Pesta

Setiap mendengar kata ‘pesta’, gambaran yang muncul di kepala adalah keramaian, keriangan, penuh suka cita. Makanan dan minuman tersaji dalam jumlah banyak, bahkan bisa berlipat dari asumsi jumlah penikmat. Juga ada hiburan, sebagai penggenap sekaligus penanda bahwa sebuah pesta memang ada, karena sudah dirancang, agar semua yang hadir benar-benar menikmati.

Tapi, gambaran ‘pesta narkoba’ di rumah artis Raffi Ahmad, Minggu (27/1) pagi, buyar seketika. Apalagi setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) mengumumkan secara resmi jumlah barbuk alias barang bukti dari penggerebekan mereka. Hanya dua linting cimeng alias ganja dan beberapa (empat?) kapsul ekstasi!

Lebih menyebalkan lagi, dari hasil tes urin tujuh belas tamu (dan tuan rumah) ‘pesta’, hanya lima orang terindikasi positif mengonsumsi barang terlarang itu. Pesta macam apakah itu? Kelatahan awak media massa ataukah semacam labelling oleh polisi terhadap sebuah kegiatan yang diikuti beberapa orang, sehingga yang demikian disebut pesta?

Dari jumlah hasil tangkapan dan barang bukti, sejatinya peristiwa pagi itu, saya cenderung menyebut BNN sangat gegabah dan tidak profesional. Kalau memang orang yang jadi target untuk ditangkap sudah dikuntit selama tiga bulan, mestinya mereka yakin bahwa dalam ‘pesta’ tersebut akan ada banyak jenis ‘hidangan’ yang enak-enak, bukan cuma gelek dan ineks yang kini termasuk cemen, biasa saja.

Dilihat dari latar belakang ‘tamu pesta’ yang terdiri para pesohor, termasuk politikus Wanda Hamidah, kumpul-kumpul 17 orang itu lebih pantas disebut ‘pesta narkoba’ jika di antara menu terdapat sabu-sabu, dan (apalagi) heroin. Ibarat hidangan pesta perkawinan, suguhan bagi tetamu saat itu hanya nasi kucing, pun dalam jumlah sangat tak sepadan. Mungkin sang tuan rumah sedang sangat miskin.

Lagi pula, tes urin yang mestinya bisa dilakukan seketika dan tak butuh waktu seharian untuk mengetahui hasilnya hingga seharian, mengesankan kerja BNN seperti kerja polisi selevel Polsek! Tak heran jika lantas tindakan BNN itu menuai kontroversi, bahkan prasangka motif aksi penggerebekan.

Kalau sebuah pesta hanya tersisa dua linting ganja, sepertinya sang organizer lagi bokek sehingga jumlah belanjaan cuma sepaket dua. Kalau memang ‘professional’ sehingga pantas diaebut pesta, untuk 17 ‘peserta’ mestinya tersedia satu garis, atau satu koran, sebuah istilah populer di dunia jual-beli ganja, yang menunjukkan volume ‘belanjaan’.

Saya juga tergelitik pemberitaan di Tempo.co, yang sekilas menyebut para ‘tamu pesta’ (sebagian) sedang tidur! Hal yang menurut saya janggal, orang datang ke pesta hanya untuk tidur. Pun, akan aneh lagi jika mereka yang tidur adalah yang dinyatakan mengonsumsi ekstasi, karena efek kimia jenis itu, setahu saya, justru bikin melek, sebab pemakai barang jenis itu lazimnya ‘butuh’ lebih betah melek. Beda dengan gelek yang bawaanya makan terus tidur setelah matanya nggandhul alias kriyip.

Dilihat dari reputasi aparatur BNN, kayaknya aneh banget mereka sampai ‘salah analisis’ atau gagal membaca target. Secara subyektif, saya justru ingin mengajak pembaca untuk kritis menyikapi peristiwa di rumah Raffi. Seperti sengaja untuk menyita perhatian sebanyak mungkin orang terhadap kasus cemen demikian, karena di dalamnya terdapat nama-nama selebriti, para pesohor.

Pengguna media sosial yang suka berisik oleh peristiwa ‘kecil’ dan media massa (terutama televisi) yang tak pernah berpikir panjang terhadap materi yang potensial bikin sensasi (diyakini mendongkrak rating), sepertinya sudah dipahami ‘pencipta dan pengelola’ isu. Apa motif BNN menggerebek ‘pesta’ yang ‘sumir’? Hanya pejabat BNN dan Tuhan yang tahu.

Andai ada orang yang disusupkan (biasanya bandar atau pemakai aktif, tapi sudah dibina), mestinya ‘barbuk’ juga lebih bisa dipastikan jumlahnya ‘pantas’ atau sepadan untuk digerebek.

Maaf, saya tidak dalam posisi membela pelaku. Tapi begitulah yang saya rasakan. Sejak remaja, saya banyak berkenalan dan bahkan bergaul dengan drug abusers. Sebagian pernah masuk penjara beramai-ramai setelah dijebak seorang temannya sendiri, yang kebetulan sebelumnya baru saja ditangkap dan ‘beres’ dengan 86 atau kapan anem atau sigil senilai (konon) puluhan juta, plus mau jadi umpan agar dia bebas dari tuntutan, seolah-olah seperti justice colaborator. Akhirnya, teman-teman tahu, sang ‘justice collaborator‘ memang telah melakukan praktik ‘teman makan teman’. Sekian tahun setelah peristiwa itu, sang ‘justice collaborator‘ mati overdosis putauw, padahal pernah dikabarkan ia sempat jadi bandar yang beroperasi di Yogya-Solo-Jakarta-Bali.

Perkara ‘tangkapan’ dikategorikan sebagai bandar atau pemakai (korban) pun menarik ditelisik. Jika seorang ditangkap lantas dinyatakan sebagai pemakai, maka kewajibannya hanya masuk panti rehabilitasi, di bawah pengawasan BNN. Jika ia seorang bandar tapi diberi status pemakai, bisa dibayangkan betapa hal demikian berpotensi melebarnya jejaring atau mata rantai peredaran narkotika. Saya kira, sejak penyidikan, penuntutan hingga proses persidangan, kasus narkotika harus dikawal dengan sungguh-sungguh, mengingat semua institusi terdapat oknum yang rawan siap.

Dari perkara Raffi, seharusnya BNN jadi lebih hati-hati, bekerja dengan benar dan terukur. Selain membikin jera pelakunya, pun itu bakal membuat tenteram para orangtua. Sebagai lembaga khusus dengan personil lebih terlatih dibanding polisi, mestinya capaian kerjanya memberantas peredaran narkotika bisa melebihi prestasi Polsek, Polres hingga Polda.

Lain kali, kalau cuma ganja selinting atau satu garis, kayaknya BNN gak perlu. Malu-maluin, gitu loh…

5 thoughts on “Pesta

  1. di tengah pusaran peredaran informasi yang kian mudah dan cepat merambat, justru kita semakin sulit untuk menilai sebuah kebenaran sesuai data dan fakta, bukan motif sensaional semata….

Leave a Reply