Budi Waseso

Sengkuni. Tutur katanya halus, tetapi budi-nya buruk. Suka mengadu domba, bikin gaduh.  Sumber gambar: corojowo.blospot.com

Sengkuni. Tutur katanya halus, tetapi budi-nya buruk. Suka mengadu domba, bikin gaduh.
Sumber gambar: corojowo.blospot.com

Waseso (penulisan yang benar: wasesa), dalam bahasa Jawa berarti wewenang; kekuasaan. Sedang budi seacara etimologi berarti nalar; pikiran; atau watak. Sehingga, secara sederhana, budi wasesa bisa dimaknai sebagai nalar kekuasaan, watak kekuasaan, dan sebagainya. Anda bisa merangkai kombinasi dari padanan masing-masing kata, suka-suka.

Sekadar diketahui, bagi orang Jawa, berlaku ujaran asma kinarya japa. Sebuah nama diciptakan sebagai pengharapan atau doa. Setiap penciptaan/pemberian nama, pastilah terkandung maksud-maksud baik atau positip. Menjadi anomali jika seseorang memberi nama pada anak atau bahkan binatang peliharaan dengan nama berkonotasi buruk atau jelek. Begitulah, pada setiap nama, selalu terkandung harapan mulia.

Jika orang tua menamai anaknya dengan Budi Waseso, pastilah mengandung harapan munculnya watak kekuasaan atau nalar kekuasaan baiklah yang kelak ditunjukkan sang anak. Andai watak buruk kekuasaan yang justru menonjol pada sang anak, kecewalah orang tua. Juga sanak saudara dan kerabat. Adalah ganjil jika ada orang tua atau sanak saudara tidak merasa ikut menanggung malu jika sang anak, misalnya, ternyata justru buas dalam menjalani hidup di rimba kekuasaan, menerkam kiri-kanan secara membabi-buta.

Tapi hukum alam tetaplah berlaku. Begitu keyakinan umumnya orang Jawa. Mikro dan makrokosmos selalu harus selaras, seiring jalan. Jika timpang, manusia Jawa harus mengupayakan kembalinya harmoni, keseimbangan, supaya tidak ngundhuh wohing pekerti, memanen buah perbuatan. Sifat angkara murka, kebuasan tindakan akan berujung pada kesia-siaan, kehidupan yang hampa, tak bermakna.

Begitulah watak orang Jawa (yang seharusnya), yang selalu menempatkan budi sebagai harapan akan capaian sebuah perjalanan hidup. Mengingat tingginya capaian harapan itulah, maka banyak ujaran dalam khasanah keseharian orang Jawa yang berkaitan dengan budi, waseso, pekerti dan sebagainya itu.

Di antaranya, banyak nasihat bijak agar seseorang tidak berutang budi pada orang lain. Sebab dengan beban utang budi, seseorang akan mati-matian mengupayakan penebusan. Bentuk penebusan pun beragam. Ada yang dilakukan dengan pekerti baik, atau budi yang luhur, namun dalam dunia hitam, dunia preman, penebusan utang budi bisa sangat berlebihan. Seseorang bisa berwajah ganda: baik, santun kepada kebanyakan orang, namun sebaliknya watak baik akan luruh seutuhnya menjadi penghamba, penjilat, bahkan centeng yang sadis. Hanya demi sebuah penebusan utang budi.

Kenapa seseorang bisa menyalahgunakan kewenangan atau kekuasaan (waseso) secara membabi  buta sedemikian rupa, padahal seharusnya budi yang dalam bahasa Sansekerta (budh) berarti sadar, (untuk) bangkit, (secara) kejiwaan???

Kenapa seseorang bisa menjadi buas dan menunjukkan budi-nya yang buruk dan penuh dendam kepada sesamanya?

Bukan tidak mungkin, watak demikian terbentuk oleh sebuah perjalanan (hidup yang) panjang, atau sebaliknya, sangat pendek, namun situasi dan kondisi telah membuatnya sampai pada situasi utang budi kepada orang lain. Orang jenis demikian, pastilah akan menutup mata, akal budi, dan nuraninya sendiri, bahkan terhadap lelaki muda (joko) yang diharapkan hidupnya mampu menciptakan kesejahteraan (widodo) untuk diri, keluarga dan orang banyak.

Asal tahu saja, becik ing budi (kebaikan watak) tidak mesti ditunjukkan dengan kehalusan bertutur. Werkudara atau Bima selalu berbahasa ngoko kepada siapapun, meski budi-nya baik. Ia berkebalikan dengan kebaikan tutur yang ditunjukkan Sangkuni (Sengkuni), yang nyatanya lebih banyak mengadu domba, menciptakan kekacauan, menyulut gaduh.

3 thoughts on “Budi Waseso

Leave a Reply