Panduan Memilih Caleg

Ada yang sudah punya calon legislator (caleg) pilihan yang mau ‘diangkat’ jadi wakil rakyat? Kalau sudah, monggo, abaikan tulisan ini. Tapi kalau belum, supaya tak salah pilih pada 9 April nanti, mari kita nimbang bersama. Saya ingin menawarkan cara menakar kepantasan seorang calon legislator untuk di-upgrade menjadi wakil rakyat. Di antaranya, silakan simak kelanjutan tulisan ini.

Eh, sebelum berlanjut agak serius, ada yang penting diketahui dari awal. Yakni, penentuan urutan calon legislator (caleg) itu rata-rata merupakan ‘hak prerogatif’ penguasa partai. Dan, penguasa partai, bisa formal (yakni pengurus inti DPC/DPD/DPW/DPP), bisa pula secara ‘informal’, biasanya faksi politik dalam sebuah partai. Jadi, faksi-faksian atau kubu-kubuan itu lumrah, jamak di setiap partai, meskipun secara formal dibilang pengurusnya sebagai ‘solid’!

Beriku ini, beberapa catatan yang saya anggap penting untuk dijadikan pertimbangan sebelum memilih:

1.       Hindari caleg caper & perusak pohon

Ciri caleg caper alias cari-cari perhatian, antara lain jor-joran memasang potret diri, baik melalui baliho, spanduk dan materi promosi lainnya. Mereka yang membayar pajak alias menggunakan titik-titik komersial, masih pantas kita apresiasi. Tapi kalau sudah ngawur, seperti menempelkan di pepohonan, apalagi secara massif, ada baiknya kita pikir ulang.

Caleg demikian, jelas adab dan tata krama alias budi pekertinya minim. Apa yang bisa diharap dari caleg seperti itu? Ada baiknya kita beri sanksi moral. Misalnya, gak usah dipilih.

2.       Hindari penipu

Contoh caleg yang pantas diduga penipu, adalah mereka yang mengaku dirinya bersih, jujur, tidak korupsi dan sejenisnya. Orang yang benar-benar baik dan punya pekerti luhur tidak akan pamer kebaikan dan menilai kebaikan dirinya sendiri. Kejujuran dan kebersihan seseorang merupakan apresiasi sepada yang diberikan oleh banyak orang kepada seseorang yang sudah membuktikan sikap, tindak-tanduk dan perilaku keseharian.

Jadi, kebaikan itu bukan klaim sepihak. Orang ngaku-ngaku jujur dan tidak korupsi itu termasuk orang sombong, tidak rendah hati. Saya, misalnya, tidak bisa menyebut diri baik, jujur dan sebagainya. Cap semacam itu mestinya diberikan oleh orang lain, berdasar fakta-fakta empiris, dan teruji oleh waktu dan situasi. Begitu, maksudnya.

3.       Pilih caleg yang setia kawan, empatinya kuat

Dalam sebuah kampanye atau sosialisasi, kebanyakan seorang calon wakil rakyat suka ‘banyak tingkah’. Jika mereka mendatangi warga miskin (biasanya kelompok masyarakat kategori ini menjadi target utama) dengan naik mobil mewah, sebaiknya pertimbangkan kembali pilihanmu. Kalau turun dari mobil mewah dan pakai protokoler yang ribet, siap-siap fokuskan perhatian. Biasanya, tipe orang beginian kalau bersalaman tidak dibarengi kontak mata. Seringnya, justru wajahnya melihat ke arah tak menentu alias berpaling.

Berbeda dengan sosok caleg yang biasa menghargai orang. Pada tipe ini, kontak mata dan senyuman atau sapaan selalu menyertai setiap aktifitas jabat tangan, meski kepada orang yang tidak dikenalnya. Ketika dijamu, maka ia akan menampakkan ekspresi menikmati makanan/minuman, meski tidak sesuai selera. Itu merupakan sikap menghargai orang lain.

4.       Hindari kutu koncat

Dunia politik kontemporer Indonesia dipenuhi praktik pindah partai. Rata-rata, pelakunya lompat pagar karena kecewa dengan partai tempat ia bernaung sebelumnya. Merasa lama berkiprah dan loyal di partai namun tak kunjung dapat jabatan penting, maka ia pindah ke partai baru atau partai lain yang menawarkan posisi strategis. Biasanya, fasilitasnya akan lebih banyak, dan prioritas dicalonkan sebagai legislator di urutan teratas lebih tinggi dibanding ‘kader baru’.

Dengan punya jabatan strategis, potensi keuntungan materialnya pun bakal banyak. Terutama ketika musim pemilu kepala daerah (pilkada), baik bupati/walikota maupun gubernur. Dengan mendukung saja, mahar yang diperolehnya bisa bermilyar-milyar, sebab prestise kandidat diyakini bakal naik jika disokong banyak partai/tokoh partai. Begituuu…..

Nah, dari seorang politisi kutu loncat kita bisa melihat motivasinya berpartai/berpolitik. Orientasi ke publik/masyarakat, bisa jadi berada di urutan kedua dan seterusnya… Intinya, mereka lebih butuh duit dan kenikmatan-kenikmatan duniawi terkait dengan kedudukan/posisi politiknya.

Sudah, sementara itu dulu. Yang perlu kita catat bersama, politik itu rumit, ruwet. Yang baik dan ideal cuma ada di dongeng-dongeng atau retorika poliTIKUS ketika diwawancara wartawan atau ketika tampil di televise atau siaran radio. Lihat saja buktinya, ada berapa banyak anggota DPR(D) yang terjerat kasus korupsi, baik yang masih berstatus tersangka, terdakwa dan terpidana?

Beruntung banget, praktek hukum di Indonesia sedemikian busuk. Hakim, jaksa, polisi dan pengacara, terbukti lebih banyak yang lebih pantas disebut oknum, sehingga kongkalikong yang difasilitasi sistem suap tumbuh subur dan membebaskan mereka dari jerat-jerat hukum. Begitu…

Kalau saya, sih, hingga kini masih meyakini golput sebagai sikap yang paling benar. Entah besok…

One thought on “Panduan Memilih Caleg

Leave a Reply