Catatan Kecil Peristiwa Besar

Seperti klenik dalam masyarakat Jawa, setiap hajatan besar selalu memakan korban. Di balik puja-puji, muncul pula hal-hal tak diinginkan yang menyertainya. Satu untung, sebagian lainnya, buntung. Begitu kira-kira yang saya rasakan, setidaknya sebulan belakangan. Perkiraan sejak mula, terbukti pula. Inilah penggalan dari serial cerita duka…

Andai bukan dilatari keyakinan akan potensi manfaat bagi banyak orang, mungkin saya tak akan mau ‘menceburkan diri’ pada perhelatan akbar itu. Sejak awal dikontak untuk mendiskusikan tema dan model perhelatan, saya sudah mengiyakan. Kepada yang empunya hajat sesungguhnya, pun saya katakan secara terbuka: bahwa hajatan kali ini harus bisa memperbaiki catatan buruk perhelatan serupa, setahunan sebelumnya.

Saya sampaikan kepada beliau, banyak orang kecewa pada perhelatan sebelumnya. Bahkan, ketika saya mengambil sikap keras dan tegas, ketika itu, sejatinya dilatari ketidakpercayaan pada satu sosok yang saya anggap inkompeten, dan lemah dalam hal tenggang rasa. Saya sodorkan catatan pihak mana saja yang terluka, termasuk cerita tentang konteksnya, plus sejumlah testimoni yang saya yakini benar adanya.

Lantas, ketika saya menyatakan mau terlibat kembali, pun dengan sejumlah komitmen, utamanya untuk mengupayakan penghapusan rekaman minus pada peristiwa serupa sebelumnya. Saya sampaikan pula, bahwa ada sejumlah korban bergelimpangan, yang satu di antaranya sangat fatal penderitaannya.

Tak cuma modal bacot, saya ikut merancang A-L (supaya tak dikatakan kelewat pamer) dan menjalankan sebagian besar aspek-aspek praktisnya yang tak semulus perkiraan orang. Untuk urusan pencarian dana tambahan, pun saya cukup banyak tahu hingga pengakuan atas nilai ‘saweran’ dari sejumlah institusi komersil. Pasalnya, sering diajak ngobrol seperti apa sebaiknya, apakah cukup menerima natura atau jelas rupiahnya. Ada angka 100, 50, 50, 15, 20, dan angka-angka yang kemudian saya sebut kabur alias gak jelas.

Untuk kapasitas saya dalam sebuah ‘tim kerja’, hingga detik ini saya tak tahu seperti apa. Meski berhak bertanya dan melihat pembukuannya, saya memilih diam. Saya ingin tahu saja, seberapa jauh komitmennya mengajak saya dalam sebuah ‘tim kerja’. Alih-alih diberitahu, wong atas beban tanggungan kepada pihak ketiga yang kewenangannya ‘didelegasikan’ kepada saya, pun tak pernah ditanya. Padahal, nyaris 75% kekurangannya, sehingga saya harus bersikap bak ‘debt collector’ yang gagal, sebab harus rajin menagih dan barus direspon dengan model cicilan.

Ya, dengan cicilan itu, saya jad pecicilan. Tak tuntas hingga kini. Pemberitahuan langsung tak pernah ada, tapi untungnya selalu saya dapat informasinya dari pihak dari luar dirinya. Dan, demi menutup rasa malu, saya sudah mengupayakan beragam cara untuk menyelesaikan kewajiban yang mestinya ‘bukan urusan saya’. Hingga begitu pun, tak ada kata maaf, terima kasih, atau kalimat basa-basi lainnya.

Sementara, catatan hingga di sini dulu. Saya sedang menimbang untuk bikin laporan resmi ke sebuah lembaga negara. Rekomendasi saya kelak, hanya satu saja: singkirkan faktor perusak masa depan dari sebuah upaya meretas kebajikan!

Jika ‘faktor pengganggu’ tidak disingkirkan, maka saya berjanji pada diri sendiri, akan aktif mengampanyekan semacam boikot aktivitas yang terkait dengannya di sana. Saya tak peduli akan disebut apa oleh mereka yang tidak tahu duduk perkaranya, sebab bagi saya, harga diri saya pun setara dengan niat mulia dibentuknya sebuah lembaga.

Alasan saya sederhana saja: ingin menghentikan munculnya korban-korban baru di kemudian hari. Membuang satu orang jauh lebih baik daripada mempertahankannya namun merusak tatanan solidaritas dan soliditas sebuah permufakatan tak tertulis.

Andai saya tak ikut membujuk sejumlah orang, mungkin ‘legitimasi’ peristiwanya tak sebaik kini, dimana ‘kesuksesan’ jauh lebih tampak menonjol dibanding kekurangan-kekurangan, apalagi sefatal peristiwa serupa, sebelumnya.

Demikian penggalan cerita. Esok, masih akan ada cerita lanjutannya…

5 thoughts on “Catatan Kecil Peristiwa Besar

Leave a Reply