Kritik dan Jokowi

Kamis siang, 24 Januari 2013, JJ Rizal menuliskan kalimat reflektif melalui akunnya di Twitter: begitu sebut nama jokowi dalam suatu kritik terkait dgn jakarta seketika TL-nya si peneliti berguncang dahsyat persis kena gempa.

 

Kita ingat betapa ramainya ‘publik’ media sosial melancarkan pembelaan kepada Gubernur DKI Jokowi sembari mengumbar hujatan kepada Muhammad Rizqi dan TV One seusai wawancara live di tengah rel di pinggir Jl. Latuharhary, Menteng. Konon, Pak Jokowi marah karena materi wawancara keluar dari kesepakatan awal, bahwa dia hanya mau membicarakan topik seputar penanganan banjir di Jakarta.

Di media sosial, mayoritas pembela Jokowi adalah ‘orang biasa’, yakni akun yang tidak dikenali sebagai bagian dari selebriti sosial, namun latar belakangnya beragam. Sebaliknya, pengritik Jokowi mudah ‘dibaca’ sebagai akun yang berasal dari pendukung calon gubernur/partai politik pengusung, yang gagal memenangi kontestasi pemilihan Gubernur DKI. Selain itu, ada nama-nama akun populer, yang ‘konsisten sejak awal’ memang kritis, meski sebagiannya terasa nyinyir.

Terhadap sikap pro-kontra demikian, saya bisa memahami dengan menelisik orang-orang di balik akun Twitter-nya. Saya pun, barangkali terjebak, menjadi pembela Jokowi dalam hal ini. Apalagi, sebagian pengritik Jokowi saya ketahui dekat dengan Jokowi, bahkan dulu kerap terbang Jakarta-Solo untuk ngobrol banyak hal, terutama dalam mendukung program-program Walikota Jokowi (dan wakilnya, Hadi Rudyatmo) dalam mengatasi beragam permasalahan sosial dan kebudayaan di Solo.

Beberapa orang, sangat memuji langkah-langkah dan kebijakan Jokowi, bahkan menyanggupi membantunya secara probono. Hanya, anehnya, sikap mereka berbalik 180 derajat ketika Jokowi disodorkan PDI Perjuangan dan Partai Gerindra menjadi calon Gubernur DKI. Dan, sikap ‘kritis’ itu diteruskan hingga detik ini, dengan memosisikan diri sebagai pressure group. Apakah kritisisme itu lantaran di Jakarta mereka memiliki calon sendiri, hanya mereka sendirilah yang tahu.

Sepanjang yang saya kenali, Jokowi bukan orang antikritik. Justru sebaliknya, ia menyukai masukan-masukan kritis, namun yang bukan asal-asalan. Dia berharap setiap kritik/masukan disertai tawaran solusi, sehingga dengan demikian ia pun bisa menakar kekuatan kritik dan potensi manfaatnya.

Saya terlalu sering mendengar pernyataan Jokowi ketika ada orang bertemu dengannya menyampaikan sanjungan/pujian. Jawaban yang selalu dilontarkannya adalah: Kalau yang baik-baik, jangan ceritakan kepada saya. Tunjukkan kekurangan kami, supaya bisa melakukan perbaikan! Jika Anda tak percaya, silakan cek silang kepada wartawan di Solo atau dari manapun yang pernah mewawancarainya.

***

Soal kritik untuk Jokowi, saya sepakat kepada pernyataan JJ Rizal dan Prof. Sulfikar Amir: Sayangilah Jokowi dgn mengkritiknya dan memberinya gagasan, tidak hanya menyanjung & memuja2 beliau. Pemujaan akan terantuk kekecewaan manakala tak terbukti, dan kritik berlebihan akan berujung malu jika terbukti sebaliknya.

Saya punya saran sederhana jika Anda hendak menyampaikan sesuatu (kritik/saran) kepada Pak Jokowi. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Jangan melalui perantara siapapun (jika tak yakin sampai atau tak mudah percaya).  
  2. Formulasikan gagasan dalam sebuah kalimat gamblang yang bisa diceritakan dalam waktu kurang dari lima menit. Kenapa? Sebab, kemungkinan besar Anda akan bisa bicara secara tatap muka dalam waktu sangat terbatas lantaran kesibukannya. Anda bisa menjumpainya di kantor atau saat bertemu di lapangan.
  3. Kemungkinan bertatap muka hanya seperti di poin 2. Saya jamin, di Jakarta pun Pak Jokowi tak menerapkan standar protokoler yang ketat, sehingga Anda bisa mencegat (model door stop-nya wartawan).
  4. Jika kritik/usulan Anda menarik (kriterianya bermanfaat untuk publik), besar kemungkinan ajudan akan disuruh mencatat nomor kontak Anda untuk diajak ketemu, untuk mendiskusikan lebih lanjut/mendalami gagasan Anda.
  5. Jika tidak bisa secara lisan, sampaikan dalam bentuk tulisan yang tidak terlalu panjang, namun cukup menjelaskan. Serahkan ke staf di kantor atau lewat ajudan, bahkan bisa menitipkan lewat penjaga (Satpol PP) di rumah dinas. Setahu saya, ajudan dan staf pribadi sudah tahu usulan/kritik seperti apa yang dimaui Pak Jokowi.
  6. Sedikit catatan: jika masukan sangat beragam, biasanya masing-masing akan ditimbang, diambil yang perlu untuk diformulasikan kembali. Dan bukan tak mungkin, pemberi kritik/usulan akan diajak ngobrol.
  7. Dan, asal tahu saja, jika masukan yang diambil berasal dari beberapa kelompok yang dikenal pro dan kontra 9atau saling berseberangan), pasti akan diajak ngobrol secara terpisah pada masing-masing kelompok, untuk kemudian dipertemukan lantas membahasnya bersama. Ada strategi moderasi yang dijalankannya.
  8. Yang paling penting, kritik/usulan jangan berbau duit atau transaksional, bahkan berbau minta proyek. Jika demikian yang terjadi, percayalah, masukan/kritik semacam itu akan diabaikan, atau segera dimasukkan ke kotak sampah, dan nama (lembaga) Anda, akan diingat selamanya.

 Saya berani bercerita demikian lantaran punya beberapa pengalaman. Karena merasa sok paham apa yang dimaui Pak Jokowi, maka sekali-dua saya melakukan ‘seleksi’, termasuk menimbang kepentingan di baliknya (udang di balik bakwan, maksudnya). Jika benar-benar ‘aman’, baru disampaikan. Dan, biasanya direspon sangat cepat.

Contohnya: pernah saya bercerita ada seorang teman yang mau nyumbang gagasan memajukan kota dan warga Solo lewat penataan lingkungan. Karena gagasan sudah melalui penelitian dan cukup matang, termasuk dampak positif/negatifnya, maka saya ceritakan itu kepada Pak Jokowi. Jika sudah demikian, beliau berujar: silakan atur sendiri waktunya, saya siap bertemu. Dan benar, ketika teman itu saya pertemukan, terjadilah diskusi agak panjang. Dan ketika akhirnya Pak Jokowi menyimpulkan gagasan tersebut masuk akal dan bermanfaat, maka pernyataan yang muncul di akhir pertemuan bertiga selama 30 mennit itu membuat sang teman terpperanjat.

Kata Pak Jokowi: Apakah Anda siap mengeksekusi gagasan Anda? Jika iya, segera kirim proposal detil proyeknya kepada saya. Saya akan biayai, tapi Anda dan timlah yang harus mengerjakannya. Silakan Anda berhitung secara profesional, biar saya yang mengatur pembiayaannya, yang penting masyarakat bisa menikmati dan itu berguna untuk Kota Surakarta.

Sayang, proposal dari teman saya itu tak kunjung masuk, hingga Pak Jokowi pindah ke DKI. Tapi, apa yang sudah dilakukan teman tersebut nampak nyata hasilnya. Tiga kampung di Solo yang telah pernah dirisetnya, telah didampinginya secara probono. Yang jelas, ia senang dengan cara Pak Jokowi merespon sebuah gagasan. Dan saya tahu persis, teman saya yang berasal dari kota yang ratusan kilometer jaraknya dari Solo itu, sangat puas dengan respon Pak Walikota. Ia memang tidak membutuhkan proyeknya dibiayai, lantaran ia dan kawan-kawannya bisa memobilisasi partisipasi warga yang didampingi.

Demikian. Silakan mengritisi paparan saya. Asal tahu saja, posisi saya pastilah sebagai ‘pembela’, sehingga sangat mungkin terdapat bias di dalamnya.

Yang jelas, meski tidak antikritik, Pak Jokowi bagi saya adalah manusia Jawa seutuhnya. Ia bukan tipe Jawa feodal, namun pola berkomunikasinya selalu mengutamakan rasa. Jika Anda pernah mendengar kalimat ngono ya ngono, nanging aja ngono, ya begitulah Pak Jokowi. Ada batas kepantasan pada sebuah pernyataan, entah itu kritik atau saran. Hanya kita sendirilah yang bisa menimbangnya.

3 thoughts on “Kritik dan Jokowi

  1. kalau melihat orang sekelas jokowi dan membaca ceritamu sih, saya yakin sekali kalau dia akan menerima semua kritikan yang masuk dengan lapang dada.

    Jadi kepikiran mau coba juga… tapi apa ya?

  2. Aku setuju dengan cara pak de yg bijak, aku kesal ketika melihat pak Jokowi merenung diatas rel. Coba pak de lihat wajah yang ceria itu hilang, ga tau apa yg dipikirkan pak Jokowi. Entah kesal atau gimana? Itu bukan wajah serius dan tegang melihat jebolnya banjir, lebih dari itu…jelas sekali rona kecewa. Pak de, kemana semua orang yang ruyang-ruyung dan katanya dukung pak jokowi, aku tidak tahu kenapa masalah teknis tidak terdekteksi dari awal. Aku rasa pak Jokowi saat itu menyesal, kenapa anak buahnya tidak antisipasi kemungkinan jebolnya tanggul, padahal itu kan masalah teknis, atau bisa jadi disengaja agar 100 hari kerjanya tercoreng air yang masuk ke Istana Merdeka pak De. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu, satu hal yang aku lihat, banyak pendukung yang hanya bisa ngomong, sampah tetap dibuang di kali. Coba pendukung Gubernur DKI itu cermat dan mau kerja, maaf bukan muji nih pak De,” ya seperti pak de lah” aku yakin ga bakal jebol tuh tanggul. Eit, maaf pak de,…kepanjangan…..

  3. nk

    ada dua hal yang sensitif dalam kritik saat ini. Satu menyinggung persoalan isu agama yang biasanya akan berujung pada aksi kaum fundamentalis, kedua menyinggung/mengkritik jokowi. barangkali jokowi nya memang membutuhkan itu….tapi siap siap saja pengkiritik itu akan segera diserbu serangan balik…

    “sayangi dia dengan kritikan, bung”…

Leave a Reply