Mahakarya Tenun Indonesia

“Memintal Benang” karya Aris Daeng,  pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

“Memintal Benang” karya Aris Daeng, pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. (Sumber: www.djisamsoe.com)

Menyimak foto “Memintal Benang” karya Aris Daeng, saya jadi teringat akan kekayaan bangsa Indonesia akan produk-produk lokalnya. Yang ditunjukkan melalui foto pemenang Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia tentang pemintal benang di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, hanyalah salah satu locus dimana tangan-tangan piawai berada. Kerajinan serupa hampir ada di setiap suku atau rumpun budaya Indonesia.

Di Palembang (Sumatera Selatan), Lombok (Nusa Tenggara Barat), Jepara dan Pedan (Jawa Tengah) dan banyak daerah lagi, masih bisa dijumpai jejaknya, hingga kini. Aneka ragam bahan, seperti benang kapas dan sutera yang tersedia di seluruh Nusantara, terbukti melahirkan aneka motif dan corak kain, untuk aneka keperluan.

Di antara sekian banyak sentra perajin pemintalan benang dan pembuat kain tradisional, saya kira hanya di Palembang yang bisa disebut ‘kurang berkembang’. Maksudnya, sentranya sudah ada, regenerasi perajinnya masih berlangsung, namun varian produk relatif terbatas. Kebanyakan produk tenun Palembang masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat seperti upacara pernikahan dan ritual lainnya, belum merambah ke produk-produk terapan yang kian dibutuhkan untuk menopang penampilan  keseharian (fesyen atau fashion).

lurik pedan

Kerajinan tenun Lurik Pedan, Klaten, Jawa Tengah, kembali menggeliat seiring dengan mulai ramainya pemakaian kain batik untuk beragam keperluan. Varian lurik, kini sudah mulai dipadu dengan teknik batik, juga pengembangan sistem pewarnaan berbahan kimia alam. Sentra lurik, pun kian meluas, tak hanya di Kecamatan Pedan, namun hingga Kecamatan Cawas. Banyak lembaga sosial dan lembaga swadaya masyarakat turut melakukan bimbingan teknis produksi, desain motif dan strategi pemasaran kepada perajin, terutama sejak wilayah itu dilanda gempa dahsyat pada 2006.

Berbeda dengan kain sutra Bugis yang varian penggunaannya sudah merambah pada tas, dompet, syal, dan untuk pakaian sehari-hari, kain songket Palembang ibarat masih jalan di tempat. Sama-sama berbahan baku sutera, produk tenun Bugis sudah banyak digunakan untuk pakaian harian, seperti halnya pemakaian batik dan lurik (Jawa Tengah). Sayang, orientasi produksi songket Palembang masih terbatas untuk penopang keperluan upacara adat.

Dengan orientasi pada upacara adat, maka motifnya pun menjadi terbatas. Pasarnya menjadi sempit, eksklusif. Akibat lainnya, harga jual menjadi sangat mahal, tidak terjangkau oleh masyarakat kebanyakan, sehingga laju produksi pun tidak bisa massif. Andai para perajin songket Palembang mau ‘mempublikkan’ produknya, saya yakin geliat industri rakyat di sana akan cepat meningkat pesat.

Geliat pembangunan Provinsi Sumatera Selatan sejak menjelang pelaksanaan SEA Games 2011 tidak pernah surut, bahkan terus meningkat hingga kini. Sektor-sektor usaha modern tumbuh pesat dan memiliki kontribusi sangat signifikan terhadap perekonomian wilayah, karena memiliki multiplier effects yang panjang.

Hingga pertengahan 2013, misalnya, lalulintas keluar/masuk penumpang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II mencapai 2,5 juta orang setiap tahunnya. Jika 10 persen dari mereka adalah para traveler, potensi belanja produk-produk masyarakat Sumatera Selatan (selain krupuk dan pempek) pun terbuka lebar. Dampaknya, pasti akan bisa dirasakan 600-an pelaku industri kecil dan menengah (IKM) seperti produsen tenun songket, blongsong, jumputan, dan sebagainya.

songket-palembang-WP_20130527_021

Kerajinan songket Palembang relatif kurang berkembang, sebab kebanyakan pelakunya masih berorientasi untuk pemenuhan kebutuhan upacara adat. Varian produk turunannya, pun masih sangat terbatas, tidak seperti halnya tenun sutra Bugis, Lurik Pedan atau kain batik, yang sudah merambah ke aneka jenis perlengkapan fesyen, seperti dompet, aneka tas, juga pakaian keseharian.

Entah terwujud atau belum, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pernah merancang pendirian Graha Songket, yang konon akan dijadikan showroom terpadu untuk aneka produk rakyat, seperti songket, produk kerajinan, pempek dan krupuk khas Palembang untuk memudahkan pelancong mendapatkan oleh-oleh khas Sumatera Selatan.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari 4,5 persen pada 2008 menjadi 6,5 persen pada 2012, kehadiran fasilitas-fasilitas moderen seperti hotel yang menunjang industri meeting, incentive travel, convention and exhibition (MICE) di Kota Palembang dan kabupaten/kota sekitar, serta kuatnya geliat usaha sektor riil, merupakan petunjuk nyata adanya kemajuan yang signifikan Sumatera Selatan, bersaing dengan kota-kota di Pulau Sumatera seperti Medan dan Padang.

Saya kira, yang diperlukan kemudian adalah intervensi pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota sekitar dalam rangka mengembangkan potensi industri rakyatnya. Dalam hal tenun/songket, misalnya, dirangsang lewat lomba desain produk songket, memfasilitasi perajin melakukan pameran di luar provinsi/negara, pelatihan/workshop desain dan motif, dan sebagainya, sehingga 12 motif utama bisa dikembangkan ke lebih banyak varian atau motif baru.

Jika Jl. Somba Opu, Makassar bisa menjadi pusat oleh-oleh khas Sulawesi Selatan, sudah semestinya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga bisa membangun kawasan wisata belanja khas produk Wong Kito. Tak hanya makanan tradisional, produk lokal lainnya seperti minyak tawon, minyak kayu putih, kopi, aneka cinderamata serta aneka varian produk seperti aneka tas dan dompet berbahan sutra Bugis sangat mudah dijumpai di banyak toko di Jl. Somba Opu.

Palembang, yang hanya berjarak satu jam penerbangan dari Jakarta dan kaya obyek wisata sejarah, bahari dan alam, mestinya bisa belajar dari kota-kota lain. Ketika industri kecilnya maju, serapan tenaga kerjanya pun akan tinggi, tak terbatas di bagian produksi, namun hingga jalur pemasok bahan baku dan distribusi. Jika rakyat sejahtera, maka masyarakat dalam satu wilayah akan tenteram, dan pemerintah bisa fokus menata pembangunan.

Tulisan ini dibuat sekaligus sebagai apresiasi program Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia, yang dengan sengaja diniatkan untuk menggali potensi kekayaan Nusantara. Ini program menarik, menurut saya. Sebab, dampaknya pasti akan sangat panjang dan bisa dinikmati sebanyak mungkin orang, semua lapisan, dan di semua penjuru Nusantara.

Sudah saatnya publikasi tentang Indonesia diperbanyak supaya sesama bangsa bisa saling tahu kekayaan dan keragamannya, syukur-syukur merangsang minta orang mancanegara datang menjelajah Indonesia. Saatnya, kita mempromosikan kekayaan kita, bukan sebaliknya mendorong bangsa kita jalan-jalan wisata dan berbelanja ke mancanegara. 

3 thoughts on “Mahakarya Tenun Indonesia

  1. Selat Bangka memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, sedangkan Selat Gaspar memisahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Cina Selatan , bagian selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Pulau Belitung oleh Selat Karimata .

Leave a Reply