Pintarnya PLN

Listrik Pintar, kalau tak salah, merupakan program manajemen PT PLN (Persero)  yang superpintar. Tentu saja, itu tak lepas dari kepintaran Dahlan Iskan, seorang penambang uang. Jawa Pos Grup, kerajaan miliknya, menjadi sangat kaya karena keunggulan manajerialnya. Jawa Pos Grup bisa menangguk untung sebanyak-banyaknya dengan modal seminim-minimnya, sesuai prinsip ekonomi yang diyakini Dahlan. Dan, sukses itulah yang (barangkali) sedang diterapkannya di PLN.

 

Dengan Listrik Pintar, PT PLN bisa menarik duit tunai dari pelanggannya, lewat cara jualan pulsa prabayar. Pelanggan, bagi PLN era Dahlan, adalah konsumen. Karena konsumen, maka ia bisa dieksploitasi sedemikian rupa, agar PLN sebagai produsen, tidak rugi. Lagi-lagi, seperti itulah hukum ekonomi, yang ‘mengharuskan’ pelakunya mengejar keuntungan.

Mari kita belajar berhitung. Jika nominal terkecil voucher yang dijual dibanderol Rp 20.000, dengan sejuta pelanggan saja, maka terkumpul Rp 20 milyar. Dari duit voucher itu, PT PLN akan memperoleh tambahan bunga Rp 100 juta. jika diasumsikan dana itu berbunga 0,5 persen/bulan atau enam persen/tahun. Silakan hitung sendiri ketika jumlah pelanggan Listrik Pintar pada 2012 sudah mencapai 6,5 juta pelanggan dari target 13 juta pelanggan pada 2013. Jangan lupa rata-rata penggunaan listrik per sambungan bisa dipastikan di atas Rp 50 ribu/bulan.

Silakan dikalikan sendiri dengan jumlah pelanggan kelas terendah (400 kVA dan 900 kVA) mendominasi dari total 40-an juta pelanggan!

***

Sebagai warga negara yang (semoga) baik, tentu saya senang jika perusahaan listrik milik negara yang memonopoli jualan stroom itu memiliki keuntungan yang besar. Sebab, dari sana akan memungkinkan perusahaan itu melakukan investasi lagi sehingga kian banyak warga negara yang kebagian listrik.

Komplain dari Kang Denden (@dobelden)

Hal yang hendak saya persoalkan di sini, adalah ketika PT PLN hanya mau enaknya sendiri, alias menang-menangan. Ia hanya mau duit pelanggan masuk ke rekeningnya tanpa mau mengembalikan keuntungannya sebagai kompensasi ketika pelanggan dirugikan.

Berikut adalah contohnya:

Suatu petang, lantaran hujan deras, listrik di rumah saya yang berstatus ‘listrik pintar’ padam. Saya sedang di luar rumah ketika istri memberitahukan matinya lampu. Di tengah hujan deras, saya ke ATM BCA untuk membeli pulsa untuk memberi ‘makan’ listrik pintar. Layar mesin memberi kabar, transaksi tidak dapat diproses.

Bergegas saya pergi ke AsGross, minimarket yang melayani penjualan pulsa isi ulang listrik PLN. Kata pelayan, sistem online milik PLN ‘sedang bodoh’ alias tidak berfungsi sejak sejam sebelum saya datang, dan diberitahukan pula, sang pelayan tak tahu sistemnya akan kembali normal.

Saya kembali mencoba ke ATM yang sama, dan masih gagal bertransaksi. Tanggung untuk pulang, saya menanti sekira setengah jam di depan ruang ATM, dengan kondisi masih mengenakan jas hujan lantaran hujan turun kelewat lebat. Beruntung, sistem sudah kembali normal, meski lantarabn kedinginan, saya salah memencet nominal, dari Rp 50.000 menjadi kelebihan satu digit!

***

Saya beruntung karena tinggal di kota. Ada banyak alternatif untuk membeli pulsa: ada ATM beragam bank, banyak pula minimarket yang menjadi agen penjual voucher. Tak terbayangkan kerepotan orangtua saya yang tinggal di desa, di mana ATM dan agen pulsa hanya ada di kota dengan jarak terdekat hampir lima kilometer. Pun, jika peristiwa kehabisan pulsa terjadi ketika matahari masih memancarkan sinarnya.

Jika terjadi menjelang tengah malam, sudah bisa dipastikan kian kesulitan mencari agen yang buka. Mendekati jam 00.00, mesin ATM tak melayani transaksi pembelian pulsa, kendati dana di rekening Anda milyaran rupiah. Anda hanya bisa pasrah, sebab sistem baru normal kembali sekitar jam 02.00 dinihari. Jika enggan pergi, ya sudah, rasakan siksaan hingga esok hari!

Bisa kita bayangkan, jika warga desa yang kehabisan pulsa di tengah malam buta adalah keluarga yang punya anak-anak balita. Alangkah mirisnya ketika kita mendengar tangis mereka menyayat, bersahut-sahutan, memecah keheningan malam.

***

Sudah jelas, kan, jika PT PLN sangat pintar? Maka tak aneh jika mereka lantas meluncurkan produk unggulannya, yakni Listrik Pintar. Mobil-mobil dinasnya, kini bertuliskan program penambangan uang dari ladang rakyat, di pintu kanan dan kiri depannya. Iklan pun gencar dilakukan lewat semua media, dengan inti pesan sama: seolah-olah itu program paling praktis dan memudahkan pelanggannya. Seperti inilah iming-iming kemudahannya.

Keluh-kesah penulis dan respon teman-teman tentang Listrik Pintar, yang tak pernah dijawab admin @pln_123

Ketika saya berkicau soal Listrik Pintar yang memberi keuntungan sepihak pada PT PLN lewat Twitter, akun resmi PLN, @pln_123 tak pernah meresponnya. Saya paham, sang  admin mungkin senasib dengan saya, namun tak bisa menjawab sesuai kenyataannya. Ia hanyalah alat manajemen, pesuruh dari sebuah manajemen korporasi.

Entah saya yang kuper atau memang tak banyak yang menyoal, sejauh ini, kok saya belum menemukan komplain serius dari lembaga-lembaga (advokasi) konsumen. Padahal, secara praktis, pola semacam ini bisa disebut mengabaikan etika, dan tak menunjukkan bukti pelayanan yang baik bagi pelanggannya, yang tak lain adalah pembayar pajak dan pemilik kedaulatan sebuah negara, di mana PLN hanya satu noktah kecil yang ada di dalamnya.

Jika dikaitkan dengan Undang-undang Dasar 1945, praktik memperlakukan pelanggan secara eksploitatif melalui Listrik Pintar, sama saja dengan mengabaikan amanat Pasal 33 UUD 1945, di mana bumi, air dan semua kekayaan yang terkandung di dalamnya digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pada yang demikian, judicial review sudah seharusnya dilakukan.

Andai distribusi listrik dan mengonsumsi stroom diperlakukan sebagaimana pada bisnis telekomunikasi, Listrik Pintar bisa diterima andai pedagang stroom-nya tidak dimonopoli PLN. Artinya, setiap warga negara bisa berganti pilihan operator kapanpun ia mau.

Mungkin, cara mendulang uang di muka ala Listrik Pintar itu seturut dengan prinsip ekonomi kapitalistik sebagaimana dikehendaki lembaga-lembaga keuangan internasional, yang diamini para ekonom-ekonom Indonesia yang mayoritas pro-privatisasi dan antisubsidi. Semua rakyat dianggap mampu, peran negara diperkecil di ranah kebutuhan publik, dan lain sebagainya. Intinya, setiap jiwa warga negara adalah pasar, yang memiliki potensi dieksploitasi. Kesejahteraan???

***

Sepertinya, negara ini sudah dibajak segelintir ekonom, lalu digadaikan ke lembaga-lembaga keuangan internasional, yang tak lain adalah rentenir berwajah malaikat. Kekayaan (dan kesejahteraan) rakyat hanya diukur dengan jumlah uang di seluruh republik dibagi sekian juta jiwa. Hanya sedikit saja ekonom (dan politisi) mau mengritisi, bahwa mayoritas uang (kekayaan) hanya dimiliki oleh ribuan orang saja!

Saya sadar, membicarakan hal demikian bisa dianggap seperti orang gila yang berkeliaran di mana-mana. Tapi untuk hal begini, saya tak malu dianggap gila. Saya yakin, jumlah orang gila di Indonesia jauh lebih banyak dari yang merasa waras! Dan, saya (juga mereka) sadar, bahwa kegilaan kami meerupakan akibat tidak jelasnya pemimpin negara dalam mengemudikan kapal bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya yakin, jika benar ambisi Dahlan Iskan menjadi nakhoda Indonesia berhasil, kelak, barangkali untuk mandi atau cebok saja, kita harus punya kartu prabayar. Seperti pernah terjadi di Afrika Selatan, setiap keluarga harus beli kartu isi ulang untuk mengakses air bersih.

Mas Dahlan, saya tahu, sampeyan memang pintar!

Updated: penambahan ilustrasi gambar pada 28/12/2012 pk 17.11 WIB

4 thoughts on “Pintarnya PLN

  1. PLN seharusnya memang siap dengan sistim sebelum menerapkan sistim baru. Saya sampai sekarang masih ada voucher fisik yang belum bisa dipakai padahal sudah saya gesek. Lha ini mau diapakan? Apakah bisa saya bawa ke PLN dan minta di tukar?

  2. Kalau dalam pandangan saya, kenapa harus menunggu pulsa PLN habis baru membeli, kenapa tidak beli setiap minggu saja, lagipula kalau dengan cara seperti ini bisa buat jaga-jaga kalau nanti tidak punya uang untuk beli pulsa

  3. Mungkin saya belum mengalami kejadian itu, namun waktu tinggal di Cianjur, di kang Denden, kebayang juga ketika malam-malam harus update pulsa listrik. Ya saat itu sih lancar ceria. Saya baru nyadar, besarnya gagal proses adalah ketika ada kultwit pakdhe 😀

    Pasalnya, LISTRIK itu sekarang telah menjadi lebih penting daripada sekedar PULSA bicara. Kalau kita kehabisan pulsa bicara malam-malam ya sudah tinggal tidur saja. Namun sekarang kehidupan kita mengarah kepada ketergantungan pada listrik.

    Sayangnya, PLN itu tidak seperti operator seluler.. Dia jelas berpotensi monopoli, tidak seperti operator seluler yang bersaing baik harga dan service.

    itu namanya akal-akalannya orang pinter… semoga segera ada yang ajikan judicial review…
    /blt/

  4. wah jan ngeri pakdhe ternyata eksesnya sedemikian…

    rumah sy di jogja masih pasca bayar dan berulangkali ditawari ganti meteran tp sy ga mau…

    disini satu komplek perumahan dah jd prabayar semua…

    perlu tuh di judicial review… krn prilaku monopoli dgn pola pasar bebas jelas menjadikan rakyat sbg “sapi perah” terstruktur..

    hmmm… memang seharusnya di-judicial review kok Listrik Pintar itu. yang suka cuma induk semang rumah kontrakan…
    /blt/

Leave a Reply