Cerita Anak Jalanan

Makassar adalah kota kedelapan di luar Pulau Jawa yang pernah saya singgahi. Dan, satu hal paling menonjol di kota utama di Indonesia Bagian Timur itu, menurut saya, adalah banyaknya anak-anak jalanan berkeliaran. Hampir tak kenal waktu. Dari pagi cerah, siang, sore,malam hingga dinihari, sangat mudah dijumpai. Di jalan raya, warung sederhana hingga restoran papan atas, mereka selalu ada. Hadir!

Seorang bocah perempuan yang matanya berjaga pada dinihari, ketika ayahnya terbaring letih di samping gerobak, di Kota Makassar.

Seorang bocah perempuan yang matanya berjaga pada dinihari, ketika ayahnya terbaring letih di samping gerobak, di Kota Makassar.

Tak sulit bagi saya menerka, betapa lalai pemerintah setempat menjalankan amanat Pasal 34 Undang-undang Dasar 1945. Mengacu pada realisasi anggaran belanja Kota Makassar pada 2011 yang lebih dari Rp 1,7 trilyun, tidak terbayangkan ke mana saja larinya uang rakyat tersebut.

Memang, di sejumlah titik strategis dipampang papan larangan dan himbauan bagi pengendara kendaraan bermotor, agar tak member uang/barang kepada peminta-minta, yang kebanyakan anak-anak usia belia. Tak adalah lembaga swadaya masyarakat yang membina? Kalaupun ada, rasanya memang bukan domain mereka untuk bertanggung jawab menyelesaikan problem sosial/ekonomi semacam itu. Negara c/q Pemerintah (Daerah) yang bertanggung jawab.

Pada sutu malam, saya menyaksikan seorang anak jalanan tertidur sambil duduk, tepat bawah lampu pengatur lalu lintas di Jl. AP Pettarani. Pasti ia kelelahan. Pun di tepi kawasan wisata Losari, tepat di seberang gedung mewah, saya jumpai pula seorang anak berjaga di samping gerobak dorong penuh muatan perbekalan keseharian, sementara ayahnya tertidur pulas di atas pembatas jalan.

Makassar begitu kontras. Jauh dari kota nyaman seperti saya bayangkan sebelum benar-benar menginjakkan kaki di sana. Kian hari saya dan dua teman menjadi bagian dari mereka, semakin banyak saya dapati kontras-kontras kehidupan yang demikian menyesakkan dada.

Suatu siang ketika diajak bertemu sejumlah orang di restoran cepat saji waralaba Amerika, di Jl. AP Pettarani, dua perempuan bergantian menghampiri kami. Pertama menyodorkan buku-buku tuntunan shalat terbitan Surabaya, lantas digantikan tawaran stiker berisi kutipan ayat suci. Berulang menggeleng, sang anak pun lantas mengiba, meminta uang untuk bersekolah. Ganjil sepertinya, apalagi jika memperhatikan mereka, yang mestinya masih duduk di play group atau taman kanak-kanak. Eh, taman kanak-kanak. ‘Tak pantas’ rasanya jika orang miskin harus masuk play group.

Satu hal yang unik, anak-anak jalanan di Makassar terkesan ‘lebih sejahtera’ dibanding anak-anak telantar di kota-kota lain. Sedikit saja yang tampak kumal atau berpakaian lusuh. Kebanyakan, justru berpakaian rapi, termasuk dua anak perempuan yang menghampiri kami di restoran waralaba. Mereka berjilbab rapi jali, bak anak-anak dari keluarga yang tinggal di real estat.

Sama rapinya mereka, dengan anak-anak yang kelesotan di pintu-pintu masuk hampir semua minimarket yang rupanya sangat banyak tersebar di Kota Makassar.  Dua-tiga anak berpakaian rapi, sebagian besar berpeci (mungkin karena tahu sedang masuk kategori bulan suci), membawa kaleng terbuka, yang disodorkan kepada mereka yang keluar-masuk minimarket waralaba yang berkantor pusat di Jakarta itu.

 

Anak jalanan yang lelap tertidur di dekat lampu pengatur lalu lintas.

Anak jalanan yang lelap tertidur di dekat lampu pengatur lalu lintas.

Makassar, oh Makassar. Kota yang saya bayangkan sangat nyaman, ternyata membiarkan anak-anak dan remaja berkeliaran, menggelandang di hampir semua sudut kota.

Alangkah tegasnya mereka mempertontonkan kontras kota, dan mengaduk-aduk emosi. Pada suatu siang, misalnya, mobil yang saya kendarai dipepetnya. Seorang bocah lelaki usia belasan, menggelendotkan tubuhnya di badan mobil depan sisi kanan, ketika tengadah tangannya kubalas dengan lambaian tangan penolakan.

Tapi, untuk urusan pengemis dan peminta-minta di kota-kota, saya sudah lama mematikan rasa dan empati, sebab dunia anak jalanan, juga peminta-minta sudah lama saya yakini telah menjadi  sebuah cabang ‘industri’. Maka, saya pun selalu tegas menggeleng, tak mau merogoh kocek atau mengulurkan uang receh, sebab meyakini hasil ‘jerih payah’ mereka lebih banyak dinikmati bandar-bandar penyuplai peminta-minta.

Naluri empati kepada makhluk sosial jenis ini sudah benar-benar saya bikin mati. Bahkan ketika pada dinihari, sekira pukul 3, di perempatan jembatan layang di ujung Jalan Pettarani, seorang perempuan usia 13 tahunan memfitnah saya (dan Imun) sebagai orang kaya, lantaran saya berada di balik kemudi New Avanza yang disewa untuk kami.

Ketika saya menolak permintaannya mengulurkan uang receh, si perempuan belia itu tegas memfitnah saya, meninggalkan kami sambil berkata,” Percuma jadi orang kaya…..”

Catatan: Foto dan video pada halaman ini direkam dengan Nokia Lumia 520/Windows Mobile.

13 thoughts on “Cerita Anak Jalanan

  1. iya pak kasian juga mereka belum waktu nya jadi pengamen , mendingan buat sekolah gratis atau apalah. saya jadi sedih kalo ngeliat anak jalanan , ngerasain gimana kalo kita atau sodara kita yang berada di sana :’) semoga anak-anak tersebut bisa sekolah dengan baik 🙂

  2. Benar pak. Saya juga selalu menolak jika ada orang meminta-minta di jalanan atau pengamen, karena saya lebih suka menyalurkan donasi ke lembaga resmi seperti RumahZakat.org. Biarlah mereka yang memanfaatkan uang kita untuk memberdayakan masyarakat yang kurang mampu. Saya yakin ini akan lebih bermanfaat daripada kita memberi uang recehan.

    Btw, plugin CommentLuvnya kayaknya perlu di-update nih 🙂

  3. akhirnya mereka yang meminta di jalanan itu hanya korban, sekaligus alat pengumpul modal untuk sindikat diatasnya.
    mana pemerintah? apa hanya sekedar duduk diruang ber ac berbagi proyek, sementara rakyat saling menggorok leher untuk bertahan hidup?
    iya menggorok leher, kalaupun bukan leher kehgidupan, tentu leher kemanusiaan yang digorok, apa lagi kalau bukan itu istilahnya buat mematikan rasa empati kepada manusia lain.

    kalau memang pemerintah sudah tidak mampu, katakan saja, rakyat akan memilih orang lain yang mampu.
    atau jika memang sudah tidak ada lagi, mari kita jual negara ini kepada penawar tertinggi dan kita semua pindah dari sini.

    *pangapunten rada emosi malahan*

  4. MT

    Sepertinya pemda kelabakan menghadapi mereka yg membisniskan kemiskinan atau menjadikan kemiskinan sbg profesi untuk mencari uang. Kasihan yg benar-benar miskin, semakin tak berdaya. Jahanam para penguasa dan politikus yg masih saja terjerat dlm jejaring korupsi.

  5. KPS

    semoga dengan blog ini dapat meningkatkan kesadaran bagi pemerintah untuk jauh lebih memperhatikan rakyat kecil.
    lihat masih banyak rakyat kecil yang butuh pertolongan dari pada kita memikirkan tentang korupsi terus menerus.

  6. Podo persis karo aku. Aku yo muwales ngekeki duik karo pengemis. Duikke mending tak tabung dikekne cah yatim utowo digawe nyangoni dulur dulur nek pas bodho.

Leave a Reply