Reposisi Relawan Jokowi

Catatan setahun Pemerintahan Jokowi, 20 Oktober 2014 – 20 Oktober 2015

Ketika media dan banyak pengamat membuat catatan mengenai setahun pemerintahan Jokowi, saya mencoba membuat catatan dari sisi lain, yakni dengan sudut pandang ‘internal’. Internal yang saya maksud di sini adalah mereka yang berada dalam lingkaran pendukung pencalonan Jokowi dalam pemilihan presiden 2014, yang dikenal dengan istilah Relawan Jokowi.

Relawan Jokowi menjadi fenomena menarik dalam peristiwa politik Indonesia, yang spektrumnya sangat luas, menembus batas wilayah, strata sosial, kesukuan, agama dan hingga latar belakang kultur. Tak heran, pada pemilihan presiden kemarin, banyak lembaga melakukan penelitian terhadap komunitas-komunitas relawan yang tersebar di seantero Indonesia hingga mancanegara.

Saya sendiri menjumpai banyak orang, termasuk teman-teman yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, ternyata kemudian saya ketahui menjadi organizer dari kelompok-kelompok kecil, mulai teman sekolah, kuliah, rekan kerja, dan lain sebagainya. Saya pun punya pengalaman menarik, memproduksi kaos dengan desain khusus berikut tanda tangan Pak Jokowi, laris dipesan dari berbagai kota di Indonesia.

Alangkah menyenangkannya suasana kegembiraan berpolitik setahun lalu itu. Beberapa orang dan agensi menawari honor cukup besar hanya untuk menulis di blog, bertema tentang Jokowi dan membebaskan gaya dan materi tulisan. Padahal, tanpa dibayar pun, saya sudah dan akan melakukannya dengan ikhlas. Dan, dari honor yang nilainya mencapai belasan juta rupiah itulah, saya memproduksi kaos, untuk saya bagikan ke teman-teman, kenalan, saudara dan kerabat, yang akhirnya malah ‘dipaksa’ jualan.

Inilah desain kaos yang saya produksi, dengan tanda tangan otentik Pak Jokowi.

Inilah desain kaos yang saya produksi, dengan tanda tangan otentik Pak Jokowi.

Nasib saya, kurang lebih sama dengan banyak orang, termasuk pedagang kakilima, yang memproduksi berbagai macam desain kaos dan baju bergambar Jokowi, yang laku keras bagaikan jualan rokok! Baru kali ini, orang mau membeli kaos untuk sebuah kampanye pemilihan presiden. Sebelumnya, jangankan membeli, diberi cuma-cuma sekalipun belum tentu orang mau memakainya.

***

Banyak orang, mulai remaja hingga orang tua seperti terkena sihir Jokowi. Kesederhanaan penampilan dan catatan keberhasilannya menjadi Walikota Solo dan gebrakan ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta, menjadi pesona lahirnya dukungan. Banyak orang mengorganisir diri, termasuk membiayai aktifitas masing-masing. Bahkan, sumbangan dana kampanye pemilihan presiden mengalir demikian deras.

Di luar relawan yang saya anggap terbentuk secara spontan nan tulus, tak jarang saya dengar ada banyak orang yang bisa meraup ‘untung’ secara finansial, hanya dengan men-declare diri sebagai relawan dan membentuk nama kelompok relawan. Mereka dan kelompoknya yang memiliki akses pemberitaan (pers dan media sosial) pun menjadi rujukan saluran aneka macam bantuan untuk pemenangan. Satu-dua ‘jagoan’, malah saya dengar lewat selentingan, meraup untung personal hingga puluhan milyar!

‘Keuntungan’ itu didapat karena levelnya yang sangat tinggi, dan memiliki jaringan donasi masyarakat kelas tinggi. Sulit dibayangkan, meski sangat masuk akal. Saya sebut keuntungan, sebab itu merupakan kelebihan setelah digunakan untuk biaya operasional, pengadaan alat peraga dan sebagainya, hingga ke seluruh pelosok nusantara. Terhadap yang demikian, saya yakin, Pak Jokowi hanya mendiamkan saja, meski mencatat dalam hatinya. Asal yang ngasih sudah mengikhlaskan sumbangannya, dalam arti tidak meminta imbalan ini-itu, ya akan dibiarkannya saja.

Beraneka desain kaos dukungan untuk pencalonan presiden Jokowi.

Beraneka desain kaos dukungan untuk pencalonan presiden Jokowi.

Ya, menyerahkan sepenuhnya pengelolaan dana kepada yang bersangkutan, dan tidak meminta bagian, walau serupiah sekalipun. Saya kenal betul sifat Pak Jokowi, yang tak mau menyentuh dan berhubungan langsung dengan penyumbang, sebab sudah menjadi sifatnya tak ingin terganggu dengan balas budi, di kemudian hari.

Pak Jokowi yang saya kenal adalah sosok yang tidak mau melakukan deal-deal pragmatis-transaksional hanya untuk sebuah jabatan. Posisi walikota, gubernur, bahkan presiden, tak pernah dilihatnya sebagai aset kekuasaan yang hendak dinikmatinya sendiri bersama keluarga, kawan dekat dan seterusnya.

Pak Jokowi lebih melihat jerih payah, bantuan dan sumbangan publik (siapapun itu) sebagai ‘utang budi’ yang disimpannya dalam hati, yang akan ditebusnya kelak, dengan cara menciptakan kebijakan yang memberi dampak ekonomis, dan kesejahteraan bagi sebanyak mungkin orang, yang bernama rakyat Indonesia. Silakan saja jika Anda, para pembaca menilai tulisan ini sebagai lebay, hiperbolis dan semacamnya.

Yang pasti, hingga tulisan ini dibuat, persepsi saya terhadap Pak Jokowi masih sama dengan beberapa tahun sebelumnya, ketika masih menjabat Walikota Surakarta. Saya tidak menutup mata atau menggunakan kacamata kuda. Sikap saya bisa berbalik 180 derajat jika kelak saya dapati indikasi kuat, apalagi bukti, Pak Jokowi sudah berpaling dari kami, mengkhianati cita-cita kami yang pernah dia sampaikan lewat kampanye yang kami amini.

***

Saya tetap akan berusaha kritis dan obyektif menilai sepak terjang dan produk-produk kebijakannya. Dan saya beruntung masih bisa memperoleh banyak informasi mengenai banyak kebijakannya, dari sumber-sumber yang saya kenali dan percaya integritas dan rekam jejaknya. Dengan demikian, saya masih bisa mencocokkan dengan apa yang terjadi di lapangan, termasuk kebingungan banyak orang mengenai sikapnya terhadap ‘gegeran’ KPK versus Polri, kontroversi seputar kebijakan sejumlah menteri, dan sebagainya.

Begitu pula dengan sepak terjang sejumlah relawan, yang merasa semua ‘jerih payah’ dan keterlibatan kampanyenya kemarin, perlu ‘diapresiasi’ dalam bentuk beraneka jabatan dan keuntungan material. Maka, tak mengherankan jika banyak menteri dan pejabat BUMN pun kebingungan akibat kebanjiran proposal aneka kegiatan yang disodorkan oleh mereka yang dulunya menyebut diri sebagai relawan.

Saya ingat betul ucapan banyak orang, para relawan (boleh disebut dengan ‘relawan cetak tebal) itu, yang menyatakan rela bekerja siang-malam tanpa imbalan, karena menemukan sosok yang bisa dititipi mengelola harapan perubahan. Tak kurang, mereka mengaku akan kembali ke aktifitas keseharian mereka, mengontrol Jokowi dan tidak akan masuk ke lingkaran pemerintahan. Tapi, namanya manusia, tetap saja muncul sosok-sosok relawan semu, yang menumpang momentum, atau bahkan menyalip di tikungan, ingin menagih imbalan.

Anehnya, imbalan yang diharapkan berupa jabatan atau posisi di pemerintahan, lembaga dan badan usaha negara. Belum cukup bagi okum-oknum relawan itu memperoleh keuntungan material dari penghimpunan dana sumbangan masyarakat untuk kampanye, entah itu yang benar-benar kelebihan atau sisa anggaran, atau yang memang sengaja sudah dilakukan saving sejak awal. Tidak semua orang memiliki derajad ketulusan yang sama, bukan?

Tapi percayalah, yang demikian tidak banyak jumlahnya. Namun, meski sedikit, akhirnya menjadi gangguan, setidaknya mendegradasi ketulusan relawan yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Di level daerah, justru banyak tokoh relawan yang kebingungan menjawab aneka pertanyaan dari ‘konstituen’ mereka, yakni orang-orang terdekat mereka, yang dulu bersama-sama nyengkuyung, mendukung pencalonan Jokowi dalam pemilihan presiden.

Sempat, memang, ribuan relawan digerakkan untuk berkumpul oleh koordinator nasional di beberapa tempat. Mereka pun datang dengan sukarela, meski diberi subsidi biaya transportasi seperlunya. Dan, mereka benar-benar tidak mempersoalkan subsidi biaya transpor dan fasilitas lain. Harapan mereka nyaris sama: masih akan menjadi sebuah jejaring, memperoleh pembaruan informasi, serta memiliki saluran untuk melakukan pengaduan, terutama yang berkenaan dengan problem-problem riil di lapangan, seturut dengan harapan perubahan yang semula diyakini lebih cocok dan efektif jika dititipkan melalui Pak Jokowi.

Rupanya, sejumlah relawan malah berkeluh kesah, merasa tak memperoleh apa-apa dari pertemuan akbar tersebut. Soal makan dan hiburan, mereka anggap sudah cukup mengobati lelahnya perjalanan. Tapi, tak adanya deliveri informasi, terutama penjelasan mengenai kenapa Si A menduduki jabatan tertentu, Si B diberi tugas pada kementerian tertentu dan seterusnya, sementara hal demikian sangat diharapkannya.

Para relawan yang berharap mendapat pencerahan, juga update informasi hingga arahan mengenai pengawalan kebijakan yang berpihak kepada rakyat banyak, berujung pada kekecewaan. Kali itu, mereka masih bisa memaafkan. Mereka masih bisa memberi ruang toleransi mengingat suasana euforia kemenangan masih menggelora.

Kini, memasuki tahun kedua (dari lima tahun periode pemerintahan), para relawan-relawan tanpa pamrih itu pasti akan lebih berani menagih janji, ketika praktik penyelenggaraan pemerintahan dan aneka kebijakan tidak nyambung dengan janji-janji kampanye Pak Jokowi. Mereka yang sudah move on itu, pasti akan lebih kritis dan ekspresif menyikapi beragam pernyataan dan kebijakan (politik/ekonomi) Pak Jokowi, yang dinilainya tak mudah dipahami, atau benar-benar menjawab kebutuhan rakyat banyak.

Mereka, saya yakini semakin meneguhan diri, melakukan reposisi kerelawanan, yakni benar-benar kembali ke peran asal, tidak akan serta merta mendukung kebijakan Pak Jokowi, namun akan selalu mencari keselarasan antara janji dengan bukti. Oleh sebab itu, pekerjaan rumah terbesar Pak Jokowi adalah menyiapkan tim khusus, dengan tugas khusus, memberi penjelasan memadai atas sebuah pernyataan (politik) atau kebijakan.

Sebab bukan tidak mungkin, pernyataan Pak Jokowi kadang akan dibuat mengambang atau multitafsir dengan metafora-metafora tertentu lantaran ada potensi benturan kepentingan dengan elit politik, pemodal atau kekuatan-kekuatan politik lainnya jika diungkapkan apa adanya. Jika demikian yang terjadi, maka kebingungan publik bakal muncul. Efeknya, reaksi pun bisa beragam dan bisa berakibat kontraproduktif.

Andai begitu, siapa yang bertugas (dan diberi tugas) memberi penjelasan? Dalam praktik politik, apalagi di level setinggi lembaga kepresidenan, mustahil bisa menghindar dari pertarungan kepentingan, dengan aktor yang tak sedikit jumlahnya.

Mereka, para relawan yang dulunya sukarela berhimpun dan menghimpun energi dan materi demi memperjuangkan kemenangan Pak Jokowi, bisa dipastikan akan menagih. Bukan untuk keuntungan orang-perorang, namun berupa perubahan yang bisa dirasakan bersama, antarkelompok relawan dalam arti sangat luas, yakni seluruh rakyat Indonesia.

Pada situasi begini, sudah seharusnya para relawan (ingat, yang dicetak tebal), segera sadar diri. Bagi mereka yang sudah memperoleh posisi strategis dan memiliki akses informasi memadai (bahkan dari Pak Jokowi), sebaiknya bersedia menyebarkannya ke semua lini. Agar kebaikan bersama bisa terwujud, dan cita-cita awal mengusung Pak Jokowi bisa menemukan bukti. Itulah yang saya maksud dengan istilah reposisi.

Saya, juga sebagian besar relawan di berbagai tingkatan, insya Allah sangat jauh dari iri hati. Sebab ini bukan soal rebutan roti dan periuk nasi. Silakan menikmati rejeki. Syukuri saja karuniai Illahi. Yang saya kemukakan di sini hanyalah semata-mata ungkapan kegelisahan dan ketakutan, jika Pak Jokowi saya yakini sedang (dan akan) ditelikung di sana-sini (demi mewujudkan janji perubahan yang sejalan dengan kehendak mayoritas rakyat Indonesia), namun luput terbaca dan kita terlambat menyikapinya. Itu saja.

Leave a Reply