Dongeng Tino, Produksi Film Dokumenter

tino_1Kenal Tino Saroengalo adalah keberuntungan tersendiri. Adalah teman kuliah bernama Gunawan Rahardja, yang memperkenalkan saya kepada tokoh perfilman Indonesia yang hebat itu. Sosok yang asik diajak ngobrol, juga teman bertanya yang baik untuk beragam hal. Mau sosial, budaya, hingga politik, dia sangat ‘melek’. Serba asik pokoknya…

Saya ingin memulai cerita tentang Tino melalui buku terbarunya: DOKUMENTER, Dongeng Produksi Film (Asing) di Indonesia dari Sudut Pandang Manajer Produksi. Asli, buku itu sangat bernilai manfaat luar biasa bagi siapa saja. Mulai dari awam, peminat dan pelaku film, hingga pejabat pemerintah, dari level terendah hingga pusat.

Tak ada niat lebay di sini. Tapi memang saya sungguh tersentak usai menuntaskan baca buku terbitan FFTV-IKJ Press, Jakarta (2015) itu. Orang awam seperti saya seperti diingatkan, betapa pelaku produksi film dokumenter, secara tidak kita sadari, merupakan salah satu ujung tombak ‘promosi’ wilayah dalam arti yang sangat luas. Mereka adalah public relations officer andal, namun tanpa embel-embel status/jabatan profesional.

Dari Dongeng Produksi Film (selanjutnya akan saya sebut demikian), saya kian paham betapa sebuah produksi film dokumenter merupakan pekerjaan rumit dan kompleks. Penangkapan dua orang pembuat film dokumenter di Selat Malaka oleh TNI AL baru-baru ini, menurut hemat saya, pasti disebabkan oleh kegagalan awal melakukan riset. Terhadap peristiwa penangkapan dua kontributor National Geographic itu, kita bisa nyimak penuturan Tino di halaman 27, 33, atau di bab khusus Apakah Pemerintah Republik Indonesia Siap? (hal 147-152).

Menurut Tino, persepsi aparatur negara terhadap pembuat film dokumenter masih sama seperti halnya pada wartawan asing. Film dianggap alat propaganda, wartawan adalah mata-mata. Sehingga, ijin syuting film dokumenter oleh kru asing harus mendapat restu dari jejaring intelijen nasional lintas departemen. Apalagi, mereka sudah sangat terlatih dalam pengawasan terhadap orang asing sejak jaman Orde Baru!

Soal kultur birokrasi, tentang persepsi aparat terhadap kerja produksi film dokumenter dan sebagainya, adalah beberapa hal pokok yang harus dikenali pekerja film dokumenter, terutama sebagai seorang fixer atau manajer produksi. Dan, untuk contoh Indonesia, Tino adalah satu dari sedikit orang yang mumpuni kapasitas dan kredibilitasnya. Setidaknya, itu yang saya ketahui dari cerita sejumlah orang, baik teman maupun kenalan.

Dari Dongeng Produksi Film, sekali lagi, banyak pihak bisa belajar banyak dari pengalaman Tino, yang diceritakannya dengan sangat lugas, jenaka dan sarkastis. Tapi, mencerna cerita dalam buku itu, yang terpikir oleh saya kemudian: sebaiknya aparatur pemerintah pusat hingga daerah mau membacanya juga. Banyak pelajaran bisa dipetik. Proses pembuatan film dokumenter bukan semata urusan pekerja film, namun banyak manfaat bisa didapat dari proses memilih dan menimbang lokasi, obyek dan subyek proses syuting.

Berapa banyak wisatawan (biasa maupun dengan minat khusus) datang ke sebuah daerah (bahkan sangat terpencil) karena digerakkan oleh tayangan film dokumenter (iklan, dan cerita)? Pulau Komodo, misalnya, menjadi ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai belahan dunia, sebab keunikan binatang (prasejarah?) itu seperti mempertemukan dunia imajinasi banyak orang yang dituntun oleh film seperi Jurrasic Park dan Walking with Dinosaurs yang mendunia itu dengan kenyataan di dua pulau, yakni Pulau Komodo dan Pulau Rinca di Nusa Tenggara Timur. Berapa banyak uang dikeluarkan dari saku para pelancong itu?

Indonesia memang kaya raya. Mulai dari ragam budaya, manusianya, flora dan fauna. Sebagai fixer, manajer produksi dan periset ulung, Tino bisa dibilang telah menginjakkan kakinya di hampir seluruh pelosok Nusantara. Pengalamannya sebagai wartawan Jakarta-Jakarta memberinya bekal kekuatan dan ketajaman intuisi dalam penentuan lokasi. Sekali lagi, menyodorkan lokasi syuting kepada produser atau sutradara (film dokumenter) tidaklah cukup berbekal bualan semata. Referensi memadai harus dipunyai.

Saya beruntung kenal Tino. Meski baru bertemu fisik sekali, tapi saya bisa lebih dalam mengenal sepak terjangnya. Dia sosok yang hebat, terutama dedikasinyya dalam dunia perfilman Indonesia. Padahal, ‘kedekatan’ selanjutnya lebih banyak menggunakan sarana pesan singkat atau telponan. Pertemuan itu meninggalkan pelajaran sangat berharga dalam dunia (produksi) film (dokumenter).

Kala itu, sekiitar 2003-2004, saya diminta membantunya membuat riset untuk sebuah film bertema tragedi Bom Bali (I). Kami keliling Kota Solo dan sekitar, mencari ikon-ikon Solo untuk rencana film yang bakal disutradarai sineas ‘sableng’ Australia, David Jenkins (?). Awalnya, film Bali akan diproduksi dengan menggunakan ‘situs-situs’ yang disebut-sebut terkait dengan pergerakan Imam Samudra dan kawan-kawan, seperti Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki dan tempat-tempat rapat perencanaan Bom Bali. Namun, film itu urung dibuat di Indonesia karena selain tak dapat ijin dari pengelola pondok, pemerintah Indonesia (lembaga intelijen?) juga tak meluluskan ijin mereka.

Ah….. Andai saja cerita tentang rencana produksi film Bali muncul di buku Dongeng Produksi Film ini. Tentu lebih seru!

Ya, sebagai fixer abal-abal, saya merasa punya akses lumayan ke Pondok Ngruki (saat itu). Setelah peristiwa Bom Bali I, banyak wartawan asing berbondong-bondong ke Solo. Dan saya sering dapat ‘job’ jadi fixer untuk banyak media, baik cetak maupun televisi, terutama dari Australia, Amerika, dan beberapa dari Eropa. Tapi, pengalaman yang saya dapat, ternyata sangat jauh dengan apa yang dilakukan Tino. Dan, saya belum pernah mendapati sutradara atau produser yang aneh-aneh seperti diceritakan Tino. Kebanyakan, mereka hanya nurut kepada pilihan angle dan setting lokasi serta narasumber yang saya sodorkan.

tino_2Sebagai penutup catatan pendek atas buku trilogi Dongeng Produksi Film (Dokumenter, Iklan dan Cerita) ini, saya hanya bisa menyarankan bagi siapa saja untuk membaca buku ini, dan dua buku yang segera menyusul penerbitannya. Bagi peminat serius film dokumenter (juga peminat jadi fixer dan manajer produksi), bacalah buku ini! Pada buku ini juga dilampirkan contoh ‘bekal surat-menyurat’ antara Anda dengan calon mitra/klien.

Tak banyak orang sebaik Tino yang mau buka-bukaan mengenai rahasia dapur profesionalnya. Gambaran kerumitan proses ijin seperti apa, ketersediaan alat produksi, sistem transportasi, kru, akomodasi hingga katering, disertakan pula dalam bukunya.

Ya, Tino memang bukan tipikal orang yang pelit ilmu. Pengalamannya jelas bergudang-gudang, dari getir hingga manis, termasuk ketika ia terlibat produksi film Eat Pray Love (Ryan Purphy, 2010) yang berlokasi syuting di Bali dan dibintangi Julia Roberts. Sebagai praktisi yang supersibuk, ia masih mau menyisihkan waktu khusus untuk mengajar di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Saya ingat betul, saat saya diajaknya riset di Solo, di tengah kesibukannya muter-muter, ia masih melayani mahasiswanya yang melakukan konsultasi tugas akhir lewat pembicaraan via telepon. Tak hanya itu, ia dan kawan-kawannya yang dikenal idealis rutin menggelar kelas workshop film lewat ‘organisasinya’ yang bernama Komunitas Film Jeruk Purut (KFJP).

Kang Tino, saya nantikan buku kedua dan ketiga dari trilogi dongengmu….. Makasih kiriman bukunya. Sejujurnya, saya tergoda untuk berbagi pengalaman sepertimu (tapi pengalaman apa yang bisa saya bagikan???)

Untuk Gunawan Gundul Rahardja, matur nuwun sudah memperkenalkan saya dengan orang hebat ini…

10 thoughts on “Dongeng Tino, Produksi Film Dokumenter

  1. gunawan raharja

    Buat saya buku ini mengajari siapapun bisa membuat film dokumenter dari awal. Mulai dari ide yang didapat, implementasi ide menjadi konsep dan selanjutnya produksi. Bahasa tuturnya yang Mas Tino banget juga menjadikan buku ini gampang dimengerti oleh siapa saja. Tidak dengan bahasan yang sulit dan ndakik-ndakik..
    Cuma kalau saja Mas Tino menuliskan catatan kecil tentang peralatan standard untuk pembuat film dokumenter pemula akan lebih ciamik dan maut lagi…

Leave a Reply