Bibit Waluyo Jualan Jokowi

Andai Bibit Waluyo punya rasa malu, ia pasti tak akan menampilkan foto dirinya dirinya bersanding dengan foto Jokowi. Terpampang mencolok pada billboard di ujung Jl. Slamet Riyadi, Solo, Bibit (bersama Jokowi) seperti ingin menyapa siapa saja yang hendak memasuki kompleks alun-alun utara atau Pasa Klewer. Seingat saya, papan reklame di pojok kantor Graha Solo Raya itu baru terpasang pada 2013, ketika Pak Jokowi sudah menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Jika ingin menyapa siapa saja dengan tulus, akan lebih baik jika ia tampil sendirian, atau bersama Rustriningsih, karena kapasitasnya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah. Dan, karena Kota Surakarta adalah bagian dari Provinsi Jawa Tengah, maka ia berhak memajang foto dirinya, termasuk di kawasan strategis seperti di kompleks Graha Solo Raya yang merupakan gedung untuk pameran produk warga Jawa Tengah itu.

Tapi, melihat foto itu, sungguh saya geli sendiri. Saya ingat bagaimana Bibit menyebut Jokowi sebagai walikota bodoh, hanya lantaran ketika menjawab Walikota Surakarta, ia menolak penghancuran kompleks bekas pabrik es Sari Petojo, yang merupakan bangunan cagar budaya, oleh investor yang direstui sang gubernur.

Kalau memang nJawani, artinya hidup dengan mengedepankan ketulusan budi dan rasa, lebih pantas Bibit memasang foto Walikota Surakarta sekarang, FX Hadi Rudyatmo. Apalagi, baliho itu dilabeli institusi pemasang: Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah.

Tapi ya begitulah, seorang Bibit. Sepertinya ia kelewat bernafsu menjabat kembali sebagai gubernur, sehingga merasa perlu nampang narsis di mana-mana, kalau perlu ‘asal embat’. Lewat banyak baliho raksasa pula, wajahnya tampil bak bintang iklan yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah. Ada yang bertema hemat listrik yang dipasang oleh PT PLN (Distribusi Jawa Tengah), ada sosialisasi pajak (Kantor Pajak), dan reklame-reklame lain seperti rumah-rumah sakit milik provinsi.

Patut diduga, itulah praktek kurang elok yang dilakukan dalam kapasitasnya sebagai gubernur aktif yang sedang berusaha mencalonkan kembali agar bisa menduduki kursi kekuasaan pada masa jabatan keduanya. Keuntungan incumbent memang di situ, bisa bermain-main kekuasaan, meski agak repot juga jika harus disoal sebagai bentuk penyelewengan/penggunaan kekuasaan.

Saya pribadi, lebih suka menyebutnya sebagai kewajaran semata, sebagai upaya calon gubernur yang merasa kurang percaya diri, kuatir orang Jawa Tengah tak mengenal wajahnya, sehingga segala daya dan upaya ditempuhnya. Apalagi, mungkin selama menjabat gubernur, Bibit kelewat hati-hati, sehingga tak bisa mengumpulkan duit untuk biaya kampanye, yang ujung-ujungnya dibantu sejumlah dinas dan perusahaan memasang wajahnya di papan-papan reklame mereka.

Apapun alasan Bibit, yang dilakukannya di Solo sungguh menggelikan. Ia bersanding dengan orang yang dulu ‘dihabisinya’ dan selalu diremehkannya.

Rupanya, ia benar-benar kurang percaya diri sehingga harus menjual Jokowi untuk mendongkrak popularitasnya, syukur-syukur warga Jawa Tengah aware pada kebaikan dirinya (semoga masih punya. Hehehe…), lalu memilihnya untuk masa jawabat keduanya.

Kalau saya pribadi, ingin merekomendasikan Anda, agar tidak memilihnya dalam Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur, akhir Mei mendatang

12 thoughts on “Bibit Waluyo Jualan Jokowi

  1. oke pakdhe blontak, soal eks Sari Petodjo gimana? katanya ditolak tapi keputusan akhir peneliti kompleks itu tidak seluruhnya Benda Bangunan Bersejarah?
    mohon pencerahannya pakdhe, kalau menolak begituan hanya untuk popularitas? yang menurutku akhirnya juga hotel dan mall itu dibangun di eks Sari Petodjo gimana? Monggo dibahas pakdhe.

    maaf sebelumnya tak komenin,

  2. wongndeso

    Benar…sedulur-sedulur…..ayo sukseskan pilgub jateng dg hati nurani. Biarlah Jokowi memimpin Jakarta. Cari pemimpin Jateng yang tidak mendompleng popularitas orang lain. Gubernur DKI beda dengan Gubernur Jateng……iya kan..??????

  3. paijo suparjo

    HEHEHEHEEEE SOPO WAE GUBERNURE, AKU YO TETEP WAE KOYO NGENE…………. RAK NGGIH LERES TO PAKDHE POER………

  4. He he he, betul banget pakde, kenapa ga sendirian aja ya. Masa sih trend Indonesia saat ini kurang pede, selalu pakai background kalau mau jadi artis bilboard.. Makasih pakde

  5. DV

    Hehehe, operasi menjilat ludah sendiri kayaknya 😉
    Tapi genius juga sih caranya, membuat orang yang nggak faham akan berpikir bahwa ia adalah konconya Jokowi dan ini telikung yang sangat tajam terhadap PDI-P yang notabene adalah partainya Bibit dulu (dan partainya Jokowi sejak dulu sampai kini).

    Btw, piye prediksimu? Sajak’e bar Rustri ora sida diusung PDIP, pertarungan jadi agak sedikit lebih ramai ya?

  6. kok jadi orang yang ga tahu malu ya.. padahal ini orang sudah menjelek jelekan jokowi dulu. dengan memasang foto seperti itu ya sama saja bunuh diri namanya…

Leave a Reply