Penjurian oh Penjurian

Pekan lalu, ramai diperbincangkan mengenai hasil penjurian Festival Film Indonesia (FFI) di Yogyakarta. Itu mengingatkan saya pada beberapa kicauan di jejaring Twitter, yang intinya ‘menebak’ arah pemenang dengan mengaitkan selera juri. Di dunia fotografi, baik amatir maupun profesional, pun tak asing terdengar sejumlah orang memperbincangkan materi yang hendak dikirim, dipilih yang sesuai dengan selera juri. Bagaimana dengan lomba-lomba di seputar dunia daring seperti lomba blogging dan tweeting?

Sulit, menentukan siapa yang bersalah sehingga muncul persepsi khalayak sedemikian buruk. Mungkin, lantaran probabilitas kemenangan yang diraih oleh itu-itu saja pada sebuah lomba dengan juri yang juga itu-itu saja, maka orang lantas nitèni, mencatatnya.

Saya pun termasuk dalam kategori seperti mereka. Hanya memilih ikut lomba (apapun) jika meyakini juri (jika dicantumkan) termasuk orang yang dapat dipercaya obyektivitasnya dalam melakukan penilaian. Saya lebih puas jika kekalahan atau kemenangan tidak dipengaruhi oleh sebuah relasi atau pertemanan. Ada yang bisa dibanggakan, tentu saja.

Pernah, misalnya, saya ikut lomba fotografi dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional yang dipusatkan di Solo, pada pertengahan 1990-an. Ketika itu, saya mengirim tiga foto pertunjukan berukuran 5R. Ndilalah, foto tarian karya Mugiyono Kasido itu dipilih menjadi juara pertama. Juara dua, tiga dan dua juara harapan lainnya adalah fotografer amatir yang dikenal luas berlangganan menjadi pemenang pertama dan kedua dalam beragam kompetisi fotografi tingkat nasional.

Sebagai orang yang baru belajar fotografi, kemenangan itu sungguh membanggakan. Esoknya, saya mencari berita mengenai lomba itu di Harian Bernas. Ternyata berita lombanya ada, namun nama-nama pemenang dimunculkan. Begitu pun di majalah fotografi, yang menjadi sponsor resmi lomba itu. Ada beritanya, tak ada nama-nama pemenangnya. Pun di majalah resminya FujiFilm, hanya ada berita lombanya.

Saya pun curiga. Mengumumkan nama-nama pemenang di media massa memberi banyak kemungkinan dampak. Mungkin, tak pantas mengumumkan nama-nama besar ‘dikalahkan’ pendatang baru. Tapi saya lebih setuju berpikir demikian: kalau nama saya dicantumkan di sana, mungkin berakibat fatal, sebab saya bisa besar kepala dan jumawa (hal yang tak disukai Tuhan, bukan?). Itu hikmahnya buat saya.

Tapi, kejadian itu sudah cukup membuat saya kapok, tak pernah ikut lomba lagi. Saya lantas mencermati nama-nama tokoh fotografi, untuk kemudian digunakan dasar menghindari ikut lomba, jika mereka masuk di daftar nama dewan juri. Lebih baik ikut lomba (apapun) dengan juri yang tak disebutkan daripada kecewa karena kalah, lantas berprasangka. Begitulah istilah bijaknya.

Kini, ketika banyak lomba digelar, terutama blogging, saya pun sesekali mengikutkan karya. Bahkan, tak ada masalah jika ada sejumlah syarat, seperti menyantumkan banner dan ketentuan lainnya. Asal saya percaya pada kredibilitas sebuah lomba, saya tertantang mengikutinya. Ada pemicu gairah berkompetisi, yang menurut saya lumrah-lumrah saja, alias manusiawi. Di dunia blogging, pun saya menghindari keikutsertaan jika mengenali profil juri.

Sifat dasar manusia memang berkompetisi, bersaing. Tingkat kedewasaan manusia yang akan memengaruhi bijak atau tidaknya dalam berkompetisi. Saya tak pernah malu, meski secara usia sudah terpaut jauh dengan kebanyakan blogger saat ini. Apalagi jika nilai kemenangan (dan hadiahnya) menggiurkan.

Saya sendiri berusaha fair dan obyektif ketika diminta melakukan penjurian pada lomba blogging. Saya memilih memberikan penilaian dengan mengacu pada ukuran-ukuran umum, seperti kreativitas penyampaian ide dan kedalaman gagasan. Satu lagi, saya paling sensitif pada faktor bahasa. Jika pemilihan kata dan tata bahasanya kacau, maka itu sering saya jadikan faktor pengurangan penilaian. Kebetulan, saya kerap menjumpai banyak orang asal nulis dan mengabaikan aspek bahasa. Sangat disayangkan jika kita tak mau merawat bahasa dan disiplin dalam berkomunikasi.

***

Dalam perkara penjurian, hanya dua kata yang mesti kita jaga: fairness dan obyektivitas. Tak ada gunanya saya membanggakan kemenangan, jika itu merupakan hadiah tersembunyi. Mungkin, sang juri kenal dengan saya, lantas memilih karya saya sebagai pemenang. Yang begini inilah yang saya hindari ketika saya ada di posisi sebagai salah satu tim penilai.

Banyak orang yang saya kenal baik, baik secara online maupun offline. Pada situasi semacam itu, saya tak pernah menjadikannya sebagai faktor yang memengaruhi penilaian. Sebaliknya, justru tertantang untuk menyandingkannya dengan karya-karya ‘pendatang baru’, dan jika selisihnya tak seberapa, saya justru memilih memberi penilaian lebih kepada sang penantang. Sikap semacam itu saya anggap penting, karena dampaknya lebih besar, sebab yang demikian itu bisa memotivasi seseorang untuk lebih bergairah melahirkan karya-karya orisinal.

Sistem penjurian seperti apa yang Anda suka? Semua kembali kepada sikap masing-masing orang. Silakan saja…..

5 thoughts on “Penjurian oh Penjurian

  1. Harusnya seh para pemenang tetap diumumkan, meskipun pendatang baru.
    Karena itu akan menjadi kebanggaan tersendiri tentunya.
    Bukan untuk gagah2an, tapi untuk lebih menjadikannya sebagai pemotivasi diri utk tetap terus berkarya.

    Salam,

  2. wah tidak pernah ikut lomba… baik fotography apapun. Tapi saya pernah mau coba ikut lomba fotography dulu, karena sebuah metode penjurian yang tidak hanya melihat dari hasil foto yang di kirim. Tapi harus bisa juga membuktikannya ulang proses kreatifnya di studio. Memang kebetulan foto ini lebih ke foto commercial. Dan menurut saya, teknik penjurian seperti itu lebih baik.

    Apabila foto yang dikirim tidak dapat di produce ulang di studio, maka juri dapat mempertanyakan ke otentikan karya tersebut. Semoga mas tidak kapok untuk tetap ikut lomba deh.. salam.

Leave a Reply