Bermain-main dengan Lumia 1020

Tetes air hujan diambil dengan menggunakan aplikasi ProShot dengan mode continuous 5 frame per second.

Tetes air hujan diambil dengan menggunakan aplikasi ProShot dengan mode continuous 5 frame per second.

Tak ada salahnya mengantung kamera Canon EOS 10D. Nokia Lumia 1020 relatif sudah mampu menggantikan kamera yang pernah saya idolakan sepenuhnya. EOS 10D cukup halus suaranya ketika sehingga cocok untuk melakukan pemotretan di gedung-gedung dengan sistem akustik nyaris sempurna seperti Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) di Pasar Baru.

Foto tetes air hanyalah satu contoh kesaktian Lumia 1020. Gambar di samping ini tidak melewati proses editing dengan perangkat lunak apapun, kecuali crop. Ya, hanya cropping sekitar sepersepuluh (10%) dari foto aslinya. Asiknya, dengan cropping ekstrim itu sangat dimungkinkan karena kemampuan merekamnya hingga ukuran 41 megapixel! Jauh lebih besar dibanding EOS 10D idola saya dulu…

Hingga kini, saya belum mau mencoba melakukan pemotretan dengan memainkan fasilitas zoom yang ada pada Lumia 1020. Dalam keyakinan saya, zooming akan mendistorsi hasil foto, sebab fasilitas perbesaran yang tersedia hanya digital zoom, bukanlah optical zoom, sebagaimana terdapat pada lensa untuk kamera DSLR seperti seri EOS atau seri serupa keluaran Nikon, Olympus dan sebagainya.

Hasil eksperimen pura-pura menjadi fotografer produk. Yang difoto adalah blontea alias teh oplosan.

Hasil eksperimen pura-pura menjadi fotografer produk. Yang difoto adalah blontea alias teh oplosan.

Pada gambar teh pada gelas, pun saya gunakan fasilitas kontinyu yang tersedia pada aplikasi ProShot. Cukup memuaskan!

Pada foto itu, saya hanya mengandalkan cahaya matahari pada siang hari, dengan lokasi pemotretan di dingklik atau bangku bambu yang terletak di teras Rumah Blogger Indonesia (RBI), sanggarnya Komunitas Blogger Bengawan dan komunitas difabel Talenta.

Ruang tajam memang tidak diatur alias menggunakan mode auto. Tak soal. Jika hendak diambil efek tumpahan dan gelasnya, toh masih memungkinkan dengan bantuan Photoshop, jika diperlukan. Tapi, ya sudah. Namanya juga eksperimen bin coba-coba. Tujuannya, toh telah tercapai, untuk membuktikan Lumia 1020 sudah siap diandalkan untuk aneka keperluan memotret.

Seorang nelayan sedang menebar jala di Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali.

Seorang nelayan sedang menebar jala di Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali.

 

Pemotretan terhadap pencari ikan di atas, pun hanya sekadar contoh. Dengan Lumia 1020, kita bisa melakukan tugas-tugas liputan sebagaimana yang dilakukan news photographer. Meski harus mendekati subyek bidikan, maka obyek sasaran tidak terganggu sehingga sering membuat hasil pemotretan kurang maksimal. Jika menggunakan kamera DSLR, penggunaan telezoom akan menjauhkan dari kemungkinan obyek bidikan jadi kikuk atau kaku akibat ‘terganggu’ dengan kehadiran orang lain. Namun, dengan kamera di handphone, pemotretan bisa dilakukan secara diam-diam (candid) sehingga efek kikuk bisa dihindari.

Pantulan sinar dan awan pada area persawahan.

Pantulan sinar dan awan pada area persawahan.

Sekali lagi, keunggulan yang layak dipuji dari Lumia 1020 adalah kemampuan sistem optiknya beradaptasi dengan cahaya minim, seperti foto pantulan awan di sawah. Penggunaan lensa Carl-Zeiss memungkinkan perekaman menjadi sempurna. Kelemahan sebagian produsen smartphone adalah pemilihan kwalitas optik yang hendak dipadukan dengan sistem yang terdapat di dalamnya. Software yang bagus belum tentu sukses mengolah hasil foto dari lensa berkwalitas optik kurang meyakinkan.

Satu hal yang penting dijadikan bekal pemotretan menggunakan smartphone adalah mengenali karakter kamera dan aplikasi di dalamnya. Kita tak bisa semaunya sebagaimana menggunakan kamera DSLR yang memiliki banyak pilihan titik fokus. Karakter kamera pada smartphone kebanyakan mirip kamera saku lama, di mana titik fokus masih tunggal, sehingga untuk focusing harus ditetapkan dari awal dengan cara menekan tombol pelepas rana setengah saja, ditahan, lalu menentukan framing sebelum kemudian menekan penuh tombol shutter.

Foto petir dibuatp pada langit mulai gelap, sekitar pukul 18.30-an. Pemotretan dengan aplikasi ProSHot pada Lumia1020 ini meyakinkan, bukan? Saya menggunakan mode kontinyu 8 frame per detik.

Foto petir dibuatp pada langit mulai gelap, sekitar pukul 18.30-an. Pemotretan dengan aplikasi ProSHot pada Lumia1020 ini meyakinkan, bukan? Saya menggunakan mode kontinyu 8 frame per detik.

Bagi Anda yang menyukai fotografi, tak usah minder atau ngeper sama fotografer profesional. Toh, keberhasilan memotret lebih ditentukan oleh hasil akhir, bukan pada teknik dan peralatan pemotretan. Dengan kamera canggih sekalipun, kalau tidak mampu mengoperasikan, ya bakal gagal walaupun terdapat fasilitas auto di dalamnya.

Satu hal yang perlu diwaspadai jika memotret dengan smartphone, perhatikan settingan yang ada. Jika memotret peristiwa pertunjukan atau sedang melakukan curi-curi foto (alias candid), matikan fasilitas assist light yang biasanya untuk membantu mencari titik fokus pada situasi gelap dan posisikan off pada pilihan flash. Jangan sekali-kali menggunakan mode on atau auto supaya terhindar dari protes banyak orang. Jangan lupa pula, lihat kiri-kanan, sebab pancaran sinar dari layar smartphone Anda terlalu terang. Pilihlah mode redup. Demikian…

6 thoughts on “Bermain-main dengan Lumia 1020

Leave a Reply