Audit Publik Event Kota

Seorang teman gusar. Berulang kali ia melempar gagasan perlunya digelar audit publik atas semua event di Kota Solo. Alasannya, karena semua kegiatan didanai oleh APBD, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka publik berhak untuk tahu dan menuntut kwalitas sebuah event.

Penggunaan duit rakyat secara langsung merujuk pada event yang dibiayai baik sebagian maupun seluruhnya melalui pos anggaran dinas atau satuan kerja perangkat daerah. Sedang yang tidak langsung, adalah gelaran kegiatan yang diinisiasi publik, namun menggunakan fasilitas daerah, termasuk di dalamnya melalui keterlibatan perangkat pemerintah daerah yang untuk mendukung kegiatan operasionalnya menggunakan anggaran daerah.

Audit publik yang dimaksud, tentu bukan hendak menguliti aspek keuangan alias pembiayaan penyelenggaraan kegiatan. Ada yang lebih penting dari itu, yakni sejauh mana sebuah pelaksanaan kegiatan memberi dampak signifikan, baik langsung maupun tidak langsung, kepada daerah. Ya terhadap pemerintahnya, apalagi untuk warganya, dan lain seterusnya. Sebuah event, pasti sudah dirancang secara detil sejak jauh hari, sehingga pemerintah perlu menyantumkannya dalam buku kalender kegiatan yang disebarluaskan ke sebanyak mungkin orang.

Penentuan tanggal pelaksanaan, misalnya, bukan asal comot saja. Kenapa harus berlangsung pada hari dan tanggal tertentu, mestinya berdasar sederet pertimbangan. Siapa target audiens yang diharapkan bakal hadir, harus teridentifikasi sejak mula, sehingga perlu disusun kriteria materi sajian, desain penyelenggaraan, strategi komunikasi/publikasinya, dan seterusnya.

Dari sekelumit uraian di atas, tentu bisa dibuat perkiraan siapa penerima manfaat, di luar keuntungan subyektif dan obyektif penyelenggara, semisal pelaku usaha pendukung: pengusaha penginapan, jasa transportasi, pelaku usaha kuliner, oleh-oleh dan pengrajin cinderamata, dan seterusnya. Kian panjang mata rantai penerima keuntungan, kian sukses sebuah gelaran kegiatan.

Multiplier effects harus terukur sedari proses perancangan, baik bagi pelaksana (event organizers) maupun sponsor utama, yakni dinas/badan di pemerintahan yang harus menyusun alasan target output dan outcome, dan indikator keberhasilan atas besaran nominal anggaran yang direncanakan tahunan.

Sebuah perayaan atau inisiasi kegiatan seperti ekspo, konferensi, festival atau apapun bentuknya, misalnya, pasti akan ditimbang dengan sejumlah alasan. Sebuah event organizer festival seni pertunjukan, misalnya, sejak jauh-jauh hari pasti sudah menimbang siapa artis yang akan dihadirkan, sebab artislah yang bakal memberi bobot gelaran, sehingga bisa diperkirakan target jumlah audiens yang akan ‘meramaikan’. Pada tahap merancang itulah diperlukan sistem kelembagaan bernama kuratorial.

Sudahkah peran kurator dikedepankan? Kalau menyimak kian menyusutnya keterlibatan warga kota Solo atas sekian banyak event kota, rasanya pemerintah kota (dalam hal ini dinas-dinas terkait) perlu segera melakukan refleksi, dan evaluasi. Jika pada masa awal pemerintahan Walikota Jokowi masih banyak orang menanti/menunggu sebuah gelaran, kenapa belakangan miskin perbincangan?

Event organizer tidak bisa diposisikan sebagai satu-satunya pihak yang harus disalahkan. Pemerintah juga harus dimasukkan dalam daftar yang sama, karena mereka punya hak dan kewajiban mengontrol sekaligus. Akan menarik lagi jika pemerintah kota membuat penilaian setiap event berdasar kriteria yang bisa disusunnya dengan melibatkan banyak ahli dan praktisi, sesuai kompetensi masing-masing.

Jika itu terjadi, saya yakin event-event yang tercantum di kalender tahunan akan mendapat atensi memadai dari publik, baik lokal maupun dari luar Solo. Sungguh menyedihkan jika setiap ada event, hotel-hotel tetap sepi tamu (bahkan lama tinggalnya tak beranjak dari sehari saja), dan kereta api dan pesawat tak meningkat tingkat okupansinya.

Saya kok berharap, pemerintah kota (entah diinisiasi walikota atau kepala-kepala dinasnya) menggelar audiensi publik, semacam dengar pendapat untuk mengetahui respon atas sebuah event. Jika itu terjadi, saya yakin akan banyak lahir event-event bermutu karena proses pembelajaran secara alamiah akan terjadi. Pelaksana kegiatan (event organizer) juga bisa berproses, lantas meningkat pula kemampuannya.

Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply