Arisan Komunitas

Kemarin, saya melempar bahasan mengenai arisan komunitas lewat jejaring Twitter. Komunitas yang saya maksud, terutama adalah komunitas blogger (onliners), yakni mereka yang selama ini bergiat dengan sarana teknologi Internet (online), sekaligus aktivitas-aktivitas offline. Banyak komunitas terkendala pendanaan untuk mewujudkan banyak gagasan yang bermanfaat, baik untuk anggota maupun publik.

Memang, uang bukan segalanya bagi komunitas (blogger). Toh, selama ini pada bisa bikin kegiatan ini-itu atau menggelar beragam pelatihan dengan cara saweran. Satu-dua di antara anggota, terutama yang punya penghasilan/rejeki berlebih biasanya merelakan untuk menopang kegiatan, mewujudkan keinginan.

Gagasan besarnya, kira-kira demikian:

Hampir semua komunitas bersifat paguyuban. Tak ada keharusan iuran berapapun bagi anggotanya. Donasi pun sesuka hati, meski biasanya dilakukan ketika sebuah gagasan bersama sudah mengerucut desain realisasinya. Kumpul-kumpul pun, biasa dilakukan secara santai di tempat minum kopi, dengan model pembayaran sharing alias bantingan.

Dari sekian kali bertemu teman-teman dari berbagai komunitas, persoalan klasik demikian sering muncul. Gagasan sih kelewat banyak, meski untuk mewujudkannya lantas disortir karena perlu prioritas, dan penyesuaian budget. Cari sponsor, biasanya tidak mudah, apalagi bagi organisasi komunitas di ‘kawasan udik’.

Sponsor, terutama dari kalangan dunia usaha (apalagi yang levelnya nasional/multinasional), perhitungannya sangat ‘membingungkan’. Ada matematika ekonomi di dalamnya: terutama manfaat apa yang didapat sponsor, baik secara langsung maupun tak langsung, dalam jangka pendek maupun menengah dan panjang. Seorang pengambil keputusan (decision maker) sebuah perusahaan juga dituntut memegang prinsip efektivitas dan efisiensi anggaran perusahaan, sehingga setiap keputusannya akan dinilai oleh atasan di tempatnya bekerja.

Memang, ada satu-dua perusahaan yang punya visi bagus dan berorientasi jauh ke depan. Karena itu, komunitas termasuk salah satu entitas yang punya potensi berstatus ‘penting’ bagi perluasan jejaring mereka. Persoalannya, perusahaan atau lembaga (profit maupun nirlaba) selalu membutuhkan portofolio komunitas, yang secara gampangnya bisa disebut apa dan bagaimana kiprah komunitas dan keberadaan mereka (semacam positioning) di lingkungan mereka.

Portofolio Komunitas

Komunitas online, termasuk blogger, sejatinya punya potensi strategis bagi lingkungan terdekatnya. Bagi anggota, asal sering bertemu atau bertukar gagasan lewat mailing list dan sebagainya, biasanya akan menghasilkan banyak hal, terutama peningkatan wawasan pengetahuan dan kemampuan (skill), sesuai minat masing-masing. Gagasan dari sebuah komunitas, pun punya banyak potensi manfaat untuk publik. Semisal pelatihan blogging, etika bermedia (Internet) dan sebagainya, hingga pelatihan pembuatan website untuk menopang usaha (UMKM) seperti yang akhir tahun silam digelar sejumlah komunitas bersama PANDI dan Google Indonesia. Selain itu, sudah kelewat sering beragam komunitas melakukan banyak hal bersama InternetSehat, dan banyak lagi lembaga nonprofit maupun komersil.

Mengenai portofolio komunitas, sejatinya akan otomatis muncul dan memberi bobot keberadaan dan kemanfaatan jika komunitas sudah menyelenggarakan beragam kegiatan positif, terutama yang berkaitan dengan publik, seperti disebut di paragraf sebelum ini.

Potensi komunitas (blogger) terutama adalah sebagai produsen konten lokal. Andai di Pacitan, kota kelahiran Presiden SBY ada komunitas blogger, saya yakin akan banyak informasi (teks, foto, audio/video) yang tersebar di Internet. Tak hanya orang dari luar Pacitan jadi kian mengenal, namun bukan tak mungkin akan menggerakkan untuk berkunjung. Dalam hal kunjungan wisata, misalnya, orang butuh informasi destinasi/tujuan wisata, kekayaan kuliner, tarif hotel, kerajinan tangan untuk oleh-oleh, dan sebagainya. Berapa banyak orang yang ikut menikmati dari kunjungan satu orang saja?

Indonesia punya banyak ragam kekayaan. Terutama di kota-kota kecil, terdapat pula banyak keunikan yang mungkin selama ini tak terpublikasikan. Mengharapkan liputan dari reporter media massa? Sebagai sebuah industri, perusahaan media pun kenal, bahkan sangat ketat menjalankan prinsip ekonomi: tak akan menempatkan wartawan/koresponden di sebuah kota yang dianggap ‘tak punya potensi’. Padahal, pengertian ‘potensi’ pun sangat relatif, bahkan tak jarang terlalu subyektif.

Perusahaan (industri) pers paling menempatkan wartawan terdekat dari Pacitan hanya di Solo, Wonogiri atau Madiun. Untuk liputan ke Pacitan, sering harus apply dulu, usul materi liputan karena bakal termasuk dalam kategori ‘dinas luar kota’ alias DLK! Kalau menyangkut kecelakaan atau musibah besar, perusahaan media pasti akan membiayai reporternya karena tuntutan persaingan industri informasi. Bagaimana dalam situasi ‘normal’?

Di situlah celah/peluang yang bisa dimanfaatkan oleh individu blogger dan komunitas. Blogger atau pewarta warga, bisa membuat konten sebanyak-banyaknya, secara panjang lebar supaya memberi rujukan informasi detil, lengkap dengan foto/video dan sebagainya. Asal kita tahu, kini banyak orang mengandalkan mesin pencari dalam sebuah perencanaan bepergian. Dan, jauh lebih banyak informasi didapat dari blog, baik yang dikelola individual maupun komunal (secara keroyokan). Kelebihan referensi dari blog, adalah kecenderungan sifat testimonial: yang baik akan dipuji, yang kurang pun akan disodorkan, sehingga jauh lebih kredibel dijadikan acuan pengambilan keputusan.

Di kota-kota kecil, konten yang diproduksi oleh pribadi-pribadi yang menyatu dalam sebuah komunitas, memberi peluang potensi kerja sama dengan pemangku kepentingan (stakeholders), misalnya, bupati, dinas-dinas terkait seperti Dinas Informatika, Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi/UKM, pemilik hotel dan pelaku usaha lainnya, termasuk warga produsen aneka jajanan, pemilik warung makan dan sebagainya.

Dengan berkiprah positif, portofolio komunitas akan terbangun dengan sendirinya. Kepercayaan publik akan menjadi acuan untuk melegitimasi keberadaannya. Sehingga, pada situasi demikian inilah, komunitas memiliki ‘posisi tawar’ terhadap stakholders. Sponsor atau donasi bisa jadi akan melirik jika kiprah individu/komunitas terbukti memberi manfaat.

Modal Komunitas

Kembali ke pokok bahasan awal mengenai #arisankomunitas, kira-kira skema usulan saya seperti berikut ini:

  1. Setiap komunitas ikut iuran sekali saja (yang besarnya bisa disepakati, misalnya Rp 200 ribu, Rp 500 ribu, dan sebagainya)
  2. Iuran dimaksudkan sebagai bentuk komitmen pengelolaan dana secara bersama-sama. HANYA komunitas yang ikut iuran yang nantinya boleh pinjam modal.
  3. Dana terkumpul menjadi modal bersama, di mana anggota bisa meminjam dengan nominal tertentu untuk modal awal merealisasikan sebuah gagasan.
  4. Dana pinjaman dikembalikan setelah kegiatan berlangsung. Soal perlu/tidaknya menambah jumlah pengembalian dari pinjaman, bisa dimusyawarahkan bersama.

Dengan memiliki modal awal, saya meyakini komunitas bisa datang dengan kepala tegak alias tidak perlu meminta-minta (belas kasihan) kepada pihak lain yang hendak diajak kerja sama, baik instansi pemerintah/swasta. Kerja sama pun bisa berbentuk kemitraan maupun kerja sama dengan prinsip sama-sama mendapat untung/manfaat, maupun yang berklasifikasi (semi)komersial. Saya kira, tak ada salahnya komunitas menempuh cara profesional, hitung-hitung sebagai melatih bakat kewirausahaan.

Soal siapa yang akan mengelola dana dan mekanismenya, bisa dibicarakan bersama-sama. Toh, yang sering terjadi di lingkungan komunitas blogger, duit Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta bisa digunakan untuk menggelar sebuah acara sedemikian rupa, dan memberi manfaat kebanyak banyak pihak.

Dalam konteks perkembangan dunia teknologi dan informasi, komunitas (blogger) sudah seharusnya mengantisipasi sejak dini. Banyak pihak memiliki kepentingan terhadap pihak lain, siapapun mereka, termasuk komunitas-komunitas (apapun), tak melulu yang beraktivitas blogging/online.

Banyak perusahaan (dengan beragam produk) akan terus membutuhkan mitra-mitra yang dianggap strategis, bahkan hingga ke pelosok Nusantara, tak terkecuali perusahaan yang bergerak dalam dunia informasi dan telekomunikasi. Semua produsen/perusahaan tak mungkin hanya bertempur melawan kompetitr-kompetitor mereka di kota-kota besar dan kota utama. ‘Pasar’ mereka tak mengenal geografis, namun selalu berbasis hitung-hitungan populasi dan daya beli.

Di luar itu, aneka usaha dan kerja sama nonprofit pun harus terus disemaikan dan dikembangkan, terutama dalam rangka ‘menemani’ sebagian besar warga di sekitar kita yang terus-menerus jadi obyek eksploitasi, baik itu oleh kepentingan budaya, politik maupun ekonomi. Di situlah terletak nilai strategis keberadaan sebuah komunitas dan individu-individu yang terlibat di dalamnya.

Monggo, silakan teman-teman mengkritisi dan melengkapinya…..

7 thoughts on “Arisan Komunitas

  1. keluhan minum kopi spt jantung berdebar, pusing, mual, kembung, buang air kecil tercium aroma kopi. Tips ini dpt membantu anda menghindari keluhan tsb: 1. aroma kopi jangan menusuk tajam ke hidung 2. bagi perokok dapat merasakan,,bila rokok dihisap asapnya menjadi lembut. 3. bila kopi diminum badan terasa rilex / enteng. contoh ; bila mencium bunga asli wanginya tdk menusuk tajam ke hidung. Salam; Hendra

  2. Ide yang menarik Pakdhe, terutama untuk komunitas yang lokasinya udik. Sungguh sulit sekali mendapatkan sponsor utk melakukan kegiatan. Tapi yg komen kok dikit ya? 😀

  3. DV

    Sebagai solusi pendanaan dan perekat barangkali ide ini menarik, Lik.
    Tapi aku mungkin terlalu penakut untuk melibatkan uang dalam hal yang tak terkait dengan pekerjaan sebenarnya…

    Let’s do it! 🙂

    kayaknya, ketakutanmu lantaran terbiasa bergaul di Aussie. bener, gak? tradisi arisan, menurutku sih menarik. itu yg masih rekatkan relasi sosial di kampung-kampung…
    /blt/

  4. terima kasih atas gagasan dari pak dhe,
    gagarasannya dinilai sangat tpat guna dengan keadaan komunitas, terkadang dalam prosesnya mentok terkendala di bidang pendanaan. simtem seperti ini juga membantu komunitas yang kecil yg sedang merintis agar bisa lebih berkembang, dibina secara tidak langsung oleh komunitas yang lebih dulu menjaya.
    juga mempererat tali persaudaraan sesama blogger. se nusantara.
    mari kita wujudkan.

    silakan ditimbang plus-minusnya, manfaat dan mudharat-nya…
    /blt/

  5. iya juga sih arisan komunitas usulannya ok banget. Tapi mungkin banyak teman teman online segen kalau sudah ngumpulin uang, terus harus mikirin siapa yang menjadi bendaharanya.. bisa dibawa kabur ga tuh uangnya. Maklum masih low trust society…

    kekuatiran yang wajar, apalagi jika terbiasa lihat berita koran, media online dan televisi… saya, sih meyakini masih jauh lebih banyak orang baik…
    /blt/

  6. jun

    wedew.. ini rodo serius ini..
    yang pasti jangan mung gebyah uyah. cuman gegap gempitane tok, habis itu lenyap. penyakit biasa dalam komunitas online sih gitu. lebih penting lagi sih jane guyub offline’e diperkuat.

    setuju banget. digenapkan dengan guyub offline jauh lebih bagus. biar gak akrab cuma di media Internet saja…..
    /blt/

Leave a Reply