Cerita di Balik Penghapusan Diskriminasi Difabel

Searah jarum jam: tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu wicara

Searah jarum jam: tuna daksa, tuna grahita, tuna netra, tuna rungu wicara

Sebuah pesan pendek datang dari salah seorang teman di Twitter, awal Juni lalu. Dia mengabarkan, Menpora Imam Nahrawi akan memanfaatkan sela waktu menjelang kehadirannya di resepsi pernikahan anak Pak Jokowi dengan mengunjungi mess Pelatnas Paragames di Solo. Dikabarkan, sang menteri ingin melihat lebih dekat persiapan para atlet sekaligus mencari tahu apa saja kekurangan.

“Pak Imam ingin mengenal lebih jauh seluk-beluk atlet difabel,” kata sang teman, yang ternyata kini menjadi staf khusus Menteri Pemuda dan Olahraga itu.

Singkat cerita, saya datang terlambat di Gedung Pusat Pengembangan dan Latihan Rehabilitasi Para Cacat Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Colomadu, salah satu dari empat mess atlet Paralimpian itu. Cak Imam sudah berbincang akrab dengan belasan atlet tuna daksa dan tuna netra. Lalu, dilanjutkanlah keliling gedung, menengok beberapa kamar tidur dan fasilitas pendukung para atlet.

Menpora Imam Nahrawi bermain catur dengan seorang tuna netra, atlet paragames.

Menpora Imam Nahrawi bermain catur dengan seorang tuna netra, atlet paragames.

 

Tak hanya berbincang, keakraban yang cepat terjalin pun berbuah tantangan bertanding catur dengan atlet tuna netra. Beberapa kali, Menteri Imam kalah. Rupanya, kelebihan indera penglihatan tan serta merta mengungguli pecatur yang mengandalkan indera peraba. Bayangkan, Cak Menteri yang bisa melihat dengan jelas kotak hitam dan putih, tak membuatnya lebih gesit dua penantangnya, lelaki dan perempuan, dalam set berbeda!

Sorak sorai pun membahana. Sang menteri diledek oleh para atlet yang mengerubunginya. Lalu, meluncurlah aneka macam curahan hati hingga permintaan perbaikan peralatan olahraga serta permintaan seragam khusus. Tepuk tangan kembali membahana seturut janji Menteri Imam untuk mengabulkan permintaan para atlet. Hampir dua jam, sang menteri menghabiskan waktu berbincang penuh canda.

Lalu, seorang atlet tuna netra menantang sang menteri menyanyi. Sambil tergopoh-gopoh, sang atlet mengeluarkan organ yang dari kamarnya, lengkap dengan mikrofon yang tersambung pada perangkat tata suara seadanya. Kira-kira, mirip alat yang digunakan mengamen di warung-warung makan ramai pengunjung di Solo.

Ketika Cak Imam pamit, satu-dua atlet berkaca-kaca matanya. Dia berharap, meski tak sepenuhnya yakin, permintaan mereka akan terpenuhi. Misalnya, seragam yang bagus dan enak dikenakan, kursi roda yang memadai untuk berkompetisi atletik, hingga bola tenis meja yang menjadi standar kompetisi. Rupanya, masih banyak kekurangan di sana.

Imam Nahrawi bertemu atlet paragames di Solo

Imam Nahrawi bertemu atlet paragames di Solo

Dari Wisma PPRBM, rombongan menteri meluncur ke Wisma YIS, sekitar dua kilometer dari lokasi pertama. Kedatangannya di wisma kedua yang tak dinyana membuatnya dicuekin sesaat. Maklum, tak banyak yang mengenal wajah sang menteri. Baru ketika banyak yang paham bahwa yang hadir seorang Menpora, langsung saja ia diserbu dengan aneka keluhan. Maklum, di Wisma YIS, kebanyakan atlet-atlet muda, yang sebagian besar bukan berasal dari Pulau Jawa, sehingga pernyataannya lugas, to the point.

Di situlah Imam tahu, bahwa banyak atlet yang datang jauh dari Papua, NTT, Maluku dan pulau-pulau lain mengeluh, bahwa mereka adalah orang terbuang di daerahnya. Mendatangi kantor pemerintahd aerah untuk meminta bantuan finansial untuk datang ke Pelatnas saja, tak selalu berhasil. Ketika sukses membawa medali emas pun, mereka tak dianggap. “Kami tak pernah mendapat apresiasi sambutan sebagaimana atlet sepakbola atau atlet nondifabel lainnya,” ujar seorang atlet asal Papua.

Ngobrol santai bersama atlet difabel  di bawah pepohonan.

Ngobrol santai bersama atlet difabel di bawah pepohonan.

Atlet yang lain, mengeluhkan bonus dari pemerintah yang besarnya tak lebih dari seperempat atlet bukan cacat tubuh. Belum lagi adanya potongan di sana-sini, sehingga yang didapatnya kian menyusut.

*********

Yang pasti, wajah atlet paragames sangat cerah menjelang keberangkatan mereka ke Singapura melalui Bandara Adi Sumarmo, Solo, Senin (30/11) pagi. Kaos dan jaket seragam baru, koper baru dan sarana pertandingan baru disediakan kementerian. Bahkan, kini mereka terbang nyaman dengan maskapai Garuda Indonesia menuju Changi, tanpa harus dua kali transit di Jakarta dan Batam.

Priyo, atlet angkat berat asal Sragen mengaku gembira dengan janji bonus medali yang disamakan dengan atlet nondifabel. Terbayang di depan mata, Priyo akan menyumbangkan emas untuk Indonesia, dan bakal membawa pulang bonus Rp 200 juta seperti janji Menpora di hadapan atlet dan official saat upacara pelepasan mereka di Lor In Hotel, Solo, dua hari sebelumnya.

Doni Junianta, atlet cabang atletik kelahiran Sukoharjo ini, pun senang bukan kepalang. Meski berharap bisa mendapat medali emas dalam ASEAN Paragames 2015 di Singapura, namun ia berusaha realistis meraup perak dan perunggu pada kelas sprint 100. 200, 400 meter. Pasalnya, kursi roda yang akan digunakannya baru datang tiga hari sebelum berangkat, sehingga ia harus melakukan penyesuaian.

Doni Junianta, atlet cabang atletik Indonesia.

Doni Junianta, atlet cabang atletik Indonesia.

“Kursi roda yang saya pakai sudah selevel dengan milik atlet-atlet Thailand. Merekalah saingan terberat kita di cabang atletik dan tenis lapangan. Semoga saya cepat beradaptasi dengan peralatan baru yang sangat bagus ini,” ujar Doni.

Satu modal termahal yang membuat atlet Indonesia bersemangat mempertahankan gelar juara umum pada 8th ASEAN Paragames 2015 di Singapura ini, tak lain karena perhatian Menpora Imam Mahrawi kepada para atlet paralimpian. “Pak Imam jauh lebih merakyat dibanding pejabat-pejabat sebelumnya. Dia mendatangi dan menyalami 250an orang satu-persatu sata upacara pelepasan. Dan semua janji yang disampaikan Juni lalu, dipenuhi semua. Ini yang membuat kami trenyuh,” ujar Doni.

Menpora Imam mengaku, kebijakan pemberian bonus Rp 200 juta bagi peraih medali emas itu, dilatari pemikiran perlunya mewujudkan persamaan hak kepada seluruh warga negara. “Mereka berlatih, berproses, bermimpi dan bercita-cita yang sama dengan atlet-atlet nondifabel, dan bertanding demi mempertaruhkan harga diri dan martabat bangsa di forum internasional,” ujar Imam Nahrawi.

Imam lantas menuturkan kebijakan Presiden Jokowi, yang ingin memastikan kehadiran negara di tengah-tengah persoalan rakyatnya. “Secara pribadi, saya juga bisa merasakan betapa sakitnya perasaan ketika pemimpin kita, Gus Dur semasa jadi presiden, dikuya-kuya lawan-lawan politiknya, termasuk mengekploitasi keterbatasan fisik beliau. Padahal, keterbatasan fisik tak ada sangkut pautnya dengan nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas yang dimiliki seseorang,” ujar Imam.

Bagi menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa ini, pemenuhan hak-hak difabel diharapkan menjadi tonggak sejarah baru, penghapusan diskriminasi terhadap kaum difabel. “Semoga ini jadi hadiah awal bagi kaum difabel Indonesia dan dunia, yang akan memeringati World Diability Day, 3 Desember mendatang. Semoga, kelak perlakuan kepada difabel menjadi lebih bagus di segala bidang,” pungkas Imam.

7 thoughts on “Cerita di Balik Penghapusan Diskriminasi Difabel

Leave a Reply