Blusukan

Kini, blusukan menjadi istilah populer di benak publik Indonesia. Adalah media massa yang harus bertanggung jawab atas terjadinya penyempitan makna, karena mereka telah berdosa menyematkan kata blusukan pada aktifitas segelintir politikus. Ya, poli-tikus! Tikus ganda, atau sejumlah tikus yang tak pernah risih berjalan, bahkan sembunyi di tempat sampah, atau berkubang di got atau gorong-gorong perpolitikan (dan) anggaran.

Blusukan yang bermakna positif, mulia, lantas menjadi jorok karena disematkan awak pekerja media pada aktifitas politikus guna mendulang simpati demi meraih privilese dan kekayaan lewat jalur kekuasaan. Keadaan itu lantas diperparah oleh keriuhan khalayak pengguna media sosial, sehingga lantaran sifat massifnya, banyak orang lantas terjauhkan dari pengertian makna sejatinya sebuah blusukan.

Blusukan adalah tindakan seseorang mendatangi tempat-tempat asing secara sengaja. Motivasi utamanya adalah dalam rangka mengenal lebih jauh hal-hal yang masih dianggapnya asing atau kurang dimengertinya. Bisa dipicu oleh cerita, referensi bacaan dan sebagainya, sehingga kedatangannya semata-mata mencocokkan referensi yang sudah dimiliki, dengan latar kesadaran untuk meng-upgrade keterbatasan.

Dan, hakekat aktifitas blusukan ditujukan untuk diri sendiri, tanpa pamrih apapun selain menambal kekurangan aspek kognitif dan spiritualitas yang dimiliki.

Seorang pembesar seperti almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, misalnya, dikenal sering menyamar menjadi orang kebanyakan. Beliau menanggalkan identitas sosial dan atribut-atribut politik dan kulturalnya, lantas membaur dengan kaum kebanyakan. Pamrihnya, semata-mata ingin mengetahui lebih dalam dinamika sosial dan ruang batin masyarakat, yang hendak digunakannya untuk mendukung kawicaksanan, kebijaksanaan dirinya sebagai raja Kasultanan Yogyakarta atau Ngayogya Hadiningrat. Pada atributnya, melekat konsekwensi multidimensi, dari sosial, ekonomi, budaya, politik dan sebagainya sebagai muara dari vox populi, aspirasi/harapan rakyat kepada dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi.

Blusukan ala HB IX dilakukan dengan meneladani cara Khlaifah Umar bin Khathab, yang menyatu dengan rakyat dengan cara menyamar, agar tahu suara batin mereka.

Mirip dengan adab seorang ‘teman’ sekaligus guru spiritual di Solo, yang meski kini bergelar kiai, namun lebih memilih menjadi makmum shalat dengan imam seorang pengayuh becak atau petani. “Setiap tetes keringat mereka adalah doa dan keikhlasan. Doanya lebih makbul,” katanya, “Apalagi jika dibanding kiai atau imam yang hidupnya ditopang oleh sedekah santri, apalagi politisi.”

Kini, ketika pragmatisme hidup menjangkiti penghuni bumi, maka dunia dipenuhi kamuflase. Tak heran jika industri kosmetik menjadi sedemikian maju, dan industri periklanan dan public relations menjadi penentu hidup-mati seseorang, apalagi politikus dan pejabat publik. Banyak perkataan dan pernyataan yang tak sinkron dengan kenyataan terus dikumandangkan, bahkan dengan semangat meledak-ledak, penuh ekspresi, seperti nyaris kita jumpai setiap saat, setiap hari, di semua stasiun televisi.  Mulai sinetron remaja, iklan, hingga siaran-siaran agama yang menampilkan ustadz/ustadzah dadakan.

Wartawan, redaktur hingga pemimpin redaksi tak lagi peduli terhadap diksi. Reporter salah memilih kata didiamkan, tak ada pembetulan sehingga kesalahan yang terus berulang seolah-olah diamini menjadi kebenaran. Ya, seperti pada penyebutan blusukan itu tadi.

Blusukan yang senyatanya merupakan aktifitas personal, spontan, dipaksa belok menjadi tindakan terbuka, tidak lagi personal, bahkan terencana. Publik dipaksa menerima istilah blusukan lewat bombardir pemberitaan akan aktifitas para bakal calon presiden yang sedang mengupayakan peningkatan popularitas dirinya, demi bekal keyakinan alias pede, percaya diri menjadi orang yang dikenal.

Jadi, jika selama ini banyak orang menyebut tindakan Dahlan Iskan naik kereta api listrik (KRL) atau Gita Wirjawan masuk ke pasar tradisional, hingga bahkan Presiden SBY meengunjungi kampung nelayan, sebagai blusukan, maka sejatinya mereka sedang jadi korban distorsi makna blusukan oleh pekerja pers. Tidak mungkin, blusukan yang seharusnya personal, tindakan dengan penyamaran (maksudnya meninggalkan atribut, dan menjadi diri sendiri) dikabarkan sebelumnya, dan membawa sekian awak media, apalagi membawa perangkat tata suara seperti dilakukan SBY di kampung nelayan itu.

Tapi, blusukan kini memang bukan seperti yang saya (dan kebanyakan orang desa) pahami. Jika memahami makna blusukan yang sesungguhnya, seorang yang biasa ngafe di Starbucks atau Coffee Bean pasti tak akan menanyakan tisu kepada pemilik kedai kopi di pasar tradisional ketika ‘pura-pura’ hendak menyelami desah nafas mereka. Juga, tak ada fotografer atau kameraman televisi yang menyertai, dimana sang ‘blusuker’ lebih sibuk menghadap kamera dan berakting, dibanding menikmati minuman dan kudapan yang terhidang, bahkan dikerubuti lalat.

Mungkin bisa saya berikan ilustrasi sederhana seperti ini:  Saya, yang karena ‘kondisi obyektif’ lantas harus biasa nongkong di wedangan/angkringan atau warung-warung makan rumahan atau kakilima, pasti akan dihadapkan pada imajinasi enaknya suasana dan rasa sajian ayam goreng ‘Pak (Umar) Kayam’ alias Kayam Fried Chicken, alias KFC atau kéi-èf-si (simak logonya, ya?). Maka, kegagapan cara memesan dan langsung bayar serta kerepotan mencari ‘kran’ saus adalah pengalaman batin tersendiri.

Begitu pula, konsekwensi logis, ketika (jangankan) jajan di Starbucks atau Coffee Bean, bahkan di coffee shop hotel bintang dua atau tiga, selalu dikasih tahu, dijelaskan oleh waiter/waitress bahwa pesanan saya, single espresso, akan disajikan dengan cangkir kecil. Mereka tak perlu tahu, bahwa itu jenis kopi favorit saya. Yang penting, penampilan saya sudah mengarahkan persepsi mereka, sebagai orang udik dan sebagainya. Tentu saja, sikap dan perlakuan mereka akan berbeda jika pemesannya adalah orang berkulit terang, bersih, necis, dan berparfum, betapapun orang tersebut baru sekali datang dan sama-sama berasal dari kampong seperti saya.

Nah, ketika menghadapi orang seperti saya, tentu saja waiter/waitress punya pengalaman baru, merasa sudah sukses mengedukasi orang udik akan sebuah manner makhluk moderen. Dan sebaliknya, saya bisa menyelami dunia baru, kendati tanpa penyamaran. Ketika saya tampil apa adanya, justru saya memperoleh pengkayaan batin dan pengalaman baru. Jadi, blusukan pun tak mesti dilakukan dengan cara ‘menurunkan’ kebiasaan, namun bisa pula model mirip-mirip ‘mobilitas vertikal’.  

Jadi, tak hanya pelaku, konsultan pencitraan pun harus belajar pada hal-hal detil demikian. Kalau mau pura-pura, sih, juga tak soal, sehingga semua yang terencana/terskenario pun bisa dikabarkan, di-buzz menjadi seolah-olah  blusukan (asal tega memanipulasi kejujuran saja). Hanya, kalau mau sempurna penyutradaraannya, saya menyarankan Anda (konsultan maupun politikus) untuk mau rela meluangkan waktu untuk belajar teater, atau seni drama.

Tentu, jika hendak belajar cabang seni peran ini, jangan instan alias berharap segera bisa tampil sempurna dalam penyutradaraan naskah-naskah kontemporer atau yang surealis atau absurd. Mulailah dari naskah-naskah realis. Itu semua, semata-mata agar ‘kebohongan’ Anda tampak sempurna. Itu pun jika Anda tega.

Demikian…

 

 

Related posts:

  1. Dosa Media & Desakralisasi Blusukan
  2. Politik Pencitraan SBY
  3. Negeri 1001 Kebetulan
  4. Cerita Buat Remaja Indonesia
  5. Presiden Kesandung RPM Konten
Tags: , , , , , , , , ,

8 Komentar
Beri Komentar »

  1. Blusukan sekarang pada bawa awak media njuk di depan kamera berujar, “Pemirsa.. ini saya sdang bersama korban banjir.. aduh, airnya tinggi pemirsa!”

    Mangkanya kan seperti kubilang tadi pagi, blusukan paling ikhlas itu ya sukwuk… blusukan ke ga… ah sudahlah :)

    Btw setuju denganmu Kolonel Sanders itu rupanya mirip dengan suwargi bosnya Mr Rigen….

    Tulisan ini Asbang… Asu abang… hidup PDI-P !!! :) )

  2. hahaha iya bener .. semangat terus ya sob

  3. blusukan kemana nih bos

  4. wah, bagus sekali tulisannya,mas,kenapa ndak di post ke media saja,buat pencerahan,agar masy tidak terjebak taqlid pada media

  5. Nek aku mbiyen blusukan ya blusukan nang sawah pakdhe.. njur kadang melu dolan nang pak Tani melu mangan sayuran ngomah e.

  6. Makasih informasinya membantu ….

  7. setidaknya menjadi inspirasi bagi para politikus yang ingin mencari simpati dari masyarakat, makasih infonya pak

  8. kaya politikus aja nih he he

Leave Comment

CommentLuv Enabled