Tragedi Pilpres

Tuhan selalu punya cara untuk membukakan mata umatnya. Kini, tiba sudah giliran bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, seorang profesor bidang hukum yang semula ditunjukkan dengn reputasi baik dan tegas, belakangan dekaitampilkan sebagai sosok antagonis. Puluhan tahun berkutat pada diksi yang jauh dari multiinterpretasi, bahkan telah melahirkan banyak doktor, tiba-tiba ditampilkan bagai boneka ala Susan, dengan dalang kedodoran. Sifat tegasnya mewujud jadi pemarah dan suka menuduh tanpa dasar, layaknya orang melek hukum.

Dunia jurnalisme pun diharu-biru dengan banyak praktik ketololan. Stasiun televisi, misalnya, terbelah ke dalam perkubuan yang ekstrim. Bahkan, ada pengelola televisi yang terang-terangan melacurkan diri pada satu ambisi kekuasaan lewat manipulasi data dan fakta. Di sisi lain, ada media serupa yang benderang berpihak, namun mengemas informasi secara seolah-olah profesional. Publik dibuat bingung dengan informasi yang sengaja dibiaskan. Pada saat yang sama, ratusan juta khalayak sebagai pemilik hak atas informasi dinyatakan bodoh secara sepihak, dipaksa mengonsumsi informasi sampah.

Klaim demi klaim kebenaran ditebar pagi-siang-malam tiada henti, lewat media sosial dan media massa tradisional. Fitnah dibenarkan lewat lembaga kuasa penegakan hukum, lewat manipulasi-manipulasi pilihan pasal dan aturan. Tabloid Obor Rakyat yang nyata-nyata produk kriminal dan terencana sistematis, misalnya, justru dijerat dengan hukum pers, bukan undang-undang pidana, sehingga konsekwensi hukumnya tidak berdampak sepadan bagi pengelola/pelakunya.

Kaum agamawan pun ramai-ramai menggadaikan secara murah otoritas moral profetiknya demi mengabdi pada ilusi kursi kuasa. Mereka lupa diri sebagai pemimpin dan pengawal moralitas umat. Mereka pada tutup mata terhadap fitnah, seolah-olah demi sebuah kekuasaan maka diberlakukan hukum kedaruratan, bahkan diidentikkan dengan sebuah perang. Padahal, pemilihan presiden hanyalah proses tata hidup keumatan dalam praktik bernegara semata-mata.

Kita sungguh bisa memandang dengan mata dan nalar sederhana, betapa mengafirkan orang yang berbeda pendapat dan melabeli mitra berdemokrasi sebagai kaum komunis, semata-mata demi mengalahkan. Bukan sebaliknya, mencari kebaikan secara bersama-sama, demi masa depan bersama yang jauh lebih baik, tentu saja.

Andai yang demikian tidak dipertontonkan oleh orang-orang berpendidikan memadai, bahkan bergelar Ph.D. dan profesor, mungkin saya tak menuliskan keluh-kesah demkian di sini. Andai mereka semua adalah orang-orang asosial nirpendidikan, pasti saya akan memaklumi, bahkan akan rela hati mengajari mereka belajar ilmu itu atau pengetahuan ini.

Tidak terbayangkan sama sekali, mereka yang nyata-nyata ambisius dan fasis masih bisa menyatakan secara terbuka, ajakan bertindak dan bersikap damai seraya memprovokasi orang lain agar bersiap diri untuk berkonflik. Nalar sederhana dan kepicikan etika yang saya punyai, pun tak sanggup menerima pernyataan seorang profesor, yang mengajak mengabaikan kerja intelektual profesional pihak lain, sementara dirinya juga berpegang pada kerja intelektual dan profesional dari lembaga serupa, yang hanya beda nama firma.

Aneh. Pilpres 2014 benar-benar memunjulkan tragedi yang membikin siapapun bakal ngeri membayangkan masa depan demokrasi di sebuah negeri seperti NKRI ini. Hanya hidayahlah satu-satunya harapan yang tersisa. Hanya kuasa Tuhan yang mampu melunakkan kekerasan hati, kedalaman emosi dan ketinggian gengsi sebagian kaum korban ambisi.

Semoga Allah membukakan mata hati mereka, juga mata hati kita. Amin.

7 thoughts on “Tragedi Pilpres

Leave a Reply