Jokowi dan Pencapresan

Tak hanya hari-hari ini, kegalauan saya akan masa depan Indonesia sudah agak lama, terutama ketika nama Joko Widodo atau populer dengan sapaan Jokowi didorong-dorong jadi calon presiden. Bahkan, jauh sebelum diajukan PDI Perjuangan maju di pemilihan gubernur DKI Jakarta, aroma permainan dari Jakarta sudah terasa. Setidaknya, menurut pengakuan seseorang kepada saya, kira-kira tiga tahun silam.

Kata lelaki paruh baya itu, ia menemui Pak Jokowi dengan membawa misi diam-diam dari seorang pengusaha nasional, yang pernah punya kedudukan tinggi di republik ini. Kata orang itu, ia ngobrol panjang-lebar dan mendalam dengan Pak Jokowi hingga lewat dinihari, soal masa depan ‘karir politik’ beliau. Singkatnya, ke DKI dulu lalu melompat ke tingkat nasional.

Selang beberapa saat saya mendengar pengakuan itu, telepon saya berbunyi. Ternyata dari Pak Jokowi. Langsung nyerocos, Pak Jokowi menanyakan sosok lelaki itu, yang dikiranya merupakan sahabat lama saya. Ketika saya menjawab hanya saling kenal-kenal kebo, menurut istilah Wong Solo, beliaunya kaget. Begitu pun ketika saya konfirmasi mengenai kebenaran cerita, bahwa pada malam sebelumnya, Pak Jokowi membahas rencana pencapresan.

“Mas, ndak ada itu obrolan politik. Saya itu siapa, ta, kok sampai bicara begituan. Wong kenal saja endak, kok bisa ngobrol yang begituan…,” begitu kira-kira tanggapan Pak Jokowi. Malah beliau menambahkan dengan sumpah segala.

Ya, saya yakin dengan jawaban Pak Jokowi. Lega rasanya… Lagi pula, saya punya label khusus untuk ‘teman’ yang satu itu, yakni sebagai petualang politik (ekonomi).

Tak hanya kali itu, saya berusaha selalu ngecek setiap ketemu beliau, tentang perkembangan sosok ‘teman’ itu. Lagi-lagi, jawaban Pak Jokowi kian meneguhkan keyakinan saya, bahwa ‘si teman’ memang lihai. Kata Pak Joko, “Kula niku nggih gumun, kok, Mas. Tiyang niku kok nggih saged ngertos sedaya jadwal kula. Ngerti-ngerti kepanggih, ngerti-ngerti kepanggih malih… (Saya itu juga heran, kok, Mas. Orang itu kok ya bisa tahu semua jadwal saya. Tahu-tahu ketemu.., tahu-tahu ketemu lagi).”

Ya, beitulah. Pak Jokowi itu termasuk nggak bisaan, sehingga selalu berusaha tidak mempermalukan orang lain. Hampir saya tak pernah menjumpai Pak Jokowi menunjukkan ekspresi wajah tidak suka kepada seseorang, kecuali terbukti jelas-jelas menipu atau berbuat tak baik kepadanya.

***

Pernah suatu malam, saya meminta waktu bertemu untuk sebuah wawancara. Jadwal yang diberikan ajudan molor hingga dua jam dari rencana selepas Isya. Sekitar jam 21.40 WIB saya pamit pulang setelah kelar wawancara, yang hanya butuh waktu sejam. Eh, kalimat pamit saya tak direspon positif. Tangan kanan saya ditepis, diminta duduk kembali. “Mbok ten mriki riyin ta, Mas, ngancani ngobrol. (Mbok di sini dulu ta, Mas, temani ngobrol),” jawabnya.

Terpaksa saya duduk kembali. Lalu kami ngobrol berempat, dengan dua orang tamu yang datang sekitar pukul 21.00. Kebetulan, kami juga saling kenal. Maka, obrolan pun pun agak gayeng, meriah. Lagi-lagi, saya bangkit, menyodorkan tangan untuk pamit pulang. Saya melihat beliau sudah capek karena bekerja seharian, lalu dilanjutkan dengan beberapa agenda sejak selepas petang. Matanya terlihat semburat merah, lelah.

Pak Jokowi merespon tangan yang sudah saya julurkan dengan memegang bahu kiri saya, dan menekan agar duduk kembali. “Njenengan mboten purun ngobrol kalih kula, ta? (Kamu tak mau ngobrol sama saya, ya?),” ujarnya.

Seketika saya tersadar. Rupanya, itu menjadi kode bagi saya, agar mengerti dan rela meluangkan waktu untuk tak meninggalkan mereka. Saya memahami itu sebagai bahasa halus, bahasa rasa yang sangat personal, yang tak mungkin disampaikan secara verbal demi menjaga perasaan kedua tamu selain saya. Sebagai bentuk bahwa saya ‘mengerti kode’ yang disampaikan Pak Jokowi, maka saya pun jadi lebih aktif berbicara. Mata Pak Joko kian memerah. Celakanya, kedua tamu malah merasa perbincangan kian asyik, hingga akhirnya mereka pamit pulang ketika jarum jam menunjukkan waktu menjelang pukul dua.

Seraya mengantar kedua tamu pulang, Pak Jokowi memegangi bahu saya, sehingga menjadi tamu terakhir yang pamit pulang. “Matur nuwun nggih, Mas,” katanya. Rupanya, saya sengaja ‘disandera’ agar kedua tamu tak membicarakan soal proyek atau pekerjaan di lingkungan pemerintahan Kota Surakarta.

***

Kembali ke pokok kegalauan, saya merasa kian memahami sosok seorang Jokowi. Beliau tipe pekerja yang tulus, yang tanpa pamrih selain untuk kemaslahatan banyak orang. Maka, ketika banyak orang menuduhnya sedang membuat pencitraan pada setiap aktivitasnya sebagai Gubernur DKI, terlebih dalam rangka pencapresan, saya merasa (meminjam kata favorit SBY) prihatin.

Banyaknya pemberitaan positif oleh berbagai media massa dan media sosial, saya meyakini itu sebagai sebuah bentuk euforia semata. Sebab wartawan, juga hampir semua manusia Indonesia, selama berpuluh-puluh tahun tak pernah menjumpai sosok pejabat yang mengakui kekurangan, pejabat yang mau hadir di tengah-tengah warga ‘biasa’ dan sebagainya. Alhasil, apa yang dilakukan Jokowi sebagai Gubernur DKI dinilai luar biasa, extraordinary. Padahal, yang dilakukannya biasa saja, karena yang dilakukannya hanya menjalankan mandat konstitusi dan mewujudkan kewajiban moral atas jabatan yang disandangnya.

Ia tampak beda, karena selama ini banyak orang menemukan hal-hal yang sebaliknya. Maka, ketika banyak lembaga survey dan konsultan (komunikasi) politik menempatkannya sebagai sosok paling populer dan memiliki tingkat keterpilihan tertinggi dibanding capres-capres lain, beliau pun menyikapinya secara biasa-biasa saja. Sepanjang yang saya tahu, Pak Jokowi bukan tipe pengejar jabatan, apalagi kemaruk harta.

Atas dasar itu, saya yakin akan banyak orang terpana, ketika nanti, pada suatu saat akan menjumpai sikap tegas yang ditunjukkan terkait dengan geger politik pencapresan. Termasuk, ‘si teman’ yang suka jualan kedekatan untuk keperluan apa saja: bisa ekonomis, politis, atau bahkan hanya sekadar nafsu narsistis!

6 thoughts on “Jokowi dan Pencapresan

  1. Jadi berita yang bilang Jokowi siap jadi capres gimana mas? Betulan apa bohongan? Secara di komennya langsung muncul cacian bahwa Jokowi hanya menjadikan DKI sebagai batu loncatan aja..

Leave a Reply