Sang Kiai Silakan Direvisi

 

Betapa cemas dan gelisah saya ketika membaca berita Damien Dematra ingin bikin film tentang Hadratusy-syeikh KH Hasyim Asy’ari. Bukan saja reputasi Damien yang belum ‘terdengar’ (setidaknya di telinga saya), namun lebih kuatir jika dipicu oleh sikap reaktif atas hadirnya film Sang Pencerah,  yang berkisah tentang sosok KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammdiyah.  

Monumen KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng.

Jika pendiri Nahdlatul Ulama itu difilmkan hanya mereaksi ‘film Muhammadiyah’ (apalagi jika berhitung ekonomis/sentimen pasar), maka hanya mudharat yang bakal tersisa. Setulusnya, saya kecewa dengan Hanung Bramantyo yang menyutradarai Sang Pencerah sehingga kebesaran Kiai Ahmad Dahlan tereduksi, kenegarawanan beliau terkurangi. Baca selengkapnya di sini dan yang ini.

Beruntung, produksi film tentang pendiri Pondok Pesantren Tebuireng itu dibuat oleh orang-orang yang serius. Rako Prijanto, sepanjang cerita yang pernah saya dengar, adalah sutradara muda yang gemar riset, sehingga detil artistiknya kuat, seperti pada film Sang Kiai ini. Wajah santri-santri pondok NU yang (maaf) umumnya memang –meminjam istilah Tukul Arwana, ndeso, memberi bukti bahwa Rako tak terjebak pada stilisasi, dan terhindar dari pretense mempercantik gambar, seperti umumnya garapan film komersil yang ‘mengutamakan keindahan’.

Kemampuan seni peran Ikranagara dan Christine Hakim sudah jaminan paten. Ikra adalah aktor kawakan Teater Ketjil yang didirikan dramawan dan sineas terkemuka, almarhum Arifin C Noer. Penjiwaannya terhadap karakter Kiai Hasyim nyaris sempurna. Begitu pula Christine yang merupakan aktris terhebat Indonesia, hingga kini. Kita tak bisa meragukan kemampuan aktingnya, apalagi jika mengingat ia harus riset berbulan-bulan, bahkan harus tinggal setahun di Aceh, demi kesuksesan memerankan Tjut Nya’ Dien, pahlawan Aceh yang disutradarai Eros Djarot dengan judul Tjut Nya’ Dien, puluhan tahun silam.

Kalaupun ada kesalahan ‘kecil’ pada dialog Christine Hakim, rasanya itu lebih pada kesalahan penulis naskah (dan sutradara). Tapi, bagi saya, dialog itu sangat mengganggu karena dalam adegan dialog Bu Nyai dengan Kyai Hasyim di kamar, terlontar kata ‘rèmèh tèmèh’ dari mulut Christine. Remeh temeh, setahu saya merupakan bahasa ‘orang Jakarta’ yang belum terlalu lama populer. Dalam konteks waktu, dan latar belakang cultural masyarakat Jombang, tampaknya kata ‘remeh temeh’ lebih tepat diganti ‘sepele’.

Mbah Hasyim dan 'efek multikultur' pada santri-santri penerusnya..... 🙂

Dalam perkara dialog, penggunaan akhiran ‘in’ pada dialog Harun dengan Sari, pun terasa janggal dan menggangu, bagi saya. Harun dan Sari yang digambarkan hanya hidup di lingkungan Pondok Tebuireng, tentu lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, sehingga ketika dalam film harus ditampilkan dengan bahasa Indonesia, maka pemakaian bahasa baku dengan dialek Jawa Timuran justru akan lebih memperkuat aspek kulturalnya.

Memang, tak ada gading yang tak retak.  Secara konten dan garapan, film debutan Rako Prijanto ini layak dipuji dan diacungi jempol dan bakal menjadi karya monumental sutradara. Menggarap film kolosal bukan perkara mudah (abaikan dulu biaya produksi). Mencari setting lokasi untuk menggambarkan suasana sekitar masa kemerdekaan tentu jauh lebih sulit, mengingat hampir seluruh pemimpin kota hingga negara ini, lebih suka menggulung bangunan-bangunan kuno dan bersejarah lalu menggantinya dengan bangunan moderen.

Dengan pilihan lokasi syuting yang sangat terbatas, pilihan angle Sang Kiai cukup membantu. Muhammad Firdaus sebagai director of photography terbukti jeli menyiasati dengan memperbanyak gambar-gambar close up dan medium shot. Dengan cara itu, gambar-gambar Sang Kiai jadi tampak ciamik.

Pada film Sang Kiai pun kita pun terhindar dari efek pengkultusan terhadap Mbah Hasyim. Di sisi ini pula, kita layak kembali mengacungkan jempol kepada Rako dan seluruh kerabat produksi, termasuk produsernya. Sebaliknya, kita bisa belajar dari Mbah Hasyim yang demokratis dan terbuka, juga cara berpolitiknya yang santun, serba berorientasi pada kemaslahatan publik, masyarakat banyak.

Mbah Hasyim pun tidak menjadi figur sentral. Di dalam organisasi pondok dan NU (juga Masyumi), Mbah Hasyim mengutamakan musyawarah, juga berbagi peran dengan anak-anak beliau, termasuk KH Wahid Hasyim yang sangat berbakat sebagai politisi dan negosiator yang tinggi derajad kenegarawanannya.

Film Sang Kiai (gambar: 21cineplex.com)

Film Sang Kiai sungguh layak menjadi rujukan bagi generasi muda saat ini, utamanya dalam mengenali wajah dan watak ‘politik keumatan’ di dalam pondok, sebagaimana ditunjukkan Kiai Hasyim, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim dan lain-lain. Nasionalisme dan kecintaannya kepada Negara Republik Indonesia tak bisa diragukan, terbukti dengan munculnya Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945 sebagai dasar mempertahankan tanah air dari penjajahan.

Resolusi Jihad itulah yang lantas mendasari sikap politik Nahdlatul Ulama terhadap sebuah negara. (Silakan dibandingkan dengan umat dari organisasi Islam lainnya, yang sebagiannya kini berkiblat ke model khilafah, konsep kepemimpinan tunggal negara Islam). Bagi NU, haram hukumnya memberontak/maker terhadap negara jika konstistusinya telah menjamin umat Islam untuk menjalankan syariat agamanya.

Syariat dimaksud adalah terkait dengan peribadatan. Maksudnya, konstitusi dan hukum negara member keleluasaan umat  Islam untuk menjalankan ibadah, sejak syahadat, shalat, puasa, zakat dan berhaji. Jadi, andai sebuah negara dipimpin pemeluk agama lain, namun umat Islam dijamin menjalankan syariat agamanya tadi, tak ada alasan untuk memberontak.

Contoh ekstremnya, andai di Indonesia ini dipimpin nonmuslim lalu umat Islam dilarang shalat dan sebagainya, pun tidak diperbolehkan makar. Umat Islam harus menyingkir, dan jika masih dikejar-kejar dan dilarang, pun masih diajarkan mengasingkan diri di hutan/gunung. Jika sampai mengasingkan diri pun masih dikejar, diintimidasi, dilarang melaksanakan menjalankan rukun Islam tadi, barulah umat Islam dihalalkan berjihad. Begitulah cerita seorang kiai muda kepada saya.

Eh, kembali ke pokok bahasan film Sang Kiai, saya usul agar Rako dan kawan-kawan merevisi beberapa kesalahan fatal, yang potensial menyesatkan.  Mau dibilang fiksi sekalipun, film ini berangkat dari kiprah sejarah seorang tokoh besar, yang bahkan legenda-legenda bangsa seperti Bung Tomo, Jenderal Sudirman hingga Soekarno pun memerlukan restu dan nasihatnya.

Pada sebuah adegan, tertulis Denaren,……(tahun?). Saya kok menduga, yang dimaksud adalah Denanyar, nama daerah di mana terdapat pondok KH Bisri Syansuri (adik ipar KH Wahab Hasbullah), salah satu sentral jejaring ulama semasa KH Hasyim Asy’ari. Semoga saya salah, tapi ada baiknya Rako melakukan ricek. Ini (dugaan) kesalahan pertama.

Kesalahan kedua yang juga fatal (menurut saya) adalah penyebutan pangkat Mallaby sebagai Brigadir. Di Indonesia, brigadir lazimnya merupakan jejang pangkat untuk polisi, bukan militer. Dan, brigadir hanya setara dengan sersan di kemiliteran, sehingga jika hanya berpangkat rendahan, maka kematian Mallaby tak akan memicu kemarahan sekutu yang berbuntut perang bersejarah berupa pertempuran Surabaya.

Bukankah Aubertin Walter Sothern Mallaby adalah pimpinan tentara Sekutu yang hendak melucuti tentara Jepang di Surabaya berpangkat Brigadir Jenderal?

Demikian…


8 thoughts on “Sang Kiai Silakan Direvisi

  1. Sang sutradara Rako menyebutkan bahwa film Sang Kiai ini berisi tentang peran serta semangat sang kiai dalam mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajah yang timbul karena spiritual keagamaan, khususnya Islam. Selama ini unsur tersebut kurang diperhatikan dan diangkat dalam tema film perjuangan. KH Hasyim Asy’ari merupakan tokoh Pesantren Tebu Ireng dan salah satu sosok sentral dalam peletakan dasar sendi-sendi kemerdekaan Indonesia. Beliau menjadi panutan pada tahun 1942-1947 dalam menentukan arah dan pengerahan massa santri “pejuang” dalam melawan sekutu. Dengan fatwanya “Resolusi Jihad”, KH Hasyim Asy’ari mengimbau dan mengajak para santri pejuang untuk berjihad fisabillilah melawan penjajah yang kemudian melahirkan peristiwa perang besar yang dikenal sebagai Hari Pahlawan 10 November 1945.

  2. Sekilas Perjalanan Cerita Film “Sang Kiai” Dalam Memperjuangkan Agama Islam-“Sang Kiai”: Bakar Kembali Semangat Patriotisme Nan Relijius, Film biopik alias film yang menceritakan perjalanan hidup nyata seseorang, menjadi barang yang cukup langka dibuat di Indonesia. Tercatat beberapa dibuat dengan kualitas di atas rata-rata baik secara sinematik maupun pemeran seperti misalnya Tjoet Nja` Dien (1988) atau Gie (2005).

  3. detail komennya, sampai ke dialogpun diperhatikan dengan baik. luar biasa. jadi penasaran mau nonton juga film sang kiai ini… terima kasih atas reviewnya yang luar biasa.

  4. lengkap dan tutas om, bahkan buat saya yg blum pernah nonton jadi tertarik nonton karena ulasannya lengkap plus kritik saran, semoga film biopik lain yg kabarnya juga akan dibikin dan telah dibikin (misalnya film “Jokowi”) bisa sebagus “sang Kyai” . . .

  5. cahyo nugroho

    Saya sangat setuju dengan review mas tentang ini, dan menurut saya Film ini memang bagus.

    Tetapi saya mau menambahkan poin-poin kritik kesalahan di film ini menurut pandangan saya.
    Terus terang saya sangat mengkritisi penambahan karakter fiksi yang dalam film ini berupa sosok Harun yang menurut saya merupakan seuatu blunder, soalnya saya merasa film menjadi kehilangan fokus ketika karakter Harun mulai mengambil terlalu banyak porsi di tengah durasi film, khusunya ketika scene masa-masa perlawanan dengan sekutu di Surabaya. Porsi yang besar ini diperburuk dengan cerita bag Harun yang terlalu melodrama, dan tidak juga diimbangi dengan akting yang kurang memuaskan dari pemerannya. terlihat penambahan ini hanya sebagai penarik penonton-penonton muda yang cenderung suka drama romance dan tidak terlalu suka dengan drama biopic yang agak berat. Berbeda dengan film “Sang Pencerah” yang tidak memakai cerita tambahan tapi tetap ingin menarik penonton muda dengan penambahan pemeran yang bisa menarik penonton muda seperti Giring nidji dll.

  6. mt

    bergetar melihat kesahajaan hadratus syaikh. wajar kalau Ikranegara menyatakan ia pun sebenarnya tak kuat memerankan tokoh sebesar beliau.
    rako juga selektif dalam memilih pemeran shg amat menghidupkan setiap tokoh yg ada dalam film tsb.
    revisi memang harus dilakukan spt apa yg pakdhe paparkan, itu penting.
    semoga para elite negeri ini mau belajar dari film tsb.

Leave a Reply