Payahnya Jurnalis Televisi

Hari-hari ini, emosi publik diaduk-aduk oleh hasil kerja jurnalis televisi. Bukan saja karena praktek berbahasa mereka yang payah, namun juga akibat meskinnya empati. Pada pemberitaan atau laporan mengenai proses pencarian korban penerbangan Air Asia QZ8501 nahas, publik disuguhi adegan-adegan menggeramkan. Bagaimana tidak, seorang Rifai Pamone, reporter MetroTV terkesan memaksa seorang perempuan yang sedang menangis sesenggukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan panjangnya. Aksinya itu sempat ditegur oleh GM Angkasa Pura I dan tersiar live pula.

Skrinsut tweet pada 28 esember 2014 pukul 11.29 WIB.

Skrinsut tweet pada 28 esember 2014 pukul 11.29 WIB.

Bukannya meminta maaf, ia justru berbalik meminta sang kepala pengelola bandar udara itu untuk meneruskan wawancara, sebagai pengganti keluarga korban. Ditolak, tetapi tetap tidak menunjukkan tanda-tanda malu. Dasar jurnalis payah!

Melihat kinerja reporter yang demikian miskin empati, saya hanya bisa mengumpat dalam hati. Namun, rasa dongkol tak kunjung sirna melihat praktek jurnalisme nir-rasa itu. Ratusan Retweet dan komentar beragam saya dapat ketika ketika saya sindir lewat akun Twitter. Ternyata, banyak yang tak suka dengan ‘pertunjukan’ demikian.

Yang bikin saya tidak paham, apakah perusahaan sekaliber MetroTV tak pernah mengajari awak redaksinya untuk punya sikap berhati-hati dalam menyajikan laporan?

Saya jadi ingat pada pertengahan 1990-an, ketika banyak program pelatihan jurnalisme damai atau workshop liputan konflik (tercakup di dalamnya liputan bencana), di mana wartawan televisi merupakan kelompok yang paling susah dilibatkan, meski pelatihan diselenggarakan secara gratis, bahkan difasilitasi menginap di hotel dan ditanggung seluruh biaya perjalanan hingga makan-minum selama pelatihan/workshop berlangsung.

Payahnya jurnalis televisi kian nyata memprihatinkan jika menelusuri kiprah koresponden atau stringer stasiun televisi di daerah. Persoalan kian rumit karena mereka tak punya hubungan industrial dan hubungan profesional yang jelas. Jangankan diangkat karyawan atau koresponden resmi. Kebanyakan mereka hanya dibekali kartu pers, baju/kaos berlogo perusahaan, dan dbayar jika hasil kerja jurnalistiknya ditayangkan! Biaya operasional sudah termasuk dalam honor jika ditayangkan. Konsekwensinya, jika tidak tayang, si stringer ya harus rela nombok. Semahal apapun ongkos liputan, itu risiko kerja mereka.

Presenter ini meminta reporter di lapangan untuk menyebutkan jumlah jenazah yang sudah dibawa dari Pangke lokasikalan Bun ke Surabaya untuk diidentifikasi.

Presenter ini meminta reporter di lapangan untuk menyebutkan jumlah jenazah yang sudah dibawa dari Pangke lokasikalan Bun ke Surabaya untuk diidentifikasi.

Dari ratusan stringer itu, hanya sedikit yang ‘beruntung’ sempat mengenyam pendidikan/pelatihan jurnalisme dan etika jurnalistik, baik oleh perusahaan di mana mereka setor hasil liputan, maupun yang diselenggarakan pihak lain. Maka, bukan cerita baru jika tak sedikit para stringer lantas mengandalkan isi amplop dari narasumber sebagai solusi menutup ongkos liputan. Sebab stringer juga manusia, maka dapur harus tetap mengebul, bukan? :p

Pokoknya, jangan heran kalau reporter bahkan presenter/host stasiun televisi pun masih belepotan ketika siaran. Mayat, sekalipun, dianggap hidup, sehingga bisa beraktifitas seperti yang disebut oleh salah seorang presenter. Jenazah, disebutnya hadir di rumah sakit. Padahal, yang dimaksud adalah diangkut atau dibawa dari  lokasi ditemukan ke tempat para ahli identifikasi.

7 thoughts on “Payahnya Jurnalis Televisi

  1. manteb gan kritikanya, saya juga pernah jd jurnalis tapi di media cetak, itu aja harus benar2 diperhatikan penggunaan kata harus tepat dan melalui beberapa kali editing, dari jurnalis, supervisor, editor, dan untuk berita besar bahkan pemred ikut ngecek,,, 🙂

  2. Sing dipikir duit sih Kak, jadi empatinya hilang deh. Padahal kalau dia bisa empati, ikut nangis misalnya, akan lebih trenyuh, dan bahkan dia mungkin akan dinobatkan menjadi presenter yg memahami perasaan yg diwawancarainya..

  3. artikelnya berkualitas dan inspiratif saya sangat suka dengan tulisan agan
    menarik, enak bacanya dan bermanfaat
    saya penggemar agan salam kenal and salam sukses

Leave a Reply