Pak Jokowi Harus Hati-hati

Sepertinya, Pak Presiden harus hati-hati. Terlepas masih ada banyaknya pembenci (haters) sebagai buntut pemilihan Gubernur DKI dan pemilihan presiden, yang selalu menempatkannya pada posisi harus salah dan disalahkan, haru diakuai juga kian banyak kalangan netral pun mulai ‘kebingungan’ membaca Jokowi. Celakanya, mereka yang netral tak punya referensi independen, mengingat para pendukung fanatiknya kelewat membabi buta dalam melakukan pembelaan.

Kunjungan Pak Jokowi ke Jambi menemui Suku Anak Dalam, pun berbuah kontroversi. Para pembenci mengolok-oloknya berdasar foto-foto yang beredar. Banyak pihak serempak melakukan pembelaan. Intinya, semua hendak menjelaskan bahwa pertemuan itu bukan setting-an. Polisi pun pamer kesigapan, membuat pernyataan sedang menelisik penyulut kegaduhan di media sosial.

Kalau mengingat prosedur standar kunjungan presiden, bisa dipastikan sudah ada beragam persiapan, setidaknya beberapa jam sebelum kedatangan. Bahwa di lokasi kunjungan Presiden Jokowi biasa berimprovisasi, namun satu hal yang tak mungkin luput adalah prosedur pengamanan. Karenanya, improvisasi tak pernah jauh dari cakupan luasan wilayah pengamanan.

Dalam hal tuduhan ‘rekayasa’, saya rasa wajar saja keberadaannya. Karena presiden adalah salah satu simbol negara, bangsa manapun akan menerapkan prosedur serupa. Jika segala sesuatunya sudah direncanakan (baca; direkayasa), itu sudah pasti! Wajar saja sebenarnya.

Namun, ada yang mengganjal dari pernyataan Presiden Jokowi dalam beberapa kunjungannya akhir-akhir ini. Ketika bersama Suku Anak Dalam, misalnya, muncul pemberitaan mengenai materi dialog tentang tawaran membuatkan rumah tinggal permanen untuk mereka. Maka, muncullah tanggapan kritis, yang menyebut Pak Jokowi mengabaikan faktor keteraingan mereka akan alam sekitar yang diakibatkan oleh alih fungsi hutan menjadi lahan bisnis. Bahkan, muncul sebutan Jokowi melakukan kekerasan kultural atas tawarannya itu.

Selain ‘perkara Jambi’, pernyataan Presiden Jokowi di hadapan Barack Obama tentang niat Indonesia bergabung dengan Trans Pacific Pratnership (TPP) pun ditanggapi beragam. Tak sedikit pengamat yang mengkritisi keinginan Pak Jokowi itu sebagai terburu-buru, mengingat keterlibatan Amerika pada ‘pakta ekonomi Pasifik’ itu belum sepenuhnya didukung di dalam negeri Paman Sam.

Dari dua kasus itu, saya kok menduga ada yang kurang di internal lembaga kepresidenan. Apakah Pak Jokowi tak mendapatkan masukan memadai dari tim pakarnya mengenai kedua perkara itu? Saya lebih kuatir lagi, Tim Komunikasi Presiden kurang sigap mengantisipasi, sehingga persoalan melebar ke mana-mana? Dasarnya sederhana saja, sifat Pak Jokowi yang saya kenal, ia ingin berbuat sebanyak mungkin untuk melakukan perubahan yang ujungnya pada kesejahteraan bangsa Indonesia, tanpa kecuali, termasuk pada Suku Anak Dalam.

Hanya saja, karena kelewat bernafsu untuk berbuat, maka Pak Jokowi gampang tergelincir oleh pernyataan dan sikapnya sendiri. Saya masih meyakini, dalam dialog dengan warga Suku Anak Dalam, Pak Jokowi masih memerhatikan aspek-aspek kearifan lokal dan budaya mereka. Mungkin ada kalimat dari dialog yang tak tersampaikan secara utuh, sehingga berefek menjadi bumerang.

Semoga Pak Jokowi lebih awas lagi, dan lebih berhati-hati. Apalagi jika melihat kecenderungan orang yang berada di sekeliling penguasa, selalu ingin menikmati zona nyamannya, lalu berlakulah mereka dengan orientasi menyenangkan Sang Bapak alias asal bapak senang (ABS).

Pak Jokowi, saya merindukan kembalinya sifat panjenengan yang lebih menyukai orang-orang kritis dan berintegritas di sekeliling panjenengan. Jujur, saya kuatir ada pihak yang menggiring panjenengan ke arah yang salah. Hanya itu celah yang paling mungkin untuk mendeligitimasi panjenengan, sebab berharap panjenengan terperosok ke dalam kasus korupsi atau tindakan nepotis, rasanya jauh lebih sulit.

Nyuwun ngapunten nggih, Pak. Mungkin saya keladuk. Tapi begitulah saya membacanya… Harap diingat, Gus Dur dulu dijatuhkan juga lantaran kecintaannya kepada bangsa dan negara ini. Implementasi dari sikapnya itulah yang membuat banyak orang terganggu kepentingannya. Sugeng enjang, Pak Jokowi….

Update: …4 Nov 2015 pk. 15.18

Berita Fakta di Balik Tudingan Rekayasa Jokowi dan Suku Anak Dalam yang Menyesatkan di Kompas ini bagus, meski terlambat. Tapi lumayan bisa meluruskan pembelokan isu oleh haters. Andai tak ada berita semacam ini, Istana juga tampak belum berhasil meluruskan isu, dalam arti menyodorkan fakta dari lapangan.

One thought on “Pak Jokowi Harus Hati-hati

Leave a Reply