Kemenlu, ASEAN Blogger, dll

Masih banyak yang apriori terhadap lembaga bernama Kementerian Luar Negeri. Apalagi jika dikaitkan dengan ASEAN Blogger Community. Ya, dua kali pelaksanaan pertemuan besar yang diinisiasi ASEAN Blogger Community, baik di Bali (2011) maupun di Solo, tempo hari, telah menerbitkan pro-kontra di kalangan narablog Indonesia. Saya mencoba berdiri di tengah, silakan jika berkenan menyanggah.

Kebetulan, saya menjadi salah satu deklarator. Tak tahu alasannya, tiba-tiba saya dihubungi penyelenggara deklarasi, kala itu timnya Mubarika dari IDBlogNetwork. Saya mengiyakan, sebab menganggap perlu adanya komunitas semacam itu. Alasan lain, niat baik Kementerian Luar Negeri membuka diri, perlu diapresiasi. Asumsi saya, komunitas semacam ABC itu akan bersifat lebih cair, dan bisa menjadi forum baru bagi blogger, yang dalam beberapa tahun terakhir kian terbelah. Yang serius ngeblog ya ngeblog, namun selalu kritis ketika menyimak gejala dunia blogging ‘digiring’ kea rah monetizing.

Fenomena buzzer, yang sejatinya merupakan gejala lumrah atas sebuah penyikapan terhadap media baru, seperti merenggangkan pola relasi narablog. Monetizing dengan cara optimasi mesin pencari pelahan tampak usang, digusur dengan janji kemudahan mendapatkan uang lewat kicauan di Twitter, unggah pernyataan/gambar/video ke Facebook hingga review aneka produk di blog.

Mau cari uang dengan jadi reviewer atau buzzer sejatinya hal biasa. Lumrah saja. Tapi banyak kalangan tak sependapat dengan cara pengaburan pesan, yang dianggap mengecoh. Maksudnya, model kicauan atau pesan bermuatan rupiah, namun dikaburkan sebagai pernyataan biasa. Sejatinya, sih, tak apa-apa juga kan, ya? Baiklah, kita tinggalkan sejenak soal itu.

Yang jelas, fenomena twit berbayar dan sejenisnya, menyilaukan mata ‘orang-orang baru’ sehingga berlomba-lomba menjadi buzzer, dengan cara memperbanyak follower di akun Twitter, atau memperbanyak teman di jejaring Facebook, atau menaikkan jumlah kunjungan di blog masing-masing. Maka, ‘pesan sampah’ lantas bertebaran di mana-mana. Orang lantas risih. Intinya, etika bermedia kebanyakan orang dirasa menjadi sangat parah.

ABF dan NgopiKere

Kita masuk ke masa ‘kontemporer’.  Hanya karena ada sejumlah teman lama berkumpul di Gunungkelir yang sejatinya hendak reunian, kangen-kangenan, maka ada sebagian orang memelintir sebagai acara tandingan. Celakanya lagi, tanggalnya berbarengan dengan ASEAN Blogger Festival di Solo, yang didukung oleh Direktorat Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri. Kebetulan, venue utama ABF di hotel berbintang, dan di event lain, bertempat di rumah juragan kambing etawa, dan mengabadikan momentum reunian dengan sebutan NgopiKere.

Lantas, berkembanglah asumsi. Yang di Solo, karena berbau pemerintah, lantas diasosiasikan kaum ningrat, karenanya penuh hura-hura. Sebaliknya, yang reunian di sekitar pegunungan Menoreh, karena sangat egaliter dan cair, terdistorsi esensi kekerabatannya sebagai berkumpulnya para ‘kere’.

Mestinya, saya (dan sejumlah teman Bengawan) pun ingin ke Gunungkelir. Tapi, berhubung telanjur terlibat dalam penyusunan acara ASEAN Blogger sedari awal, maka jadilah kami tuan rumah. Apapun, Bengawan dan komunitas online lainnya di Solo, merupakan stakeholder di wilayah kami. Ada sinergi, tapi tetap independen. Pemerintah (daerah) tak bisa  mengintervensi, dan sebaliknya, kami tak tergantung pula kepada mereka. Sama persis keberadaan kami, terhadap Kementerian Luar Negeri dalam gelaran ASEAN Blogger Festival.

Ziarah wali Blogger dan Jamasan Blogger

Tapi, kalau mau kita teliti lebih jauh, Gunungkelir punya sejarah tak asyik dalam konteks hubungan antarkomunitas. Niat tulus teman-teman Surabaya (ketika itu Komunitas Blogger TPC) menggelar safari persaudaraan bertajuk Ziarah Wali Blogger. Mereka selalu singgah ke komunitas blogger di setiap kota yang dilewati, termasuk di Solo. Muter-muter, berakhir di Gunungkelir, di ‘padepokan benwit’ Kang Toto Sugiharto.

Di sanalah ada beberapa teman Jakarta (dan sejumlah anggota komunitas yang dekat dengan mereka) membuat pernyataan yang kemudian menyinggung perasaan teman-teman peserta Ziarah Wali Blogger. Secara pribadi, saya juga kurang sreg ketika ada sekelompok teman yang merespon Ziarah itu dengan istilah ‘jamasan’, yang secara kultural kurang pas, bahkan terkesan meremehkan. Maka, perang dingin pun muncul, bahkan (menurut saya) hingga kini.

Secara kebetulan pula, ‘kelompok jamasan’ cenderung berkiblat ke (figur-figur) ibukota, seperti ditunjukkan lewat dukungan mereka ke event-event yang digelar teman-teman di Jakarta. Repotnya, gelaran-gelaran di Jakarta selalu ‘bergelimang’ pendana (setidaknya bisa dilihat dari logo-logo lembaga dan brand besar pada materi publikasi acara).

Awalnya, gelaran di Jakarta menyilaukan ‘orang-orang desa’. Banyak blogger dari berbagai kota (kecil) datang ke Jakarta secara swadana, sekaligus ingin bertemu muka (kopdar) dengan nama-nama beken yang selama ini sudah saling kenal lewat media maya. Kekecewaan bermula, (menurut sejumlah pencerita) lantaran keramahan di dunia maya tak sama dengan di alam nyata. Tahun berganti, keadaan tak banyak berubah. Kekecewaah kian membuncah. Lantas, benih prasangka pun muncul.

Kekecewaan terhadap gelaran nasional di Jakarta ditumpahkan lewat gelaran Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo. Benar, banyak teman blogger yang semula tidak muncul ke permukaan lewat komunitas, tumpah ruah di sana. Banyak orang tercengang, tak menyangka begitu banyak blogger di luar komunitas yang selama ini dianggap telah ‘eksis’. Yang kecewa dengan gelaran semacam Pesta Blogger, pun meramaikan event yang dihadiri lebih dari 1.300 blogger, dari seluruh penjuru Indonesia, dan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

‘Pengelompokan’ lantas muncul. Sebagian orang menganggap Kopdar Blogger Nusantara adalah saingan Pesta Blogger (yang kemudian berganti tajuk event: ON|OFF). Meski sejatinya saling mewarnai dan member warna dunia blogging Indonesia, tapi dasar manusia, blok-blokan pun kian tegas ‘mengidentitas’. Tapi, semua kalangan malu-malu mengakui adanya ‘perang dingin’ ala peta politik dunia.

 

Sharing Online Lan Offline

ABF 2013 dan NgopiKere menurut saya, hanyalah imbas adanya blok-blokan alias perkubuan yang prosesnya sangat panjang itu. Komunitas Blogger Bengawan, termasuk saya, memilih netral terhadap semuanya. Kami memilih ‘nonblok’, atau dengan bahasa sok-sokan, meniru Indonesia yang menerapkan prinsip ‘politik luar negeri’ yang bebas dan aktif. Bebas menentukan jalinan relasional tanpa membeda-bedakan latar belakang dan kecenderungan, tapi aktif ikut mewarnai dinamika blogging di Indonesia.

Maka, dalam rangka mengeliminasi prasangka kepada siapa saja, kami menggelar sejumlah pertemuan. Sharing Online Lan (Jawa, maksudnya dan) Offline (SOLO) yang pertama kali digelar pada 2010. Kami pun menyelenggarakan workshop penguatan kapasitas (capacity building) untuk sejumlah komunitas blogger (terutama dari kota-kota kecil dan menengah). Niat kami, agar teman-teman di daerah (seperti Bengawan) bisa lebih ‘berdaya’.  

Di daerah, kita tahu, nyaris tak ada brand atau perusahaan mau melirik blogger. Pun pemerintah dan lembaga manapun. Maka, workshop selama tiga hari (yang didanai Hivos dan disumbang XL Axiata). Karakteristik anggota komunitas pun kebanyakan pelajar dan mahasiswa, yang ‘hidupnya’ nyaris tergantung pada uang saku dari orangtua.

Intinya, dengan workshop sederhana, kami belajar bersama cara membuat program, termasuk mencari terobosan pendanaan. Kebanyakan blogger yang bersemangat bebas, tidak mau dikendalikan siapa saja, dan serba sukarela harus terus didukung ‘kemmerdekaannya’. Tapi, bekerja sama bukanlah hal tabu, dengan siapa saja, sepanjang setara dan tidak ada satu pihak pun yang menghegemoni sehingga ada yang merugi. Karakteristik utama blogger adalah: tidak mau diatur-atur.

Tak hanya itu, kami selalu berbagi, membangun komitmen bersama, termasuk jika ada pihak yang berkepentingan menjalin kerja sama. Maka, program pelatihan untuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bersama PANDI, pun ditempuh. Itu hanya sebagian cara dan strategi memberdayakan diri, supaya kami bisa selalu berbagi dengan publik, masyarakat di luar blogger.

Pemerintah dan Blogger/Netizen

Belakangan, banyak pemerintah daerah mulai melirik individu maupun komunitas blogger dan praktisi Internet (netizen). Ini perkembangan menarik, sebab mereka mulai ‘melek’, melakukan sinergi dengan berbagai pihak untuk beragam kepentingan, terutama untuk kemanfaatan sebanyak mungkin masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menggalakkan program kemitraan dengan netizen lewat Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Relawan TIK), juga Kementerian Luar Negeri yang ikut menginisiasi dna memfasilitasi ASEAN Blogger Community.

Saya pun pernah disinisi oleh seorang ‘seleb’ melalui kicauan di Twitter gara-gara terlibat di berbagai kegiatan Relawan TIK. Ketika bersama ASEAN Blogger Community pun, tak sedikit yang menyayangkan. Tak soal bagi saya. Di kedua lembaga itu, saya menjalin banyak komunikasi dengan intensitas memadai. Wakil-wakil kedua kementerian juga pernah beberapa kali singgah di sekretariat Bengawan, yang kami namai Rumah Blogger Indonesia.

Kami tak merasa terkooptasi, namun sebaliknya justru merasa bisa ikut mewarnai. Kepada kedua wakil lembaga itu, kami selalu berdiskusi dan mendorong agar mereka membuka diri dan melibatkan partisipasi publik sebanyak dan seberagam mungkin. Alhasil, kedua lembaga negara itu sangat terbuka kepada siapa saja.

Dalam konteks hubungan Kementerian Luar Negeri dan ASEAN Blogger Community, misalnya, sejauh saya diskusi dengan Pak Hazairin Pohan dan beberapa staf Kemenlu, termasuk Ditjen Kerjasama ASEAN, tak pernah saya mendapati kalimat pesanan agar begini-begitu. Sebaliknya, justru ABC diberi kebebasan menentukan sendiri cara dan strategi membuat desain program dan melaksanakannya sendiri, dan kementerian menempatkan diri sebagai fasilitator, termasuk akses pendanaan sepanjang memungkinkan (dalam arti dibenarkan/sejalan dengan ‘hukum’ keuangan birokrasi). Hanya itu. Tidak lebih dan tak kurang!

Karena itulah, saya juga merasa bebas bersikap. Menjelang pertemuan Blogger ASEAN di Bali (2011), misalnya, saya menarik dukungan lantaran melihat gejala tak profesional dalam perencanaan (dan terbukti kemudian di pelaksanaan). Ketika kemudian mau terlibat penyelenggaraan ASEAN Blogger Festival 2013 di Solo, konteksnya justru dalam rangka ‘turut menyelamatkan’ gagasan besar dan mengawal komitmen Kementerian Luar Negeri.

Makanya, secara personal saya meminta sejumlah teman dari sejumlah komunitas untuk turut menyukseskan ABF 2013 di Solo. Saya tahu dan dapat banyak masukan (tepatnya ‘curhat’) sejumlah teman blogger, yang masih masygul dengan keikutsertaan mereka di Bali, lalu apriori dengan event di Solo. Maka, kami, Komunitas Bengawan turut ikut menjamin, bahwa ABF 2013 akan berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya.  Apakah kemudian kehadiran teman-teman yang sebelumnya apriori menjadi ikut menghadiri merupakan hasil ‘kasak-kusuk’ kami, tak pantas jika kami melakukan klaim atas ‘keberhasilan’ penyelenggaraan event kemarin. Sangat mungkin kami salah!

Intinya, kami tak ingin keterbukaan Kemenlu tidak bisa dimanfaatkan banyak pihak. Oleh karena itu, saya justru mengajak dan mengampanyekan agar sebanyak mungkin orang terlibat di dalamnya. Prinsipnya, merdeka saja. Seperti saya terhadap Kemenlu, jika tak memungkinkan ruang dialog yang setara, ya bebas-bebas saja meninggalkannya. Satu hal yang pasti, ketidakcocokkan kepasa satu-dua orang (katakanlah begitu) janganlah digunakan  untuk menyamaratakan, bahwa Kemenlu begini atau begitu. Saya berani menjamin hal itu, karena saya merasa (sok) tahu karena sejumlah proses diskusi intensif.

Saya kira, segitu dulu… Esok kita lanjutkan lagi… Percayalah, saya tidak dibayar untuk bicara semacam ini (bersambung…).

24 thoughts on “Kemenlu, ASEAN Blogger, dll

  1. selalu ada yang positive didalam setiap kegiatan. tidak ada yang bisa mengenang semua orang. Selama tujuannya maka hasilnyapun harusnya baik… tetap berkarya mas.

  2. Indikasi lain yang menjadi sorotan yaitu terkait dengan beragamnya pertemuan dalam kerjasama regional ASEAN. Berdasarkan pertimbangan bahwa setiap tahunnya organisasi ASEAN melakukan pertemuan tidak kurang dari 620 pertemuan tingkat hubungan luar negeri, agrikultur, dan pertukaran budaya. Menghadiri 620 pertemuan ASEAN per tahun, tentunya akan membutuhkan pengeluaran keuangan yang besar bagi negara yang masih berjuang membenahi kerusakan dan menetapkan infrastruktur dasar. Sebagai anggota ASEAN, Timor Leste juga akan diharapkan untuk menjadi tuan rumah beberapa pertemuan yang bergantung pada kepentingan mereka, yang mana memerlukan biaya jutaan dollar untuk membenahi fasilitas konfrensi. Selain itu, kondisi ini tidak hanya sebatas pemenuhan keuangan semata, namun juga menekankan pada sumber daya manusia yang sangat terbatas. Kementerian Luar Negeri saat ini mempekerjakan setidaknya 85 orang, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, dan jumlah ini hanya 55 orang diplomat.

  3. Kami juga mendapatkan Buku ASEAN Selayang Pandang edisi ke-19, dan buku saku Piagam ASEAN. Saya pun mengucapkan selamat kepada teman-teman dari komunitas blogger bekasi yang mendapatkan Doorprize dari panitia. Kalian memang orang-orang yang beruntung.

  4. Disamping menggunakan media sosial, Kemenlu juga melakukan sosialisasi komunitas ASEAN ke daerah melalui diskusi yang melibatkan pemangku kepentingan yang ada. Tidak hanya itu, pihaknya juga memanfaatkan media lokal dan perguruan tinggi. “Baru 5 perguruan tinggi yaitu UGM, Universitas Airlangga, Universitas Hasanudin, Universitas Indonesia dan Universitas Andalas telah berdiri Study ASEAN Center. Harapan kami lebih banyak lagi,” pungkasnya.

  5. Nah kan? benar pemikiran saya bahwa Ngopi Kere bukan tandingan ABFI. Cuma kebetulan saja tanggalnya bersamaan.

    kebetulan juga saya tidak melihat sendiri twit2 sindiran terhadap ABFI, mungkin karena kebetulan saya follow orang yang tepat..hahahaha. Teman-teman yang ke Ngopi Kere dan saya follow di twitter juga sepertinya hanya sibuk dengan live tweet mereka tentang acara tersebut.

    saya membayangkan malah ada “pihak ketiga” yang sedang bertepuk tangan dan senyum2 gembira lihat blogger-blogger Indonesia gontok-gontokan satu sama lain. kalau sudah pecah kan bisa lebih gampang buat disusupi dengan kepentingan tertentu..

    yihaaaa 😀

  6. Komen ah, mumpung gratis tur mendem.

    Wah seneng aku, jebul para pemain komunitas dan tuips juga bisa berpolemik seperti di DPR. Maaf saya tidak bisa banyak ngrameni gelut-gelutan di sini karena saya masih dijak latihan gelut lawan beberapa simpatisan Partai Kethek Seranggon. Siapa bilang polemik itu tidak penting? Kalau sudah kebacot kan ya sudah anggap saja melariskan dunia ramenya TimeLine. Disamping itu penting juga buat nanti kalau jadi wakil rakyat sudah terbiasa ladakan. Mumpung di dunia maya gitu loh…

    Urip kok lurus-lurus wae, ra gelem senggolan.. ra seru! *golek-senggolan-sing-sexy*

  7. Jujur saya dari kemarin masih bingung persinggungan blok blokan kok di timeline saya nggak melihat itu alias adem adem ? atau memang saya yang kurang memantau tweet ? Saya baru ngeh baca blognya Fajar terus mas Iman dan pakde 🙂 Yang lain belum sempet

    Nuwun pakde buat ulasannya kalau saya mah sharing apapun wujudnya sah sah saja yang utama ada output yang memberi manfaat buat masyarakat. Mau dengan cara seminar mau dengan cara duduk santai di RBI ayo saja bahkan saya punya gagasan untuk sharing di RBI untuk lingkungan Solo misalnya karena dampak yang Komunitas ASEAN 2015 masyarakat kita juga

  8. memang kurang bijak mendikotomikan sesama saudara, yakinlah satu sama lain saling melengkapi bagi terjalinnya sebuah keindahan paseduluran, berdialektika dengan sehat justru akan menambah kedewasaan kita semua……monggo sedoyo

  9. MT

    baru semalam ada teman yang menanyakan, kenapa aku tak ikut meramaikan persinggungan antara #ngopikere dengan #ABFI di ranah twitter dan blog. sementara orang-orang yang terlibat di keduanya menuliskan tentang kedua event tersebut di blognya, aku malah menulis hal-hal di luar itu, seperti rekaman karawitan dan jathilan. Apalagi aku malah menulis cerita konyol “Preman di Ngopikere”.

    Tulisanku berjudul “Terpikat Pekat” dibuat saat ngopikere berlangsung. semacam reportase video karena tak sempat menulis artikelnya. memberitahukan apa adanya, seperti itulah salah satu bagian acara di ngopikere. sedangkan postingan “Preman di Ngopikere” kutulis saat event sudah bubar. Kenapa menulis yang seperti itu? kenapa tak menulis persinggungan tentang ngopikere vs abfi?

    Kenapa aku tak menulis hal-hal berkaitan dengan event sebelah, ABFI? jelas aku tak bisa menuliskannya karena tak tahu dan tak terlibat sejak pertama kali ABC ada. aku tak tahu apa-apa tentang {daleman} ABC maupun event di Bali dan Solo, kecuali sedikit. bagaimana mungkin aku menuliskan hal yang tak kuketahui dan tak cukup pemahaman tentang hal tersebut. karena aku tak bisa mereview event ABFI, kecuali ngetwit semoga acara di Solo maupun di Gunung Kelir berjalan dengan baik.

    sebagai penggelar acara, tentu kita masing-masing sibuk mempersiapkan dan melayani teman-teman yang menghadiri acara kita. tak cukup energi untuk (sok tahu) mengulas acara teman lainnya, sebagaimana yang ditulis beberapa narablog. sudah berusaha fokus saja, masih juga kami merasa takut teman-teman di Ngopikere tak terlayani dengan baik.

    lalu bagaimana dengan teman-teman yang masih asyik membahas kedua acara tersebut? kita sama-sama melihat pasca event, masih ada teman di kedua acara mengulas acaranya masing-masing. itu normal. ada yang isinya puas, beromantika, curhat, melanjutkan canda yang menyenangkan, dan lain-lain. itu wajar dan jangan dianggap sebagai post-promotion.

    acara sudah selesai, mari kita pulang. kembali ke rumah kebersamaan. kita sudah cukup lelah menggelar acara, jangan mau ditambah-lelahkan dengan hal-hal yang hanya meramaikan pertentangannya saja. sudahlah!

  10. DV

    Anda netral, Lik?
    Serius anda netral? Serius? 🙂 Kalau anda netral, menurut saya, anda tak perlu ikut mana-mana sih 😉 Nggak perlu ikut jadi panitia ABFI juga 🙂 Tapi kalau dalih anda untuk menyelamatkan acara itu, menyelamatkan dari apa? Cobalah sedikit terbuka lagi, dengan catatan kalau Anda netral, Lik. :))

    Damai di bumi dan damai di hati 🙂

  11. Kalian ini sudah pada tua, mbok reno, ngangguro
    Biarkan kami yang muda muda ini tumbuh ngeblog sewajar nya. Buat ane persetan deh ginian ini. sing penting ngeblog. Masih banyak di daerah sana yang kekurangan akses. Hentikan obrolan konyol ini. Kalian sudah tua. ingat itu

    Ane gak mihak siapa aja, kabeh kancaku. ane malah jane males sama kalian semua sing do padu. kalian itu dianggap konyol sama kami kami yang muda ini. kalian harus sadar itu. kembali ke jalur nya wae ngeblog.

    ini kata hati ane seorang blogger muda sejati

    sumpah, aku suka dengan komentar di atas. bahwa ngobrol begituan sudah bertahun-tahun tak kunjung mengubah apa-apa.

    hehehe… bener kata Rasarab. saatnya dunia perblogeran diserahkan kepada yang muda-muda. sing tuwek-tuwek turu wae 🙂

    sangat menarik dan perlu jadi bahan renungan. suwun, kak…
    /blt/

  12. Hmm…rupanya berlanjut.

    Pada dasarnya saya ndak paham juga mengapa sampai ada dikotomi blok-blokan dan entah siapa yang pertama menganggap bahwa ada seleb blog dan bukan seleb blog atau blogger senior atau apapun namanya. Dulu waktu masih ngeblog awal-awal ,belajar mbuat di Geocities, mencari “teman” dengan kunjungan ke blog tanpa tendensi “apa-apa”, cuma sekedar blogwalking dan isu-isu yang ditampilkan saat itu bagi saya bagus, jadi memang karena informasi niatnya.

    Saya pribadi menganggap paseduluran merupakan hal yang utama. Dan syukur-syukur jika ada kesamaan ide menanggapi sebuah permasalahan, seperti Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang bisa menjadi “ranjau”, bisa berjuang bersama untuk mencari solusi bagaimana mengatasinya. Saya sendiri tidak ngikut blok kanan atau blok kiri, jika ada waktu ke even yang diadakan teman-teman ya datang dan jika tidak ada waktu ya sudah nunggu kultwitnya saksi mata yang hadir. Seperi misalnya even 3G di Yogya (Gugur Guyub G…Guyub Gugur Gor apa ya namanya saya lupa) saya datang, barang ngetok cuma 1 jam karena saya memang janji ke teman-teman untuk datang. Cuma Pesta Blogger segala tahun yang saya belum pernah dateng. Di Solo ada even ya datang juga, kalau tidak salah ultahnya Bengawan, itu juga barang ngetok setengah jam. Kemaren kebetulan di Solo ada event ABFI saya datang karena udah kadung janji karo awakmu kalo ada even di Solo dateng, Jumatnya merencakan akan ke Ngopikere bersama Aziz Hadi dan Sibair, saya tidak tahu jalan ke Kelir dari Solo (transportasi terutama) dan kondisi badan nggak enak. Saya hanya pesan ke mereka berdua, kalau jadi ke Kelir saya dikasih tau, saya mau ikut. Tetapi sampai habis Jumatan tidak ada kabar. Ada blok timur atau blok barat sekalipun ndak ada pengaruhnya buat saya. Wong saya sudah punya kehidupan dan “jalur” sendiri kok :))

    Itu tadi masalah posisi diantara blok-blokan, sekarang masalah idealisme. Setiap orang memiliki idealismenya masing-masing dan tidak dapat dipaksakan satu dan lainnya. Tentu saja saya punya idealisme versi saya sendiri. Idealisme seseorang juga dilatar belakangi kondisi lingkungan, latar belakang, pekerjaan dan sebagainnya. Semua itu harus berdasarkan konsep atau tanpa konsep sekalian. Dengan kata lain, konsep harus jelas karena jika ada masalah kemudian hari kembali ke konsep awal. Mungkin satu-satunya idealisme saya yang agak bersinggungan dengan dunia blogging ya soal Pasal 27 ayat 3 UU ITE, keamanan blog, dan sedikit bahasan mengenai akses terhadap informasi.

    Oh iya, terakhir tentang ABFI, saya sendiri ndak mengerti tentang ABFI ini mulai dari deklarasi Bali atau deklarasi apaan namanya dan baru tau semua setelah event di Solo kemaren dari postingan teman-teman. Saya jarang update soal blogsphere lagi. Bisa ngupdate blog saja sudah bagus sekarang.

    Masa-masa polemik saya sudah usai, sudah saya habiskan di milis dan forum yang memang mengharuskan untuk polemik. Saat ini saya hanya mau berpolemik untuk sesuatu yang berguna saja, sesuatu yang jelas ada manfaatnya. Kalau situ masih tetap mau berpolemik ya monggo saja sih, tapi jangan lupa iling usia 🙂

    Nuwun.

    setuju, Sam. sebaiknya kita konsentrasi di luar hal remeh begituan. tapi memang kadang nganyelke, sehingga memancing rasa gatel.

    /blt/

  13. dan NGOPIKERE tidak menggunakan uang sponsor apalagi uang pajak

    halah, iki dudu babagan pajak dan sponsor-sponsoran, Lik… pokokmen asik-asikan saja, dinikmati sebagai dinamika saja :p

    /blt/

  14. Kasihan sekali saya dan teman2 dari luar Jawa. Kami yang cuma mendapat undangan seiprit dan ingin mencicipi wacana kemajuan berkomunitas yang sedikit (sebagai hasil dari keterbukaan pemerintah pusat), sudah harus melongo melihat gontok2an blogger2 Jawa. Blogger Jawa itu kurang enak apa sih? Mbok ya legowo, belajar menahan diri, mengutamakan berbagi, ah sudahlah….
    Pokoknya tetep matur nuwun sudah kerja keras mengurus kami selama di Solo. Saya tidak dapat membalas budi baik teman2 panitia. *salim

    setuju. orang di Jawa sukanya bikin ribut, eh…gaduh saja. sejatinya bukan gontok-gontokan. salah besar jika sampai ada yang menghadap-hadapkan dua event, antara yang di Solo dengan di Gunungkelir. lha sayaa saja, seandainya tak berbarengan juga akan ke sana, begitu pula banyak teman yang hadir di Solo.

    acara di Gunungkelir jelas seru. banyak twitpic-nya bikin ngiler. dan, reriungan mereka, dijamin lebih memberi ruang obrolan lepas, dari hati ke hati dan seterusnya. dan dalam hati kecil saya, sejak semula merindukan event di Solo sesantai acara di sana.

    makanya, saya menyebutnya bisa saling jadi cermin. semua ada kurang dan lebihnya.

    /blt/

  15. Kerajaan Mataram saja terbelah menjadi Solo & Jogja, jadi ya biasalah sesama blogger juga bisa ada sikut2an, apalagi kalo sudah masalah kucuran duit dari VOC… eh, sponsor. Haha..
    Pokoknya acara di Solo kemaren sukses kalo menurut tujuan kedatangan saya sendiri. Makasih banyak buat pakde & teman2 bengawan.

  16. dari tulisan ini bisa ditangkap kalau sebenarnya pemerintah juga bisa terbuka digandeng. Meskipun untuk memberi kebebasan (seperti dalam kerjasama seperti ABC) sedikit banyak tergantung track record dari komunitas. Nilai tawar dari si komunitas.
    Paparan sekilas tentang Open Goverment yang saya simak dari mbak Slaksmi di RBI lalu juga adalah kode bagi para penggiat komunitas untuk nggandeng dan ngawal pemerintah melalui program2 dan ide2 transparansi pemerintah.
    Tinggal sekarang, kita yang masih malu-malu mengakui adanya ‘perang dingin’ ala peta politik dunia itu mau nggak duduk bareng dan kerja bareng-bareng dulu? Yah,sebelum bareng-bareng nggandeng pemerintah.

    *duh aku mulai serius

    wis, apapun penyebabnya, sebaiknya kita menghilangkan ‘perang dingin’ itu. tak produktif, tidak asik. sebaiknya ditanggalkan ego pribadi/kelompok, bersinergi saja membuat dan mengupayakan perubahan secara bersama-sama.

    kumpul bareng antarkomunitas kayaknya asik, dan harus terus diikhtiarkan.

    /blt/

  17. indonesia butuh guru dan jangan pernah lelah untuk mengajari banyak hal dan jika sejarah menyatakan banyak hal yang tak asik bahkan mengusik bukan berarti kita berhenti berkarya …. hanya pribadi yang dewasa serta butuh kemakrifatan dalam kearifan menyikapi berbagai hal
    tetap sepakat sebagai orang yang berharap ketimbang sebagai penghujat
    kang blontank dan saya hanya sebuah media yang penting kita bukan pemuja ndoro panding
    monggo pak dhe dikelola saja semua ini menjadi sebuah pelajaran yang berharga dan saya tidak akan terlalu risau dengan berbagai pihak yang mempermasalahkan masih banyak hal baik yang bisa dipetik dari penyatuan energi yang terkumpul di gunungkelir yang jelas bahwa ngopikere bukan acara blogger saja lebih pada berbagai komunitas pecinta kopi, onliner, offroader,peternak banyak lagi yang bisa kita kerjakan dan mengabaikan perang dingin opsional (sebab saya tak sedang merasa berperang dengan siapapun) jika saat ziarah wali kemudian mencipta sejarah buruk bagi antar komunitas saat itu saya sedang menjadi korban untuk membuat berbagai pihak melek mata.
    secara pribadi saya tak pernah dirugikan ketika berbagai pihak memanfaatkan acara yang terjadi di gunungkelir sebab kami selalu mencari sisi positif yang masih bisa dikerjakan
    hanya yang berpikir dangkal saja orang yang menyebut ngopikere adalah acara blogger

    hehehe…. Kang Totok, saya tetep nganggep yang kumpul di NgopiKere kemarin adalah blogger juga, lho. memang, maksudnya bukan komunitas-komunitas blogger, tapi individu-individu pelaku dan penggiat dunia ICT.

    sepakat dengan panjenengan, selalu ada sisi positif dari aktivitas apapun. dan sebaiknya kita menuju ke sana. tentu, kearifan sikaplah yang harus menjadi modalnya. yang buruk kita jadikan rujukan untuk merenung agar sisi baik selalu hadir dan menyertai kita semua.

    /blt/

Leave a Reply