Rehabilitasi

Sepekan sudah Raffi Ahmad berada di tahanan Badan Narkotika Nasional (BNN) setelah disangka menggelar ‘pesta narkoba’ di rumahnya. Sebanyak 17 orang digelandang aparat antinarkoba, tapi mereka yang tak terbukti positif memakai narkoba dilepas, sementara sebagian yang positif dimasukkan pusat rehabilitasi korban narkotika, kecuali Raffi, sang tuan rumah. Sebuah perlakuan janggal, jika mengacu pada realitas pemberitaan.

Masih menurut pemberitaan media massa, yang narasumbernya tunggal, yakni dari BNN semata, Raffi diduga pakaw narkoba sejak tiga bulan silam. Jika benar demikian, menurut hemat saya, ia pun seharusnya masuk kategori korban. Dan jika posisinya adalah korban, mestinya ia pun masuk ke pusat rehabilitasi, sama dengan sejumlah rekannya.

Dari pengamatan terhadap pemberitaan di media massa, pun saya menemukan kejanggalan. Nama-nama orang yang ditangkap disamarkan dengan inisial. Yang diumbar hanya Raffi, Wanda Hamidah dan pasangan Irwansyah-Zaskia yang dilepas terlebih dahulu. Kenapa perlakuan berbeda, saya tak paham sama sekali.

Sekali lagi, saya tak kenal Raffi dan tak punya kepentingan apapun atas dirinya. Naluri saya, jika Raffi baru tiga bulan mengonsumsi narkoba, sepertinya tak dijerat pasal dengan ancaman hukuman sedemikian berat, kecuali ia terbukti menjadi pengedar narkoba untuk kalangan (katakanlah) pesohor, seperti para artis itu.

Meski punya ‘pasar potensial’, tak mudah seorang pemakai ‘naik kelas’ menjadi pengedar atau bandar, apalagi hanya dalam waktu tiga bulan. Lagi pula, dengan seabrek jadwal yang padat dan dengan nilai kontrak yang tak mungkin murah, agak aneh jika Raffi memilih menjual narkoba demi mengejar penghasilan besar, apalagi dengan risiko tak sepadan. Yang paling masuk akal, Raffi butuh dipping agar staminanya selalu prima untuk seabreg aktivitas komersialnya.

Tapi, hanya Tuhan, Raffi dan aparat BNN yang tahu kondisi dan peran Raffi sesungguhnya.

Kembali ke pokok soal mengenai rehabilitasi, agaknya perlu juga dicermati. Saya kuatir, penanganan korban tak optimal di pusat-pusat rehabilitasi korban kecanduan narkotika. Konon, pasien teramat banyak, tak sebanding dengan jumlah tenaga ahlinya. Dan kita tahu, merawat pecandu bukan persoalan gampang. Mereka tak cuma butuh perawatan media semata, namun memerlukan keterlibatan psikiater atau ahli-ahli kejiwaan.

Dan, pemakai narkoba hampir bisa dipastikan bermasalah dengan kondisi kejiwaan, akibat beraneka ragam aktivitas beserta tuntutan-tuntutan logisnya. Awam sering terkecoh dengan metode-metode instan dalam penanganan, seperti detoksifikasi yang masih kerap disalahpahami sebagai cara praktis memutus ketergantungan pada zat-zat kimia, lantaran dengan detoksifikasi maka seseorang lantas bersih dari pengaruh narkoba. Padahal, seseorang bisa relaps akibat menemukan lingkungan yang sama, yang melatari seseorang mengonsumsi narkoba.

Gampang begini: jika Raffi benar terbukti jadi pengedar atau bandar, ya memang sudah sepantasnya dihukun setimpal agar dia jera, dan berimbas orang takut mendekati narkoba. Tapi jika ia hanyalah korban, andai benar baru tiga bulan, jauh lebih baik jika segera diselamatkan karena rentang waktu sependek itu, Raffi lebih pantas masuk kategori newbie. Karena newbie alias ‘pendatang baru’, bisa dimaklumi jika ia ‘tak tahu apa-apa’.

Kecuali….sekali lagi, kecuali, Raffi memang sengaja dijadikan kambing haram lantaran di antara orang yabg digelandang, memang ada yang perlu ‘diselamatkan’. Sekian.

2 thoughts on “Rehabilitasi

  1. sejujurnya, saya juga tertarik utk lebih tau nama2 lain yg digelandang itu daripada semata melihat berita tentang Raffi, barangkali memang ada hal lain yg perlu “diamankan” dari hiruk pikuk media

Leave a Reply