Prabowo Serang Jokowi

Saya sungguh heran melihat kegusaran Pak Prabowo Subianto, yang dalam dua pekan terakhir menyerang Pak Jokowi, seolah tiada henti. Mulai menyebutnya sebagai pembohong, boneka, hingga mengatakan tak tahu berterima kasih, termasuk menyangkut biaya kampanye Pilgub DKI dari pihaknya, sebesar Rp 60 milyar!

Yang membuat saya gagal paham terhadap marahnya Pak Bowo, adalah gambaran seolah ‘kandas’-nya bersaing dalam pemilihan presiden mendatang. Jika Pak Bowo seorang negarawan, tak perlulah kemarahannya diumbar sedemikian rupa, karena itu justru menunjukkan kekerdilannya sendiri.

Saya justru teringat ucapan Pak Moh. Mahfud MD yang juga seorang capres, bahwa dirinya menyatakan siap berlaga di pemilihan presiden, namun beliau juga menyatakan akan mendukung sepenuhnya calon presiden, yang dianggapnya lebih baik dan dikehendaki rakyat. Pernyataan Pak Mahfud itu disampaikan dalam forum terbuka, di hadapan ratusan ahli tarekat NU se-Jawa Tengah.

Kembali ke soal dana kampanye Pilgub DKI dari Pak Bowo, Pak Jokowi pernah menjawab pertanyaan saya, beberapa saat setelah dirinya resmi berpasangan dengan Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Apakah Pak Joko menerima dana kampanye dari Pak Prabowo, dijawab kurang lebih begini, “Ada dana dari Pak Prabowo. Tapi saya minta dana dikelola Partai Gerindra atau Pak Basuki saja, toh keperluannya untuk pemenangan kami. Lantaran PDIP berkoalisi dengan Gerindra, wajar jika saling membiayai kerja pemenangan.”

Dari kalimat itu, saya menafsirkan Pak Jokowi memilih tidak perlu ‘dilewati’ arus dana pemenangan dari Pak Prabowo. Apalagi, kemenangan harus diperjuangkan bersama, termasuk mengenai konsekwensi pembiayaannya. Dari cerita itu, saya pun meyakini Pak Jokowi, sejatinya, tidak berutang budi secara langsung kepada Pak Prabowo, sebab kerja pemenangan bukan tanggung jawab Jokowi seorang, atau PDIP saja. Dan, dalam konteks itu, Pak Jokowi adalah wakil dari PDI Perjuangan. Sebagai ‘pengantin’, ia dan Pak Ahok tak perlu mengelola uang sendiri, sebab ada tim di masing-masing partai dan tim gabungan anggota koalisi.

Soal Pak Prabowo mengklaim sebagai pembawa Jokowi ke Jakarta, sepertinya perlu dirunut kembali. Setidaknya lewat kampanye pencalonan presiden pasangan Mega-Prabowo di Gedung Graha Sabha, Solo, pada 2009. Ketika itu, Pak Prabowo menyebut beruntung hari itu ketemu langsung dengan Jokowi yang saat itu menjabat Walikota Solo. Kalau tak salah ingat, di podium, Pak Prabowo bilang dia dan Partai Gerindra butuh sosok pemimpin seperti Jokowi. Malah, ia bilang agar seluruh kader Gerindra meniru jejak Jokowi.

Terkait soal ucapan terima kasih atas ‘biaya kampanye’, menurut saya, Pak Jokowi pasti punya cara tersendiri dalam mengapresiasi. Beliau tipe orang yang tak mau taansaksional dalam sebuah hubungan, kecuali urusan jual-beli mebel yang menjadi bisnisnya. Lagi pula, Pak Jokowi yang saya kenali adalah sosok yang tak mau berutang budi, kepada siapapun. Andai mau, pasti Pak Jokowi akan menerima tawaran tiga pengusaha asal Solo, yang akan menyediakan mobil dan sopir untuk seluruh keperluannya jika berada di Jakarta. Nyatanya, Pak Jokowi memilih sewa taksi bandara untuk seluruh urusannya, hingga kemudian punya langganan mobil carteran, yang saya perkenalkan kepada beliau, kalau tak salah ingat, pada pertengahan 2008.

Saya ingat, Cak Udin, si sopir mobil carteran pertama kali menjemput rombongan Pak Jokowi (termasuk saya) di salah satu kantor Direktoran dalam Kementerian Dalam Negeri di sekitar Pasar Minggu, dengan menggunakan Kijang Super keluaran 2000 warna hitam metalik. Belakangan saya baru tahu, ternyata Cak Udin lantas jadi langganan tetap, sampai saat beliau kampanye Pilgub DKI. Kata Cak Udin pula, Pak Jokowi tak pernah menggunakan sedan atau mobil mewah untuk keperluan dinasnya di Jakarta. “Paling sering pakai Innova,” kata Cak Udin.

Pak Jokowi memilih sewa mobil daripada berutang budi kepada ketiga pengusaha tersebut, yang sebenarnya juga dikenalnya cukup baik. “Lebih enak sewa, Mas, tak punya beban moral dan utang budi,” ujarnya.

Kembali ke dana kampanye pemilihan gubernur sebesar Rp 60 milyar, pun sudah diklarifikasi Pak Basuki alias Ahok. Katanya, bagian terbesar untuk iklan di televisi, dimana Pak Jokowi dan Pak Ahok hanya jadi cameo, atau lebih tepatnya sebagai ‘figuran’, sebab meski ikaln itu ditayangkan bertepatan dengan masa kampanye Pilgub DKI, baik Jokowi maupun Basuki tak berkata sepatah pun mengenai ajakan memilih. Dalam bahasa saya, itu iklan Pak Prabowo yang berambisi jadi presiden, dengan memanfaatkan pasangan yang diusung koalisi PDIP-Gerindra itu.

Dan, jika mau ‘itung-itungan’, pamor dan popularitas Pak Jokowi jauh lebih tinggi dibanding Pak Prabowo. Jika demikian, siapa memanfaatkan siapa?

Bagi saya, selama dua pekan terakhir bulan Maret 2014, Pak Prabowo sudah melakukan ‘bunuh diri’ dengan cara menegasikan apa yang sudah digembar-gemborkan selama ini, tentang pamer sosok kenegarawanan dirinya. Sebab jika dia negarawan sejati, saya rasa tak perlu melakukan aksi ‘bumi hangus’ layaknya tentara yang hampir kalah perang di suatu wilayah. Perang, kalau mau memakai terminologi Pak Prabowo, sejatinya belum dimulai. Dia masih punya peluang menang, jika mau menunjukkan sikap dan cara yang elegan, terhormat layaknya ksatria Pandawa. Sifat amarah dan angkara murka hanyalah milik Kurawa, bukan sosok yang disebutnya boneka atau pembohong.

Pak Prabowo, ada baiknya istighfar-lah. Silakan melakukan refleksi atas sikap Anda belakangan ini, yang justru berpotensi menelanjangi diri-sendiri. Ambisi Anda untuk berkuasa lebih menonjol dibanding keinginan membangun tata pemerintahan yang bermartabat. Apalagi, Anda masih harus menghadapi banyak kritikan dan gugatan, seputar keruh politik Indonesia menjelang hingga lengsernya Soeharto, sosok yang pasti Anda kenal dengan sangat baik.

Selamat hari Rabu, Pak Prabowo… Ingat, hari ini adalah hari bertagar alias hestek atau hashtag #wiRABUsaha. Hadapilah hari Rabu secara perwira.

5 thoughts on “Prabowo Serang Jokowi

  1. Soal mencari rujukan siapa Jokowi, ke blog Mas Blontank memang tepat, paparannya runtut, setiap moment terdokumentasi dengan baik. Dari artikel ini menambah referensi baru. “Kalau tak salah ingat, di podium, Pak Prabowo bilang dia dan Partai Gerindra butuh sosok pemimpin seperti Jokowi. Malah, ia bilang agar seluruh kader Gerindra meniru jejak Jokowi.” Semoga apa yang dibutuhkan pak Prabowo terwujud di pemilu yang tinggal 3 hari lagi. Salaam

Leave a Reply