Difabilitas dan Kita

Lama bergaul dengan teman-teman ‘pemilik’ keterbatasan fisik, belum juga kami bisa melakukan sesuatu yang nyata terhadap sesama. Padahal, sudah enam tahun lamanya kami tinggal serumah dengan mereka, teman-teman difabel. Yang paling lama, ya dengan sejumlah tuna daksa, seperti Mas Pono, Jaka Ballung, Doni Junianta dan masih banyak lagi.

Desain kaos karya Antyo Rentjoko alias Pamantyo

Desain kaos karya Antyo Rentjoko alias Pamantyo

Jauh sebelum ada Komunitas RBI (Rumah Blogger Indonesia), kami adalah warga Internet (netizen) yang tergabung dalam Komunitas Blogger Bengawan. Untuk ketemu antarteman (kopdar), kami biasa memanfaatkan wedangan (orang Yogya menyebutnya angkringan). Setahun lebih kami bergentayangan, singgah di wedangan sana-sini untuk kopi darat (kopdar), sebelum akhirnya ditawari memanfaatkan kantor Yayasan Talenta oleh Pakde Sapto Nugroho, pendiri sekaligus direktur yayasan untuk advokasi dan pemberdayaan difabel.

Awalnya, kami canggung bergaul dengan mereka. Ada perasaan tidak enak kalau mau begini-begitu. Bahkan, ketika sesekali di antara kami ingin membantu Mas Pono yang sedang menyapu lantai dengan duduk di kursi rodanya, pun bingung mengutarakannya. Ada perasaan takut menyinggung perasaannya, namun kalau cuek kok rasanya juga jadi gimana.

Adalah Entok Darmanto (paling kiri) yang suka bergurau dengan menyebut sesama tuna daksa sebagai kelompok "Ngesot Budoyo" lantaran mobilitas fisik sering dilakukan dengan ngesot. Bagi awam, istilah demikia terasa kasar. Tapi kalau sudah bergaul bersama mereka, istilah demikian sangatlah biasa, tidak berkonotasi pelecehan.

Adalah Entok Darmanto (paling kiri) yang suka bergurau dengan menyebut sesama tuna daksa sebagai kelompok “Ngesot Budoyo” lantaran mobilitas fisik sering dilakukan dengan ngesot. Bagi awam, istilah demikia terasa kasar. Tapi kalau sudah bergaul bersama mereka, istilah demikian sangatlah biasa, tidak berkonotasi pelecehan. Berdiri paling kanan adalah Jaka Ballung.

Adalah Pakde Sapto yang justru sering mengajari kami untuk tidak sungkan dan menjauhkan dari perasaan macam-macam. Dan, Mas Pono-lah yang paling banyak mengajari kami membiasakan diri bergaul dengan difabel. Olehnya, kami diminta memperlakukan teman-teman difabel seperti halnya kepada sesama anggota blogger Bengawan. Saling ejek sekalipun tak soal sepanjang konteksnya adalah sebagai ekspresi kedekatan.

Tak mudah memang. Dan, butuh waktu setahunan hingga kami bisa benar-benar cair, tidak ada beban untuk berinteraksi. Mas Pono dan Jaka Ballung mengajari kami dalam ungkapan dan tindakan. Bila ada anggota Bengawan berada di sekretariat dan kalah jumlah dengan difabel di tempat yang sama, justru kamilah yang diejek sebagai difabel. Mirip praktik tirani mayoritas, lah!

Mas Pono dan Ballung sama-sama tuna daksa. Bedanya, Mas Pono lumpuh karena terjatuh dari pohon kelapa menjelang penerimaan ijazah kelulusan dari Sekolah Menengah Senirupa (SMSR) Yogyakarta. Sedang Jaka Ballung, sudah mengalami (maaf) kecacatan sejak lahir. Asiknya, kedua orang difabel ini sama-sama seniman, perupa. Mas Pono selain kadang-kadang melukis, ia bekerja di perusahaan pembuat dan eksportir handicraft.

Jaka Ballung pun perupa handal. Berawal dari pekerjaan di satu perusahaan dengan Mas Pono, Ballung dipekerjakan sebagai pengawas CCTV. Bahkan, ia pernah berposisi sebagai kepala petugas keamanan pabrik, meski pekerjaannya ‘hanya’ memelototi monitor CCTV. Maklum, meski hanya bisa berjalan bak robot karena kondisi kedua kakinya, Ballung memiliki kekurangan lainnya: kedua tangannya kecil dan layu sehingga tak leluasa digerakkan, apalagi untuk mengangkat beban berat.

Jangan meremehkan Dodo. Anda belum tentu menang kalau tading nge-game dengan menggunakan perangkat telepon pintar layar sentuh. Adu cepat nulis SMS atau WhatsApp pun belum tentu sanggup Anda menangkan melawan anggita Pasoepati garis keras ini!

Jangan meremehkan Dodo. Anda belum tentu menang kalau tading nge-game dengan menggunakan perangkat telepon pintar layar sentuh. Adu cepat nulis SMS atau WhatsApp pun belum tentu sanggup Anda menangkan melawan anggita Pasoepati garis keras ini!

Tapi, justru di situlah rahasia Tuhan diletakkan. Karena tiap hari bergulat dengan perangkat komputer dan CCTV, belajarlah ia menggambar dengan fasilitas yang ada. Karena di komputer hanya ada software yang relevan dengan kebutuhan monitor dan tulis-menulis, maka isenglah dia mengulik fitur-fitur di komputer, terutama Microsoft Word. Dari situlah, ia menemukan salah satu fitur yang bisa digunakannya untuk menggambar. Alhasil, kini dia bisa menopang perekonomian keluarga (satu istri, dua anak), dari jual jasa menggambar dengan aplikasi MS Word.

Pemesannya lintas kota, bahkan lintas negara, baik dari Asia, Eropa hingga Amerika! Maka, jangan heran kalau Jaka Ballung dipercaya mengoordinir belasan ilustrator untuk proyek ilustrasi buku pendidikan khusus terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari 15 ilustrator, tiga di antaranya tuna daksa dan mayoritas berpendidikan tinggi jurusan senirupa.

Sekilas, tak ada yang menarik dari kisah perkenalan kami yang dikaruniai Tuhan kelengkapan fisik dan mental. Tapi, dari intensitas pergaulan di rumah yang sama, justru kami merasa kian kecil dibanding mereka. Dalam kondisi nyaris tanpa hambatan mobilitas akibat kekurangan fisik/mental, sebagian dari kami (terutama saya!) justru kalah dalam banyak hal.

Dari sanalah lantas muncul kesadaran baru, bahwa kesempurnaan fisik bukanlah jaminan akan kemudahan berbagai hal, termasuk dalam hal ikhtiar hunting rejeki hingga kemanfaatan hidup.

Tak hanya generasi pertama (anggota Bengawan), penerus penghuni sekretariat bersama yang kami namai Komunitas RBI, pun bisa disebut kalah dibanding teman-teman difabel itu. Tapi, dari pergaulan itulah, kami jadi saling belajar dan saling memberi pengaruh positif (tentu, yang negatif tak akan kami ceritakan di sini).

Foto rame-rame dengan walikota terpilih usai kampanye kesetaraan hak difabel di area Car Free Day, Minggu, 27 Desember 2015.

Foto rame-rame dengan walikota terpilih usai kampanye kesetaraan hak difabel di area Car Free Day, Minggu, 27 Desember 2015.

Masing-masing dari kami yang tidak memiliki ketunaan (kecuali tuna asmara, tuna rupiah dan tuna akhlak. Hehehe…) pun menjadi lebih banyak terpengaruh. Setidaknya, kami menjadi lebih aware terhadap aneka masalah difabilitas, sehingga turut membangkitkan sikap empati hingga kesadaran akan kesetaraan hak kepada seluruh warga negara. Hambatan atau kekurangan fisik (dan mental) tak bisa dijadikan alasan untuk bersikap membeda-bedakan perlakuan (diskriminatif) dan sebagainya, dan seterusnya.

Hal tak berguna yang bisa kami lakukan, barulah merawat kesadaran untuk selalu bersama dengan mereka, meski sebatas menyelenggarakan perayaan Hari Difabel Internasional dalam bentuk sarasehan, diskusi, atau sekadar tirakatan. Dan, nyatanya kami belum sanggup berbuat lebih, yang lebih nyata dirasakan manfaatnya oleh saudara-saudara kami yang difabel.

Bahkan, pada perayaan World Disability Day atau International Day of Persons with Disabilities tahun 2015, pun kami hanya bisa mewujudkan tradisi perayaan sederhana lewat kampanye kesetaraan hak-hak kelompok difabel melalui aksi pembagian kaos dan lomba blogging bertema difabilitas di Indonesia.

Beruntung, meski belum banyak-banyak amat jumlah peserta lomba, namun kami memperoleh banyak postingan yang kami yakini akan bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. Ada testimoni pergaulan nondifabel dengan difabel, ada cerita sukses dan kisah tragis yang dialami langsung oleh peserta lomba. Pada saatnya, tulisan-tulisan peserta lomba akan kami tampilkan di website yang kami kelola, dan tentu saja setelah dilakukan penyuntingan seperlunya.

CFD_kaos becak_20151227_026Yang jelas, dari semua postingan yang dikirim peserta lomba, memiliki bobot inspirasi. Kelak, tulisan-tulisan tersebut bisa dijadikan panduan bagi sebanyak mungkin orang, termasuk di dalamnya tips-tips ‘bergaul’ dengan kelompok difabel. Cerita-cerita dari peserta lomba itulah yang kami harapkan bisa jadi referensi dalam bersikap dan berinteraksi dengan difabel. Juga, kisah-kisah sukses difabel, yang mungkin selama ini tidak terpublikasikan secara memadai, seperti perjalanan seorang pelajar tuna netra yang jagoan matematika dan menyabet aneka gelar dalam olimpiade, yang bersaing dengan pelajar lain yang tidak memiliki keterbatasan fisik.

One thought on “Difabilitas dan Kita

  1. Tag kaosnya sangat ngena Mas, Cacat Morat disebut Yang Mulia.
    Semoga masyarakat kita bisa aware terhadap difabilitas dan juga memposisikan difabilitas sejajar, dengan tanpa ada rasa seakan dikasihani.
    Sangat setuju dengan adanya kampanye melalui lomba blogging bertema difabilitas.
    Salam Sukses Selalu Mas.

Leave a Reply