Ngigau Kepagian

Beberapa bulan terakhir ini, seperti menjadi masa ujian bagi saya. Tak pernah saya merasakan kekecewaan dan kesia-siaan seperti sepekan belakangan ini, ketika merasa tidak dipercayai lagi oleh seorang sahabat. Selama bertahun-tahun bekerja bersama, baik secara kentara maupun samar. Kami hanya dipertemukan oleh kesamaan gagasan, namun saya sangat mengagumi rintisan dan konsistensi perjuangan mulianya.

Boleh jadi, harapan berlebihan itulah yang membuat saya kecewa, hanya hanya karena perkara, yang mungkin dianggap sepele bagi orang lain. Saya mengira, dia paham dan mengerti apa yang saya kerjakan, sehingga memberi dukungan yang menguatkan.

Obrolan panjang, rupanya tak cukup menjelaskan duduk perkara sehingga saya merasa masih ada ganjalan yang tersisa, dan kemudian mewujud lebih nyata.

Jika sebuah pengorganisasian dibutuhkan supporting dan perlu frontliner(s) agar sebuah tujuan tercapai, maka pada definisi itulah, saya tak menemukan buktinya. Setidaknya, hingga saat ini.

Memang, saya beruntung telah berkenalan dengan orang-orang besar yang memiliki pengalaman segudang dan perjalanan panjang yang sudah teruji. Namun, boleh jadi, dari sanalah kesalahan saya bermula. Ekspektasi yang terlalu tinggi membuat saya berjarak dengan apa yang dinamai kesadaran diri.

Tanpa mengenal (apalagi berkawan dengan) mereka, mungkin saya tak akan bisa dan punya kesempatan belajar tentang banyak hal. Apalagi yang berkaitan dengan kerja-kerja pengorganisasian. Saya jadi merasa melek apa saja, juga lantaran persentuhan dengan mereka.

Andai saja kesalahpahaman terjadi dalam sebuah ruang diskusi, penyelesaian akan menjadi lebih mudah diatasi. Kecurigaan pun tak akan terjadi, dan menjadi-jadi lantaran berpijak pada sebuah asumsi. Apa boleh buat, tahi kambing bulat-bulat (kata syair lagu).

Keterbatasan sumberdaya, apalagi di kalangan ‘kelompok marginal’, yang mestinya diperjuangkan, rupanya tak dijadikannya sebagai pertimbangan. Sayang, sahabat saya itu lupa, bahwa dalam sebuah peperangan, strategi merupakan harta termahal, terutama ketika menghadapi lawan yang powerful, baik secara logistik maupun networking. Keterbukaan pun butuh konteks dalam penerapannya. Pun kebebasan. Tak bisa diterapkan secara membabi buta.

Indonesia tak mudah merdeka andai tak ada gerilyawan. Juga, tak akan lebih cepat terwujud sebuah kebebasan dari penindasan jika tak ada juru runding yang bergerak diam-diam, untuk meyakinkan banyak orang, termasuk mencari dukungan.

Saya tak tahu, apakah kekecewaan demikian akan ada gunanya kelak, meski untuk hari-hari ini, ungkapan demikian akan sangat berarti bagi yang mengalami. Minimal, akan menjadi cermin ketika saya membacanya kembali: perlukah saya meneruskan apa yang menjadi keyakinan tempo hari, atau meninggalkannya sama sekali.

Kalau saja yang saya hadapi adalah mereka yang ada di posisi ‘sana’, mungkin kekecewaan yang terjadi tidak sedalam ini, dan tidak seemosional hari-hari ini. Saya takut membayangkan tiba pada satu masa bersimpangan jalan. Karena itu, saya sedang mencoba memilih diam, menyingkir dari percaturan yang melelahkan.

Karena saya bukan kusir, maka saya tak mau berdebat. Apalagi jika sampai berkepanjangan. Masih ada satu-dua hal yang harus saya perjuangkan, meski sendirian.

5 thoughts on “Ngigau Kepagian

Leave a Reply