Andai Mau Terlibat

Berharap boleh saja. Tapi kalau berharapnya lebih, sebaiknya ya ikut terlibat untuk mewujudkannya. Begitu catatan saya terhadap beberapa teman yang lebih suka ‘tepuk tangan’ dari kejauhan terhadap pelaksanaan ASEAN Blogger Festival 2013 di Solo, 9-12 Mei. Sejujurnya, saya sedih ketika kemudian muncul semacam ‘perang tagar’, #ABF 2013 dihadapkan dengan #ngopikere!

Di ABF 2013, saya ikut mendesain sejak awal, bahkan hingga penentuan venue utama. Tema Re-inventing the Spirit of Cultural Heritage in Soeutheast Asia, bahkan muncul dari perbincangan awal saya dengan Pak Hazairin Pohan, Kepala Pusdiklat Kementerian Luar Negeri yang juga seorang blogger.

Acara #ngopikere, pun sudah saya dengar jauh-jauh hari sebelum tanggal ditentukan. Adalah Maztrie yang pertama kali mengajak ngobrol saya, melalui percakapan lewat telepon, yang kemudian saya teruskan dengan mengontak Kang Toto Sugiharto, soal ‘matur’ supaya beliau bersiap ‘ngopeni’ atau menanggung konsumsi dan tempat teman-teman menginap.

Semula, acara kumpul-kumpul di Gunung Kelir diniatkan sekadar kangen-kangenan teman-teman lama yang sudah lama tak bersua. Bahkan, ketika ngobrol dengan Maztrie, sudah saya utarakan akan adanya ABF 2013 di Solo secara detil, dan mengajak teman-teman, termasuk komunitas (eks) Multiply, yang selama ini seolah-olah berada ‘di luar’ komunitas blogger. Padahal, bagi saya, justru teman-teman Mulkipli (demikian saya biasa menyebutnya), merupakan blogger-blogger kawakan, yang dalam hal persaudaraan antaranggota, jauh lebih solid dan mendalam intensitasnya dibanding komunitas blogger manapun, di Indonesia ini!

Bahkan, beberapa hari (atau sehari? Maaf, saya lupa) setelahnya, saya sempat ngobrol dengan Kang Toto  sebagai tuan rumah, bahwa saya turut mendukung acara kumpul-kumpul reunian di kediamannya, termasuk berjanji akan datang. Kebetulan, saya masih berhutang janji, hingga kini, untuk dolan ke Gunungkelir, yang konon surge benwit. Malah, ketika bicara tanggal, Kang Toto sempat merasa gak enak, sungkan karena berbarengan.

Seingat saya (tolong Kang Toto iku mengoreksi), saya bilang silakan saja ada event di saat bersamaan. Merdeka saja, kata saya. Malah, saya bilang, pertemuan teman-teman blogger di Gunungkelir menjadi wacana penyeimbang dari ASEAN Blogger Festival. Bagi saya, justru itu akan menjadi seru ketika kita niatkan sejak awal sebagai bentuk ‘dialog’ antarblogger. Selama kita mampu menyikapinya secara cerdas dan bijak, tak perlu ada yang dikuatirkan.

Secara pribadi, saya kemudian merasa ‘agak terganggu’ ketika kemudian muncul ‘perang-perangan’, terutama lewat Twitter, juga beberapa postingan. Makanya, saya berusaha konsisten, sering mengucapkan kesuksesan untuk kedua acara yang seolah-olah berhadap-hadapan, lewat tagar #ABF2013 dan #ngopikere.

Ketika ‘perang terjadi’, ada akun seorang teman dari ibukota yang memancing-mancing secara nomention. Arahnya jelas, walau maunya disamarkan. Ya, namanya juga selebritas daring, riuhlah kemudian di linimasa. ABF 2013, karena peserta menginap di hotel berbintang, lantas diasosiasikan sebagai golongan berpunya, ningrat, manja, atau apalah sebutan lainnya.  Sebaliknya, yang di Gunungkelir lantas seperti dipertegas ke-kere-annya.

Menyedihkan memang… Yang di Solo bersponsor, dan berbau pemerintah lantas diasosiasikan sebagai pihak yang ‘tumpul’ dalam soal keberpihakan. Saya paham, sebagian teman-teman penggiat paham kebebasan, lantas terkesan menggiring opini bahwa pertemuan di Solo tak berguna. Malah, olok-olok lomba masak dan bersepeda menyeberang benua, muncul di linimasa.

Andai teman-teman mau terlibat di dalamnya, maksudnya ABF 2013, mungkin mereka bisa mewarnai materi diskusi dan gelaran-gelaran sampingan, termasuk melakukan konsolidasi jaringan dengan ‘memanfaatkan fasilitas’ pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri, yang melalui Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, yang banyak membantu mempertemukan komunitas blogger dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk seluruh negara anggota ASEAN.

Kalau ngomong kepentingan diri-sendiri, mungkin saya sudah tidak mau terlibat di ABF 2013, seperti saat menjelang pertemuan pertama di Bali, saya jengkel bahkan sempat mengutarakan pernyataan saya mundur sebagai deklarator ASEAN Blogger Community Indonesia Chapter. Tapi, mengingat keseriusan Kementerian Luar Negeri menempatkan diri sebagai fasilitator dan perbincangan mendalam dengan Pak Hazpohan, saya jadi paham, sejatinya panitia punya banyak keleluasaan melakukan banyak hal, termasuk membuat desain konten, jika perlu roadmap ASEAN Blogger Community, apalagi jika  dikaitkan dengan kepentingan peran strategis Indonesia dalam mewujudkan terbentuknya Komunitas ASEAN pada akhir 2015.

Tapi, ya begitulah akhirnya. Bias informasi dan prasangka melebar kemana-mana, hingga keriuhan belum juga mereda saat postingan ini diunggah.

Bagi saya, semua pihak  (swasta, pemerintah, pemerintah daerah, lembaga donor dan sebagainya) perlu dilibatkan untuk sebuah cita-cita mulia. Jujur, perencanaan yang matang tak berpadu dengan realitas di lapangan. Andai saya menuruti emosi pribadi, bisa saja saya melakukan ‘sabotase’ sehingga acara di Solo berantakan. Saya mampu dan sangat bisa melakukannya. Alasannya pun ada kalau mau dieksploitasi. Tapi, saya enggan melakukannya.

Saya dan teman-teman Bengawan, bahkan sudah menyiapkan skenario cadangan jika satu-dua perkara mengacaukan semuanya. Tanggung (moral) jawab kami sangat berat. Pemerintah Kota Surakarta dan Kementerian Luar Negeri adalah dua pihak yang kami bela. Jika gagal, kami akan turut menjadi pihak yang pertama kali terkena muntahan lahar panas, sehingga karenanya, musnah semua harapan yang sudah kami rintis dengan keterbatasan sumberdaya manusia dan sumber dana yang kami miliki.

Secara pribadi, saya memahami perasaan (dan kekecewaan) para aktivis kebebasan berekspresi. Sebaliknya, bukan berpretensi meremehkan teman-teman blogger yang menikmati kemerdekaan hidup dengan blogging secara happy dan fun, saya memilih menyertainya, hadir bersama mereka. Justru kepolosan merekalah yang menguatirkan saya, lantaran sewwaktu-waktu bisa terbuai dan tergelincir dalam aktivitas blogging dengan orientasi ekonomis dan eksistensi lifestyle semata, yang cenderung membuat mereka berjarak atau bahkan abai terhadap realitas (ekonomi, sosial, budaya, politik, dll) di sekitarnya.

Saya kira, tidak fair mendikte atau menarik-narik mereka ke dalam tema-tema ‘perjuangan’ yang kita mau, selain memang tidak pantas dan tak perlu. Secara pribadi, intensitas hubungan akan melahirkan proses alamiah, yang kelak akan bisa dipetik buah dari pohon bernama interaksi.

Celakanya, dua event di tempat berbeda, yang mestinya berlangsung asik-asik saja, menjadi memanas, seolah aksi-reaksi. Ditambah, ada keterlibatan ‘dendam’ satu-dua orang di dalamnya, sehingga gelaran yang satu menjadi seolah-olah menegasikan gelaran lainnya. Menyedihkan memang…

Andai teman-teman mau duduk bersama, menyusun agenda dan mengatur strategi bersama, mungkin tak lantas jadi ‘perang terbuka’ dan memunculkan ‘perang dingin’  sesudahnya. Sejujurnya, saya suka dengan konsep awal event yang kemudian bertajuk #ngopikere, sama dengan optimisme saya menyambut ASEAN Blogger Festival.

Sekali lagi, itu semua berdasar pengandaian. Dan pengandaian, bisa saja tak terwujud, seperti kemarin itu….. Silakan renungkan sendiri, siapa yang senang dan bertepuk tangan atas kejadian semacam ini…

Percayalah, tulisan ini masih akan bersambung….. Tunggu saja kelanjutannya.

32 thoughts on “Andai Mau Terlibat

  1. Adanya kesepahaman untuk mewujudkan ASEAN Community 2015 justru menjadi momentum people to people untuk lebih memegang peran secara dominan dibandingkan G to G sebagaimana selama ini. Dan di sinilah peranan teman-teman blogger menemukan momentum strategisnya sebagai pemerkuat pilar sosial budaya. Blogger di Indonesia adalah blogger yang sangat beruntung oleh iklim kebebasan perpendapat dan berekspresi yang terbuka lebar-lebar, meskipun terkadang kebablasan. Bandingkan dengan rekan-rekan blogger di negara ASEAN yang lain. Di Thailand, di sisi pemerintahan memang ada sedikit kelonggaran kebebasan, namun jangan main-main jika seseorang menghujat atau menjelek-jelekkan raja! Ia pasti akan mendapatkan hukuman berat. Di Malaysia, sumbatan politik macet sehingga blog banyak dipergunakan untuk menyalurkan kritik dan aspirasi politik yang terkadang membawa pelakunya didakwakan pasal pencemaran nama baik ataupun fitnah pejabat. Hanya blogger Philipina yang memiliki kebebasan berekspresi mendekati di negara kita.

  2. Udara malam ini tidak terlalu dingin sehingga banyak orang yang lalu lalang disekitar Nortwest Street, Washington DC. Sebuah kawasan banyak kedai makanan, bar atau toko toko, dimana saya menghabiskan waktu bersama teman lama dari Indonesia yang bekerja sebagai lawyer disini. Sambil menikmati kuliner Afrika di sebuah restaurant Ethiopia, saya memperhatikan time line tentang hajatan ASEAN Blogger Festival di Solo. Senangnya melihat hiruk pikuk time line dari seluruh Indonesia. Ada yang bergembira bisa kopdar bertemu teman teman baru dari kawasan ASEAN. Ada juga yang nyinyir mempertanyakan hajatan ini. Ada juga yang mengutip di time linenya, ini sekadar komunitas EO mantenan ( perkawinan ). Saya hanya tersenyum. Bukankah kita harus bergembira dengan kehidupan demokrasi dalam menyampaikan kebebasan ekspresi ini ?

  3. ini dia nih, kalau sudah mulai berkotak-kotak. maka sedikitpun terpancing langsung begini kondisinya. Pada dasarnya semua akan baik baik saja. tapi seru juga bisa aktif dikegiatan seperti ini, semoga sukses untuk acara yang lain.

  4. Mantep, kang 😀

    Aku bukannya gak denger suara2 gak enak yg berseliweran menyoal dua acara itu. Ben wae lah. Semua boleh berpendapat ini dan itu. Yg jelas aku berterimakasih banget udah diundang dan diberi kesempatan ngoceh di depan temen2. Bersyukur bisa ketemu lagi sama temen2 blogger yg lama gak ketemu termasuk njenengan, ketemu lg tmn2 blogger asean yg pernah jumpa di Bali 2011. Seneng banget ketemu tmn2 baru dari seluruh Indonesia. Ini bikin aku makin semangat buat khatam jalan2 ke sebanyak mungkin kota dan pulau di Indonesia. Dari pertemuan kemaren, setidaknya udah ada bbrp rencana perjalanan buat tahun depan. Kalo ada yg nganggep kami2 ini, sekelompok blogger yg dianggap lebih hina dari kelompok yg lain ini kalao njenengan ngerti maksudku kang, memanfaatkan kesempatan supaya dpt job lebih banyak, atau dpt sponsor yg mau bayarin ongkos jalan2, ya monggo aja. Aku gak berharap disponsorin siapa2 kok. Selama ini jg selalu bayar sendiri. Disponsori sama Tuhan. Hehehe.. Jadi ya silakan aja nyinyir sampe bosen mempertahankan tebakan ngawur yg entah kenapa atau dari mana asalnya.

    Masih getun kemaren gak jadi ke angkringan. Kapan2 nggih, semoga masih diberi umur panjang dan sempet ngopi2 gojek kere sama njenengan 🙂

  5. Mas, saya lihat sampeyan pas naik Jaladara. Tak tinggal noleh sebentar sampeyan sudah ilang. Saya mau cari, sayangnya saya harus mengejar pesawat pulang ke Pekanbaru. Saya ngikuti soal diatas di hari terakhir. Hari2 awal, mana sempat 😀 . Dan saya sedih banget, karena yg obong2 justru beliau2 panutan saya, yg darinya saya belajar ngeblog yg baik.
    Event ini bagi orang luar Jawa sangat luar biasa krn membuka mata kami terhadap banyak kesempatan berekspresi. Makanya di seminar saya sempat protes kenapa dari Sumatra, pulau sebesar itu cuma 10 orang, sementara dari Jawa sampai hampir 200 orang. Sepulang dr ABFI, saya diundang sbg dosen tamu di UIN Suska. Pengalaman ABFI saya ceritakan semua untuk mendorong teman2 di Sumatra mempublikasikan artikel2nya agar mereka dikenal oleh blogger2 di Jakarta & undangan2 spt itu bisa lbh banyak lagi didapat di masa depan demi meluaskan wacana mereka.
    Sayangnya, event yang sedemikian berharga bagi kami di Sumatra juga membuka mata saya, bahwa blogger2 Jawa itu banyak pula yang nyinyir dan jahat. Kami memang sepolos itu Mas, kami memang belum kritis dan tidak paham intrik2. Yang kami perlukan hanya kesempatan seperti di ABFI itu sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin. Setelah itu proses pematangan kami terhadap berbagai issue akan berjalan dengan sendirinya.
    Matur nuwun sudah menerima kami dengan baik di Solo. Pengalaman tersebut tidak sekedar jagongan manten buat kami. It’s a great deal!

    hehehe…mbak jangan salah sangka, yaaa… setahu saya, tak seorang pun pantas disebut obong-obong atau menyulut perkara. yang terjadi, ada satu-dua membuat pernyataan (di twitter), lantas disambar mentah-mentah, sehingga muncul keriuhan.

    postingan ini dan yang sebelumnya, pun (MAUNYA) hendak menunjukkan sejumlah hal, yang bisa jadi, merupakan latar persoalan di masa kemarin yang belum tuntas diselesaikan, sehingga menjadi modal membuat kegaduhan. saya hanya mengajak becermin, kembali mawas diri.

    soal kenyinyiran blogger di Jawa, abaikan saja deh. wong saya juga termasuk barisan nyinyir dalam segala hal. hahaha… nyinyir mungkin cuma soal pilihan kata yang bisa ditafsir sedemikian rupa. padahal, maunya hore-hore semata.

    sebaiknya, tak perlu bilang jahat segala. wong cuma begitu saja, kok.
    tapi saya sepakat, mestinya event demikian tidak lagi konsentrasi di Jawa, sebab Jawa bukanlah wakil Indonesia. sebaiknya kita semua, duduk bersama mendesak pemerintah menjalankan mandat negara, untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bersama. sederhananya, adil membagi benwit hingga ke luar Jawa, supaya kesenjangan digital tidak lagi ada di bumi Nusantara. ini lebih krusial diperjuangkan bersama dibandingkan hore-hore dan hura-hura semata.

    ABFI, mungkin hanya salah satu contoh saja. kita masih bisa belajar bersama lewat banyak event. saya sih berharap ada Pesta Blogger lagi di kemudian hari, tentu dengan melibatkan sebanyak mungkin peserta dari berbagai pelosok Nusantara. Kopdar Blogger Nusantara pun patut kita apresiasi tinggi karena mau menginisiasi gelaran besar di luar Jawa. Pun seperti InternetSehat yang bersedia keliling Indonesia.

    ada sangat banyak komunitas di Indonesia dengan fokus perhatian beragam, seperti Fotografer.net, IndonesiaMengajar, Akademi Berbagi, Tangan di Atas, dan sebagainya. akan menarik jika para penggeraknya kumpul bareng, duduk bersama, merumuskan strategi bersama (eh, kok jadi serius gitu?), lalu berbagi peran. toh, muaranya sama, untuk kemaslahatan sebanyak mungkin warga/masyarakat Indonesia.

    sebaiknya, Jawa jangan jadi kiblat. Jawa jangan dijadikan patokan. lebih baik bersama-sama, melakukan advokasi bersama memajukan Indonesia, secara merata.

    kalau di ABF 2013 kemarin, Jawa tampak mendominasi, kayaknya itu menyangkut keterbatasan dana yang dikelola dann diupayakan oleh panitia. banyaknya peserta dari Jawa, ya lagi-lagi, lantaran secara geografis murah dan mudah dijangkau. bukan hendak membeda-bedakan, saya kira.

    semoga cukup menjelaskan kenyataan di lapangan…

    /blt/

  6. jadi ingin bikin postingan juga tentang acara di Solo kemarin 🙂 banyak kegelisahan yang sebenarnya ingin dituangkan.

    tapi kalau mau ditanya, jelas saya sangat luar biasa have fun di Solo 🙂 dan ini komentar saya murni dari sisi peserta sebab saya kali ini hanya sebagai peserta biasa saja hihi..

    thanks to pakde Blontank, panitia2 BFI, panitia2 lokal, teman2 Bengawan.. kalian membuat akhir pekan saya sangat luar biasa refreshing ^_^
    semoga bisa ke Solo lagi kapan-kapan 🙂

  7. malah baru denger nih yang ngopi kere ntu.
    semua kan ada positif n negatifnya.
    pasti dibalik “perang perangan ” tadi ada positifnya juga.
    bagus lah di tulis secara lugas begini, tetapi lebih baik dibicarakan bersama di warkop aja, dari pada ntar menjadi isu nggak jelas.

    salam super

  8. Salam kenal untuk Pakdhe , Dua event yang menarik yang sebenarnya ingin saya datangi.
    Andai tempat mas Toto dekat dan waktu lebih leluasa, mungkin bisa sempatkan diri untuk hadir sebentar di sana.
    Biarkan saja kalau yang bermasalah nanti juga adem sendiri, eh 🙂
    Yang penting bukan kita-kita. Dalam setiap acara yang ada kan silaturahim dan mempererat hubungan satu sama lain. Semoga ^_^

    Salam

  9. DV

    Aku mencoba untuk nggak bias antara pihak penyelenggara dengan konten penyelenggaraan ditambah dengan komitmen organisasi.

    Lebih baik kutunggu tulisanmu berikutnya yang semoga lebih bisa menjelaskan posisi per posisi person yang ada di sana. Itupun jika berkenan 🙂

    Setidaknya aku sudah komentar, seperti yang kau minta dan aku mencoba untuk tak mengecewakanmu 🙂

  10. ini penyelenggara ABF dan #ngopikere pada nggak ada masalah. anehnya, malah pihak lain yang pada panas atau bikin suasana jadi gaduh dan panas.

    pak dhe, kalau Njenengan ke GunungKelir, mensyen saya ya.

    ora mung mensyen. yen perlu, kusiapkan mansion juga… :p
    /blt/

  11. saya justru salut kepada kedua acara tersebut yang bisa mendatangkan para blogger dan onliners. Perbedaan merupakan hal biasa tapi seharusnya persamaan yang dikedepankan. Acara ABFI2013 dan Ngopikere sama-sama pertemuan blogger dan onliners yang bisa mempererat tali silaturrahmi..

    memang kita harus mengambil hikmah atas semua peristiwa… ambil yang baik, buang yang tak baik.
    /blt/

  12. biar saja mereka menyebut sebagai perang dingin atau apapun yang penting bagi saya tak ada masalah dan saya tidak mempermasalahkan mari kita duduk sebagai orang tua dan saya menyelenggara bukan sebagai blogger tidak perlu mengusik atau mengatur banyak pihak untuk mereka reka keadaan karena bagi saya tidak penting saya hanya sekedar tersenyum ketika muncul postingan bias dan saya memutuskan tidak menanggapi karena saya memaklumi sebagai kebebasan berpendapat bahkan terhadap postingan yang dangkal fakta pun saya tak menganggapnya sebagai masalah.
    kepada berbagai pihak yang memanfaatkan acara saya sebagai bentuk perang saya pun tidak merasa dirugikan saya hanya mrajakke tamu dan GUNUNGKELIR sebenarnya adalah pertapan bukan KESATRIAN yang melatih perang jika ada tagar yang menyudutkan itu adalah peserta yang belum MESUH semoga sepulangnya mendapat hidayah .
    yang jelas saya pemilik gunungkelir penyelenggara sekaligus penyedia dan kang blontankpoer sebagai penyelenggara event di solo adalah sesama orang tua yang tidak mudah tersulut provokasi apapun saya juga tidak menanggapi kemiringan pemberitaan serta tidak ingin membatasi dan mengatur siapapun untuk menulis sesuka hati bahkan bagi orang yang ingin numpang tenar melalui tulisan ngopikere vs abf buat saya mereka sah saja
    saya lebih mementingkan masyarakat budaya gunungkelir yang merasa bangga bisa tampil menghibur dalam acara.
    dan saya lebih mementingkan berbagai kalangan yang siap membantu mengembangkan karya budaya gunungkelir,
    wis kang bagiku tak ada masalah yang perlu saya bicarakan tinggal menunggu sampean ngopi di panggung budaya gunungkelir.

    saya sedang menyiapkan diri, mengatur waktu tilik Gunungkelir, Kang… segera ditunaikan…
    /blt/

  13. Den Kenthir

    Apapun eventnya bila melibatkan blogger selalu menjadi polemik. Dimaklumi aja 😀

    kalau kita sih, pasti full maklum. ya, kan?
    /blt/

  14. moga ini jadi nasihat yang jleb buat temen2 yg pertama memicu perang tagar dan yg nomention, setuju uraian kang MT dan Pak Amriel, sejatinya kedua hajatan yg terjadi adalah bukti eksistensi onliners indonesia yg bisa ditunjukkan ke asean bahkan dunia mungkin.

    moga next event ketika ada waktu sama malah bisa berbagi informasi, saling dukung satu sama lain.

    semoga !!!

    harus saling bersinergi. dukung-mendukung biar urusan politisi saja. hahaha…
    /blt/

  15. Pakde Blontank, terimakasih atas tulisannya.

    Sebagai orang yang terlibat langsung dalam acara ABFI 2013 saya sama sedihnya dengan Pakde menyaksikan perkembangan terakhir yg mengarah kepada dikotomi antara #ABFI dan #ngopikere.
    Saya sangat menghargai usaha, kerja keras dan dedikasi teman2 panitia ABFI –yang semuanya adalah blogger juga–termasuk tentu saja dukungan penuh tim panitia lokal dari komunitas blogger Bengawan yg secara kompak dan terpadu menyelenggarakan event besar ini. Saya juga menyatakan salut dan apresiasi kepada teman2 yang melaksanakan kegiatan diskusi di acara #Ngopikere. Buat saya, kedua acara ini menunjukkan betapa blogger Indonesia memiliki relasi dan interaksi yang sangat kuat lintas komunitas,lintas wilayah, lintas generasi. Dan saya sepenuhnya sepakat bahwa kedua event ini sesungguhnya bisa saling menguatkan dan melengkapi dalam konteks menjalin komunikasi lebih erat dan intens antar blogger dalam semangat kekeluargaan, dengan bentuk pertemuan apapun itu.
    Sebenarnya, kita memiliki keleluasaan untuk “mewarnai” konten acara #ABFI. Tidak hanya materi2 yang bernuansa serius namun juga kegiatan yang sifatnya santai dan kekeluargaan. Semuanya berusaha diakomodir dengan spirit Dari, Oleh & Untuk Blogger tanpa mengabaikan tema sentral yg sudah ditetapkan.

    Pakde Blontank dan teman2 Bengawan sebagai tuan rumah yg baik, telah memberikan banyak kontribusi positif untuk membuat acara ABFI2013 lebih berkesan dan bermakna. Terlepas dari segala kontraversi atas kedua acara ini, saya meyakini kita bisa memetik hikmah terbaik disana. Baik teman2 panitia di #ABFI maupun #ngopikere sudah mempersembahkan kontribusi terbaik bagi perkembangan dunia blog di Indonesia. Buat saya tak perlu mempertajam friksi, memperuncing perbedaan karena toh pada akhirnya akan merugikan kita sendiri.

    Mari nikmati semua pertemuan, hayati segala ketulusan persahabatan.

    Tanpa prasangka. Tanpa Angkara.

  16. menurut saya kedua acara itu bagus, semoga saya nanti bisa mengikuti acara2 berikutnya dan semoga semuanya bisa berpikiran positif, kalo ada kekurangan yang harus kita tambah… 🙂 salam

    andai ada waktu, pun saya ingin datang ke Gunungkelir, hari-hari itu…
    /blt/

  17. mt

    Boleh jadi posisi kita sama, mas. Sebagai penyelenggara kita berupaya melayani tetamu sekaligus memancing keakraban di tengah perang tagar. Kita sama-sama bisa membaca, siapa yg twitnya muncul dari kegelisahan atas perseteruan yg sebenarnya tak benar-benar ada. Kita juga membaca bersama mereka yg terjebak dalam suasana perkubuan, merasa paling baik, dan saling lempar maki-puji.

    Namun kenyataannya posisi kita (termasuk mas Toto) tak dipandang secara positif. Mereka yg tak tahu perbincangan kita sejak di Bali dan pertelepon, sibuk mempromosikan dan tak terkendali.

    Bagiku, itulah realitas kita sampai sejauh ini. Miris tetapi kita selalu punya kesempatan untuk mengembalikan keadaan agar teman-teman dapat bersikap lebih arif dalam menyatukan keragaman. Kuanggap ini sbg latihan menuju kebersamaan tanpa praduga, keakraban tanpa rahasia.

    Sepanjang acara berlangsung di dua lokasi pun kita saling kontak baik di twitter/sms. Saya-mas toto-mas blontank tak putus berkomunikasi bahkan sampai kedua acara berakhir. Namun tak banyak orang tahu keakraban kita yg sebenarnya. Anak-anak terlanjur terjebak dlm permainan. Ya, anak-anak. Kumaklumi sikap mereka dengan tak mengomentari sedikitpun tulisan yg makin memanaskan suasana, di blog/twitter.

    Siapa yg diuntungkan? Bagiku sendiri, cukuplah untuk sekadar tahu peta kekuatan kita sebagai onliners Indonesia. Aku biarkan mereka yg seolah memanfaatkan event untuk kepentingannya. Bahkan boleh jadi mereka tak tahu kalau aku tahu sedang dimanfaatkan. Lebih baik kubersikap lugu.

    Tetapi #ngopikere kunilai tak keluar dari rencananya. Bermacam komunitas (bukan hanya blogger dan mutiplier) menjalin koneksi dg baik. Kalangan penulis, penyair, penyanyi, penggerak desa, jurnalis, blogger, dan entah kalangan mana lagi, berkumpul dalam suasana akrab, ngeriung, berencana, tanpa memedulikan keriuhan perang tagar. Itu yg kulihat. Sehingga jika mau dihitung, amat sedikit yg nyinyir ketimbang yg bersikap positif. Aku yakin begitu pun yg terjadi di Solo saat itu.

    Jabat erat!

    terima kasih MT. kita harus meninggalkan keriuhan yang tak perlu. jabat erat, saling berpelukan jelas lebih asik…
    /blt/

  18. sebuah perjalanan proses harus dimaknai dengan kepala dingin….selalu berusaha mencari sisi baik dan positif nampaknya akan lebih membawa makna bagi atmosfer perbloggeran di jagad Nusantara ini, monggo sedoyo!

    sepakat, tanpa reserve…
    /blt/

  19. sepakat dhe..segala acara yang diselenggarakan pasti ada kelebihan dan kekurangan, positif dan negatif..komentar juga bersambung juga 😀

    negaitfnya untuk berkaca agak menjadi lebih baik, positifnya gak boleh untuk modal jumawa. biasa-biasa saja kan, ya?
    /blt/

  20. semoga dan selalu semoga, pengalaman ini tidak terulang lagi.

    Di Solo, maksud saya ABFI, jujur disana banyak sekali blogger baru dan muda yang potensial.
    Saya senang sekali bisa bertemu mereka seolah berkaca 3 tahun lalu.
    Mereka sampai bela2 datang ke Solo meski tidak diundang dan tidak punya penginapan.
    Sungguh, niat bagi saya tidak penting kecuali tindakan teman2 yang kemarin datang tanpa terduga
    padahal baru pulang dari Semarang 😀

    tapi sudahlah,
    semua punya arti masing-masing.

    mari tetap menjaga tali silaturahmi dan saya akan terus beljar untuk hal ini

    **semangat panitia, liat mas Hendri kemarin yg begitu kerepotan, sedih juga rasanya mengingat pernah mengalami juga beberapa waktu lalu menjadi panitia Semarang blogger festival.

    Salam dan mohon maaf buat Pakde
    Semarang blum bisa banyak membantu

    sip. lain kali dibantu, yaa….. *pak tarno style*
    /blt/

  21. lagi ga bisa gabung, pakdhe. tapi di timeline saya seru banget acaranya, dari seminar sampe gila2an naik werkudara, asyik banget tampaknya. ngiri pengen ikut karena banyak nama temen ngeblog hore yg mainan twitter, statusnya ada di solo semua. tapi karena memang harus memilih, saya di rumah saja ngeblog 😀

    padahal aku menantimu lho, Neng… dulu mampir RBI juga cuma beberapa menit saja…
    /blt/

  22. cukup memahami, menyadari, semua yang terjadi di Solo 3 hari lalu adalah penyatuan dan dari ujung Sumatera hingga Papua pun tahu kita bisa berkumpul untuk berbagi cerita dengan segala kekurangan yang ada sungguh bisa dimaklumi. Pasti ke depan akan lebih baik lagi 🙂

    seharusnya menjadi jauh lebih baik lagi. sebaiknya semua terlibat, minimal sumbang saran/masukan dan kritik…
    /blt/

  23. seandainya jauh sebelum acara, duduk bareng mungkin bisa bagus dua-duanya. Tanggal bersamaan dari dua acara ini memang rawan bias.
    Ngapunten kalau saya jadi emosi dan lancang bikin postingan yang juga akhirnya membias. Tapi niatku mung siji Dhe, belajar nulis jujur. Terus terang saya sudah capek dengan perang dingin ini. Dipungkiri atau tidak, banyak teman-teman yang akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya dan memberikan testimoninya di komentar blog saya. Yang saya tangkap dari mereka, sama. Capek *ngeluk boyok

    wis lah, intine semua berniat baik. secara pribadi, aku mendukung kok acara #ngopikere, sama dengan dukungan ke #ABF2013. semua sama-sama bagus, mengisi ‘lowong’-nya event netizen di Indonesia dalam skala besar…

    /blt/

Leave a Reply