Surat Curhat untuk Pak Jokowi

Sugeng dalu, selamat malam, Pak Jokowi. Semoga lawatan panjenengan ke Malaysia, Brunei dan Philipina berlangsung sukses dan membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia khususnya, dan masyarakat ASEAN pada umumnya.

Pak Joko, saya yakin, hari-hari ini pasti menjadi saat yang menegangkan bagi panjenengan, karena dihadapkan pada situasi dilematis, terutama sejak panjenengan ‘terpaksa’ menyodorkan Komjen Budi Gunawan menjadi calon tunggal Kapolri kepada DPR melalui Komisi III. Saya membayangkan, betapa sulitnya posisi panjenengan untuk menyatakan secara terbuka, mengenai situasi yang sesungguhnya, termasuk tekanan-tekanan elit partai yang belakangan dipahami publik sebagai kehendak Bu Megawati sebagai petinggi PDI Perjuangan, yang diamini Surya Paloh (Partai Nasdem) dan Jusuf Kalla, Wakil Presiden panjenengan.

Sebagai pendukung panjenengan, saya sangat kerepotan menjawab pertanyaan satu-dua teman, yang dulu ikut mengkampanyekan pencalonan panjenengan, mengenai sikap panjenengan, terutama terkait dengan sejumlah menteri yang mereka anggap kurang memiliki kapasitas memadai, dan terutama, mengenai nasib Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belakangan digempur habis-habisan oleh hampir mayoritas elit partai lewat legislator dan dengan memanfaatkan sejumlah elit Polri.

Jika Jumat (6/2) sore saya mendengar rumor seluruh staf, penyidik dan pimpinan KPK akan mundur jika terus dikriminalisasi, digempur secara terstruktur, sistematis dan massif, maka saya hanya bisa diam tercekat. Saya bisa memahami bagaimana perasaan seluruh punggawa KPK yang kian hari kian moncer reputasinya (sehingga jadi lembaga yang diharap mayoritas bangsa Indonesia memperbaiki negeri lewat perang melawan korupsi), lantas merasa sia-sia karena tak kunjung mendapatkan dukungan riil dari panjenengan.

Dukungan riil yang dimaksudkan, antara lain berupa penegasan sikap keberpihakan kepada KPK, sebagai ujung tombak perang terhadap praktik korupsi, yang sejak panjenengan menjabat walikota, gubernur hingga pencalonan presiden, selalu panjenengan gaungkan. Ya, keberpihakan yang jelas dan tegas kepada KPK, supaya mereka leluasa bekerja melakukan pemberantasan korupsi.

Sejujurnya, saya sedih ketika banyak orang membandingkan sikap panjenengan yang disebut kalah tegas dibanding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menyelesaikan konflik Polisi-KPK, seperti ketika muncul insiden Cicak vs Buaya jilid I dan II.

Saya bisa membayangkan kesulitan panjenengan, yang memang bisa disebut new comer dalam percaturan politik nasional. Seorang Susilo Bambang Yudhoyono pasti memiliki jejaring elit politik di Jakarta yang jauh lebih mapan dibanding panjenengan, sebab ia pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto hingga jabatan-jabatan strategis di kemiliteran dan sipil di tingkat pusat. Jujur, sehebat-hebatnya panjenengan, karena memang termasuk relatif baru berada di panggung nasional, pastilah jejaring elit belum terlalu banyak.

Kalaupun kemarin-kemarin banyak orang mendekat dan mengelu-elukan panjenengan semasa di Solo dan di DKI, bisa dibilang pasti hanya sedikit yang memiliki ketulusan sebuah hubungan pertemanan. Saya berani bertaruh, kebanyakan mereka cenderung menganggap, maaf, nuwun sewu, sebagai wong ndesa, yang mudah ‘dikelola’ dan disetir oleh mereka. Tapi saya yakin, sebagian mereka juga menjadi paham, ternyata panjenengan bukan sekadar new comer dan wong ndesa yang lugu, tak paham dan tidak punya sikap.

Hingga detik ini, saya masih percaya panjenengan masih seperti Pak Jokowi yang saya kenal dulu, meski hanya lewat sekian kali pertemuan dan obrolan, yang kebetulan sering cuma berdua atau bertiga saja. Andai ada orang berani menggebrak meja kepresidenan lantaran merasa punya saham dalam pencapaian kemenangan dalam pemilihan presiden, saya yakin panjenengan bisa menghadapinya dengan bijak dan tegas, sehingga membuat orang tersebut sadar, bahwa panjenengan bukanlah orang yang mudah didikte dan disetir.

Pak Joko, saya yakin panjenengan masih Jokowi yang kemarin saya kenal dan sering saya ceritakan dengan bangga kepada siapa saja. Tentu, ada rasa bangga karena saya pernah punya kesempatan membuktikan watak, moralitas dan sifat rendah hati panjenengan lewat sekian kali pertemuan, baik yang tak sengaja maupun direncanakan.

Pak Joko, saya yakin, panjenengan bisa melihat secara lebih obyektif karena berada dalam situasi jarak dari tanah air ketika melawat ke Malaysia, Brunei atau Philipina. Saya yakin, selama di Malaysia, panjenengan bisa melihat dan mendengar secara langsung harapan dan gambaran saudara-saudara yang merantau di sana, yang kerap diperlakukan semena-mena oleh warga maupun pemerintah Malaysia hanya karena dianggap udik, wong cilik yang butuh hidup dengan bekerja apa saja di sana. Saya yakin, panjenengan bisa becermin, bahwa di Indonesia, pun panjenengan juga diremehkan oleh sekumpulan politikus busuk sehingga ingin mengatur dan mendikte panjenengan dalam menakhodai kapal raksasa bernama Indonesia.

Pak Joko, di Philipina besok, semoga panjenengan bisa banyak memperoleh gambaran, betapa premanisme yang kini marak di Indonesia, sudah terjadi di negeri itu sejak awal 1960-an. Di negeri itu, orang sipil bersenjata api sudah jamak, terutama semasa Ferdinan Marcos berkuasa. Di Mindanau dan Zamboanga, Philipina Selatan, preman bersenjata yang berkolaborasi dengan militer sudah biasa ikut menekan dan membunuh tokoh-tokoh sipil yang kritis terhadap situasi dan masa depan negeri mereka. Lihatlah, di Jakarta dan di belahan Nusantara, yang demikian pun ada. Para cukong main mata dengan petinggi militer dan politisi, lalu mempersenjatai warga sipil yang berwatak preman sebagai alat kepentingan.

Pak Joko pasti sempat membaca berita, beberapa hari lalu, mengenai pernyataan seorang legislator yang menganggap wajar jika politikus di Senayan memiliki senjata api, sekadar untuk berjaga dan melindungi diri. Kata politikus itu, memang tak perlu membawa senjata api ke ruang kerja, apalagi ruang sidang, namun cukup ditaruh di mobil saja. Apapun alasannya, berita semacam itu tentu membuat bulu kuduk kita bergidik. Walaupun demi membela diri atau berjaga-jaga, satu peluru sama saja mengancam terpisahnya nyawa dari tubuh si empunya.

Pak, hingga detik ini pun saya meragukan kemampuan sedikit orang yang, alhamdulillah, masih panjenengan pilih untuk terus mendampingi. Tak bisa saya bayangkan, siapa sahabat sejati panjenengan jika mereka tak ada di sekitar panjenengan. Saya bayangkan, mayoritas orang di sekeliling panjenengan adalah manusia-manusia penuh ambisi berkuasa, dan membawa aneka kepentingan diri dan kelompok mereka. Panjenengan pasti juga tak akan nyaman atau leluasa bercanda atau bercerita alias curhat akan berat beban perasaan dan pikiran yang panjenengan rasakan, apalagi terkait dengan konflik segelintir jenderal polisi dengan sejumlah tokoh KPK.

Meragukan mereka bukan berarti meremehkan. Namun, sedikitnya jumlah sahabat panjenengan tak akan sanggup menghadapi gempuran sekumpulan elit yang terorganisir dan memiliki kerja sama lama dan matang. Ada beda kepentingan, dan ada perbedaan penyikapan akan pertanggungjawaban kepada orang lain. Panjenengan pasti ingin tetap bersama rakyat dan mewujudkan harapan mereka, sementara sebagian besar yang mengelilingi panjenengan justru ingin menjauhkan panjenengan dari mereka. Tak hanya relawan yang turut mengkampanyekan, namun juga mayoritas warga bangsa Indonesia yang tulus berharap perubahan dan perbaikan nasib selama panjenengan menakhodai kapal Indonesia.

Pak Joko, saya masih bisa gembira ketika panjenengan mau bertukar pikiran dan berbagi beban kepada Buya Syafii Maarif dan kawan-kawan di Tim Sembilan. Dari sana, saya yakin panjenengan masih menuruti nurani dibanding mengakomodir kepentingan partai politik yang sudah panjenengan wadahi di Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Apapun, Wantimpres ‘hanyalah’ representasi pemilih asal partai politik, sementara Tim Sembilan adalah wakil mayoritas penduduk Indonesia.

Pak Jokowi, semoga sepulang dari lawatan ke tiga negara ASEAN, panjenengan benar-benar mewujudkan janji menyelesaikan sengkarut konflik elit yang muncul lewat Cicak vs Buaya Jilid III.  Saya berharap panjenengan mewujudkan janji bahwa akan ‘siap tidak populer’, dengan menunjuk calon Kapolri pengganti Komjen Budi Gunawan. Andaikan yang panjenengan anggap baik dan bisa diharapkan menjaga marwah institusi kepolisian sebagai penjamin awal praktek keadilan hukum di Indonesia, ternyata masih ada di jajaran bintang dua, ambil saja. Toh, konstitusi tidak melarang itu.

Pak Joko, saya yakin calon Kapolri pilihan panjenengan yang diyakini mampu membawa perbaikan sudah di tangan. Bahwa kini terganggu oleh tekanan-tekanan elit politik sehingga harus kompromi dengan memberhentikan Jenderal Sutarman lebih cepat, tak ada salahnya panjenengan menggunakan hak dan kewenangan sebagai Presiden, Kepala Negara, Kepala Pemerintahan sekaligus Panglima Tertinggi untuk segera mengangkatnya.

Jika keputusan itu berdampak marahnya elit politikus sehingga dimakzulkan seperti Presiden Abdurrahman Wahid dulu, maka ikhlaskanlah jika itu merupakan satu-satunya risiko yang harus diterima karena ingin mewujudkan perbaikan negeri lewat jargon Revolusi Mental. Insya Allah, panjenengan tetap akan diterima rakyat sebagai bagian dari mereka. Perbaiki Polri dan kuatkan keberadaan KPK sebagai ujung tombak dalam perang melawan pembusukan negara.

Jika itu yang terjadi, maka panjenengan bisa ikut mengobarkan perlawanan terhadap ambisi subyektif politikus yang menggerogoti pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermartabat. Saya, dan mayoritas bangsa Indonesia pasti jauh lebih sedih jika panjenengan menakhodai kapal Indonesia selama lima tahun, namun berada di bawah kendali para bandit, yang ingin membawa kapal menuju ke tengah lautan yang penuh gelombang besar dan pusaran membahayakan.

Pak Joko, bangkitlah. Mari bersama rakyat dan bangsa Indonesia melawan ketidakadilan dan penindasan sistematis lewat praktik politik busuk penuh intrik. Kami akan senatiasa bersama panjenengan selama masih sanggup berjuang melawan keseweang-wenangan segelintir parasit bangsa. Perlu panjenegan tahu, saya kian sedih melihat perkembangan terakhir, keika banyak relawan, aktivis hingga petani, tukang kayu dan guru di desa saya di Klaten sana, menganggap panjenengan menunjukkan sikap tidak berpihak kepada KPK.

Sugeng dalu, selamat malam. Selamat beristirahat sehingga besok sudah segar kembali, hilang semua penat dan lelah, menyongsong Indonesia yang jauh lebih baik. Perkuat KPK, singkirkan para jenderal polisi berpolitik dan politikus jahat.

Salam hangat dari Solo…..

6 thoughts on “Surat Curhat untuk Pak Jokowi

Leave a Reply