Gegar Tagar

Presiden Jokowi bisa disebut sosok penyebab bentrok dalam dunia maya. Ya, buktinya dua kelompok netizen beradu tagar dengan tanpa lelah. Yang satu selalu mencari kesalahan dan memilah peluang untuk menyerang. Di seberangnya, sibuk menggalang dukungan untuk menyerang lawan dan memutar nalar kreatif untuk mendapatkan frasa seksi, semata-mata demi jadi kata kunci alias keyword. Muara keduanya, sama: agar jadi kata kunci paling berpengaruh dengan indikator bernama trending topic.

Para pihak, yakni pembenci (haters) dan pendukung militan Jokowi, lupa di mana medan pertempuran sesungguhnya dan bagaimana sikap sosok yang jadi concern mereka. Pak Jokowi barangkali santai-santai saja, meski tetap berkerut kening memutar akal untuk melakukan perbaikan di negara yang sedang dipimpinnya. Pak Jokowi masih dan tetap menjadi Presiden Republik Indonesia, sementara mereka yang berseteru, secara tak sadar sudah pindah kewarganegaraan, di Republik Twitter yang federal.

Taruh kata, tagar #JokowiTurunDolarTurun dinyatakan memenangkan pertarungan karena memuncaki trending topic. Apakah dengan demikian martabat dan kewibawaan seorang Joko Widodo merosot? Saya rasa, tidak terpengaruh. Apalagi jika ditelisik lebih jauh, para haters Jokowi hanya itu-itu saja, kaum pemuja kata bid’ah yang selalu istiqomah menebar fitnah.

Konon, demi afdhol fitnahnya, kecerdasan dan ilmu yang mereka milik lebih dicurahkan untuk mencipta akun-akun bot, dan dikerjakan oleh manusia-manusia berperilaku robot. Mereka adalah kaum yang sungguh-sungguh lupa akan nilai pahala sebuah ilmu yang bermanfaat, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan mereka. Jika kita menyebutnya dholim, mereka justru meyakini sebagai jihad.

Padahal, kalau mau menyimak data statistik pengguna Internet di Indonesia hingga pertengahan 2015 masih 88 jutaan orang. Uniknya, survei APJII pada 2014 mencatat temuan ada 266 juta (pengguna?) smartphone. Jika penduduk Indonesia sekarang di kisaran 250 juta jiwa, berarti satu bayi lahir pun sudah memegang tiga telepon genggam canggih, dong…

Kembali ke soal trending topic, sejatinya itu bisa direkayasa, kok. Asal mau serius sedikit, satu orang bisa membuat ratusan hingga ribuan akun. Tinggal bikin kicauan terjadwal, bergantian namun memasukkan kata kunci yang sama, beres sudah! Asal kalimatnya tak sama persis, mesin analitik juga bakal khilaf mendeteksi. Tinggal libatkan sekian puluh orang yang memiliki akun bejibun, trending topic bisa terwujud. Toh, memobilisasi haters tidak sulit, apalagi jika dibekali dengan janji pahala dan masuk surga. Sesimpel itu…

Celakanya, pola manas-manasin ala jihadist yang ogah move on itu justru dianggap sebagai persoalan serius. Maka, peninglah kepala mereka. Atas nama membela (nama baik dan martabat) junjungannya, mereka pun sibuk mengatur strategi, mengolah kata dan memobilisasi massa. Permainannya mirip saja. Melempar tagar, demi menyalip posisi trending topic. Edan! Alangkah selo-nya mereka…

Ketika muncul tagar tandingan seperti #SupportPresidenRI dan #TrustPresidenRI, yang ndilalahnya tak kunjung memuncaki kontes pemengaruh alias trending topic, saya jadi heran. Saya melihat itu sebagai reaksi kaum tipis kuping, mudah panas hati, sehingga lupa diri. Diksi yang dipilihnya sangat payah.

Jika Support Presiden RI dimaksudkan sebagai bentuk ‘nyata’ dukungan kepada presiden, menurut saya justru aneh. Bukankah bentuk support paling nyata dari pendukung Jokowi adalah menunjukkan kekurangan Pak Presiden sambil memberi alternatif solusi , atau menunjukkan buruknya kinerja kabinet dan aparatur negara?

Menyimak frasa yang dijadikan tagar itu, #SupportPresidenRI, menurut hemat saya, justru menjadi semacam pernyataan terbuka akan ketidaktahuan kondisi senyatanya, sehingga seolah-olah Presiden RI (Jokowi) tidak memiliki support yang cukup dari publik dan banyak pihak. Sama dengan frasa #TrustPresidenRI, yang justru saya anggap sebagai pernyataan seolah-olah tak ada lagi kepercayaan kepada Presiden.

Come on! Bangun… Bangun, kalian!

Masa depan bangsa Indonesia dan kepemipinan Pak Jokowi tak ditentukan oleh sebuah tagar! Kalau mau support dan masih punya trust kepada Pak Jokowi, lebih baik kita kuliti satu-satu kinerja kementerian dan prestasi para menteri yang minta dan mau dipilih jadi anggota kabinet. Tak usah mengaitkan dengan Nawa Cita pun tak soal, bagi saya. Asal, ukuran kinerja mereka dicocokkan dengan mandat konstitusional, terutama sejauh mana mendekat pada yang dikehendaki dalam pasal-pasal Undang-undang Dasar 1945.

Kenapa saya ‘mengabaikan’ ukuran Nawa Cita? Sebab saya meyakini ada sebagian yang tak peduli dengan itu, karena motivasi bekerjanya sudah rancu dengan nafsu, termasuk mengamankan masa depan anak cucu.

Kenapa nalar para pendukung Jokowi tiba-tiba tumpul, tak punya sensitivitas memadai manakala wakil presiden bicara terbuka mengenai kebijakan impor beras yang tak sejalan dengan kemauan presiden? Kenapa Menteri Rini begitu ngotot membangun mercusuar berupa proyek kereta cepat, seolah tak menganggap Jokowi sebagai Presiden (sehingga ia adalah atasannya) yang menyatakan Indonesia belum butuh moda transportasi semacam itu?

Okelah, taruh kata, di belakang proyek kereta cepat, impor beras, hingga perkara pelabuhan bongkar-muat di Priok melibatkan orang-orang kuat, sehingga bersekutu melawan kemauan presiden. Jika itu yang sebenarnya terjadi, bukankah pada saat itulah kita perlu support kepada Pak Jokowi dengan berbagai cara yang benar dan beradab sehingga kepentingan rakyat banyak terwakili. Itu, sekaligus membuktikan ada/tidaknya trust pada diri kita masing-masing.

Jadi, buat Anda semua, teman-teman yang saya anggap masih punta trust dan mau support Pak Jokowi, saya sarankan agar tidak kelewat menggebu-gebu dan emosional. Hitunglah statistik mereka secara faktual: berapa jumlah massa-nya, apa sesungguhnya kepentingan mereka, dan sebagainya. Itu semua semata-mata agar Anda tidak salah arah dan gagal membaca peta pertarungan politik yang sesungguhnya.

Dukung Pak Jokowi dengan cara yang cerdas, beradab dan santun. Kalau sesekali diperlukan sikap dan tindakan keras, tentu itu harus ditujukan kepada mereka-mereka yang berada di sekeliling beliau, namun menyimpan dan memperjuangkan agenda personal dan kelompoknya, bukan demi sebesar-besarnya kemakmuran Bangsa Indonesia. Gitu aja…

One thought on “Gegar Tagar

  1. Terkadang yang saya herankan adalah ketika para pendukung Jokowi secara babi buta terus membela Presiden kesayangannya. Ketika kita memberikan masukan positif langsung dianggap haterslah belum move on lah, padahal kita bersuara karena ingin sebuah perubahan dan perbaikan. Lha bayangin aja, masa dollar terus naik sampai mendekati 15 ribu kita harus diam aja. Apa harus nunggu Indonesia ambruk baru nyadar kalau dampaknya telah berpengaruh ke semua pihak, baik itu kalangan pro Jokowi maupun kontra. Memang jika diperhatikan dibanding Presiden2 sebelumnya, Jokowi satu2nya Presiden yang mendapat perhatian lebih dari para netizen. Hhhmmm…

Leave a Reply