Selamat Jalan, Hamid Mukiyo Bocahmiring

Dhe, Mas Hamid meninggal, to?

Kalimat Nico ketika saya tiba di RBI itu seperti menyuruhku membuka timeline Twitter. Setengah tidak percaya, namun ingatan akan obrolan selewat dengan Hamid menuntunku pada kesimpulan, bisa jadi iya. Saya menelepon Iqbal @rasarab dan Linggar @linxlunx. Dari suara Iqbal yang tercekat, saya yakin dia nangis. Dari situlah saya yakin akan jawaban atas pertanyaan @ncko.

Tak lama berselang, Linggar menelepon. Dia di rumah sakit Harjolukito, sedang menunggu kedatangan keluarga Hamid. Dari Linggar saya dapat cerita bahwa pecahnya pembuluh darah yang membuat Hamid Muhammad terjatuh di kantor, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari kantornya. Di perjalanan itulah Allah memanggil Hamid.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah menerima semua amal kebaikannya, mengampuni semua dosanya dan memberikan surga terbaik untuk dia. Amin.

Hingga tulisan ini dibuat, saya masih menunggu kabar kepastian waktu dan tempat pemakaman. Apakah di Krapyak atau di Sewon, mBantul. Alamatnya pun saya belum tahu persis. Mengenai dua nama kampung itu pun mengingatkan saya akan cita-cita Hamid, untuk bisa membelikan rumah bagi orangtuanya di seputaran Pondok Al Munawwir, Krapyak karena untuk beberapa waktu tinggal di Sewon.

Kata teman-teman, Hamid masih punya hubungan dekat dengan keluarga pondok terkenal itu, di mana Gus Dur juga pernah nyantri di sana. Ia hanya tersenyum saat dikonfirmasi soal kekerabatan itu. Ya, itu pula salah satu unsur yang kian menguatkan persahabatan kami, selain sifat-sifatnya yang baik dan kecocokan kami akan banyak hal. Hamid adalah orang besar. Bukan hanya fisiknya, namun dalam segenap sifat dan cita-cita yang diperjuangkannya.

Hamid sering datang ke Solo, semata-mata hanya untuk kangen-kangenan. Kadang sendirian naik sepeda motor, kadang-kadang naik kereta bersama Linggar atau Iqbal, atau beramai-ramai dengan teman sepermainannya: Enthong, Arga, Bernad, Tony, dan banyak lagi. Sering ia mention di Twitter untuk menjelaskan jadwalnya, kadang lewat telepon.

Kurang-lebih sebulan lalu, saya menelponnya ketika mendengar kabar ia harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk ke sekian kalinya. Niat hendak menjenguk, namun dicegahnya dengan halus. “Pun sae kok, Pakdhe.Niki sampun badhe wangsul. Pandonganipun kemawon kula suwun,” begitu jawaban di telepon. Mengabarkan sudah membaik dan mau meninggalkan rumah sakit, dan meminta didoakan.

Hamid selalu berbahasa Jawa halus (krama inggil) kalau ngobrol dengan saya. Baik untuk obrolan serius maupun bercanda, ia selalu berbahasa yang sama. Laarbyasak! Sebuah penghargaan yang menggiring saya bisa jadi besar kepala. Betapa tidak?!? Dia yang saya hormati, dan demi menunjukkan keakraban lalu saya membiasakan bahasa ngoko, dia tetap krama inggil.

Hamid saya kenal dengan banyak nama (akun). @mukiyo, bocahmiring, @duajanuari dan @hmd merupakan beberapa di antaranya.

Pertama kali kenal ya hanya di media sosial. Hingga beberapa tahun lamanya, lalu kami janjian ketemuan di Hotel Harris, Tebet, Jakarta, saat saya sedang mengikuti workshop di sana. Dari Kelapa Gading, Si Mukiyo mengonfirmasi akan datang untuk kopdar pertama. Dan, obrolan tatap muka dengan bermedia sama saja. Sama-sama asik.

Ngobrol sampai larut malam sejak langit masih terang, Hamid pun pamit pulang ke kantor. Ngakunya saat itu, ia harus bekerja menjaga server. Saya ingat betul, ia menghentikan Taxiku yang mengarah ke Manggarai. Pertemanan terus berlanjut, bahkan saya termasuk orang yang awal-awal diberitahu dia akan kembali ke Yogya.

Sejak itulah, ia berkali-kali main ke Solo. Sebagai tanda persahabatan, seingat saya, dua kali saya menambahkan ukuran kaos untuk ukuran tubuhnya yang setara dengan 5L, ketika sedang memproduksi kaos. Memang sengaja saya bikin buat kejutan. Tentu, kaos itu tak bernilai apa-apa dibanding banyaknya pengalaman, cerita dan tambahan jumlah teman akibat bergaul dengannya.

Gus Hamid, selamat jalan. Semoga kamu tenang dan gembira di sana. Saya tahu, kamu tak pernah menunjukkan penderitaan akan sakitmu saat bercerita. Padahal, saya bisa membayangkan betapa tersiksanya kamu. Berapa kali saya perhatikan, kamu banyak minum air putih dan es teh tanpa gula kesukaanmu, setiap main ke RBI dan menginap. Kamu tak mau orang lain mengasihani atau ikut merasakan sakitmu.

Insya Allah, kamu memperoleh akhir yang baik. Khusnul khotimah. Meski berat kehilanganmu, tapi aku percaya takdir Allah-lah yang tak bisa kauhindari.

Gus Hamid, ketahuilah. Kamu meninggalkan kami pada Rabu Wage. Itu weton-ku. Dan, sebagai trah Krapyak, ketahuilah soal weton dan nama ke-Arab-anmu, itulah yang salah satunya membuat kita menjadi bukan orang lain. Nyedulur sing luwih. Kelihatan banget kehidupan relijiusitasmu yang tak meninggalkan akar kultural kita sebagai “wong Indonesia sing Islam”, bukan wong Islam sing kebetulan ada di Indonesia.

Mid, bukan hanya teman-teman di Yogya yang kehilanganmu. Teman-teman di RBI pun merasakan hal sama. Kamu begitu mudah cair dalam menggauli teman-teman di RBI, termasuk penongkrong di wedangan.

Sugeng tindak, Gus Hamid… Insya Allah aku akan Yasinan dan tahlilan menemani kepulanganmu…

6 thoughts on “Selamat Jalan, Hamid Mukiyo Bocahmiring

  1. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat Jalan mas Hamid Mukiyo Bocahmiring.. semoga amal ibadahnya di terima oleh Allah SWT, di lapangkan kuburnya dan mendapatkan tempat terindah yaitu jannah. Aamiin

Leave a Reply