Tak Seseram Trending Topic

*Surat Terbuka untuk ‘Fans Berat’ Jokowi

Daripada jadi bisul, uneg-uneg saya tumpahkan melalui linimasa di akun Twitter saya. Pemicunya, seharian kemarin para pendukung Presiden Jokowi seperti kesetanan menghadapi tagar alias hashtag #StepDownJokowiJK. Seolah-olah, jika tagar itu bisa menjadi trending topic sejagad, maka Pak Jokowi otomatis pensiun dari jabatannya yang diperoleh lewat pemilihan umum. Maka, tagar tandingan #SupportPresidenRI digaungkan.

Kicauan uneg-uneg daripada jadi bisul...

Kicauan uneg-uneg daripada jadi bisul…

Sejujurnya, saya sangat kuatir dengan sikap emosional seperti itu. Saya meyakini, orang yang mudah panas hati lebih sering tergelincir pada situasi kehilangan akal sehat, lalu bertindak ceroboh. Sama seperti para pembenci Jokowi itu, yang selalu mencari kesalahan orang yang dianggap sebagai lawan.

Cobalah menyingkir sejenak dari keriuhan timeline Twitter dan media sosial lainnya. Ambil jarak dengan akun yang berafiliasi dengan sosok-sosok para pembenci (haters) Jokowi itu. Dengan begitu, Insya Allah, Anda semua akan lebih jernih melihat persoalan. Lihat saja jumlah follower(s) akun @jokowi yang ‘hanya’ 3,5 juta. Benarkah hanya sebanyak itu pendukung nyata Pak Jokowi, presiden kita???

Mari kita sama-sama menuruti ajakan Pak Jokowi untuk melakukan Revolusi Mental. Kita mulai dari diri kita sendiri dulu, deh. Tak perlu memaksa orang lain agar turut revolusi. Kita tunjukkan dulu teladan, meniru sikap dan tindakan Pak Jokowi yang kita sukai. Ambil yang baik… (Walau sejauh ini saya belum menemukan yang sebaliknya).

Kita mulai dari sederhana dulu. Contohnya, Pak Jokowi tidak punya watak narsis. Setidaknya, tidak pernah saya melihat Pak Jokowi mempertunjukkan kepada publik sikap pamer atau menepuk dada atas perbuatan baiknya, meski dipuji banyak orang secara terbuka. Karena itulah, saya agak gusar dan terganggu ketika menjumpai kicauan melalui akun @jokowi, yang mengakhiri kicauan dengan kalimat “Ini baru nendang”.

Saya yakin, kalimat itu bukan ditulis langsung oleh Pak Joko Widodo, melainkan oleh administrator atau admin, orang/tim yang ditugasi mengelola akun Twitter-nya. Coba cari di media apa saja, apakah pernah Pak Jokowi mengungkapkan perasaannya yang memamerkan keberhasilan pemindahan seribuan pedagang kakilima dari Banjarsari ke Semanggi, semasa memimpin Kota Solo bersama wakilnya, FX Hadi Rudyatmo?

Di situlah, menurut saya, persoalan muncul. Seorang admin tidak bisa mewakili dirinya sendiri ketika melakukan pekerjaan ‘atas nama orang/lembaga’. Seorang admin yang baik (dan benar) haruslah mengenali karakter orang (atau lembaga) yang diwakilinya. Supaya match, atau klop.

Kalimat "Ini baru nendang" sangat tidak sesuai dengan watak Pak Jokowi. Saya menduga ini opini admin...

Kalimat “Ini baru nendang” sangat tidak sesuai dengan watak Pak Jokowi. Saya menduga ini opini admin…

Kembali ke soal dukung-mendukung. Mengapa kita harus menutup mata akan kekurangan Pak Jokowi sehingga harus menjadikannya begitu sempurna? Kalau mau religius sedikit, ungkapannya akan berbunyi begini: yang sempurna itu hanya milik Tuhan.

Mari kita kembalikan sosok Pak Jokowi sebagai manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan, kekhilafan dan sebagainya. Kesalahan itu insianiah. Khilaf itu manusiawi. Lumrah.

Jika Anda punya kesempatan berkenalan secara lebih dekat, saya yakin akan tahu, bahwa Pak Jokowi itu seperti orang kebanyakan. Seperti kita-kita juga. Mungkin yang agak berbeda adalah cara menyikapi kedudukan dan kekuasaan yang menyertai jabatannya. Seperti umumnya orang Jawa yang menep atau sudah sangat matang, Pak Jokowi yang saya kenali adalah orang yang menganggap nyawa iku gadhuhan, bandha mung titipan, lan pangkat ora liya mung sampiran. Nyawa hanyalah gaduhan, harta juga titipan dan kedudukan semata hiasan. Semuanya milik Tuhan.

Khusus untuk saudara-saudara sayang yang membantu Pak Jokowi di Istana Negara, tolonglah… Saya titip kepada Anda agar tidak memberi masukan yang serba baik, atau malah menakut-nakuti. Pak Joko yang saya kenal, orangnya lebih suka apa adanya. Pak Joko tak pernah malu bertanya jika tak paham sesuatu dan lebih suka menyimak orang berbicara panjang lebar. Beliau tipe orang yang suka belajar.

Soal sebuah frasa atau kata bisa menjadi trending topic, misalnya. Sampaikan dengan gamblang bahwa itu bisa direkayasa. Melibatkan akun-akun dengan followers aktif dan memiliki banyak penanggap untuk menggaungkan ‘topik’ tertentu dalam interval waktu tertentu, misalnya, bisa menempatkan sebuah pokok bahasan menjadi trending topic, baik dalam skala lokal, nasional maupun global. Apa itu reach dan engagement, misalnya, ada baiknya juga dijelaskan.

Simak baik-baik keterangan dalam bio-nya. Akun @BarackObama menyatakan dikelola oleh staf, dan jika twit dibuat Obama akan ditandai dengan "bo". Pada akun @jokowi, tak ada keterangan seperti itu. Dan semua ditandai dengan kode "Jkw", meski (saya yakin) itu dikelola oleh sebuah tim.

Simak baik-baik keterangan dalam bio-nya. Akun @BarackObama menyatakan dikelola oleh staf, dan jika twit dibuat Obama akan ditandai dengan “bo”. Pada akun @jokowi, tak ada keterangan seperti itu. Dan semua ditandai dengan kode “Jkw”, meski (saya yakin) itu dikelola oleh sebuah tim.

Dengan begitu, Pak Jokowi juga akan jadi lebih memahami, kenapa para pembencinya kerap bermain-main dengan tagar atau hestek atau frasa tertentu, sehingga berakibat seolah-olah beliau menjadi tidak populer atau tidak dikehendaki. Realitas media (termasuk media sosial) jelas sangat berbeda dengan kenyataan di lapangan. Benar, pemberitaan media massa dan informasi yang tersiar di media sosial bisa membentuk opini publik ke arah kesimpulan tertentu.

Jika dalam dunia pers dikenal istilah agenda setting, di ranah daring pun saya yakini keberadaannya. Tapi, berapa banyak sih jumlah pengguna Internet di Indonesia? Kementerian Komunikasi dan Informatika saja masih menargetkan pengguna Internet di Indonesia mencapai 150 juta pada tahun ini. Jika demikian, apakah realitas Internet bisa dibaca sebagai kenyataan sesungguhnya? Kalau ditempatkan sebagai petunjuk, bolehlah… Tapi untuk kebenaran yang mendekati presisi, tentu tak sesederhana ‘membaca’ posisi trending topic atau menggunakan data crawling. Perlu analisis yang lebih rumit, saya kira.

Jika sudah demikian, sebagai bentuk dukungan kepada Pak Jokowi, apa yang harus kita lakukan?

Ya, kita menjadi diri kita sendiri saja. Persis seperti Pak Jokowi yang selalu berusaha menjadi dirinya sendiri, tidak perlu perilaku dan sikapnya dibuat-buat demi pencitraan.

Taruhlah ada pendapat Pak Jokowi lamban menyelesaikan persoalan kebakaran (dan pembakaran) hutan dan petaka asap yang ditimbulkan. Bagi saya, tak adil jika kita menimpakan persoalan padanya. Perintahnya jelas, supaya jajaran kementerian kehutanan dan tata ruang mengevaluasi danmemberi sanksi tegas kepada pelaku pembakaran. Begitu pula Kapolri sudah ditugasi menyeret pelakunya ke ranah hukum.

Kita cukup mengawalnya dengan memberi tekanan dan melakukan berbagai upaya sepanjang kita mampu dan bisa lakukan, agar lembaga-lembaga terkait bertindak sebagaimana seharusnya. Begitu pula dengan aksi show of force sejumlah pejabat yang justru mengingkari atau bahkan membangkang terhadap arahan dan perintah presiden, kenapa kita hanya diam? Juga terhadap Pak Wakil Presiden yang kadang menunjukkan perbedaan pendapatnya dengan Presiden, kenapa ditolerir?

Jika ada orang dekat Presiden Jokowi yang ketahuan atau terindikasi menyimpang, pun sebaiknya kita mengingatkan. Jangan terpaku hanya semua demi Jokowi. Apa yang dilakukannya, saya yakin ditujukan untuk kemaslahatan orang banyak, bukan untuk kepentingannya sendiri. Karena itu, sebaiknya kita gunakan orientasi tindakan dan kebijakan Pak Jokowi itu sebagai panduan kita. Tak lebih, tidak kurang.

Begitulah cara saya menunjukkan dukungan kepadanya, meski dari kejauhan. Saya berharap, Anda pun demikian…

Termasuk menuliskan ini, pun sejatinya dilatari karena rasa ngeman atau ungkapan menyayangi dan dalam rangka menghormati Pak Jokowi. Semoga panjenengan semua tidak tersinggung. Mari kita berefleksi.

2 thoughts on “Tak Seseram Trending Topic

Leave a Reply