Tentang Memilih Presiden

Kalau hari-hari ini saya banyak nyinyir kepada Gita Wirjawan, sejatinya disebabkan oleh keyakinan bahwa ia hanyalah satu-satunya yang diharap jadi penerus rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan naiknya Gita, maka serangan-serangan lawan politik SBY tak akan mengancam kenyamanan masa pensiunnya. Skandal Bank Century dank asus korupsi Wisma Atlet/Hambalang, bukan tak mungkin menyeret keluarga istana ke pusaran peradilan, kendati (mungkin) cuma jadi saksi.

Selain itu, estafet hubungan baik SBY dengan Amerika bisa diteruskan jika Presiden Indonesia mendatang merupakan rekomendasi rezim saat ini. Tak hanya Freeport, kepentingan Amerika di Indonesia kelewat banyak, dan multisektor. Motif ekonomi jelas utama dan politik pun tak kalah penting strategis nilainya. Ibaratnya, Indonesia adalah potensi sekutu diam, informal, yang tak perlu dilembagakan menjadi bagian dari blok mereka.

Kebetulan, semua prasyarat ‘ramah Amerika’-nya ada pada sosok Gita: ia lama sekolah di sana, dan lama malang-melintang di aneka perusahaan yang berpusat di negeri yang dipimpin Obama itu. Dan SBY, selepas masa jabatan presiden, masih punya kendaraan yang bisa mengantarkan bakal calon presiden, yakni Partai Demokrat. Soal terpuruknya elektabilitas partai, tentu merupakan soal lain. Tapi posisi-posisi strategis pemerintahan, seperti Kapolri, Panglima TNI dan sebagainya, adalah orang-orang yang dipilihnya, yang masih bisa diharapkan ‘membantu’ kelancaran suksesi.

Dan, melihat rasa percaya diri yang ditunjukkan Gita belakangan ini, rasanya bisa dilihat sebagai indikasi restu konvensi mengarah kepada dirinya, dibanding sosok-sosok lain seperti Dahlan Iskan dan Anies Baswedan. Iklan jor-joran di aneka media dan media sosial pasti tak berbiaya ringan. Dan, saya ragu tak ada tendensi pada Gita, mengeluarkan banyak dana tanpa tujuan memenangkan pertarungan kursi kekuasaan.

Dan, ketika saya mengeluh di timeline Twitter, bahwa belum ada calon presiden yang sreg bagi saya, ada yang menyodorkan nama Prabowo. Katanya, ia sosok yang menjunjung tinggi kepentingan manusia se-Indonesia.

OK. Jika kata kuncinya adalah “menjunjung tinggi kepentingan manusia se-Indonesia”, maka bisa kita ajukan pertanyaan lanjutan: kepentingan seperti apa?

Menyimak iklan-iklan Prabowo yang gencar dua-tiga tahun terakhir, memang bagus. Ia menjanjikan kemandirian, perlindungan petani, melawan kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional dan sebagainya. Dan itu penting, sebab selama dua periode masa jabatan kepresidenan SBY, kita kelewat banyak didikte kepentingan asing. Utang luar negeri terus merangkak naik, dan kesejahteraan semu ada di mana-mana.

Tapi, semudah itukah Prabowo memenangi pertarungan pada Pemilihan Umum Presiden 2014? Saya tak yakin dan tidak setuju ia memimpin negeri ini. Sosoknya kelewat dingin dan misterius. Andai tak terkait peristiwa penculikan aktivis, mungkin saya akan bersikap sebaliknya. Dan, faktor itu pula yang potensial jadi batu sandungan pencalonannya. Lawan politik lokal akan ramai-ramai menghadang, dan Amerika pasti akan menjadikan hal itu sebagai amunisi untuk menjegalnya, lewat tangan-tangan kekuatan politiknya di Indonesia, sebagaimana dulu menjatuhkan Gus Dur lewat figur Amien Rais dan sekutu ‘ad hoc’-nya.

Amerika dan sekutu-sekutunya pasti tak mau Indonesia dipimpin sosok yang tak mudah didikte, juga memghambat kepentingan ekonomi dan politik internasional mereka. Dunia, harus di bawah kendalinya. Kira-kira demikian maunya, sehingga suksesi pemerintahan Indonesia selalu menjadi prioritas politik luar negerinya. Indonesia adalah pasar yang menggiurkan, sekaligus penyedia sumberdaya yang melenakan pula. Posisinya pun strategis di ASEAN, Asia-Pasifik, hingga di negara-negara Islam (OKI) dan nonblok. Komplit!

Sebenarnya, masih ada nama Wiranto, yang sejak jauh hari sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden bersama pasangannya, Hari Tanoe. Tapi, bagi saya, Wiranto pun tidak layak dipilih sebab aroma Soeharto-nya kelewat kental. Lagian, ia terlalu tua dan konservatif, tak punya sikap kritis terhadap Amerika dan sekutunya, terhadap WTO, dan lain sebagainya.

Jika bukan Gita, Prabowo dan Wiranto, lantas siapa?

Entahlah. Yang jelas jangan Megawati. Ia sudah terlalu tua  dan tak cukup memiliki prestasi memadai ketika kapan hari mau dipaksa menurunkan dan menggantikan Gus Dur secara tak elok itu. Jangan pula dari klan PKS supaya negeri ini tak jadi basis wahabi dan menjadi negeri filial Arab Saudi.

Lalu, siapa lagi?

Entahlah. Saya pun tak punya sosok idola atau yang pantas diharapkan. Yang penting, akan menarik jika tahun depan PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa pada bahu-membahu memperjuangkan prinsip kecintaan mereka kepada NKRI dan bangsa Indonesia. Indonesia  tidak didikte kekuatan asing, namun juga tak semata-mata antiasing.

Kita butuh sosok yang fleksibel: mampu berdiplomasi, teguh pada prinsip kemandirian dan pemberdayaan bangsa, dan bersih dari dosa-dosa masa lalu, baik itu terkait dengan hak asasi manusia, korupsi, maupun tindak pidana dan perilaku amoral lainnya. Tentang siapanya, terserah Anda.

Yang pasti, kelak, masalah telekomunikasi dan energi, masih akan menjadi faktor kunci perekonomian global. Kita butuh pemimpin yang sadar akan dua hal strategis ini. Di sektor telekomunikasi, Indonesia tak hanya pasar menggiurkan, tapi juga menyangkut keamanan data dan kerahasiaan negara. Pada sektor energi, sudah pasti, ketergantungan manusia kelewat tinggi, dan kita memiliki semuanya untuk obyek eksploitasi, oleh siapapun. Perang dunia bisa berawal dari kedua sektor ini.

Apakah Anda yakin Gita Wirjawan memiliki komitmen dan keberpihakan kepada NKRI? Saya ragu. Dan, kalau sudah sampai urusan dua itu tadi, rasa-rasanya, negara-negara maju tak akan segan menghancurkan Indonesia dengan metode Balkanisasi, yakni memecah kesatuan negara menjadi negara-negara kecil berdasar etnisitas, golongan, agama, dan sebagainya, demi penguasaan sumber-sumber energi. Dan, FPI dan laskar-laskar sok suci di sini, secara tidak sadar sudah melibatkan diri, menyemai perpecahan keutuhan bangsa Indonesia.

55 thoughts on “Tentang Memilih Presiden

  1. Tapi kita tidak pilihpun salah 1 dr mereka pasti juga akan mjd presiden (siapapun calonnya). Jadi kalau semua jelek ya tinggal pilih yg terbaik dari yang terjelek hihihi~

    Mnrtku sih untuk mjd presiden Indonesia sekarang tidak ada sosok yang sempurna walau itu seorang Jokowi (kalaupun beliau masuk mjd capres) ^^

    setuju, Dut. memang kita harus menimbang yang terbaik dari yang disodorkan partai-partai. Pak Jokowi juga bukan orang kuat dalam konteks figur kandidat. biar beliau ngurus DKI saja dulu, gak usah dipaksa-paksa jadi capres..

    /blt/

  2. Saya juga tak senang dengan Gita Wiryawan, selama jadi menteri perdagangan neraca perdagangan kita selalu minus. Lebih besar impor dari pada ekspor. Dia juga sangat tak berpihak ke pada para petani. Prabowo memang tak gampang didikte tapi sepakat kalau dia juga belum layak jadi presiden karena kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Terus siapa dong?

Leave a Reply