SBY bukan Soeharto

Nonton siaran berita di televisi, beberapa waktu lalu, saya geli sendiri. Dari tayangan itu saya jadi tahu kalau Pak Susilo Bambang Yudhoyono ternyata pernah mau mengangkat Fuad Bawazier jadi salah satu menterinya. Tapi, niat itu diurungkan karena, kata Pak SBY, Fuad memiliki persoalan yang potensial bermasalah di kemudian hari. Dengan pembatalan itu, ia merasa telah ‘menyelamatkan’ Fuad.

Gara-gara pernyataan resmi presiden seperti itu, tergelitiklah naluri nyinyir saya kepada sosok yang saya juluki sebagai Mr. Prihatin ini. ‘Keinginan’ menjadikan Fuad sebagai pembantunya (yang diurungkan), jelas tak perlu diceritakan. Apalagi kalau pokok soal SBY menyatakan itu terkait beredarnya dokumen pajak keluarga Presiden.

Stiker bergambar Soeharto dengan teks "Piye...enak jamanku, taa??" kini mulai banyak bermunculan. Ada yang ditempel di bak truk, di mobil angkutan hingga dipasang di tengah jalan rusak di tengah Kota Solo seperti di foto ini.

Saya, jujur saja, menganggap Pak Susilo ingin berlaku bak Soeharto dalam hal memaknai kuasa. Dalam membangun kekuatan politik, sejatinya SBY masih jauh tertinggal, timpang dalam segala hal. Mendiang Soeharto mengontrol penuh kekuatan politik. Militer dan badan intelijen ia kendalikan, Golkar dikuasai sepenuhnya (bahkan partai politik seperti PPP dan PDI). Semua kunci ekonomi pun di bawah kontrol Cendana sepenuhnya. Bagaimana dengan SBY? Bahkan di Partai Demokrat pun, ‘kerajaan kecilnya’ itu, tak sepenuhnya mampu ia kuasai. (Simak saja sepulang dari lawatan luar negerinya, saya tak yakin ia mampu secara mulus menggusur Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat (sebagaimana dikehendaki sebagian pendukungnya).

SBY jauh dari sebutan mampu mengontrol partai, yang bahkan secara resmi membuat kontrak politik berkoalisi dengan partai bentukannya. Slogan antikorupsinya justru terbukti sebaliknya di lapangan. Nazarudin, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya dan Andi Mallarangeng, kita tahu, terjerembab di kubangan perkara korupsi.

Ada banyak pelajaran penting dari Soeharto yang gagal dimengerti, apalagi lantas dijalankan SBY. Kalaupun dibuat-buat atau didesain skenario tingkah laku dan cara berpidato, Soeharto melakukannya dengan sangat baik. Bagai dramawan ulung, Soeharto mampu menjalankan peran ‘keaktoran’ secara total, penuh penghayatan, sehingga bahasa tubuh dan mimiknya tak pernah luput. Karena itu, sulit orang menyebut Soeharto sedang bersandiwara atau tidak. SBY?

Bahkan, untuk sebuah upacara panen raya padi, misalnya, ia masih tampak sosok jenderalnya. Dengan kata lain, ia tak mampu ajur ajer atau berlaku total laiknya petani, yang tidak menganggap lumpur atau kotoran di sawah sebagai sesuatu yang menurunkan eksistensi kemanusiaannya, yang kebetulan sedang menjadi presiden.

KaAKUan Pak Susilo kelihatan lebih menonjol. Ia kelewat sering dan merasa ‘harus’ menyampaikan sendiri secara verbal akan apa yang sudah dan akan diperbuatnya kepada publik. Juru bicara kepresidenan, pun kerap lupa menjalankan perannya. Alih-alih menyampaikan (kepada publik) atas semua hal terkaut dengan tugas dan tanggung jawab kepresidenan, yang sering terjadi justru ia memuji presiden. Dalam kapasitas sebagai ‘mulut’ presiden, tentu menjadi norak dan mengesankan derajad kenarsisan sang presiden. Celakanya, Pak Presiden pun membiarkan hal itu berlangsung terus, berulang, sehingga saya harus menyimpulkan ia tak paham filosofi tubuh.

Lazimnya, power seseorang itu tampak dan dirasakan oleh siapapun di luar pemilik ‘kuasa’. Bukan dipamerkan, padahal yang dipameri malah tertawa, atau malah terang-terangan berpaling, atau menutup telinga. Dulu, Soeharto berdehem saja sudah membuat orang buru-buru ‘introspeksi’ diri. Raut wajah pun tak pernah menampakkan ada kemarahan ketika ada hal yang tak berkenan. Namun, ketika satu-dua kata diucapkan, semua pihak yang disasar sudah gemetaran. Kata ‘digebuk’ yang dilontarkan Soeharto misalnya, sudah bikin nyali ciut orang-orang yang sedang melakukan perlawanan terhadapnya.

Bandingkan dengan pernyataan Pak Susilo alias SBY, yang meminta kader yang tak sejalan dengan Partai Demokrat segera hengkang, dimana nyata terlihat tak dihiraukan. Anas Urbaningrum yang diamputasi kekuasaannya sebagai ketua umum masih melenggang menerima kunjungan sejumlah politisi separtainya. Ia pun masih bisa beraktivitas biasa selayaknya Ketua Umum  Partai Demokrat sebelum rapat Majelis Tinggi mengeluarkan keputusan amputasi. Andai kejadian itu muncul di masa Soeharto, dijamin tak seorang pun berani mendekat Anas. Berkomunikasi lewat telepon pun tak akan dilakukan daripada ketahuan disadap.

Mestinya, SBY paham situasi demikian, kalau ia benar-benar menghayati ‘ajaran’ Soeharto, dimana ia pun pernah dekat dalam kapasitasnya sebagai ajudan. Kekuasaan Soeharto demikian efektif, termasuk ketika memilih pejabat tinggi, ia selalu mempertimbangkan kapasitas, kapabilitas individu, serta membaca rekam jejaknya. Sangat sedikit orang yang ditunjuknya untuk menduduki jabatan tertentu tak memenuhi kwalifikasi sehingga jadi perbincangan rakyat, bahkan yang awam sekalipun. Soeharto tak perlu membawa ‘tim hore’ untuk memancing tepuk tangan sebagai ‘respon’ atas penampilannya.

Di masa-masa akhir periode kepresidenannya (bedakan dengan istilah kepemimpinan :)), saya berharap SBY bisa menunjukkan ketegasannya jadi presiden. Tak perlu mengancam atau menyindir menteri yang tak becus bekerja atau hanya mengendepankan kepentingan partai/kelompok ia berasal, tetapi bisa menggunakan hak prerogatif (yang dijamin konstitusi) untuk memecat dan menggantinya.

Boleh saja dibilang mengigau kalau saya berharap sekali-kali SBY mau tampil tidak hanya ngagar-agari atau menakut-nakuti dengan ancaman, namun melakukan tindakan tanpa dipilemikkan sebelumnya. Tak usah tampil sok demokratis kalau hasil akhirnya justru menampakkan keragu-raguannya. Sederhananya: ia mau memecat satu saja (syukur beberapa) menteri yang kinerjanya buruk, lantas menggantinya dengan yang lebih mampu.

Kadang saya berpikir agak ekstrim. Misalnya, SBY tiba-tiba tampil otoriter, atau menjadi diktator sekalian, di akhir periode keduanya ini. Caranya pun bebas. Suka-suka Pak SBY saja. Mau disebut antidemokrasi pun bukan soal bagi saya. Yang penting saya tahu, Pak Susilo berani tampil beda, berubah, alias move on. Jika itu terjadi, kegagahan Pak Susilo akan menjadi sempurna. Bukan semata gandar atau postur tubuhnya semata.

Pak SBY, saya merestuimu jadi ‘diktator’. Cobalah! (Sebenarnya gak mudah juga jadi diktator -walau terpaksa, kalau dia bukan seorang pemberani).

Dengan menjadi diktator, saya yakin SBY baru bisa berbenah, membuat orang mau mengikuti semua perintahnya, bahkan hanya lewat berdehem atau mengisyaratkan dengan bahasa tubuh atau mimik wajah. Bangsa ini sudah kelewat lama vakum, merindukan ketegasan seseorang dalam posisi sebagai pemimpin.

Rakyat juga sudah bosan dengan jargon, himbauan dan sejenisnya. Belum kesulitan mencari makan akibat keriuhan/keributan politik saling sandera antarelit dan sesama kooruptor. Kita harus membenahi keadaan, supaya ‘kerinduan’ masyarakat terhadap masa-masa Soeharto yang reprresif-intimidatif, tidak terwujud. Gejala di masyarakat sudah sedemikian mencemaskan, menganggap Soeharto sebagai pemimpin terbaik, yang memberi ketenteraman, ketenangan dan kemudahan mencari uang serta stabilitas keamanan dan harga-harga kebutuhan hidup yang terjamin.

Masih banyak orang yang tak tahu, apalagi generasi kelahiran setelah pertengahan 1980-an yang kini mendominasi piramida kelompok usia produktif. Mereka tak tahu bagaimana pers diintimidasi, sehingga tak ada berita kegagalan pembangunan, penyingkiran aktivis sosial dan kelompok kritis.

Tak hanya SBY, semua elit dan masyarakat, termasuk penulis, harus terus mengupayakan persebaran pemahaman bahwa reformasi sejatinya menjanjikan perbaikan. Hanya saja, kini sedang dibajak elit-elit politik haus kekuasaan dan yang kapok miskin (dan dimiskinkan semasa Soeharto), sehingga kini rajin menumpuk kekayaan dengan memperalat kekuasaan.

Jaman Soeharto tetap tidak boleh lebih baik dari masa depan kita, bangsa dan negara Indonesia.

9 thoughts on “SBY bukan Soeharto

  1. emang SBY penting? wong SBY jadi presiden juga kita merasa nggak punya presiden to?….jadi sing hebat sejati itu memang rakyat Ngindonesia, presiden kayak apapun ya nggak apa-apa, pangan lan penggawean yo dha ngupaya dhewe-dhewe pakdhe!

  2. Ndak apa-apa lah kalau Pak SBY tetep begitu-begitu aja sampai Pemilu 2014 nanti, Dhe. Setidaknya Beliau berjasa karena sudah rela membuat para Capres 2014 nanti kelihatan lebih bagus 🙂

  3. sebenarnya SBY adalah satu satunya presiden yang boleh ditaktor… karena di dukung rakyat. jangan jangan dia tahu juga kali, kalau suara dukungannya dibuat buat gitu kali ya… 🙂 jadi takut sob…

  4. menurut hemat saya biarlah proses hukum berjalan manakala… sebagai presiden dan sebagai pribadi saya prihatin manakala …. kita harus mengedepankan proses demokratis manakala… aah manakala…

Leave a Reply