Terima Kasih pada Kapolri dan Pemilik Harley

Surat terbuka untuk Kapolri Jenderal Badroddin Haiti dan para pemilik Harley Davidson di Indonesia

Bapak Kapolri yang terhormat,

Sungguh senang saya membaca kabar di media sosial, ada ribuan penunggang Harley Davidson se-Indonesia berkumpul di Yogyakarta, 14-17 Agustus 2015 dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia. Alangkah mulianya mereka, para pengusaha kaya raya, jenderal polisi dan TNI, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiunan.  Toh, mereka masih kaya dan bisa berbagi rejeki kepada rakyatnya Sri Sultan HB X.

Memang hanya isu, kok, bahwa ada encegatan terhadap konvoi Harley Davidson. Harley kan milik warga negara sangat terhormat. Mosok ada yang menolak kehadiran mereka...

Memang hanya isu, kok, bahwa ada encegatan terhadap konvoi Harley Davidson. Harley kan milik warga negara sangat terhormat. Mosok ada yang menolak kehadiran mereka…

Saya yakin, Pak Kapolri, andai tiga malam saja mereka menginap, sudah jutaan rupiah duit mereka dibelanjakan, baru untuk biaya kamar saja. Pasti, mereka orang-orang kaya nan terhormat itu, andai memilih kamar seharga Rp 750.000 per malam, sudah Rp 2.250.000 dibelanjakan. Jika dikalikan jumlah Harley Davidson, andaikan 1.000 saja, maka sudah ada dua milyar rupiah lebih yang dibelanjakan untuk kamar saja. Belum keperluan makan, minum, rokok, dan barangkali perlu sewa selangkangan perempuan  dan pantat lelaki (saya yakin, di antara penunggang motor gede, ada juga yang multiorientasi dalam perkara meng-happy-happy-kan jari tengah mereka).

Belum lagi kalau kita hitung jumlah mereka yang superkaya atau tidak mau repot. Pasti mereka juga akan membawa sopir pribadi yang mengangkut Harley dari kota asal mereka ke Yogyakarta. Sama dengan majikannya, mereka juga butuh kamar untuk beristirahat, mengurus perut supaya tetap fit dan siap sedia diperintah majikan, kapan saja.

Pak Kapolri, percayalah, ada trickle down effects dari perhelatan tiga hari mereka. Saya yakin, mereka yang kini bergembira merayakan kemerdekaan Indonesia, sengaja ingin berbagi rejeki, entah disadari atau tidak. Biarlah itu menjadi tugas kenabian mereka dan cara Tuhan menggerakkan sektor riil di Indonesia. Hotel pasti mempekerjakan tukang bersih-bersih hingga pengangkut sampah. Restoran tempat mereka singgah pun demikian juga. Mereka belanja bahan-bahan kebutuhan dari pasar, di mana terdapat mata rantai yang panjang di dalamnya. Ada kuli panggul, pedagang, pemasok, petani, makelar, preman pasar, dan masih banyak lagi.

Alangkah mulianya aksi mereka, Pak Kapolri…

Pak Badroddin Haiti yang budiman, sudilah Anda mengimbau Pak Komjen (Purn.) Nanan Sukarna, Ketua Umum Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) agar menggelar acara sejenis di berbagai kota. Jangan hanya Yogyakarta, namun juga Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta, Balikpapan, Samarinda, Jayapura, Banda Aceh, Medan, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Ini demi bangsa, Pak Badroddin. Tetesan harta mereka pasti bermanfaat bagi rakyat.

Jangan dilihat peristiwa kumpul mereka di Yogyakarta dalam acara bertajuk Jogja Bike Rendezvous (JBR2015) hanya dinikmati orang Kota Yogya semata. Petani mBantul, tukang angkut sampah dari Wates dan pegawai hotel dari Wonosari, pasti kebagian cipratan rejeki. Para pengusaha persewaan selangkangan, pasti juga ikut panen, bangga bisa melayani kebutuhan sebagian dari manusia kaya. Padahal, yang dipekerjakannya berasal dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Dari sana pula, multikulturalisme terpraktekkan dengan baik. Itulah sebagian kecil makna Bhinneka Tunggal Ika.

Yang betul itu skrinsut yang berwarna hitam. Yang berlatar putih (kanan), pastilah isu. Wong penunggang Harley Davidson itu orangnya baik-baik, berhati mulia, dan sahabat para jenderal kok.... Ngawur itu kalau ada yang menuduh macem-macem...

Yang betul itu skrinsut yang berwarna hitam. Yang berlatar putih (kanan), pastilah isu. Wong penunggang Harley Davidson itu orangnya baik-baik, berhati mulia, dan sahabat para jenderal kok…. Ngawur itu kalau ada yang menuduh macem-macem…

Pak Badroddin, saya (mungkin juga sebagian rakyat di berbagai kota di Indonesia) sudah muak dengan hiburan di semua saluran televisi. Kami sudah muak melihat koruptor tampil di televisi, bercerita tentang kebaikan mereka untuk rakyat sambil tersenyum. Kami juga risih dengan aneka hiburan dan sinetron yang menceritakan kehidupan orang-orang kaya.

Berbeda dengan JBR2015, di jalanan kami bisa saksikan aksi gagah mereka, jalan beramai-ramai dengan kecepatan tinggi, menerabas lampu merah, da membuat banyak pengendara mobil dan sepeda motor menghentikan lajunya. Ketahuilah, Pak Kapolri, mereka itu benar-benar terhibur, dan gratis. Alangkah menyenangkannya bagi orang seperti saya, melihat polisi berseragam dan berkendaraan dinas dengan gagah mengawal di depan dan dibelakang konvoi ratusan motor gede. Kami senang, karena pasti mereka juga memperoleh tambahan uang makan, atau bagi yang hemat, bisa digunakan untuk biaya seolah anak-anak mereka.

Pak Kapolri, jika belakangan ini banyak anggota gank motor berbuat anarkis, janganlah itu dilihat sebagai efek kecemburuan sosial. Jangan pernah percaya analis politik, pengamat sosial atau kriminolog. Mereka pasti berbohong atau sedang hendak mengganggu pikiran Bapak Kapolri yang terhormat.

Basmilah mereka, Pak. Kerahkan Brimob dan reserse untuk menangkap dan menembaki mereka yang nekad kurang ajar dan tak mau diatur. Juga, tolong sapu bersih anggota klub-klub motor yang suka konvoi panjang saat touring, dengan perilaku semena-mena di jalan raya, menyuruh pengguna jalan lain menyingkir, mengalah demi laju kendaraan mereka. Saya tahu, mereka jelas ilegal. Mereka telah nekad menerabas lampu yang menyala merah tanpa sepengetahuan dan pengawalan resmi, anggota satuan lalulintas berseragam yang sangat mulia itu.

Melanggar rambu-rambu lalulintas oleh konvoi pengendara sepeda motor murahan, jelas tidak pantas dan tidak boleh dilakukan. Mereka hanya rakyat jelata yang meniru kelakuan orang kaya, padahal tidak memberi kontribusi apa-apa. Tidak ada multiplier effects yang signifikan bagi sebanyak mungkin orang. Kalaupun mereka lantas teriak bahwa motor mereka tidak bodong alias dipajaki, percayalah itu merupakan kalimat tendensius, yang menuduh motor gede sekelas Harley Davidson tidak memiliki kelengkapan surat-surat dan bukti pajak. Saya yakin, mereka tidak tahu apa-apa soal demikian. Karena itu, basmilah mereka.

Bapak Kapolri yang terhormat, percayalah, jika sering-sering digelar konvoi ribuan motor gede di banyak kota, syukur sepekan sekali secara bergantian, rakyat Indonesia pasti terhibur. Ada perputaran uang besar di sana. Ya, uang besar untuk rakyat kebanyakan, yang sejatinya hanya recehan bagi pemilik kendaraan seharga milyaran rupiah itu.

Andai terjadi salah paham, misalnya rakyat marah dan bertindak anarkis terhadap mereka karena dianggap berlaku norak dan semaunya di jalan raya, yakinilah itu sebagai amal jariyah orang-orang kaya untuk menciptakan perubahan di Indonesia. Percayalah, hukum tak bisa ditegakkan jika tak ada peristiwa yang menggugah kesadaran bersama seluruh bangsa Indonesia. Syukur jika di antara pengendara Harley Davidson itu ada yang mau melakukan tugas-tugas kenabian, menggugah kesadaran hukum rakyat Indonesia, misalnya secara sengaja menabrak penyeberang jalan, atau menendang pengguna jalan yang dianggap menghalangi laju sepeda motor bermesin besar yang ditungganggi warga negara nan terhormat itu.

Anggap saja, rakyat yang marah dan mungkin bertindak anarkis itu, karena mereka tidak sadar hukum. Anggap saja mereka tidak tahu tugas polisi lalulintas yang mengawal orang-orang terhormat pengendara Harley Davidson itu sama mulianya dengan mengawal rombongan presiden atau tamu resmi kenegaraan.

Pak Kapolri yang terhormat…

Andai yang demikian kelak benar-benar terjadi, jangan takut dan jangan merasa bersalah. Revolusi rakyat terhadap hukum justru muncul karena pperan orang-orang hebat dan mulia pemilik mtor gede itu. Revolusi demikian, jelas lebih konkret dibanding ajakan revolusi mental dari Pak Jokowi dulu, saat kampanye pemilihan presiden.

Demikian, Pak Kapolri dan para warga negara pemilik Harley Davidson yang terhormat. Tolong sesering mungkin Anda mendukung gelaran jambore, kumpulan atau konvoi dalam jumlah besar, atau apapun namanya. Percayalah kemuliaan sikap dan tindakan Anda semua. Seperti dikatakan Komjen (Purn.) Nanan Sukarna, bahwa “kehadiran para bikers ini untuk mengangkat pariwisata Yogya. Soal ada miskomunikasi kecil pasti terjadi,” itu benar adanya. Abaikan saja kebodohan rakyat yang memang tidak mengerti makna pengibaran 70 bendera merah-putih di Candi Prambanan oleh para bikers, para pengendara Harley Davidson itu.

Demikian surat saya untuk Pak Kapolri, Pak Nanan dan para warga terhormat Negara Kesatuan Republik Indonesia pemilik Harley Davidson, yang sudah mengangkat citra pariwisata Yogyakarta dan membagikan sebagian rejeki mereka kepada warga miskin di Yogyakarta dan seluruh penjuru Nusantara. Semoga tidur Anda nyenyak, dan semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Update:

dari mensyen di Twitter olej akun @bosjavanicus_ ini (jika benar), maka alangkah arogannya warga negara kelas satu ini....

dari mensyen di Twitter oleh akun @bosjavanicus_ ini (jika benar), maka alangkah arogannya warga negara kelas satu ini….

Saya sangat senang jika Anda, pembaca yang budiman, turut mendukung dengan mengisi petisi ini, agar pengendara HARLEY DAVIDSON PATUHI RAMBU LALULINTAS

Referensi:

Pencegatan kepada Pengendara Harley yang ternyata cuma isu…

Aksi Pria Bersepeda Hadang Konvoi Harley-Davidson di Sleman

108 thoughts on “Terima Kasih pada Kapolri dan Pemilik Harley

  1. Mr.Zee

    Kritik penuh sindiran yang disampaikan secara halus, tapi menusuk. Saya suka ini. Walaupun saya tidak tahu pasti pakah orang yang dituju akan mampu mencerna maknanya juga hehe #Ups maaf.

    tidak perlu marah, yang perlu dilakukan adalah introsveksi diri. Cobalah kali ini saja untuk menghiraukan hati kecil saat merenung.

    orang yang mengerti makna tulisannya, tak mungkin menghujat penulisnya. 🙂

  2. cah solo

    Alangkah baiknya solo jgn d pake buat tmpt gtoan….warga solo mngecam keras ad festival spt mmbuat macet…untungny bagi masymasyarakat ap??pling cmn tmpt yang diadakan.ada kjdian mtor moge nbrak orng malah d lindungi polisi pikir lah emang kalian kaya bnyak duit tpi ap duit bsa mnyelesaikan sgalany!!!!FUUUCCCCKKK

  3. Jey

    Salut ama tulisannya, tapi percuma bro tulis surat gini bisa saja g di baca atau di baca g ada tindakan
    Revolusi gan gerakin rakyat yg sadar hukum

  4. PEMILIK MOGE

    Siap segera sya jadwalkaan kembali buat jambore. Konpoi atau apalah apalah.. Yang penting kucrut

    Tapi kayanya kaya KAPLORI atau Purn. NANAN
    Gak bakal keyeng maca panjang kaya gini

  5. Soejanto

    Lur tulisanmu pas karo kasunyatane……ning yo mbuh nek dho picek lan mbudheg…. Wong jelas okeh sing ndhelok ono wong ngepit ngelingke ojo langgar bangjo di enggokke jare mung isu.jamane wis canggih le ojo ngapusi.wis dho mudheng,

  6. pengembara

    Bahasa kritik yang sangat halus…penuh sindiran, semoga yg disindir paham maksud tulisan ini. Karena pembaca yg komentar saja banyak yg gak paham, malah menghujat penulis. Tulisan yg bagus mengkritik para harley dg bahasa yg lembut namun menusuk mereka.

  7. alex

    Josh tenan tulisane….
    Satir abis….
    Kl pak pejabat masih ndak ngerti juga……ya sudahlah. Memang negeri ini harus diruwat, supaya bisa lebih peka dng kemanusian yg adil dan beradab, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
    Bagi rekan2 yg belum paham bahasa satirnya….ya sudahlah.

  8. Halalkanadekbang

    Iki apik banget tulisanne! Dari bbrp komen yg saya baca, masih ada bbrp org yg tidak mengerti dengan gaya penulisan seperti ini tp langsung nulis A-Z. Belajar dulu yg rajin ya nak biar wawasannya lebar dan cara pandang serta ilmu nya duwur. Ben iso ngerti isi tulisan di surat ini.. Ojo ngisin2i nek ora ngerti maksud e iso takon.

  9. adi

    Dulu waktu kecil sempet takjub lihat rombongan moge ini.. Tapi sekarang lagi.. Arogan.. Penulis hanya berfikiran uang uang dan uang.. Pernah ngalamin salah satu keluarga di gasak rombongan ini ampe mati kagak??? Idiot

  10. Yang disurati malah gak bisa tidur nyenyak nih… Itu pun kalau masih punya naluri dan tidak hanya melemparkan pembenaran-pembenaran, yg malah semakin menunjukan tidak punya naluri.

  11. suhail

    Kalimat terakhir kok gak enak banget…
    Tapi monggo di Amiinkan…..
    “Semoga tidur Anda nyenyak, dan semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa”

  12. ardy

    Saya tdk setuju dgn perlakuan istimewa konvoi ini d jalan, aturan itu d buat untuk umum, mau org miskin atw org kaya/ mantan2 jendral klo d jln y statusnya sm. Analogikan ky org sholat d masjid, si kaya & si miskin hukum’a sama aj.

  13. andong

    walah… gak melihat di jalanan kayak apa ini orang, sombong-2 mereka itu, duit yg diutamakan, sirine yg dipake tp org sipil yg naik. berisik, sama saja dgn genk motor yg lain, emangnya mereka saja yg punya kuping sama jalan? kegiatan yg tidak sehat dan tidak mendidik….

  14. hadi winarto

    ah, bagi saya hanya bisa ngakak wakakakak habis menimpali senyuman penuh arti dari orang-orang Amerika terutama sang produsen moge, pemilik dan karyawan pabrik moge… produknya laku diujung dunia lain yaitu Indonesia.

  15. febry

    waahhh, jangan dong kalo surabaya dibikin tempat persinggahan herli2 ug lagi ngider..
    udah pernah ngerasain dan macetnya nggilani…
    untunglah doa masyarakat surabaya didengar TUHAN yme. sepulang dari acara tersebut ada politisi pdip/mantan aktor yg MATEK kecelakaan.
    semoga dosa kita diampuni yaa.. baik si almarhum pengendara herli yg matek ketabrak geng nya dewe, dan hajat orang banyak yg terganggu sama ulah si pengendara herli.

  16. andri

    Minoritas harusnya kalah sama mayoritas, tapi masih kalah sama uang. Lawong ijo2 jhe, pak pol ya ngiler. Mana anak istri lagi pengen macem2. Peraturan taik

  17. Pink Zarwono

    Mas B Poer, nyuwun ijin share, budi dan bahasa yang halus dan sangat santunnnn walau saya ragu bahwa mereka mereka (para arogan) bisa memahaminya ….. Maturnuwun Mas B Poer

  18. sawungsetho

    Mereka2 para raja jalanan sebenernya…pemilik post powersyndrom seutuhnya…ga bakal mempan di bacain mantra sarkasme kaya gini…

    #save_jogjaku_dari_arogansi_moge

  19. mejidjon

    Memang, bnyak kok yg punya ‘Moge’ berhati mulia, namun beberapa oknum pengguna moge seperti angkuh, merasa dia “paling” dan arogan.
    Jangan salah min, rakyat jogja sudah terlanjur mendapati mereka “berkelakuan buruk” akibat kejadian ini.
    Walaupun saya pribadi tidak berpikiran seperti itu, karna saya juga punya teman moge yang mampir sebelum ke prambanan.
    well, biar rakyat lah yang menilai.

    1. Alam

      weee….alaaaahhhh…..ternyata “ra gaduk kuping” wong sugih mblegedhu penunggang MOGE karo seratan panjenengan sing markotop niki kang…Ternyata benar,kekayaan tak berbanding lurus dgn kecerdasan…. he5x

Leave a Reply