Pilih yang Bersih dan Mau Kerja

9 April 2014, boleh jadi merupakan pemilihan umum kedua yang bakal saya ikuti, dalam arti hak  politik saya untuk memilih bakal saya gunakan. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, yang memilih jadi golput dengan cara mencoblos semua tanda gambar atau tidak datang ke tempat pemungutan suara (TPS) sama sekali. Itu lantaran saya merasa diri sebagai pemilih cerdas.

Kenapa cerdas? Sebab saya akan menggunakan hak pilih jika meyakini ada yang pantas dipilih, seperti pada pemilihan kepala desa (Pilkades) di Klaten sana, dulu, ketika saya belum memutuskan menjadi warga Kota Surakarta. Atau pada 1999, ketika saya masih percaya pada KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Prinsip utama dalam menyikapi pemilihan umum, bagi saya, adalah memilih sosok yang bersih dan mau bekerja. Dulu, saya menemukan Gus Dur sebagai lokomotif perubahan yang dikenal bersih, dan mau bekerja siang-malam demi kebaikan sebanyak mungkin orang, tanpa mengenal batasan keyakinan, asal-usul, ras, dan sebagainya, bahkan tak sebatas Indonesia, namun juga dunia.

Nah, pemilu tahun ini, menurut saya, mirip Pemilu 1999 dalam arti sama-sama berada pada masa peralihan. Jika dulu peralihan dari situasi keterkungkungan oleh rezim otoriter Orde Baru ke jaman reformasi, Pemilu 2014 adalah masa peralihan dari masa dimana euphoria kebebasan mencapai klimaksnya, berganti ke tahapan lebih matang, dimana orang lebih rasional memilih. Hanya yang bersih yang dicari. Hanya yang mau kerja dengan peluh keringat dan berisiko menjadi kotor anggauta badannya.

***

LA Lights #cariyangbersih-1Mari kita simak telisik sosial-politik dan coba simak suasana kebatinan warga Indonesia. Seorang Jokowi, yang dulunya hanya dikenal di kalangan pengusaha mebel, tiba-tiba menjadi populer ketika menjabat Walikota Surakarta, berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo. Keduanya berbagi peran, menjalin dialog dengan cara berkunjung ke individu dan kelompok pedagang kakilima serta kekuatan informal lain alias ‘dunia bawah tanah’. Itulah prinsip nguwongké, menempatkan seseorang pada harkat kemanusiaannya.

Tentu, kebanyakan orang hanya melihat dari sisi sensasi dari sebuah peristiwa. Padahal, kirab seribuan pedagang barang bekas (klithikan), dari kompleks Monumen ’45 di Banjarsari ke lokasi baru, Pasar Klithikan Notoharjo di Semanggi, bukan proses panjang yang menyita waktu, memakan energi dan butuh perhitungan matang.

Orang tidak memerhatikan bagaimana seorang pejabat datang atau ‘sowan’ kepada pedagang barang bekas dan preman-preman penjaga keamanan barang dagangan, adalah peristiwa kultural yang akan membekas pada kedua belah pihak. Lazimnya, psikologi orang-orang terpinggirkan akibat gagal bersaing dalam ‘proses pembangunan’ adalah perasaan kaum terbuang, dengan kecenderungan selalu ingin melawan representasi state, yang dianggap sebagai pihak paling bertanggung jawab akan matinya harapan perbaikan kwalitas hidup.

Tentu, kedatangan –baik secara fisik maupun dalam bertutur kata, ‘orang besar’ (dalam pengertian jabatan) kepada wong cilik akan mudah dimaknai sebagai ketulusan membangun dialog. Kehangatan dialog kian lengkap manakala aspirasi mereka didengar, apalagi ketika diajak memikirkan jalan keluar bersama, yang tidak merugikan masing-masing pihak.

Singkat kata, pedagang klithikan di Solo merasa dimanusiakan, ketika lokasi baru yang tersembunyi, agak di pinggiran didukung kebijakan penyiapan trayek angkutan umum yang melewati kawasan tersebut. Ketakutan akan sepinya pembeli jadi punah, lalu terbit harapan kelangsungan usaha. Pemerintah pun membangun pasar dengan sistem hak guna usaha (HGU) meski tanpa bayar, namun dikonversi dalam bentuk retribusi, sehingga dalam kurun waktu tertentu akan dihasilkan duit yang bisa menutup seluruh pembiayaan, sementara aset tanah dan bangunan tetap dimiliki Pemerintah Kota Surakarta.

***

Saya yakin, banyak pemimpin di daerah yang memiliki komitmen seperti ditunjukkan pasangan Joko Widodo-Hadi Rudyatmo, seperti banyak dipublikasikan pers dan dibicarakan di media sosial. Yang kurang terdengar, justru di lembaga legislatif. Di DPR RI, misalnya, belakangan lebih banyak diberitakan sosok-sosok yang terlibat dan terindikasi korupsi atau penyalahgunaan jabatan, dan hanya terdapat sedikit orang yang menonjol dalam hal keberpihakan kepada rakyatnya.

LA Lights #cariyangkerja-1Proses legislasi, penentuan pejabat publik atau pembuatan kebijakan, kelewat banyak yang diberitakan sisi negatifnya dibanding yang benar-benar berguna bagi rakyat. Compang-camping kebijakan pun, harus dimaknai sebagai kegagalan publik, seperti saya dan Anda para pembaca, dalam mengkritisi kinerja legislator, dan tak pernah member sanksi sosial kepada mereka.

Terbukti, dari periode ke periode selalu banyak diberitakan legislator bolos sidang, atau tidur saat rapat, namun masih juga ‘kita’ pilih, kita percaya kembali untuk duduk di kursi legislator yang seharusnya terhormat. Bahkan, lebih dari 80 persen dari puluhan ribu calon legislator (di semua tingkatan) pada Pemilu 2014, masih diisi wajah-wajah lama yang sering diberitakan bolos sidang, hobi tidur, dan terindikasi korupsi. Siapa yang memilih dan mendudukkan kembali mereka?

Boleh lihat iklan televisi sebuah produk rokok versi Pemilu. Unik. Isinya hanya parade sepatu. Pemirsa teve diminta untuk cerdas menebak, siapa saja empunya sepatu tersebut, mulai dari sepatu mengkilap, sepatu dangdut hingga sepatu yang penuh dengan lumpur. Intinya #CariyangKerja.

Jika kita semua benar-benar ingin membuat perubahan, sudah saatnya kita jeli menelisik rekam jejak masing-masing calon legislator (caleg). Pilih mereka yang kita yakini sebagai caleg bersih dan yang mau kerja. Pengertian bersihnya, sederhana saja: tak pernah kolusi dan korupsi. Sedang ciri yang mau kerja, paling sederhananya: berpikir strategis, berorientasi jauh ke depan, punya watak kebangsaan yang menghargai kemajemukan dan #CariyangBersih.

Sedikit tambahan, cari sosok wakil rakyat atau pemimpin yang punya sikap kesetiakawanan. Cirinya: bersahaja, tidak suka tampil mewah, murah senyum, jika berbicara matanya selalu menatap mitra bicara.

One thought on “Pilih yang Bersih dan Mau Kerja

Leave a Reply