LTE dan Ilmu Ngrogoh Sukma

Di dunia spiritual, ilmu ngrogoh  sukma merupakan tingkat pencapaian laku teringgi bagi seseorang yang mengamalkan beragam jenis pantangan, yang kadang sulit diterima nalar. Orang seolah ‘membelah diri’ sehingga sosoknya dijumpai di dua tempat berbeda. Seorang kiai dengan derajad tertentu, biasanya disebut aulia, pun sering dijumpai berada di masjid tertentu yang jaraknya ribuan kilometer, ketika orang lain pun menceritakan menjumpai sang aulia di pondok pessantrennya, pada hari dan jam yang sama.

Pak Ongki Kurniawan, Chief of Service Management Officer XL, hadir dalam wujud tiga dimensi dalam sebuah konferensi video menggunakan teknologi LTE atau 4G di Bali. (Difoto menggunakan Lumia 720)

Pak Ongki Kurniawan, Chief of Service Management Officer XL, hadir dalam wujud tiga dimensi dalam sebuah konferensi video menggunakan teknologi LTE atau 4G di Bali. (Difoto menggunakan Lumia 720)

Dalam hal aulia berada di ruang berbeda namun waktunya sama itu, dijelaskan teman, seorang kiai muda yang memiliki pengetahuan filsafat barat sangat mendalam, itu hanya semacam ‘kecohan optic/visual’ dari sebuah proses senyawa  dari sejumlah unsur-unsur kimiawi. Katanya, pasti ada banyak jenis unsur kimia yang belum ditemukan manusia, mengingat terbukti kemudian, jumlah unsur kimia terus ditemukan sehingga berkembang, dari semula hanya puluhan, namun pada 1980an sudah menjadi (seingat saya) seratusan lebih.

Cerita-cerita demikianlah yang justru melintas di kepala, ketika Senin (23/9) malam di Hotel Marriot, Nusa Dua, Bali, saya dan sejumlah teman menyaksikan citra visual tiga dimensi dari sebuah telekonferensi. Bedanya, tampilan visual videoconference itu tampak lebih kecil karena ‘lawan bicara’ ditampilkan melalui beberapa tablet yang ditempatkan dalam sebuah kotak kaca berteknologi hologram. Andai mediumnya bukan tablet seukuran buku bacaan, namun selebar almari pakaian, kemungkinan kehadiran lawan bicara bisa sesuai fisik aslinya.

Ya, teknologi Internet generasi long term evolution (LTE) atau dikenal juga sebagai 4G sebagai saluran transmisi, benar-benar mewujudkan hal gaib menjadi nyata. Gerakan tubuh lawan bicara tampak alami, tidak hadir patah-patah. Jujur, saya gumun, terheran-heran tak karuan. Andai videoconference itu saya lakukan dengan teman saya yang kiai saat umroh atau berhaji, mungkin hal itu akan saya maknai sebagai peristiwa spiritual, sebagaimana ceritanya dulu, ada orang mengaku bertemu Kiai X shalat Jumat di Mekkah, sementara orang lain lagi bilang Jumatan bareng di pondoknya, pada saat yang sama.

CEO PT XL Axiata Tbk., Hasnul Suhaimi sedang menjajal konferensi video dari kantornya di Menara Prima, Kuningan dengan stafnya di gedung tempat akan digelarnya APEC di Nusa Dua, Bali.

CEO PT XL Axiata Tbk., Hasnul Suhaimi sedang menjajal konferensi video dari kantornya di Menara Prima, Kuningan dengan stafnya di gedung tempat akan digelarnya APEC di Nusa Dua, Bali.

Sayang, teknologi semacam itu belum bisa dinikmati oleh pengguna Internet Mobile di Indonesia. Yang saya dan teman-teman alami kemarin, hanyalah ‘dipameri’ oleh XL sebagai operator telekomunikasi terkemuka di Indonesia, yang bekerja sama dengan Huawei, penyedia solusi teknologi yang memiliki 196 kontrak komersil di 140 negara di dunia, dimana 93 di antaranya sudah beroperasi secara komersil melayani sepertiga populasi manusia.

Pengalaman kami di Bali dalam uji coba XL4GReady itu, barulah dalam bentuk uji coba jaringan dalam rangka pertemuan tinggi pemimpin-pemimpin se-Asia-Pasifik (APEC), awal Oktober mendatang, yang juga bakal dihadiri Presiden Amerika, Barack Obama. Di arena konferensi Nusa Dua itu, XL memasang tujuh base transceiver station/BTS untuk melayani kebutuhan lalu lintas komunikasi nirkabel. Dengan teknologi LTE itu, kecepatan unduh (downlink) bisa mencapai 75 megabit per detik!

Ya, kita belum tahu, kapan teknologi itu dipasarkan secara komersial di Indonesia, seperti di tiga negara ASEAN lainnya. Konon, ijin uji coba hanya diberika kepada sejumlah operator telekomunikasi di Indonesia hingga 10 Oktober, alias demi APEC semata. Pada pertemuan global Internet Governance Forum (IGF) pada 22-25 Oktober mendatang, teknologi itu sudah tidak beroperasi lagi di Bali, meski 2.500an akademisi dan praktisi Internet hebat sedunia, berkumpul di tempat yang sama atas koordinasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Agak ironis memang.

Memang, sebagian orang akan senang dengan kehadiran LTE di Indonesia. Para pengembang aplikasi akan kian tertantang bereksperimen, dan kian banyak orang dimudahkan melakukan aktifitas apa saja terkait transmisi data, baik untuk keperluan ekonomis-produktif maupun sarana hiburan semata. Pada aspek ini, permainan (games) interaktif bisa dilakukan secara bersama-sama, dan menonton film-film terbaru buatan Hollywood pun tanpa perlu keluar ongkos mahal dengan mendatangi bioskop, atau membeli kepingan cakram padat atau menyimpan file-nya.

Malah, kabarnya Google pun mulai merancang bisnis film melalui aplikasi YouTube miliknya untuk pelanggan premium. Film-film terbaru Hollywood pun akan diputar untuk pelanggan premium YouTube sebelum dipasarkan ‘secara tradisional’ lewat jaringan bioskop di seluruh dunia! Bisnis televisi kabel terancam sustainability-nya, bisnis perangkat keras seperti pesawat televisi pun harus ancang-ancang mengubah sistem mereka.

Hasil speedtest LTE oleh tim XL di ruang Media Center APEC, downlink 32,5Mbps dan uplink 7,2Mbps.

Hasil speedtest LTE oleh tim XL di ruang Media Center APEC, downlink 32,5Mbps dan uplink 7,2Mbps.

Pada aspek lalulintas informasi (berita), tentu akan memicu hadirnya kian banyak pewarta warga (citizen journalists) yang bisa jadi mengancam media tradisional, sebab dengan kemampuan unggah data (uplink) bermega-mega bit per detik, maka semua peristiwa yang tertangkap kamera bisa ditransmisikan seketika, saat itu juga.

Nah, bagi negara kepulauan seperti Indonesia, selain teknologi LTE yang ditawarkan XL juga operator-operator lain) akan memberi banyak manfaat, namun sebaliknya bisa juga menjadi ancaman yang mencemaskan. Kesenjangan digital bakal kian menganga, jika kebijakan telekomunikasi pemerintah tak kunjung berpihak kepada rakyatnya.

Ketersediaan bandwidth di seluruh pulau di Papua yang hanya setara dengan kebutuhan bandwidth satu apartemen di Singapura (menurut riset Bank Dunia), adalah potret nyata betapa lemahnya Pemerintah menyesuaikan perkembangan dunia. Kesetaraan hak  pemanfaatan teknologi Internet antara penduduk di Jawa dengan warga yang mendiami pulau-pulau lain dari Sabang hingga Merauke, akan turut terancam pula. Jika pelajar di Jawa begitu mudah mengakses referensi pengetahuan dari seluruh perpustakaan dan penerbit di seluruh dunia, maka warga-warga yang mendiami ‘Pulau Tanpa Benwit’ hanya akan mengandalkan pasokan buku pelajaran dan lembaran kerja siswa (LKS) yang kadang-kadang terselip materi-materi konyol dan tidak mendidik.

Hadirnya teknologi LTE atau teknologi Internet generasi keempat, mestinya segera direspon dengan bijak. Bahwa dengan demikian akan banyak pelaku industri telekomunikasi memperoleh kesempatan luas ekspansi bisnis, namun publik toh juga bisa memanfaatkannya secara produktif. Di tengah persaingan global yang kian sengit, adaptasi terhadap teknologi menjadi keniscayaan yang tak bisa dihindari. Itu semua, semata-mata agar bangsa Indonesia tidak ketinggalan dan terkucil dari perkembangan peradaban dunia.

Semoga, LTE segera beroperasi secara komersial di negeri  ini. Tentu saja, pemerintah bisa juga menuntut para pelaku bisnis sektor ini, untuk turut serta mengembangkan jaringannya hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Ketika kesenjangan aksesibillitas terhadap Internet bisa diminimalisasi, maka persatuan Indonesia akan mudah terwujud. Dengan demikian, Indonesia benar-benar sanggup menjadi salah satu Macan Asia yang siap menghadapi globalisasi teknologi, ekonomi dan budaya.

3 thoughts on “LTE dan Ilmu Ngrogoh Sukma

Leave a Reply