Dosa Media & Desakralisasi Blusukan

Kini, orang ramai menyebut blusukan sebagai tindakan terpuji. Merakyat, tanpa batas status sosial dan hal-hal berbau atribut lainnya. Tapi, sayangnya, wartawan dan media (massa & sosial) justru mendegradasinya.

Oleh media, kini, blusukan dilonggarkan maknanya. Jika dulu orang menyamar ketika mengunjungi sebuah tempat, kini orang datang dengan menyertakan puluhan juru foto, kamerawan dan pewarta, pun dilabeli sebagai blusukan.

Jika dulu orang datang ke suatu tempat untuk mendengar desah nafas sebagian atau kebanyakan orang secara otentik, kini banyak orang yang menyebut dirinya tokoh datang ke suatu tempat untuk berfoto bersama, atau pura-pura beraktifitas tertentu, untuk dikapitalisasi demi pencitraan.

Kini, banyak orang malah pamer foto atau kicauan di Twitter, untuk mengabarkan bahwa mereka baru saja makan bakso di pinggir jalan bersama kaum kebanyakan. Singkat kata, kalau seorang menteri makan dengan tukang becak atau pedagang pasar, seolah tindakan luar biasa yang perlu diketahui orang sejagad.

Aneh. Dulu, jika orang tulus ingin tahu dan ikut merasakan penderitaan orang lain, maka ia harus menyaru sedemikian rupa agar tak diketahui siapapun. Jika kelak ia menceritakan pengalaman blusukannya, maka ia tak menyebut detil lokasi dan sasaran yang ditemuinya. Paling maksimal, ia ceritakan pokok masalahnya, meski tidak sekadar secara garis besar.

Media, menurut hemat saya, adalah pihak paling berdosa karena telah melakukan sosialisasi massif proses deskralisasi kata blusukan.

Gara-gara blusukan dicitrakan sebagai tindakan terbuka, bahkan boleh berisi rombongan jurnalis, maka media telah mendorong manusia pemuja citra berlomba-lomba blusukan, bahkan blusukan ke mal-mal mewah.

Masih terkait dengan dunia media, pengamat komunikasi pun punya dosa karena masih menyebut kunjungan menteri atau elit politik ke rumah sakit atau pasar, dengan istilah blusukan. Padahal, kedatangan mereka sudah memamerkan identitas, dan menunjukkan tujuannya secara blak-blakan.

Lagi-lagi, banyak orang lupa memahami blusukan. Pedagang pasar yang ditolong seseorang dengan cara mengangkat barang dan memindahkan ke mobilnya tanpa imbalan dan tidak menyebutkan identitasnya adalah contoh menarik. Meski, setelah beberapa saat si pedagang baru sadar & mengenali bahwa yang menolongnya tadi adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, adalah bukti tulusnya sebuah model ‘blusukan’.

Apa pamrih Sri Sultan? Kayaknya tak ada. Wong dia tak butuh dipilih karena tak ada coblosan untuk jabatan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Ingin dipuji atau butuh sanjungan? Jelas bukan pula, wong dia tak memperkenalkan diri sama sekali.

Kalau mundur ke belakang lagi, Khalifah Umar bin Khathab juga biasa menyaru, bahkan jadi gembek hanya agar tahu kehidupan keseharian rakyatnya, sebelum beliau datang kembali, masih dengan cara menyaru, sambil membawa ‘solusi’ berupa bahan makanan atau hal-hal yang benar dibutuhkan mereka.

Kini, banyak konsultan komunikasi juga asik melakukan strategi pencitraan bagi kliennya, dengan cara memoles sedemikian rupa. Advisnya, kurang lebih meminta klien bersandiwara, pamer ‘kebaikan’ untuk didokumentasikan, lantas diumumkan lewat konoerensi pers atau press release.

Media sudah lupa, adalah kewajiban mereka mengabarkan hal-hal yang pantas dijadikan berita atau sebagai informasi berguna bagi publik, setelah menguji di lapangan sedemikian rupa. Bukan sebaliknya, asal mempublikasikan semata.

Tapi, jika ditelisik lagi, redakturlah pihak yang paling pantas disalahkan. Merekalah yang meloloskan ‘laporan blusukan’ dan bahkan menjuduli sebuah aktifitas rekayasa alias dibuat-buat dengan unsur kata blusukan. Sementara, bagi pewarta warga atau pemilik/pengelola akun-akun media sosial, mereka termasuk juga di dalamnya. Bedanya, selain jadi ‘reporter atau fotografer/kamerawan’, ia merangkap sebagai redaktur sekaligus.

Demikian.

Posted from WordPress for Whindos Poer

4 thoughts on “Dosa Media & Desakralisasi Blusukan

  1. Evi

    Jadi arti harfiah blusukan itu mengunjungi suatu tempat secara incognito, ya Pak? Karena tahu arti blusukan itu dari media, saya pikir blusukan adalah kegiatan keluar masuk kampung atau pasar tradisional. Atau jalan-jalan ke suatu tempat yang bukan tempat kunjungan wisata…

Leave a Reply