Tentang Jalan Berlubang

Jalannya rusak, Brooo...

Jalannya rusak, Brooo…

Munyukk numpak kebo, dalane rusak, Bro… (Monyet naik kerbau, jalannya rusak, Bro..).

Ungkapan semacam pantun demikian merupakan ungkapan sehari-hari warga Solo dan sekitarnya. Biasa digunakan untuk onrolan biasa, bisa pula untuk bahasan akan hal-hal serius, semacam protes warga Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, kepada pemerintah setempat yang tak kunjung melakukan perbaikan jalan. Dalam pengamatan saya, hingga saya mengabadikan dengan kamera telepon seluler pada 11 Maret 2014, sudah ada sekitar tiga bulan lamanya jalan aspal itu berlubang. Kian menganga, tak kunjung ada perbaikan.

Herannya, protes panjang dari warga itu baru direspon Pemerintah Kabupaten Karanganyar pada 10 Maret. Itu pun dalam bentuk pemasangan tanda yang menyatakan bahwa jalan tersebut sedang dalam perbaikan. Ya, hanya berupa pengumuman. Tak ada aktifitas pekerjaan perbaikan. Padahal, sudah banyak pengguna jalan terpesosok ke dalam lubang sedalam antara 10 cm hingga 30 cm itu.

Jalan tersebut, tiap hari selama 24 jam selalu dilewati ribuan truk pengangkut pasir dari Gunung Merapi dengan beraneka tujuan. Akibat dilindas truk-truk sarat muatan dan diyakini melebihi batas tonase yang diijinkan (untuk tipe kendaraan dan kelas jalan) itulah, lubang jalan kian dalam dan melebar.

 

Bendera Partai Golongan Karya sengaja disematkan pada pohon pisang yang ditanam warga di tengah jalan, tepat pada aspal yang berlobang. Mungkin itu sebagai pengingat, bahwa Bupati Karanganyar kini berasal dari partai warisan Orde Baru itu.

Bendera Partai Golongan Karya sengaja disematkan pada pohon pisang yang ditanam warga di tengah jalan, tepat pada aspal yang berlobang. Mungkin itu sebagai pengingat, bahwa Bupati Karanganyar kini berasal dari partai warisan Orde Baru itu.

Banyak orang mafhum akan protes demikian. Setiap warga negara Indonesia selalu berhadapan dengan rezim pajak. Pemilik kendaraan bermotor pasti harus membayar pajak agar bisa leluasa melenggang ke mana suka. Truk-truk pasir pun wajib bayar retribusi lantaran menggunakan fasilitas jalan raya. Tak ada dosa bagi penuntut pelayanan negara dan aparaturnya, yang gajinya dibayar dari pajak dan keringat rakyat.

Hati-hati!!! Jalan dalam Perbaikan

Hati-hati!!! Jalan dalam Perbaikan

Peringatan demikian, saya yakin justru membuat siapapun yang membacanya kian geram. Di sepanjang Jl. Adi Sumarmo, Colomadu itu, tak bisa dijumpai petunjuk akan adanya proses perbaikan. Alat-alat untuk perbaikan tak ada, demikian pula pekerjanya. Sebuah kebohongan yang nyata, menurut saya.

Sekali lagi saya berikan penegasan kesaksian: sudah dua hari saya lihat papan itu dipasang, namun tak seorang pekerja pun terlihat memperbaiki jalan!

Dan saya yakin, lima titik penanaman pohon pisang, tak akan digeser selain oleh aktifitas perbaikan. Aparat desa atau kecamatan terdekat pun, saya yakin tak akan berani menyingkirkan. Apalagi, dengan keberadaan pohon-pohon itu, pengguna jalan yang tak biasa lewat di sana, bisa lebih berhati-hati menghindari celaka yang ditimbulkan oleh kerusakan jalannya.

Jangankan pelintas yang berasal dari luar kota. Warga sekitar pun kerap lengah dan celakan dibuatnya. Demi menghindari lobang, mereka dihadapkan pada bahaya dari pengendara yang datang dari arah berlawanan.

Kemana duit pajak dan hasil retribusi digunakan? Hanya aparat pemerintah setempat yang tahu.

Pak Bupati atau Kepala Dinas Pekerjaan Umum, mungkin jarang lewat situ lantaran posisi Kecamatan Colomadu ada di sisi barat ibukota kabupaten, yang jaraknya sekitar 20 kilometer. Tapi, meski jarang lewat, mestinya mereka punya sistem dan aparat untuk memonitor situasi daerahnya.

Kadang saya berharap ada wakil rakyat dari daerah pemilihan Colomadu yang melakukan advokasi, melakukan protes kepada eksekutif atas peristiwa penelantaran sebagian wilayahnya. Setidaknya, itulah bentuk pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan rakyat kepada dirinya. Bukan sebaliknya, diam dan tutup ata atas keadaan di daerah yang diwakilinya.

Jalannya gimana ini, Njing?

Jalannya gimana ini, Njing?

Lihat saja gambar di atas, ketika protes warga diungkapkan dengan bahasa yang relatif kasar. Itu terjadi bulan lalu, ketika lobang jalan belum sedalam dan selebar sekarang.

Maka, tak heran  juga ketika situasi demikian digunakan oleh calon legislator dari partai lain untuk melakukan kampanye, dengan cara menyindir pemerintahan sekarang. Dipasanglah sebuah poster kecil yang berisikan informasi lokasi bengkel tak jauh dari titik kerusakan, sebagai pengingat jika kendaraan pengguna yang celaka di sana butuh perbaikan akibat rusak disebabkan terperosok jalan berlubang maut.

Kira-kira, siapkah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karaganyar dan Bupati dituntut secara perdata oleh pengguna jalan yang celaka di sana?

Petunjuk bengkel

Petunjuk bengkel

 

Update (11 /3/2014 23.54 WIB)

Saya kaget ketika melintas jalan tersebut sekitar pukul 17.30-an, mendapati sejumlah gundukan batu di samping pohon-pohon pisang yang ditanam di lima titik jalan berlubang. Foto berikut diambil pukul 20.03 WIB, sesaat setelah respon Gubernur Ganjar Pranowo menjawab lewat aku Twitter-nya.

 

Meski saya menjumpai tumpukan batu itu menjelang waktu magrib, saya yakin itu bukan lantaran saya tulis di blog ini. Hehehehe...

Meski saya menjumpai tumpukan batu itu menjelang waktu magrib, saya yakin itu bukan lantaran saya tulis di blog ini. Hehehehe…

4 thoughts on “Tentang Jalan Berlubang

  1. “Jalan dalam perbaikan”. Haiyo Gak keliatan toh pekerjane, yang dilihat kan njobone. Coba cek di dalam, dibiyak aspale, di dalamnya ada kegiatan perbaikan jalan. Demit!

Leave a Reply