Jokowi Takut Tuhan, Sayang Rakyat

Mendekati hari pencoblosan, saya banyak mengumpulkan informasi dari berbagai lapisan masyarakat mengenai kecenderungan pilihan pada Pilpres 9 Juli. Kebanyakan memang banyak memuji pasangan Jokowi/Jusuf Kalla, dengan titik tekan pada sosok Jokowi, sang calon presiden. Dari beberapa tukang ojek, supir taksi, calo tiket dan kuli panggul terminal, tukang becak, semua memuji Jokowi. Alasan mereka senada: Jokowi tahu penderitaan wong cilik, rakyat kecil.

Pada kali lainnya, saya menjumpai seorang kiai muda. Saya mengenal beliau sebagai ahli menganalisa situasi sosial-politik, termasuk menyertakan aspek budaya dan ekonomi dan  peta politik global. Kata sang kiai (maaf, saya tak bisa sebutkan namanya), Jokowi memiliki dua ciri pemimpin yang dibutuhkan bangsa kita, kini, yakni: takut pada Tuhan dan sayang pada rakyat.

Bukti ketakutannya kepada Tuhan, katanya, ditunjukkan lewat seringnya ia menemui kiai dan tokoh lintas agama, untuk meminta nasihat atau sekadar mendiskusikan persoalan-persoalan kemasyarakatan, sejak ia menjabat Walikota Surakarta maupun Gubernur DKI Jakarta. Sementara, wujud sayang Jokowi terhadap rakyat diwujudkannya lewat aksi nyata seperti penyelesaian problem rakyat miskin lewat penataan kawasan kumuh, komitmen memberi ruang berusaha kepada pedagang kakilima, hingga penyediaan asuransi/jaminan pendidikan dan kesehatan, baik di Solo maupun DKI.

Di Solo dan Jakarta, misalnya, banyak digelar aneka kegiatan yang melibatkan publik dalam skala massif, seperti festival, karnaval, pasar rakyat, dan sebagainya. Event demikian memungkinkan orang jualan secara asongan maupun membuka lapak dan stan, dan banyaknya orang tumpah ruah memungkinkan pula terjadinya perputaran ekonomi lewat pembelian aneka jasa, seperti transportasi, akomodasi dan sebagainya. Konkret!

Atas ciri pemimpin yang takut pada Tuhan dan sayang pada rakyat, pun saya dapati dalam beberapa pengamatan dan pengalaman langsung. Jokowi, misalnya, tidak antusias (bahkan cenderung menolak) terlibat pada kampanye pemenangan calon kepala daerah, meski itu diusung oleh PDI Perjuangan, partai yang telah menyediakan kendaraan politik baginya untuk berkiprah memperbaiki sebuah wilayah.

Contoh nyata saya alami sendiri. Ketika saya terlibat langsung dalam sebuah kerja pemenangan seorang calon Gubernur Sumatera Selatan, tim pemenangan sempat risau akibat adanya informasi bahwa Pak Jokowi akan diterjunkan sebagai juru kampanye calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan. Kepada tim pemenangan, saya meminta data ‘kebersihan’ si calon gubernur yang menjadi rival ‘klien’ kami. Setelah dipaparkan banyak informasi dan saya cocokkan dengan data hasil riset kecil yang saya lakukan, ternyata klop: sang rival tak bersih-bersih amat. Maka, saya pun berani menyatakan: insya Allah Pak Jokowi tak akan hadir di Sumatera Selatan sebagai juru kampanye.

Saya meyakinkan dengan cara sederhana, bahwa Pak Jokowi itu orang yang pintar ‘mengkapitalisasi’ dirinya sendiri. Oleh sebab saya tahu dia merasa bersih dan yakin simbol moralitas kepemimpinan, maka saya pastikan Pak Jokowi tak akan meng-endorse siapapun yang diyakininya tidak bersih. Di situlah sisi keunikan seorang Jokowi, yang konsisten menjaga martabat dan nama baik, sehingga tidak mau menyodorkan orang yang kurang bisa diharapkan mewarnai perubahan bagi rakyat.

Terbukti, hingga akhir masa kampanye pemilihan gubernur, Pak Jokowi tidak hadir di Sumatera Selatan sebagai juru kampanye. Beda dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, dimana Pak Jokowi relatif serius berkampanye untuk kemenangan Ganjar Pranowo dan Bambang DH sebagai calon gubernur Jawa Tengah dan Jawa Timur yang diusung PDI Perjuangan.

Pada tiga peristiwa itu bisa dibaca pula, bahwa Pak Jokowi bukanlah boneka Megawati/PDI Perjuangan. Bukan berarti durhaka karena membangkang kepada Bu Mega, namun justru sebaliknya, menurut dugaan saya, Pak Jokowi berhasil meyakinkan Ketua Umum PDI Perjuangan untuk memilih dan mendukung kader-kader terbaiknya, yang bersih dan punya visi bagi perbaikan Indonesia.

Jadi, apa yang diutarakan sang kiai mengenai Jokowi sebagai sosok yang takut sama Tuhan dan menyayangi rakyatnya, saya kira klop dengan hasil pengamatan dan pengalaman saya mengamati dan mengenali ruang batin seorang Joko Widodo. Maka, jika kemarin-kemarin Pak Jokowi bilang tak akan ada tawar-menawar dengan tokoh-tokoh partai pengusung dalam proses pencalonannya sebagai presiden, saya kira akan bisa kita lihat kelak, ketika Pak Jokowi terpilih melalui pemilihan presiden pada 9 Juli.

Dari akar rumput, pun saya dapat merasakan aura kemenangan itu. Di sejumlah daerah, seperti Klaten, Banyuwangi, Batang, Jepara, Grobogan, Cirebon, Manado, Makassar dan beberapa daerah lain, banyak teman terlibat aktif sebagai relawan, yang bekerja siang-malam untuk memenangkan pasangan Jokowi/Jusuf Kalla. Mereka keluar biaya sendiri, menghimpun dana sendiri dari teman, saudara dan tetangga kiri-kanan untuk pengadaan kaos, spanduk, brosur/selebaran dan sebagainya.

Mereka pun menggelar aneka pertemuan dan acara-acara unik seperti kenduri massal, pawai, hingga bikin aneka konser musik baik skala kecil-kecilan hingga yang spektakuler seperti di Gelora Bung Karno, Jakarta, 5 Juli, yang dibiayai secara swadaya. Tak aneh, kaos Jokowi banyak dibuat dan dijual karena banyak orang menginginkannya sebagai bentuk dukungannya.

Ada dua penarik becak yang kampanye dengan cara mengayuh becak dari Yogya hingga Jakarta, yang di setiap persinggahan selalu digratiskan makan-minumnya, dan dititipi sumbangan untuk kemenangan Jokowi/JK. Hal sama juga dialami seorang warga Jakarta asal Solo, yang rela nggenjot sepedanya Solo-Jakarta dan ayah-anak asal Karanganyar yang menggenjot becak hingga Jakarta.

Yang demikian, saya kira akan menjadi potret nyata akan pertanda datangnya kemenangan Jokowi/JK dalam Pilpres esok hari. Tanpa repot-repot survei, saya bahkan berani meramalkan kemenangan Jokowi/JK hingga di atas angkat 70 persen, dengan catatan jika proses pemilihan presiden berlangsung secara bebas, rahasia dan fair, tanpa intimidasi oknum aparatur negara (baik sipil maupun militer), dan tak ada kecurangan manipulasi suara.

Kalau soal politik uang, insya Allah saya tidak kuatir. Siapapun yang menyogok rakyat untuk memilih, justru sebaliknyalah yang diterima. Bahkan, kampanye hitam yang diarahkan kepada Jokowi sejak tiga bulan terakhir justru akan menjadi bumerang bagi pelakunya, dan menjadi berkah bagi Jokowi.

Apakah Anda masih ragu dengan Jokowi? Pastikan #salam2jari ada di dada Anda, dan fokuskan jarum tertusukkan tepat di jantung Jokowi pada lembar kertas suara. Insya Allah, Pak Jokowi/JK akan memimpin Indonesia dengan penuh amanah. Beliau sudah menunjukkan lewat kerja nyatanya di Solo dan Jakarta…..

Leave a Reply