Cerita 17 Tahun

*tentang huru-hara politik 14-15 Mei 1998*

19.10 WIB

Hari ini, tujuh belas tahun silam, adalah malam mencekam di Kota Solo. Dari rumah kos di Jl. Ir Sutami 16, saya menyusuri Jl. Kol. Sutarto hingga Stasiun Balapan. Entah berapa puluh titik saya saksikan ada tumpukan bara di tengah jalan raya. Listrik PLN masih menerangi aneka jenis mobil, sepeda motor dan perangkat mewah yang membara, melelehkan aspal hingga meninggalkan bekas-bekas lubang hingga berhari-hari kemudian.

Menjelang pukul 20.00 WIB, ketika mencapai Stasiun Balapan, tiba-tiba aliran listrik padam. Teriakan histeris perempuan beragam usia menjadikan malam itu kian mencekam. Nenek seorang teman menangis keras, mengajak cucunya pulang ke rumahnya di Penumping. Ia tak mau dievakuasi ke Yogya, kota yang relatif tidak terimbas huru-hara politik yang menyasar keluarga peranakan Tionghoa sebagai sasaran amarah dan dikorbankan.

Saya ingat betul, subuh hari itu saya harus menyelesaikan pekerjaan memotret semua sisi Candi Boko, pesanan seorang teman di Jakarta. Mau tidak mau, sore/malam saya harus ke Jakarta mengantar foto-foto itu, dan berjanji bertemu di Teater Utan Kayu. Untung, tiket sudah saya pesan sehari sebelumnya. Sudah kebiasaan, saya selalu ke Jakarta via Bandung lalu disambung dengan KA Parahyangan.

Bandung, 15 Mei 1998 pukul 5.30 WIB

Masih agak gelap ketika pagi itu ketika kereta yang saya berpapasan dengan kereta barang di Stasiun Kiaracondong. Tapi jelas terlihat, beberapa tank dan panser ada di atas deretan kereta barang. Entah hendak dibawa ke mana tank-tank itu.

Memang, kabar kekacauan Jakarta sudah saya dapat via email, namun tidak membayangkan besaran eskalasinya. Maka, kagetlah saya begitu memasuki Bekasi, dari dalam KA Parahyangan saya melihat keramaian orang melintas fly over. Tampak dari kejauhan, beberapa bangunan dan supermarket mengepulkan asap kehitaman dengan api menyambar-nyambar.

Suasana hampir sama ketika kereta mendekati Stasiun Jatinegara. Saya bergegas turun dan berganti naik mikrolet ke Teater Utan Kayu.

“Gimana kabarnya Solo, Mas?” sapa Mas Goenawan Mohamad begitu melihat saya tiba di Kantin Bu Bambang.

Saya cerita panjang lebar mengenai apa yang saya saksikan sejak selepas dhuhur, di mana banyak kerumunan massa bergerak dari arah Kerten menuju Purwosari. Dari atas kereta yang menghentikan langkah massa, saya saksikan kerumunan panjang hingga Panti Waluyo. Juga ketika sore, seusai cuci-cetak foto di Kentingan, saya berkeliling kota menyaksikan bara dari ratusan bangunan rumah tinggal dan kawasan pertokoan, nyaris di semua sudut Kota Solo.

Mas Goen kaget. Dia mengira di Solo tidak terjadi apa-apa, sebagaimana di Jakarta. Lalu, kian seriuslah obrolan kami, membahas situasi saat itu dan memperkirakan besaran kekacauan. Singkat kata, kami bertukar ceritera mengenai berbagai hal, termasuk bergosip mengenai kelompok mana yang turut bermain dan menyulut huru-hara.

Menjelang Jumatan, saya memilih bergegas ke Stasiun Jatinegara untuk mencari kereta ke Bandung lalu meneruskan kembali ke Solo. Selain terlalu lama kalau saya menunggu jadwal keberangkaan kereta api jurusan Jatinegara-Solo, saya juga kuatir kalau tak ada keberangkatan kereta hari itu. Jakarta terlihat betul kekacauannya. Beberapa akses jalan di Pisangan menuju Stasiun Jatinegara sudah ditutup dengan aneka macam ‘portal’ dadakan. Ada meja-kursi, juga ada palang kayu, bambu atau besi diletakkan melintang di tengah jalan.

Saya turun dari Bajaj, lalu menyusuri jalan-jalan kecil yang menghubungkan dengan stasiun. Capek badan dan perut lapar karena sejak semalam belum makan tak terasa karena paniknya. Dan, rasa kenyang tiba-tiba datang ketika tak sampai 15 menit, ada kereta yang siap membawa saya ke Bandung.

Solo, 16 Mei 1998

Dari Stasiun Balapan, saya memilih jalan kaki menyusuri jalan-jalan di kota. Portal pun mendadak ada dimana-mana. Setiap menanya orang di mulut gang, selalu diperoleh jawaban seragam. Katanya, ada arus massa dari daerah kampung lain akan datang menyerbu. Aneh. Meski seragam akan munculnya potensi serangan, asal massa selalu disebut berbeda antarkampung.

Selain portal, pemandangan yang seragam didapat adalah adanya sajadah ditaruh di pagar rumah atau digantungkan di tembok, atau tulisan-tulisan kaligrafi di tembok-tembok. Rupanya, sajadah dan kaligrafi menjadi senjata ‘penangkal’ perusakan dan penjarahan.

Tengah hari hingga malam, saya menjumpai banyak orang mengangkut aneka peralatan rumah tangga. Ada yang memanggul televisi, komputer hingga orang ramai-ramai menggotong lemari es atau spring bed. Dari wajah-wajah dan penampilan fisik mereka, saya lihat ‘kurang klop’ dengan bawaannya. Rupanya (baru saya paham beberapa hari kemudian), mereka adalah ‘kaum miskin’ yang tengah dipaksa ‘menjarah’ barang-barang milik keluarga peranakan.

***

Beberapa hari kemudian, banyak cerita miris saya dapatkan. Karena punya ‘akses’ penuh bermain komputer di Solonet, saya mencoba melacak pembicaraan email beberapa users warnet, khususnya anak-anak dan remaja peranakan di Solo. Di Sent Items aplikasi email Telnet dan Eudora, saya bisa membaca lalu lintas obrolan mereka dengan kerabat, kenalan dan saudara mereka di luar negeri. Pertanyaannya selalu sama: bagaimana cara mendapatkan surat permanent resident di sejumlah negara, terutama Singapura, Australia dan Inggris serta Amerika.

Dari tulisan-tulisan mereka, sangat jelas terbaca situasi batin mereka. Tentang masa depan, mengenai rasa aman dan seterusnya. Miris.

Tak lama kemudian, saya menjadi sangat mengenal banyak hal mengenai Solo. Peristiwa Mei 1998 menjadikan jarak antara ‘pribumi’ dengan ‘nonpribumi’ yang dulu tampak renggang menjadi kian cair. Bahu-membahu, semua etnis dan tokoh agama meretas gerakan bersama, mengatasi trauma minoritas sembari mengingatkan perlunya menjaga kerukunan dan persatuan sebagai warga bangsa.

Maka, beberapa saat kemudian, sangat mudah dijumpai gotong royong di kampung-kampung menjadi lebih berwarna. Mereka, para kaum peranakan yang sebelumnya dikenal warga sekitar suka ronda atau arisan kampung dengan mewakilkan kepada pegawai atau pembantunya, mulai bersama-sama berbuat untuk kampung masing-masing. Sebuah titik balik yang baik, karena baik yang ‘pribumi’ maupun ‘nonpribumi’ (menurut istilah Orde Baru) akhirnya sadar, bahwa mereka sama-sama jadi korban permainan politik tingkat tinggi. Semua mafhum, selama ini jarak antarmereka sengaja diciptakan, dan dijaga.

Mei 1998, hingga kini dikenal sebagai titik balik sistem politik otoritarian. Reformasi terjadi.

Kini, setelah 17 tahun berlalu, ada yang mengganjal di batin saya. Kebersamaan antarwarga yang sudah terjalin baik, cairnya relasi sosial tanpa dibatasi latar belakang keturunan dan status sosial, ekonomi dan politik, pelan-pelan terancam kelangsungannya.

Sebagian kecil elit peranakan, mulai menggemari praktek bagi-bagi sembako, pasar murah dan sebagainya. Terlalu sering mereka mengadakan acara serupa, dengan mengundang sebanyak mungkin perwakilan media massa. Foto dan berita aktifitas mereka seolah menjadi tujuan utama. Mereka lupa, praktek demikian sama saja memunculkan sentimen kaya-miskin, antara yang (perlu) dikasihani dan mengasihani. Seolah saling membantu, padahal ada hal prinsip yang mereka lupakan.

Aksi penjarahan dan pembakaran dipicu oleh sentimen ekonomi-politik yang sengaja diciptakan rezim lama yang otoriter itu. Kebersamaan dalam gotong royong bersih-bersih kampung, arisan atau ronda yang merupakan forum cair dan disemangati oleh prinsip kesetaraan, seolah dilunturkan dengan pola pasar murah dan bagi-bagi sembako.

Jika hal demikian tak disadari sejak dini, maka ia akan menjadi bom waktu. Dan, semua orang tahu seperti apa ujung dari semuanya itu…..

Saya hanya bisa berharap, semua warga negara Indonesia menyadari hal ini, dan terus-menerus membangun kebersamaan dan persaudaraan. Saya bermimpi, tak ada lagi portal-portal terpasang di mulut-mulut gang, entah di perkampungan maupun kompleks-kompleks perumahan. Dari portal dan bungkusan sembako (pasar murah) itulah, JARAK menjadi kian tampak. Padahal, ‘kami’ dan ‘mereka’ mestinya segera dienyahkan dari pergaulan sosial. Peradaban harus dibangun dengan tanpa prasangka…

4 thoughts on “Cerita 17 Tahun

  1. Membaca Cerita 17 Tahun *tentang huru-hara politik 14-15 Mei 1998* ini jadi membayangkan bagaimana keadaan pada saat itu. Kejadian serupa juga terjadi di daerah saya, memang sih waktu itu saya masih umur 6 thn jadi masih belum mengerti.

  2. wektu kui aku isih kelas 5 SD , aku yo melu2 njarah, tp rung sido mlebu toko swalayan mitra palur, ora sido
    mergone wedi geni sing mubal3

    memory 1998

Leave a Reply