Momentum

Hari-hari ini, orang paling suka bicara momentum. Momentum yang bakal hilang jika Jokowi tidak diajukan sebagai calon presiden pada Pemilu 2014, terutama oleh PDI Perjuangan. Seolah-olah, Indonesia akan kiamat jika mantan Walikota Surakarta itu tidak segera diusung jadi salah satu calon presiden.

Saya memahami dan bisa merasakan gejolak di benak banyak orang Indonesia. Kejenuhan akan situasi politik monoton, ketidakpastian hukum dan kamuflase kebaikan yang dipertontonkan elit politik, sejak pusat hingga daerah, membuat orang gerah, dan ingin segera keluar dari situasi demikian.

Yang jadi pertanyaan, justru kenapa hal itu harus ditimpakan kepada seorang Jokowi?

Tak adalah sosok lain yang bisa diharap ‘mampu’ memperbaiki situasi? Saya curiga, kebanyakan orang hanya ingin sekadar keluar dari situasi penuh kemelut seperti sekarang. Semua larut dalam emosi sesaat, tanpa menimbang lebih jauh mengenai masa depan bangsa dan negara.

Yang sekarang meneriakkan ‘Jokowi for President 2014’, dari ujung barat hingga timur Nusantara, saya yakin enggan berpikir apa jadinya jika Jokowi dipaksa maju ke Pilpres 2014. Atau, tutup mata akan ancaman yang sangat mungkin terjadi: orang-orang berbaju putih dengan sorban datang ke balaikota membawa pedang, meneriakkan jihad karena Basuki Tjahaja Purnama yang peranakan dan Kristen, memimpin warga DKI yang ‘mayoritas’ muslim. Orang pada tutup mata, ketika banyak laskar mengatasnakaman agama bersengketa dengan warga, mereka tak kena pasal pelanggaran apapun, sebab hukum telah dan selalu dibelokkan aparat untuk membantu mereka.

Sedemikian dangkalkah kecintaan mereka terhadap negara kesatuan yang sejak proses perjuangan kemerdekaannya dilakukan bahu-membahu antarmanusia Indonesia dengan latar belakang suku, agama, dan organisasi berbeda?

Dulu, justru kemajemukan itulah yang dijadikan semangat membentuk negara. Kinin keragaman, perbedaan justru diolah dan dikemas menjadi bekal meniadakan ‘pihak lain’ yang tak sependapat, tidak sealiran, dan sejumlah tidak-tidak lainnya.

Satu hal yang menunjukkan inkonsistensi mereka adalah, mereka tetap memilih legislator kotor, dari pemilu ke pemilu berikutnya. Tak pernah saya lihat orang mau memboikot sebuah partai, kendati wakil-wakil partai itu berulangkali memberi bukti kegagalan mengemban amanat, seperti ditunjukkan dengan seringnya kader mereka disidik KPK dan berujung menginap di penjara.

Soal ‘momentum’ yang selalu didengung-dengungkan banyak pengamat politik, lembaga survei dan konsultan politik, bahwa hanya 2014-lah adanya, menurut saya, mereka termasuk inteltual penganut tuyul dan takhayul. Momentum juga bisa diciptakan lewat massifikasi pembentukan opini, sementara banyak pengamat/lembaga/konsultan, faktanya adalah kumpulan homo economicus yang masih percaya kekayaan dan ujung-ujungnya menyediakan diri dibayar oleh klien.

Itulah industrialisasi demokrasi, yang sedang marak di republik ini. Praktek komunikasi pun nyatanya dirancang untuk mencitrakan seseorang agar begini-begitu, yang pada intinya jadi superlative, lebih dari yang senyatanya ada. Kebaikan yang sedikit dieksploitasi, sementara keburukan/kekurangan (kendati sudah terbukti lewat proses peradilan) dicarikan alasan pembenarannya. Pernahkan Anda mendengar seorang politisi yang terbukti korupsi menyatakan permintaan maafnya secara terbuka kepada publik?

Jika Anda sepakat dengan pernyataan kaum bijak, bahwa ‘menghindari kerusakan lebih baik daripada sebaliknya’, maka abaikan saja bicara soal momentum.

Di seberang sana, masih ada beberapa kekuatan yang juga sedang menunggu ‘momentum’. Saat dimana kekuatan-kekuatan tertentu yang disokong tokoh-tokoh tertentu, ‘punya alasan’ untuk membuat kerusakan di DKI, sebab sang gubernur pengganti adalah seorang peranakan, dan Kristiani.

Posted from WordPress for Whindos Poer

2 thoughts on “Momentum

Leave a Reply