Pak Badrodin, Mbok Jangan Gitu…

Pak Badrodin Haiti yang Kapolri,

Ijinkan saya mengomentari pernyataan panjenengan seperti diberitakan di Kompas ini.

“Kenapa media dan masyarakat tidak sekalian protes saat polisi mengawal pemudik?” ujar Badrodin.

Sebenarnya saya tidak tega untuk mengatakan apakah panjenengan menyatakan seperti itu apakah “benar-benar dalam keadaan sadar dan tidak dalam paksaan oleh pihak manapun” . Tapi, ya sudah, karena telanjur saya tulis, maka saya teruskan saja.

Itu adalah pernyataan kedua Pak Badrodin soal konvoi Harley Davidson yang diprotes banyak orang. Beberapa hari lalu, panjenengan diberitakan dengan judul Kapolri Sebut Konvoi Moge Boleh Terabas Rambu Lalin Selama Dikawal Polisi.

Pak Badrodin, sebagai warga negara Indonesia, saya malu kalau sampai para duta besar negara sahabat dan para atase kebudayaan sampai melapor kepada presiden/raja/perdana menteri mereka masing-masing, bahwa bangsa Indonesia tidak berbudaya, hanya menilik dari pernyataan panjenengan. Saya harap Pak Badrodin tahu, Kapolri adalah jabatan yang tinggi. Jenderal juga merupakan pangkat tertinggi dalam dunia kepolisian dan militer.

Pernahkah Pak Badrodin membayangkan dampaknya jika laporan mereka seperti itu? Saya kuatir, orang-orang sedunia akan menertawakan kami, rakyat Indonesia. Andai pun mereka menyebut panjenengan sebagai jenderal naif, kami juga tidak mudah begitu saja menerimanya. Sebab, panjenengan tetap bagian dari kami, meski ada perbedaan kecerdasan akal dan emosional di antara seluruh warga bangsa Indonesia.

Pak Badrodin….. Coba ingat baik-baik. Gara-gara sikap panjenengan seperti itu, bawahan panjenengan jadi latah, ikut-ikutan. Bahkan, membantah pernyataan dari istana negara, yang menyebut tindakan polisi kawal konvoi moge langgar aturan,  dengan mengatakan konvoi moge perlu dikawal.

Saya bisa menerima jika mereka perlu dikawal jika dalam rangka menertibkan pemakaian jalan raya oleh masyarakat. Tapi, Pak… Cara Pak Badrodin membandingkan perlunya pegawalan konvoi Harley Davidson dengan para pemudik, sungguh menyulitkan kami, jika, misalnya sedang jalan-jalan di Malioboro, lalu ada turis asing bertanya: secerdas itukah Kapolrimu?

Sulit bagi kami untuk menjelaskan, karena tidak mudah menilai kecerdasan seseorang karena untuk itu harus tahu hasil psikotes atau apalah namanya (karena saya bodoh, maka saya tidak tahu nama tes untung mengetahu kecerdasan manusia, baik secara akal maupun emosional).

Pak, orang mudik tidak bisa disamakan dengan orang konvoi. Motivasi dan kepentingannya berbeda. Orang mudik bisa setahun mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bisa pulang ke kampung halaman untuk menemui saudara, kerabat dan teman-teman. Coba panjenengan tanya sosiolog, terutama yang memiliki fokus perhatian pada tema-tema perkotaan dan pedesaan.

Maaf, Pak Badrodin. Sekadar mengingatkan saja, sosiolog itu ahli sosiologi. Sedang sosiologi itu berasal dari kata socius yang berarti kawan dan logos yang artinya ilmu (pengetahuan). Kira-kira, yang dimaksudkan Auguste Comte dengan istilah sosiologi adalah ilmu tentang sosial, tentang masyarakat, babagan uripe wong akeh.

Kalau bapak masih bingung juga, cobalah panggil Pak Adrianus Meliala yang anggota Kompolnas itu. Pak Adrianus punya banyak teman sosiolog di Universitas Indonesia. Pak Adrianus juga punya banyak teman antropolog (kalau asal kata ini, panjenengan bisa mencari lewat mesin Google). Antropolog yang punya perhatian di masalah-masalah budaya, pasti bisa menjelaskan fenomena orang berkonvoi untuk mudik dengan konvoi penunggang Harley Davidson.

Insya Allah, setelah bertanya sana-sini, panjenengan bisa punya banyak pengetahuan dan bisa mengerti duduk soal sebuah perkara, termasuk konvoi Harley di Yogya kemarin, yang diprotes banyak orang. Tentu, setelah itu, panjenengan menjadi tidak sembarangan berkata atau membuat pernyataan, termasuk menyalahkan wartawan (media) dan publik, yang tidak protes pengawalan orang mudik.

Coba bayangkan lagi, Pak. Andaikata para pemilik Harley Davidson itu membuat acara touring, lalu konvoi 100 sepeda motor Harley Davidson saja, pada H-2 Hari Raya Idul Fitri, dimana ketika ribuan kendaraan roda dua dan roda empat sedang berjuang lepas dari kemacetan, lalu seratus orang konvoi tadi dikawal pakai nguing-nguing meminta yang lain minggir dan memberi jalan untuk konvoi Harley agar kencang melaju…

Pernahkah panjenengan membayangkan apa yang bakal terjadi selanjutnya?

Pak Badrodin, saya minta maaf. Saya menulis ini cuma agar hati saya tenang di kemudian hari, karena tidak ada lagi pernyataan seorang Kapolri yang agak susah dicerna akal sehat, bahkan orang tamatan sekolah dasar sekalipun. Uneg-uneg harus dikeluarkan supaya tidak menimbulkan penyakit. Dan, pernyataan panjenengan soal konvoi Harley, sungguh mengganggu pikiran dan perasaan saya…

Saya cemas, jika para duta besar dan pemimpin negara demokratis menyebut Pak Badrodin sebagai Kapolri tidak tahu peran dan fungsi dalam penegakan hukum. Padahal, supremasi hukum itulah yang menjadi prasyarat bagi keberalngsungandemokrasi, di mana semua orang, setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama sehingga sejahtera dan bahagia bersama. Semoga Pak Badrodin tahu, dalam soal berlakunya hukum (yang adil) itulah yang membedakan watak dasar polisi dengan tentara.

Sekali lagi, Pak, saya minta maaf. Maaf sedalam-dalamnya. Saya tak bermaksud menyulitkan panjenengan untuk repot mikir sampai mengaitkan demokrasi dengan institusi kepolisian. Saya hanya berusaha memahami saja, betapa pentingnya, dulu, Presiden Abdurrahman Wahid memutuskan untuk memisahkan Polri dari institusi militer, yang waktu itu bernama ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Selamat menikmati makan malam, Pak Badrodin. Semoga panjenengan sekeluarga sehat selalu dan dalam lindungan Allah SWT. Amin.

2 thoughts on “Pak Badrodin, Mbok Jangan Gitu…

Leave a Reply