Surat untuk Pak Jokowi

Sugeng dalu, Pak Jokowi. Semoga panjenengan selalu sehat dan dalam bimbingan Allah.

Pak Joko, setahun sudah panjenengan menjalankan amanat rakyat Indonesia sebagai Presiden, Panglima Tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

InstagramCapture_7bd04056-1299-46ea-bb3e-370cf5b3a444_jpgSaya yakin, hari-hari ini akan bertebaran catatan, kritik, juga cacian dari berbagai kalangan. Ada yang netral, puas, pun tak sedikit pula yang tidak puas bahkan selalu menyalahkan. Saya yakin, panjenengan sangat siap dan sudah tahu alasan-alasan mereka. Biarlah rakyat mengekspresikan sikapnya. Toh, rakyat juga tahu mana pendapat dan sikap yang fair, atau asal tidak suka. Kalau dipetakan siapa-siapanya, semua sudah cukup jelas…

Ada yang kecewa karena merasa punya jasa namun tak mendapat apa-apa, ada yang memang dari dulu sudah punya sikap ‘pokoknya Jokowi selalu salah!’. Terhadap kedua macam tadi, saya kira jauh lebih mudah menyikapinya. Dicuekin, pun tak bakal berimbas apa-apa.

Justru terhadap yang saya sebut setelah ini, Pak Jokowi, maka panjenengan harus lebih waspada, ekstra hati-hati. Yakni, mereka yang berada di dekat-dekat panjenengan, yang asalnya bisa dari mana saja. Bisa partai politik, militer, profesional, pengusaha, relawan, teman dekat, dan masih banyak lagi… Dengan kedekatan fisik –karena aktifitas kerja harian, mungkin panjenengan jadi kenal dekat dan, tapi belum tentu pemahaman personal(iti)nya terbangun cukup dalam.

Pak Jokowi, saya membayangkan kesibukan panjenengan yang luar biasa dibanding ketika masih menjabat Gubernur DKI, apalagi Walikota Surakarta. Meski memiliki banyak staf-staf yang memiliki kemampuan luar biasa dan mumpuni, belum tentu juga nihil kepentingan. Vested interest biasa menggoda, seperti setan yang selalu menyertai manusia, membisikkan kemudahan dan kenikmatan subyektif, seberapapun baiknya seseorang. Kiai atau pemimpin agama sekalipun, tak akan luput dari godaan setan.

Pak Jokowi, kian cerdas dan punya banyak akses ke panjenengan, seseorang mudah tergoda, atau setidaknya, khilaf. Dan khilaf atau lupa, adalah manusiawi. Dan, sebagai orang beragama, kita sama-sama tahu, kekhilafan dan kelupaan, termasuk dosa yang bisa diputihkan. Berbeda dengan kenikmatan atas efek khilaf dan lupa, yang membuat seseorang menjadi menikmati, lalu pura-pura lupa. Terhadap yang demikian, panjenengan mesti memperbanyak istighfar dan meminta pertolonganNYA.

Pak Jokowi, beberapa hal yang saya takutkan adalah, ketika panjenengan memeroleh laporan serba baik dan menyenangkan. Yang demikian, saya yakini bakal menjadi awal kegagalan panjenengan. Siang tadi saya mendapat kiriman rekaman suara dari teman, tentang obrolan beberapa petani di Lampung. Dalam rekaman obrolan itu, seorang petani, misalnya, mencurigai ajakan petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian di sana, untuk bertemu membahas rencana tanam jagung. Sebelumnya, PPL tidak pernah proaktif mendatangi dan berdialog dengan mereka. Bahkan, dalam forum Yasinan di perkampungan petani, sang PPL juga datang mendokumentasikan dengan kamera foto.

Mereka curiga, kedatangan PPL itu bagian dari upaya korupsi lewat klaim-klaim sepihak, yang dilaporkan dan dipertanggungjawabkan sebagai bentuk penyuluhan kepada petani. Luasan lahan garapan, pun bisa disulap secara administrasi yang ujung-ujungnya gelontoran uang program yang masuk ke saku oknum-oknum aparatur negara. Pak Jokowi punya program perluasan lahan pertanian sekaligus intensifikasi, kan?

Yang demikian, ‘nyambung’ dengan cerita seorang teman di sana, dimana ketika panjenengan meresmikan dimulainya pembangunan jalan yang menghubungkan seluruh penjuru Pulau Sumatera, alat-alat berat langsung dikirim kembali ke Jakarta, tak lama berselang setelah panjenengan meninggalkan lokasi peresmian. Yang demikian, sama persis dengan ketika Pak Jokowi meninjau lokasi kebakaran di Kalimantan, tampak banyak orang sibuk bahu-membahu memadamkan api, bukan?

Untung, naluri panjenengan kuat, sehingga ingin kembali mendatangi lokasi, yang ternyata mendapati tiadanya aktifitas manusia, padahal baru berselang menit setelah panjenengan meninggalkan lokasi.

Pak Jokowi, saya selalu teringat ucapan panjenengan ketika bertemu teman-teman, lalu bercerita tentang keberhasilan program atau kebaikan panjenengan. Atas laporan demikian, panjenengan biasanya selalu tertawa dan berujar, “Kalau yang baik-baik jangan ceritakan ke saya. Saya lebih butuh yang buruk dan kekurangan-kekurangan…”

Pak Joko, saya senang sekali, saat melakukan kunjungan ke Sukoharjo di awal menjabat Presiden, panjenengen hanya datang sejenak lantaran jalan di tengah sawah sudah halus mulus usai diaspal. Juga penyambutan serius oleh Bupati Sukoharjo, serta kunjungan malam-malam Menteri Pertanian le lokasi, dua hari sebelumnya, untuk menyiapkan ini-itunya. Alhamdulillah, di tempat itu, panjenengen hanya turun beberapa menit lalu pindah ke lokasi lain yang lebih alami, tidak dibuat-buat, yang disiapkan ‘tim bayangan’ panjenengan.

Pak Jokowi, penjerumusan oleh orang-orang di sekitar istana, saya yakin jauh lebih canggih dan tidak kasat mata. Apalagi oleh orang-orang birokrasi, yang sudah pasti sangat lihai. Dan, kita belum bicara orang-orang partai, yang berharap jabatan dan kekuasaan demi uang, minimal untuk membiayai roda organisasi. Saya yakin, ada hal yang bisa dikompromikan, namun bukan hal mustahil jika sebagian (atau malah semuanya?) diam-diam bermain di belakang panjenengan.

Pak, panjenengan pasti sangat mengerti dan bisa merasakan, bahwa rakyat sejatinya menyimpan beragam pertanyaan namun tak diungkapkan, di antaranya:

  • tentang penguasa Pelabuhan Tanjung Priok RJ Lino yang bersikap dan berkata arogan,
  • tentang beda pendapat soal impor beras; dimana Wakil Presiden bilang perlu, sementara panjenengan sudah menolak,
  • tentang kereta cepat yang tetap jalan terus, sementara panjenengan bilang belum perlu,
  • tentang pernyataan-pernyataan segelintir jenderal polisi yang menyiratkan tidak ada rasa hormat terhadap panjenengan,
  • dan, bisa jadi masih banyak lagi…

Pak Joko, saya minta maaf jika saya keladuk, kelewat nekad mengungkapkan perasaan saya sedemikian terbuka. Saya yakin, panjenengan juga paham maksud saya.

Sejujurnya, Pak, saya meyakini hanya satu-dua orang saja di lingkungan terdekat panjenengan, yang berani mengingatkan janji-janji saat kampanye dulu dan pernyataan janji kepada warga di setiap acara kunjungan resmi dan tidak resmi kepresidenan. Mungkin ada yang mencatat, namun tidak berani, pakewuh menyampaikan kepada panjenengan, sebagai pengingat untuk menunaikan janji-janji.

Begitupun para menteri dan pejabat tinggi, saya yakin tak banyak yang berani membicarakan kendala di lapangan atau kesulitan-kesulitan mereka dalam menjalankan program. Maka tak aneh, jika serapan anggaran semua kementerian pada jeblok. Mungkin mereka kelewat bernafsu bikin program, namun tak paham persoalan di lapangan, atau di dalam birokrasinya sendiri, atau… …karena asik bermimpi bisa mengisi pundi-pundi lewat program itu dan kegiatan ini.

Berapa menteri atau pembantu-pembantu panjenengan yang berani bicara terbuka, apa adanya, tentang rencana program, dan juga kesulitan-kesulitan yang dihadapinya? Saya yakin, banyak yang gengsi, sungkan, atau pakweuh sehingga lebih memilih laporan berkategori asal bapak senang.

Jika demikian yang terjadi, saya kuatir dan ketakutan, panjenengan akan ditinggalkan rakyat, bahkan pendukung panjenengan, gara-gara banyak janji yang luput berbuah kenyataan. Mungkin bukan karena kesalahan panjenengan, namun efeknya, tetap saja panjenengan yang disalahkan. Dan jika itu terjadi, panjenengan juga tak bisa menyalahkan rakyat. Pun, panjenengan tak bakal mengungkap ke publik mengenai egagalan-kegagalan pembantu panjenengan. Bukan sifat Pak Jokowi mempermalukan orang lain.

Sebagai penikmat karya sastra dan penonton pertunjukan drama, saya belajar banyak hal. Tentang tepuk tangan meriah dan senyum cerah di depan panjenengan, namun diam-diam mencibir dan menjelek-jelekkan ketika memunggungi panjenengan. William Shakespeare, bahkan punya karya drama apik, yang berkisah tentang Julius Cesar yang ditikam Brutus, yang tak bukan adalah orang terdekatnya.

Pak Jokowi saya yakin panjenengan sangat mengenali mereka dan selalu awas terhadap Brutus-Brutus yang berkeliaran di dekat panjenengan.

Satu hal yang menurut saya harus panjenengan ingat selalu, hanya rakyatlah pendukung sejati panjenengan. Elit-elit politik, apapun partainya, pasti akan memilih cari jalan selamatnya sendiri ketika rapor panjenengan merah total di hati rakyat. Hingga saat ini, saya yakin rakyat masih percaya kepada panjenengan, seperti halnya saya.

Tapi, meyakinkan ratusan juta rakyat jelas tak bisa melalui pernyataan dan retorika belaka. Mereka hanya mendasarkan pada bukti, hasil kerja…kerja…dan kerja panjenengan, juga pembantu-pembantu panjenengan.

Pak Jokowi, di tahun pertama pemerintahan panjenengan, semoga memperoleh banyak masukan dan catatan-catatan jujur, dari siapapun. Dengan demikian, panjenengan bisa menata Indonesia jauh lebih baik dari yang sudah.

Yang sabar, yang kuat, nggih, Pak Jokowi. Panjenengan harus yakin, rakyat masih di belakang panjenengan selama Pak Jokowi masih bisa berdekatan dengan rakyat. Jika memang harus mengganti menteri yang tak mampu atau karena memiliki agenda sendiri, segeralah lakukan. Setahun sudah cukup untuk berkompromi dengan petinggi-petinggi partai politik. Jika menteri-menteri yang mereka sodorkan tidak bisa diajak bekerja, ya segera gunakan hak prerogatif panjenengan.

Selamat menjalankan program-program panjenengan, semoga Allah memberikan kekuatan hingga empat tahun yang akan datang. Jika harapan rakyat akan perubahan mewujud signifikan, Insya Allah bisa meneruskan kepemimpinan, jika panjenengan masih kersa, mau repot-repot dan dipusingkan oleh deal-deal politik yang kadang tidak bermutu.

Selamat bekerja, Pak Jokowi…

Catatan:

Buat yang mau nambahi, silakan tulis di kolom komentar. Siapa tahu jadi amal jariyah karena menemani dan mengingatkan pemimpin negara juga merupakan kebaikan yang dicatat malaikat 🙂

6 thoughts on “Surat untuk Pak Jokowi

  1. Nophie Frinsta

    Saya suka dengan surat ini. Mentes isinya tapi alus kulitnya. Pak Jokowi harus memperhatikan surat-surat yang seperti ini. Bukan surat-surat yang “beringas” meski memuat dalil-dalil dan di buat oleh orang agamis.

    Terus menulis Pak Poer, Ingatkan Pak Jokowi untuk selalu waspada.

  2. Dendoniii

    Saya termasuk orang yang geram melihat para haters yang asal njeplak, asal mencaci, bukan mengkritik kinerja, malah menghina. Tapi bener kata pakdhe blonthank, pak jokowi pasti cuek2 aja. Hanya sedikit saran buat bapak, maksimalkan peran kepala daerah, walikota, bupati hingga gunernur, kerja mereka harusnya maksimal, sehingga bapak hanya bertugas mengontrol, tak perlu turun tangan, ya walaupun itu menjadi tanggung jawab bapak, seperti masalah asap, kasih deadline mereka memecahkan masalah di daerahnya. Kalau tidak bisa, ganti. Walau sistem pergantian Kada gmn mekanismenya kurang paham jg. Jika semua kepala2 itu bekerja maksimal, menganggap bahwa wilayahnya pantas dilindungi, mereka bukan tangan panjang partai pengusung beserta koalisinya, bukan cetakan uang dari kepentingan “proyek2” jg, mereka bapak dari rakyat di daerahnya masing2. Birokrasi itu seperti susunan roda gerigi yang menggerakkan jam, jika salah satu fungsi roda gerigi tidak berjalan baik, jarum jam yang seharusnya bergerak normal, jadi lambat, ngadat. Mpun cekap semonten dhe, maturnuwun, ngapunten kalau tulisan saya awut2an. Semoga pak jokowi sehat, kuat, dan bisa mewujudkan nawacita, kagem pakdhe blontank, mugi2 nggih sehat, sabtu maen ke RBI insyaallah kalau jd pulang. Assalamu’alaikum.

  3. Hal seperti inilah yang saya kuatirkan sejak awal Pakde, lama kelamaan saya melihat Jokowi hanya menjadi sasaran tembak dari para hatersnya dimana yang menyebarkan isunya bukan dari Beliau sendiri. Mohon maaf jika pemikiran saya salah, sampai detik ini saya masih memandang Jokowi kurang bisa tegas dalam menentukan sikap. Sedangkan di sekelilingnya diisi oleh orang-orang yang sepertinya “lapar” kekuasaan. Sekarang jika seorang Blontank Poer saja sudah bisa membuat tulisan seperti ini, saya kira kondisinya sudah sedemikian parah. Semoga saja tulisan ini bisa dibaca langsung oleh Jokowi. Terima kasih sudah diperkenankan untuk berkomentar. 🙂

Leave a Reply