Cerita dari Makassar

Ini kalimat mesra LHI dan AF kepada fustun-fustun, kayaknya... Ada bau Arabnya, tapi tetep gaul kebarat-baratan... #yora

Ini kalimat mesra LHI dan AF kepada fustun-fustun, kayaknya… Ada bau Arabnya, tapi tetep gaul kebarat-baratan… #yora

Ketemu teman di ‘perantauan’ memang menyenangkan, meski tak bisa menghapus kangen kepada yang di rumah. Apalagi, jika orangnya rame, kocak, sableng, tapi cerdas seperti Imun. Tapi, dari ke-sableng-an itu, ia hampir mencelakakan Albert, seorang perantau yang membantu kami menjaga rumah kontrakan, termasuk melayani kebutuhan sehari-hari kami: menyiapkan minum dan membereskan urusan domestik lainnya.

Andai tak dapat bocoran cerita, sebuah ‘skenario jahat’, mungkin Albert sudah pergi meninggalkan kami. Mungkin ia pulang ke kampong asalnya, di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Cerita bermula ketika saya pindah ke rumah kontrakan untuk kami tinggali hingga beberapa bulan ke depan. Baru masuk, Kang Begi –‘kepala rumah tangga’ kami, tertawa-tawa sambil berkata: “Adikmu itu edan tenan. Asu banget.” Berulang-ulang ia mengatakan itu, hingga akhirnya tak tahan memulai cerita yang mungkin menggelisahkannya.

Kata Begi, Imun memberitahu Albert bahwa sebentar lagi akan tambah seorang di rumah yang sebelumnya dihuninya bertiga. Diceritakan, Albert diminta berhati-hati terhadap pendatang baru. Ia diwanti-wanti agar tidak mengenakan celana pendek, dan jika tidur supaya mengunci kamar.

Singkat cerita, Albert panik. Ia meminta Kepala Rumah Tangga memasang kunci baru di kamarnya. Kepada Imun yang membuat cerita, pun ia menunjukkan kecemasannya, dan kembali mendesak agar segera disiapkan kunci pengaman.

Hingga saya ‘memasukkan’ perbekalan di rumah kontrakan itu sebagai pertanda ‘resmi’ menjadi penghuni baru dan lantas berbincang berempat di ruang tengah, Albert masih menatap tajam kepada saya, penuh selidik. Saya  ajak bercanda, ia masih tegang, sebelum kemudian saya kasih tahu bahwa semua cerita Imun hanya lelucon semata, karangan edan-edanan. Rupanya, Albert tak kunjung percaya.

Lama juga meyakinkan dirinya, bahwa tak akan ada apa-apa di rumah itu.

Yang lebih ndladhuk dari Imun, malam sebelum keesokan harinya saya resmi tinggal di rumah itu, Albert sudah sempat curhat setelah didesak kenapa wajahnya murung dan ketakutan. Albert cerita punya trauma. Di desanya, sekian tahun silam, ia pernah ditindih tetangganya, sesama lelaki, saat ia lelap tidur di tengah malam. Lelaki tetangganya itu, memang sengaja menginap di rumahnya, yang lantas secara refleks ia tampar hingga lari tunggang langgang menembus kegelapan malam.

Andai tak dapat cerita Begi, dan saya coba cairkan suasananya, mungkin Albert sudah pergi. Ia remaja lugu, hanya tamat sekolah menengah pertama di kampung halamannya. Setahun ia merantau ke Makassar, menumpang di rumah sepupunya, dan bekerja serabutan saja.

Katanya, setelah semua jadi benderang, ia cerita sempat hendak keluar rumah membeli pulsa, untuk menelpon pemilik rumah dan mohon pamit karena ketakutan. Dikiranya, saya adalah lelaki tukang tindih sesama, seperti cerita Imun yang sableng kepada dirinya.

Tapi, sekali asu, Imun memang ndladhuk! Soal mengarang cerita begituan, tak soal bagi saya. Wong kami biasa cengengesan model demikian. Di Palembang, saya dan Imun tidur sekamar, malah seperti soulmate luar-dalam. Kami pun saling memanggil dengan kata-kata mesra, menirukan sebuah graffiti yang kami jumpai di tepi Sungai Musi. Kadang saya memanggilnya ‘Abi’ atau ‘bebeb’, sekaligus untuk menirukan ‘sapaan’ mantan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishak kepada istri sangat mudanya.

3 thoughts on “Cerita dari Makassar

  1. ” INDOBOCLUB ”
    Bisnis Online Paling booming saat ini..
    Hasil Karya anak bangsa sendiri
    Terbukti paling Booming,Karna Hanya dalam 145 Hari,
    Member telah lebih dari 182.487 Orang.
    bagi Anda yang ingin Mengetahui lebih jauh tentang bisnis ini
    bisa klik dsni : http://ibc-bisnisonline.blogspot.com/
    atau hub no saya Jika anda ingin bertanya tentang bisnis ini :
    ( 087878611702 Rizal )

Leave a Reply