Motret Pertunjukan Pakai Lumia

Memotret peristiwa panggung adalah kegiatan paling mengasyikkan bagi saya, meski tidak aktif sejak Canon EOS 10D saya rusak dan sulit mencari penggantinya.  Meski banyak kamera DSLR lebih bagus dan peka cahaya, tapi satu yang paling mengganggu adalah tak ada seri/jenis kamera pengganti dengan suara shutter selembut EOS 10D. Kok gak ganti Nikon? Maaf, merek satu ini paling tak ramah terhadap akustik gedung pertunjukan, meski di Indonesia belum ada gedung dengan kwalitas akustik sebaik Gedung Kesenian Jakarta.

Gambar ini direkam dengan menggunakan aplikasi kamera bawaan Windows Phone di Lumia 720.

Gambar ini direkam dengan menggunakan aplikasi kamera bawaan Windows Phone di Lumia 720.

Sebetulnya, kamera saku bisa jadi solusi, terutama Canon seri G atau Panasonic Lumix seri terbaru. Tapi, sebagai ‘bocah mobile’, saya menginginkan kamera ponsel, yang tentu saja menawarkan tingkat kepraktisan lebih tinggi. Tidak berat beban mengangkatnya, dan tidak memakan ruang/tempat penyimpanan. Maklum, netbook  masih menjadi perangkat mengetik paling menyenangkan disbanding tablet merek apapun.

Roro Mendut, sebuah drama tari difoto dengan menggunakan Nokia Lumia 720, f/1.9, 1/8s, ISO 800. Pemotretan semi manual, auto focus dengan mode continuous yang dimungkinkan oleh aplikasi #ProShot. Problem utama terletak pada diafragma fixed: 1.9, dimana ruang tajam sangat sempit. Andai ada pilihan mode landscape, mungkin lebih aman, sehingga ruang tajamnya otomatis random, sangat cocok untuk dokumentasi sebuah pertunjukan. Sebab, bangunan suasananya tidak berubah sebagaimana dikehendaki si kreator akibat termanipulasi oleh selera fotografer. Andai diafragma bisa diubah sesuai selera, akan bisa dihasilkan foto sebagaimana biasa saya bikin menggunakan kamera DSLR.

Maka, ketika mendengar Nokia Lumia 520 punya kemampuan fotografi lebih dari kebanyakan ponsel, saya pun membelinya. Secara umum, saya suka dengan seri itu, meski kehadiran Lumia 720 yang disebut-sebut lebih peka ‘bermain’ di pencahayaan minim  menggoda saya untuk memensiunkannya lebih dini. Aplikasi bawaan Lumia 720 sudah jauh lebih maju, karena sanggup diperlakukan secara semiprofessional.

Beruntung, sepekan lalu sudah ada aplikasi fotografi ProShot yang memberi kemudahan lebih, yakni bisa digunakan untuk memotret secara continuous dengan pilihan maksimal 5 frame per detik!

Kemampuan memotret secara kontinyu melalui aplikasi ini jelas menguntungkan. Apalagi, berat Lumia 720 yang hanya 120 gram terasa sangat ringan, sehingga untuk pemotretan di bawah 1/60 detik akan sangat riskan karena potensial membuat hasil foto goyang alias ngeblur. Fasilitasnya sih keren, untuk mode manual, ada tawaran kecepatan rana dari 4 detik hingga 1/16.000 detik!!!

Warna amber yang dihasilkan optik Carl Zeiss-nya Lumia 720 ini keren. Tidak kalah dengan hasil pemotretan dengan menggunakan DSLR EOS. Foto ini dipotret dengan aplikasi #ProShot, f/1.9, kecepatan 1/50 detik pada ISO 800.

Warna amber yang dihasilkan optik Carl Zeiss-nya Lumia 720 ini keren. Tidak kalah dengan hasil pemotretan dengan menggunakan DSLR EOS. Foto ini dipotret dengan aplikasi #ProShot, f/1.9, kecepatan 1/50 detik pada ISO 800.

Tapi, kecepatan rendah pun akan terasa tak berguna, karena kelemahan kamera di Lumia 720 ini terletak pada bukaan diafragma yang tak bisa distel atau diubah. Pengguna seolah dipaksa harus taat menggunakan bukaan f/1.9! Memang, dengan bukaan selebar itu, memungkinkan penggunaan kecepatan shutter lebih tinggi dibanding kebanyakan kamera ponsel yang bukaan diafragmanya di sekitar f/3. Pada bukaan diafragma tidak terlalu lebar seperti itu maka akan kamera menuntut kecepatan rana lebih lambat, apalagi jika kepekaan optiknya rendah.

Dengan ISO 800, bukaan diafragma f/1.9 dan kecepatan rana 1/100s, memang bisa menampilkan gambar beku.

Dengan ISO 800, bukaan diafragma f/1.9 dan kecepatan rana 1/100s, memang bisa menampilkan gambar beku.

Beruntung, seri Lumia menggunakan optik CarlZeiss yang sudah punya pengalaman panjang di kamera professional, baik foto maupun video. Pada Lumia, kwalitas optiknya sanggup diadu dengan rivalnya, Sony.

Di sini, saya hanya sanggup menunjukkan beberapa hasil jepretan, yang saya lakukan untuk merekam pentas drama tari Roro Mendut karya Dwi Windarti di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta (TBS) pada 22 Oktober 2013, malam. Demi penghormatan terhadap karya aslinya, dimana tata artistik ditangani Bibit Jrabang Waluyo dan piñata cahaya Yonex, maka foto-foto yang saya sertakan di sini adalah foto apa adanya, tanpa mengubah level, baik secara auto maupun manual. Saya hanya melakukan cropping untuk keperluan tampilan di website, tanpa mengubah komposisi pemotretan.

Pada pencahayaan berintensitas rendah seperti ini, penggunaan mode kontinyu akan menguntungkan, karena kecepatan di bawah 1/30s akan menyulitkan pemotretan. Apalagi, berat Lumia 720 hanya 128 gram. Padahal, pemotretan dengan penggunaan speed rendah akan nyaman kalau bobot perangkat relatif berat untuk mengindari posisi goyang saat pernafasan dengan hidung. Kalau mau aman, saat pemotretan bercahaya rendah, akan enak kalau menggunakan pernafasan mulut atau penggunaan tripod atau monopod. Penggunaan mode continuous, paling tidak akan menyelamatkan proses perekaman, apalagi seperti aplikasi ProShot yang memungkinkan proses perekaman hingga 5 frame per detik.

Pada pencahayaan berintensitas rendah seperti ini, penggunaan mode kontinyu akan menguntungkan, karena kecepatan di bawah 1/30s akan menyulitkan pemotretan. Apalagi, berat Lumia 720 hanya 128 gram. Padahal, pemotretan dengan penggunaan speed rendah akan nyaman kalau bobot perangkat relatif berat untuk mengindari posisi goyang saat pernafasan dengan hidung. Kalau mau aman, saat pemotretan bercahaya rendah, akan enak kalau menggunakan pernafasan mulut atau penggunaan tripod atau monopod. Penggunaan mode continuous, paling tidak akan menyelamatkan proses perekaman, apalagi seperti aplikasi ProShot yang memungkinkan proses perekaman hingga 5 frame per detik.

Selamat menikmati, ditunggu kritik dan komentarnya… Jika memerlukan perbandingan dengan hasil pemotretan menggunakan DSLR pakai Canon EOS, silakan buka tautan Merekam Peristiwa Panggung ini. Atau, perbandingan foto dari sejumlah gadget ini Motret Seni Panggung dengan Smartphone .

5 thoughts on “Motret Pertunjukan Pakai Lumia

  1. hassan

    pertamax gan, kapan upgrade ke Lumia 1020? yg 720 dak lungsuré

    weleh… yen nganti klakon duwe 1020, genah tambah seneng motret iki. hehehe… suwun, San…
    /blt/

Leave a Reply