Lancar Berkabar dari Zona Bencana

Hidup saya sepertinya tak pernah lepas dari dunia (tele)komunikasi. Saya menggunakan beragam perangkat dan teknologi, mulai faksimili berlangganan di kantor Telkom Solo, pager (STARKO), telepon AMPS (Metrosel) hingga ketika teknologi GSM mulai diperkenalkan di Indonesia. Saya juga pernah berlangganan hampir semua operator telekomunikasi, baik yang GSM maupun CDMA. Koneksi Internet pun pernah saya jalani sejak modem Robotics 56K merajai pasar Indonesia.

Dari kilasan pengalaman berteknologi itu, satu yang memberi kepuasan lebih kepada saya, jujur harus saya sampaikan di sini, hanya XL. Ketika ‘mampir’ semalam di Singapura (setelah sepekan ikut pusing mengurus ijin kepolisian pertemuan aktivis NGO internasional di Batam, 2006), di ujung selatan Negeri Singa, saya masih dapat sinyal dari BTS dari Batam, sehingga tidak terkena biaya roaming. Baru ketika masuk pusat kota seperti di Orchard Road, saya memilih mengganti dengan kartu setempat. Biar irit.

Modem BandLuxe berkecepatan maksimum 7,2 mbps (Foto: tweaktown.com)

Modem BandLuxe berkecepatan maksimum 7,2 mbps (Foto: tweaktown.com)

Tapi bukan soal itu yang membuat saya terkesan. Justru pada akhir 2007,   sangat dimudahkan karena pada saat itu memiliki BandLuxe, perangkat modem bundling dari XL. Dari lokasi musibah bukit longsor di Dukuh Ledoksari, Tawangmangu (Jawa Tengah), saya bisa terus melakukan update perkembangan proses pencarian dan evakuasi korban, yang memakan korban sedikitnya 37 orang tewas tertimbun dan ratusan rumah rata dengan tanah atau tertimbun.

Hingga beberapa hari bolak-balik ke lokasi, saya bisa terus mengirimkan foto untuk sebuah kantor berita (asing) dan melaporkan perkembangan. Tanpa modem dan koneksi XL, mungkin saya kehilangan banyak momen. Kala itu, sebagian besar koresponden masih harus ke Solo untuk mengirim foto lewat warung internet. Hanya beberapa yang berbekal modem, mengingat kala itu masih termasuk barang ‘mewah’. Mewah bukan lantaran harga modem masih mahal, melainkan tidak semua BTS dari beberapa operator memiliki koneksi HSDPA atau WCDMA yang lebih kencang.

Beberapa teman yang menggunakan modem independen dengan koneksi operator lain, banyak mengeluhkan lambatnya download/upload. Apalagi, bagi fotografer yang biasanya mengirim minimal empat foto berukuran masing-masing 500 KB hingga kisaran 1 Megabytes. Dengan kecepatan koneksi Internet 3G, 70 menit waktu kirim file foto sebesar 2MB sudah termasuk ‘cepat’ dan menguntungkan. Jika harus turun ke Solo, saya akan kehilangan waktu 90 menit hanya untuk perjalanan bolak-balik, di luar proses mengirim dari waret yang juga memerlukan minimal 30 menit untuk besaran attachment file yang sama. Maklum, rata-rata warnet di Solo juga belum memiliki koneksi secepat sekarang.

Sambil menunggu selesai proses upload selama 70 menit itu, saya bisa meninggalkan netbook yang terkoneksi Internet untuk mengamati perkembangan proses evakuasi oleh tim pencari (SAR), sekaligus bisa memotretnya jika ada yang menarik. Yang sudah pasti, saya tidak perlu capek-capek pergi ke Solo lalu balik lagi.

Tak hanya di Ledoksari, Tawangmangu, pada waktu hampir bersamaan pun terjadi lagi bukit longsor di Kecamatan Jenawi, masih di kabupaten yang sama. Meski skalanya longsorannya kecil, namun tetap saja memiliki nilai berita yang cukup tinggi. Lokasinya pun cukup sulit dijangkau, berjarak sekitar 20 kilometer dari lokasi longsor pertama, namun waktu tempuh ke warnet (di Solo) bertambah 60 menit lebih lama.

Dari lokasi longsor kedua itu, meski koneksi Internet hanya sekelas GPRS, saya masih bisa mengirim email dari tempat kejadian. Karena lemot-nya koneksi, saya hanya mengirim beberapa foto saja, dengan total attachment sekitar satu koma sekian Megabyte. Dari file sekecil itu (untuk ukuran sekarang), saya memerlukan waktu hampir dua jam! Lambat, memang. Tapi,lagi-lagi kalau dihitung dari sisi waktu dan biaya, tetap lebih murah. Saya tak usah harus beli bensin dan membayar sewa akses di warnet.

Bencana tanah longsor di Dukuh Ledoksari, Desa/Kec. Tawangmangu, Karanganyar.

Bencana tanah longsor di Dukuh Ledoksari, Desa/Kec. Tawangmangu, Karanganyar.

Andai koneksi Internet mobile sudah sekencang sekarang, jaringan (BTS) sebanyak sekarang, dan perangkat smartphone dengan kamera ber-pixel gede seperti kini, mungkin saya bisa mengunggah lebih banyak foto, bahkan melaporkan perkembangan dari menit ke menit.

Andai saat itu sudah ada perangkat telepon cerdas dengan fasilitas kamera terbaik seperti yang pernah saya miliki (sebesar 41 megapixel), dan kecepatan koneksi XL seperti saat ini, pastilah saya lebih leluasa mengeksplorasi, mengekspose dan berbagi cerita lebih dalam untuk orang sejagad.

Apa daya, saat itu kamera DSLR yang saya gunakan masih ‘sederhana’ dengan kemampuan menyimpan maksimum 6 megapixel saja, alias setara dengan rata-rata kemampuan kamera smartphone masa kini.

Sungguh beruntung saya sudah menggunakan XL, selain satu nomor dari operator lain, sejak akhir 1999. Ketika itu, nomornya masih 081825xxxx, dengan SIM Card bertuliskan proXL lalu saya ‘upgrade’ ke kartu yang bening (transparan), karena ada beberapa fasilitas/fitur baru.

Gempa hebat yang menimpa Klaten dan Yogya, 2006, banyak memakan korban jiwa dan luka-luka. Semua rumah sakit penuh korban, bahkan banyak yang dirawat di halaman. Kekurangan armada ambulans juga membuat keuarga korban mengambil cara paling 'praktis', membawa pulang jenazah dengan sepeda motor dari rumah sakit.

Gempa hebat yang menimpa Klaten dan Yogya, 2006, banyak memakan korban jiwa dan luka-luka. Semua rumah sakit penuh korban, bahkan banyak yang dirawat di halaman. Kekurangan armada ambulans juga membuat keuarga korban mengambil cara paling ‘praktis’, membawa pulang jenazah dengan sepeda motor dari rumah sakit.

Asal tahu saja, saya terpaksa menggunakan dua operator berbeda karena satunya lumayan luas jangkauannya. Ketika itu, masih banyak blankspot ketika menjelajah pedesaan Jawa Tengah, sehingga saya tak bisa menggunakan XL. Tapi bagusnya, pada saat yang sama, XL sudah memasarkan teknologi Internetnya yang selangkah lebih maju dibanding operator lain.

Sungguh beruntung saya menjadi pelanggan XL. Ada banyak pengalaman yang saya dapat. Malah, sebelum melapirkan kejadian longsor yadi, koneksi XL sudah terbukti membantu ketika tiap hari, saya harus mengunggah banyak foto erupsi Gunung Merapi lantas disusul gempa hebat di Klaten dan Yogya.

Selamat ulang tahun ke-19 ya, XL… Saya nantikan kehadiran jaringan 4G-mu di Solo dan sekitarnya. Jujur saja, meski koneksi mobile di perangkat telpon genggam saya masih menggunakan paket Hotrod 3G-mu, namun di rumah terpaksa saya ndobel pakai koneksi 4G/LTE operator lain. Tapi jangan kuatir, jika di sanggar komunitaskaki, saya kembali menggunakan koneksi dedicated-nya XL juga kok. Sudah lima tahun lamanya, dan tetap stabil… Life with XL memang menyenangkan.

One thought on “Lancar Berkabar dari Zona Bencana

Leave a Reply