Jangan Unfollow Gubernurku

Kalau ada award kepada pejabat publik yang serius dan istiqomah memanfaatkan media sosial terkait pekerjaannya, saya pasti menjagokan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Lewat akun Twitter-nya @ganjarpranowo, ia rajin merespon pertanyaan atau komplain masyarakat. Tentu saja, dunia maya, bukan masyarakat sungguhan.

Asal jangan dilupakan saja, Pak Ganjar Pranowo itu dulunya anggota DPR RI lho, sebelum terpilih jadi gubernur. Bisa duduk di Senayan, tentu saja atas berkat berlakunya demokrasi perwakilan dan karena rahmat Allah SWT. Maka, jika pengguna media sosial adalah wujud perwakilan masyarakat, maka itu benar adanya. Siapa tahu itu nalar hukum yang dipelajari Pak Ganjar di UGM dulu. Dalam satu desa, tidak semua warganya bermedia sosial, bukan?

Yang membuat meme dan menyebarkannya bisa di-UU ITE-kan ini! #eh

Yang membuat meme dan menyebarkannya bisa di-UU ITE-kan ini! #eh

Asal jangan tanya yang berat-berat, semisal penolakan warga Rembang terhadap kehadiran pabrik semen, pasti cepat direspon. Sikap seperti itulah yang menandakan seorang kepala daerah benar-benar bekerja, untuk rakyatnya! Dan, yang menarik, responnya selalu memberi solusi jitu bagi si penanya.

Sebagai pemimpin Jawa Tengah, wajar kalau Pak Ganjar tidak ingin warganya menderita sepanjang hayat. Tidak boleh selamanya orang hanya menjadi satpam, buruh, atau petani. Status sosial harus berubah/meningkat, begitu pula perekonomian keluarga.

Sebagai pemimpin Jawa Tengah, wajar kalau Pak Ganjar tidak ingin warganya menderita sepanjang hayat. Tidak boleh selamanya orang hanya menjadi satpam, buruh, atau petani. Status sosial harus berubah/meningkat, begitu pula perekonomian keluarga.

Contohnya, bisa disimak pada linimasa @ganjarpranowo pada 6 Januari 2016. Akun @IinSugito bertanya dan meminta solusi Pak Gubernur mengenai gaji Satpam PT Telkom Jateng/DIY yang masih sebatas upah minimum kota dan upah minimum regional daerah meski sudah mengantongi masa kerja 18 tahun! Hanya berselang tiga menit, @ganjarpranowo sudah memberi solusi tepat kepada Iin, sang penanya, agar ia menjadi pengusaha!

Jawaban yang keren, tentu! Dengan berhenti dari pekerjaan satpam menjadi pengusaha, pastilah Iin akan lebih enak hidupnya dan mulia masa depannya. Ia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi sesamanya, dan dari kemuliaan mengurangi jumlah pengangguran, ia pasti dapat pahala, sehingga kelak berhak akan surga. Apalagi, jika usahanya terus berkembang, misal setahun bisa merekrut seribu karyawan, pastilah Ganjar sebagai gubernur akan terbantu. Win-win solution!

O, iya, sebelum lupa, saya mau ingatkan kepada Anda sekalian, terutama yang masih meragukan otentisitas twit dari akun @ganjarpranowo. Itu akun dipegang beliau sendiri, tidak dioperasikan oleh operator atau admin. Makanya, di awal-awal masa jabatannya, Pak Gubernur ganteng ini pernah menginstruksikan seluruh kepala dinas, bupati/walikota dan lembaga-lembaga pelayanan publik memiliki akun media sosial, terutama Twitter.

Kalau tak salah ingat, dulu beliau beralasan agar masyarakat bisa memberi kontribusi langsung kepada pejabat publik/penyelenggara pemerintahan, termasuk menjadi sarana menampung pengaduan atau keluhan masyarakat, selain menjadi tempat bertanya dan bertegur sapa.

Yang beginian termasuk pertanyaan berat. Rentan berdampak provokasi kepada masyarakat, terutama mereka yang antikemajuan dan menolak pembangunan. Wajar ada yang tidak setuju, seperti hanya 'sejumlah LSM' di Cilacap itu. Pak Gubernur pasti lebih tahu, jumlah LSM yang setuju penambangan batu kapur juauh lebih banyak. Gak mungkin kan, seorang gubernur bicara tanpa data alias asal ngomong? Kita harus percaya pemimpin, bukan???

Yang beginian termasuk pertanyaan berat. Rentan berdampak provokasi kepada masyarakat, terutama mereka yang antikemajuan dan menolak pembangunan. Wajar ada yang tidak setuju, seperti hanya ‘sejumlah LSM’ di Cilacap itu. Pak Gubernur pasti lebih tahu, jumlah LSM yang setuju penambangan batu kapur juauh lebih banyak. Gak mungkin kan, seorang gubernur bicara tanpa data alias asal ngomong? Kita harus percaya pemimpin, bukan???

Jadi, media sosial diposisikan sebagai sarana komunikasi yang diyakini membuat pekerjaan lebih efisien. Bukan sebaliknya, jadi ajang nampang atau membangun pencitraan. BU-KAN! Saya yakin, Pak Ganjar bukanlah tipe orang yang suka pencitraan. Beliau adalah pekerja keras. Di sela-sela kunjungannya ke berbagai pelosok daerah, beliau masih meluangkan waktu untuk membaca mention dan meresponnya. Tak peduli pagi, siang atau sore. Tengah malam sekalipun, beliau selalu menyempatkan membalas. Kapan pun, di manapun, kita bisa melihat jam dan lokasi yang tertera di bagian bawah twit-nya.

Jadi, kalau sampai ada orang yang masih sinis melihat aktifitas Pak Ganjar Pranowo di media sosial, menurut saya itu hanya mengonfirmasi kebenaran ungkapan ‘sirik tanda tak mampu’. Bermedia sosial adalah penanda seseorang bekerja, seperti kata seniman Sudjiwo Tedjo dan budayawan Arswendo Atmowiloto.

Makanya, saya heran seheran-herannya ketika Kang Iman Brotoseno menyatakan puyengnya mengikuti linimasa @ganjarpranowo melalui akun Twitter-nya, Sabtu (16/1) siang tadi. Padahal, Kang Iman itu netizen sejati. Aktif ngeblog, dan lama memanfaatkan akun Twitter untuk berbagi cerita bagus-bagus, terutama mengenai sejarah dan ilmu pengetahuan lainnya. Mosok, pengguna aktif media sosial masih heran melihat Gubernur aktif bermedia sosial?!? Yang bener saja, Kang Iman… Saya sebagai warga Jawa Tengah bisa tersinggung, lho…

Apalagi, gara-gara Kang Iman nge-twit begitu, teman-temannya pada ngeroyok Gubernur kami yang mulia, dengan testimoni yang mengancam kewibawaan beliau. Mosok, beberapa penanggap, yang tak lain adalah tokoh-tokoh media sosial Indonesia melakukan testimoni terbuka, bahwa sudah unfollow terhadap akun gubernur kami? Jangan-jangan, ini konspirasi orang Jakarta terhadap pejabat daerah?!?

Kalau puyeng karena baca timeline (TL), kan bisa diobati dengan cara tidur, minum obat, atau jalan-jalan, kan? Mosok puyeng saja disampaikan di media sosial. Itu potensial menimbulkan pengaruh buruk kepada masyarakat awam, lho...

Kalau puyeng karena baca timeline (TL), kan bisa diobati dengan cara tidur, minum obat, atau jalan-jalan, kan? Mosok puyeng saja disampaikan di media sosial. Itu potensial menimbulkan pengaruh buruk kepada masyarakat awam, lho…

Tolong, ya, Kang Iman dan teman-teman. Panjenengan tidak boleh begitu dong menyikapi twit Pak Gubernurku. Apa yang disampaikan melalui akun Twitter beliau itu bukan kicauan. (Enak aja, gubernur dianggap seperti burung yang berbunyi gak pakai mikir?!?)  Itu pernyataan resmi seorang pemimpin kepada warganya, orang-orang seperti saya dan teman-teman dari seluruh pelosok 35 kabuppaten/kota di Jawa Tengah.

Pernyataan sampeyan itu jadi sama saja dengan pernyataan orang kebanyakan, yang asal tidak suka dan nyinyir, selalu menganggap respon Gubernur atas pertanyaan warga dengan cara mention ke akun-akun dinas atau pejabat daerah sebagai sesuatu yang tak berguna.

Bukankah dengan mensyen-mensyen ke akun dinas atau pejabat itu menunjukkan kepada masyarakat, bahwa Pak Gubernur selalu kerja, kerja dan kerja di mana saja dan kapan saja? Dan, dengan begitu pula, masyarakat akan tahu, bahwa Pak Gubernur tidaklah diam saja terhadap keluhan rakyatnya? Yang fair, dong kalau menilai. Saya sebagai warga Jawa Tengah, ikut merasa tersinggung.

Ngetwit itu kerja!

Ngetwit itu kerja!

Coba tunjukkan kepada kami, warga Jawa Tengah, pejabat publik mana di Indonesia ini yang tangkas, cepat tanggap dan cerdas memberi solusi atas seluruh permasalahan warganya?!?

Bagi pembaca tulisan ini, saya mengimbau agar Anda follow akun Twitter @ganjarpranowo (jika belum follow), dan jangan unfollow jika sudah follow. Saya yakin, twit gubernur kami sarat makna. Dan, jika kita menggunakan kecerdasan emosional kita, pasti kita semua akan memperoleh manfaat lebih besar dan memperpanjang tingkat harapan hidup. Sesulit apapun masalah keseharian kita, dengan saksama menyimak TL Pak Ganjar, minimal kita akan terhibur selain memperoleh solusi kepada siaa kita mengadu karena Pak Gubernur selalu mensyen ke pihak yang berkompeten dan memiliki kewenangan.

Catatannya, asal jangan mematikan kecerdasan emosional kita saja. Percayalah ketulusan Pak Gubernur kita…

Pripun niki, Den??? Kamu penduduk mana? Poto!!!

One thought on “Jangan Unfollow Gubernurku

  1. Saya selalu respect kepada para pejabat/kepala daerah yang aktif menyapa masyarakatnya melalui medsos, Pak Ganjar ini salah satunya.
    Kalau di Jawa Barat ya walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil.

Leave a Reply