal menangkap pesan tersembunyi semacam ini.

Tentang kereta cepat, pun dijelaskannya secara asik. Jika Jakarta-Bandung terhubung kereta cepat, maka pergerakan barang dan jasa akan efisien. Perekonomian masyarakat di daerah yang dilalui pun akan tumbuh. Pun di sekitar Bandung. Dampak berantainya akan banyak dan menjangkau seluruh kelompok masyarakat, sehingga diprediksi tidak akan menarik lagi orang tinggal berlama-lama (bermigrasi) ke Jakarta.

Kereta cepat yang terintegrasi dengan berbagai jenis moda transportasi di Jakarta dan sekitar, pun akan memberi dampak signifikan. Jika penggunaan kendaraan pribadi terus meningkat di Jakarta dan sekitar, itu semata-mata karena orang hanya ingin nyaman di perjalanan akibat tak ada pilihan transportasi massal sesuai kebutuhan. Padahal, konon setiap tahunnya, ada uang Rp 42 triliun terbakar percuma dari perkara beli mobil/motor, beli bahan bakar, biaya parkir, tol dan sebagainya.

Coba bandingkan dengan biaya pembangunan kereta cepat yang sekitar 70an trilyun rupiah itu…

Saya kok kuatir, mereka yang menentang rencana Pak Jokowi ini, sesungguhnya sedang dicekam ketakutan akan masa depan diri dan kelompoknya. Bisa saja, jika kereta cepat berhasil dibangun dan memberi keuntungan bagi jutaan orang, maka kian sulit bagi mereka menandingi seorang Jokowi. Lagi pula, jangan-jangan karena tak menggunakan duit negara, maka tak ada kesempatan bagi broker dan politisi untuk masuk ke pusaran tradisi lama: #papamintasaham?!?

Alangkah menyedihkannya jika kita ikut terjebak (lantas ikut-ikutan) pada pro-kontra yang digembar-gemborkan politisi yang sejatinya tak memerhatikan nasib orang-orang di sekitar kita.

Di mana-mana, puluhan juta orang (termasuk 66 persen angkatan kerja kita yang berpendidikan hingga SMP) masih mencari jawaban besok makan apa, sementara segelintir politisi dan pengusaha kita biarkan mencari jawab atas pertanyaan besok makan siapa. Dan, kita tahu, Pak Jokowi masih memilih berpihak pada mereka yang memikirkan makan keesokan harinya.

Paling tidak, kita bisa melihat bukti keluarga terdekatnya, seperti Gibran, putra sulungnya, yang memilih menekani usaha katering dan jualan martabak, dan tidak diberinya jabatan empuk, mengurus BUMN atau ruang bisnis yang bisa menggunakan akses kekuasaannya.

“Kalau anak saya sukanya begitu, ya saya mau apa. Wong disuruh ngurus perusahaan mebel yang sudah pasti jalan saja dia juga enggak mau. Ya, sudah… Mosok saya bawa-bawa (Gibran) ke urusan BUMN. Apa saya ndak diserang rame-rama, nantiii… Sudah anaknya mau mandiri, mosok saya rusak dengan contoh yang tidak baik. Hahaahaha…”

Sepulang dari istana, hati saya tenang. Rasa penasaran terobati. Pak Jokowi belum berubah. Masih seperti yang saya kenal dulu. Jujur, sempat saya sering membayangkan Pak Jokowi akan berubah, apalagi sejak menjadi presiden. Sebab, dengan memegang kekuasaan tertinggi di republik ini, godaan pastilah banyak, meski kalau godaan dalam bentuk harta tak bakal mempan. Dan, godaan harta sudah terbukti gagal seperti tersiar luas lewat transkrip rekaman #papamintasaham, yang mana Pak Jokowi sampai disebut koppig alias keras kepala gara-gara tak tergiur bermain duit atau saham PT Freeport.

Cerita lain kegusaran Pak Jokowi akan praktek penyalahgunaan kekuasaan oleh sebagian orang yang merasa dekat dengan beliau, sejatinya masih banyak. Tentu saja, saya tak bisa membeberkannya di sini. Jadi, tak perlulah Anda ragu mengenai integritas Pak Jokowi terhadap orang kecil, masyarakat pinggiran, kekayaan negara dan bangsa, hingga republik yang kita cintai.

Anda boleh catat dan pegang pernyataan saya, bahwa tak akan ada apapun pada sikap saya sejak sebelum hingga sesudah pertemuan kami, kemarin lusa. Dan jangan mudah termakan hasutan pembenci Jokowi, bahwa kami yang berkesempatan makan siang dan ngobrol santai akan memperoleh ini-itu, termasuk jabatan. Kami sama-sama percaya pada integritas Pak Jokowi, sehingga kami rela membantu dan menjaganya. Jika Pak Jokowi sudah berubah, pastilah saya akan segera berubah posisi. Mungkin menjadi pembenci, atau setidaknya melawannya (meski saya yakin beliau akan tetap seperti yang saya harapkan).

Asal tahu saja, tinggal di istana tak berarti mengubah gaya hidupnya. Tak ada gelimang harta meski ada kuasa melekat di sana, baik pada diri Pak Jokowi maupun orang-orang di dekatnya. Lha wong saya yang jauh-jauh datang ke sana saja tidak dibelikan tiket atau diinapkan di hotel, kok. Apalagi pulangnya disangoni… Saya, juga teman-teman yang kemarin berjumpa itu, sama-sama ikhlas membuang waktu produktifnya, untuk sama-sama membuktikan bahwa Pak Jokowi masih sosok yang memiliki keberpihakan kepada mayoritas bangsa ini.

Catatan: empat paragraf terakhir baru ditambahkan pada Kamis, 4 Pebruari 2016 pukul 17.35

14 thoughts on “Cerita Makan Siang dengan Presiden

  1. Hhhmmm… dari penjelasan lengkap Pakde secara garis besar saya bisa membayangkan sosok Jokowi sebenarnya itu seperti apa. Hanya saja untuk keberadaan orang-orang di sekitarnya, justru itu yang mungkin akan menimbulkan masalah. Saya yakin sosok Jokowi adalah seorang yang memiliki tipikal sederhana dan bersahaja, akan tetapi entah kenapa sampai detik ini saya masih meragukan ketegasan Beliau karena latar belakangnya adalah wong solo dan bukan berasal dari militer. Ya kita tahu sendiri banyak orang-orang “bebal” dan “tamak kekuasaan” yang rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Semoga kekuatiran ini tidak menjadi berkepanjangan nantinya. Aminnn…

  2. Bagi sebagian orang, bertatap muka dengan Pak Jokowi dianggap kesempatan langka, tapi bagi Pakdhe B, itu mah sudah biasa. La wong temen lama di Solo. 🙂

    Saya sempat khawatir saat Jokowi ke Sarinah, dan menemukan jawabannya di sini:
    “Jika saya tak hadir di sana, kesan mencekam akan panjang. Jika demikian, tujuan teror berhasil. Kita tidak boleh takut dan tidak boleh kalah,” ujar Jokowi.

    1. Salah, Yu… kalau dulu, mungkin mudah bertemu beliau. tapi sekarang, tidak mudah. namun, meski ada protokoler yang harus dimaklumi dan diterima apa adanya, tapi sifat dan gayanya tak berubah. itu yang membuat fans seperti saya bungah. kekuasaan tidak membuat beliau silau. itu poinnya :p

Leave a Reply